Selamat Menderita
“Menikahlah denganku, maka aku akan menyelamatkan nyawa ibumu.” ucap seorang pria tampan dengan rahang tegas, tatapan elangnya kini tertuju pada gadis yang sedang berdiri di hadapannya.
Aluna, seorang gadis cantik bermata indah tengah berdiri di depan seorang pria, yang ia pikir bisa membantunya, tapi sayangnya pria ini malah mengajaknya menikah, sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, dengan pakaian basah yang terkena air hujan, ia berdiri untuk meminta pertolongan seseorang yang bisa menyelamatkan nyawa ibunya. Namun, sayang … orang yang ia tuju tak berada di rumah dan sedang melakukan perjalanan mendadak ke luar negeri.
Aluna lupa mengecek ponselnya, sebab sejak tadi ia disibukkan dengan keadaan ibunya yang kritis. Dan setelah sampai di rumah itu, yang ia temui malah adiknya.
Malam ini mata itu tak memperlihatkan cahaya yang selalu menenangkan siapapun yang melihatnya. Kini mata itu penuh air mata yang sebentar lagi akan jatuh membasahi pipinya. “Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan, Tuan Raka Kavindra!” gadis itu tampak terlihat sangat kesal dan juga marah pada pria yang baru saja menawarkan sebuah pernikahan padanya. “Kau sedang bernegosiasi demi nyawa seseorang?”
“Aku tidak punya jawaban atas pertanyaanmu, tapi pilihan ada di tanganmu. Ibumu selamat jika kau mau menjadi istriku. Dan jika kau tidak menerima tawaranku, maka … kau akan menanggung semua akibatnya.” pria itu tetap teguh dengan pendiriannya.
Sebenarnya Raka tak berniat akan mengajak Aluna untuk menikah dengannya. Namun, rasa bencinya terhadap sang kakak, membuatnya tiba-tiba mendapatkan ide gila untuk menikah dengan kekasihnya.
Raka ingin mengambil sesuatu yang sangat berharga dalam hidup Raga, kakaknya. Seperti Raga yang telah merebut cinta wanita yang sangat ia cintai. Untuk itulah, ia akan memanfaatkan keterpurukan Aluna untuk keuntungannya.
“Aku mohon …” Aluna menyatukan kedua tangannya dan memohon pertolongan dan juga belas kasih Raka.
Raka melangkahkan kakinya agar lebih dekat dengan Aluna, “Kau tidak punya pilihan, Aluna.”
“Tidak bisakah kau membantuku tanpa aku menikah denganmu, aku sangat mencintai kakakmu, Mas Raga. Mana mungkin aku mengkhianatinya seperti ini, aku mohon Raka.” tangisan pilu itu kini tak tertahankan lagi. Aluna memohon untuk kedua kalinya, ia berharap kalau Raka mau mengubah keputusannya. Aluna yakin kalau Raga akan mengganti uang yang diberikan oleh Raka jika pulang nanti.
“Apa kau sedang bernegosiasi dengan nyawa ibumu sekarang?” tanya Raka, pria ini kini malah membalikan pertanyaannya pada Aluna. Dengan sengaja membuatnya tak memiliki pilihan dan mengambil keputusan yaitu menikah dengannya dan membuat Raga patah hati.
Aluna tak menjawab, ia diam dan bungkam hingga keheningan kini berada di antara mereka berdua. Hingga sebuah dering ponsel Aluna berdering, dan panggilan itu berasal dari rumah sakit. Panggilan itu memberitahukan kabar ibunya yang semakin kritis dan harus segera dioperasi. Dan operasi itu akan dilakukan jika Aluna sudah membayar biayanya yang sangat mahal itu.
Aluna adalah seorang yatim, ia hidup hanya dengan ibunya. Dan ibunya mengidap penyakit parah hingga harus melakukan pengobatan setiap bulannya. Dan semua biaya pengobatan itu ia dapatkan dari Raga kekasihnya. Yang merupakan seorang CEO perusahaan besar bernama Shankara. Aluna yang hanya seorang sekretaris Raga, jelas tak memiliki uang sebanyak itu untuk melakukan pengobatan sang ibu. Dan Raga selalu membantunya tanpa pamrih, tapi kini Raga pergi karena ada perjalanan bisnis mendadak yang tak bisa ditundanya. Dan saat ini Raga pasti sedang berada di pesawat dan panggilan dari Aluna tak akan sampai padanya.
Kenapa ia harus pergi di saat seperti ini?
Dan keadaan ini malah dimanfaatkan oleh adiknya yang memiliki dendam pribadi pada Raga. Ia ingin Raga merasakan sakit yang ia rasakan. Dimana gadis yang ia cinta malah menyukai kakaknya. Untuk itu akan ia jadikan Aluna menjadi istrinya, agar sakit yang Raga dapatkan jauh lebih dalam dari yang dirasakannya sekarang.
Panggilan itu ternyata membuat Aluna terpaksa harus mengambil keputusan yang akan menghancurkan hatinya dan juga kekasihnya. Ia tak punya pilihan lain, karena ia tidak mau kehilangan ibunya. Satu-satunya keluarga yang ia punya.
“Baiklah, aku akan menikah denganmu. Tapi selamatkan ibuku sekarang juga.” air mata mengiringi keputusan besar yang harus Aluna ambil. Rasanya ia ingin mati saja, karena ia tak tahu apa yang harus dilakukan nanti jika Raga pulang dan mengetahui apa yang ia lakukan.
Senyuman kemenangan terbit di bibir Raka, akhirnya rencananya untuk membalas sakit hatinya terbayar sudah. Raka akan membuat kakaknya menderita, ia akan merebut kekasih yang sangat dicintainya dan kan ia jadikan Aluna, gadis yang dicintai dengan sangat gila oleh Raga menjadi istrinya. Raka akan merebut impian Raga untuk mendapatkan Aluna.
Raka memegang dagu Aluna, gadis itu tengah membanjiri wajahnya dengan air mata. “Lusa kita akan menikah.” bisiknya pada Aluna.
“A-apa? Secepat itu?” tanyanya dengan bibir gemetar.
“Kita tak punya banyak waktu, Raga hanya akan pergi selama satu minggu. Dan jika aku tidak cepat, maka rencanaku akan hancur. Kau tahu kan betapa gilanya kakakku mencintaimu. Kau pikir dia akan membiarkan kita menikah?”
Aluna menepis tangan Raka yang sedang memegang dagunya, “Kau sangat tahu betapa gilanya kakakmu mencintaiku. Lalu kenapa kau sangat keras kepala ingin menikah denganku?”
“Karena aku ingin menghancurkan hidupnya, seperti dia menghancurkan hidupku.” Raka lalu menyeret Aluna keluar dari rumah itu, “Pergilah jal-ang sialan! Tunggu hari pernikahan kita, dan untuk ibumu. Aku akan mentransfer uang untuknya. Sekarang pulanglah, dan selamat menderita!”
Brakkk …
Raka menutup pintu rumahnya dengan sangat kencang, ia memperlakukan Aluna dengan sangat kasar dan hina. Tak pernah seumur hidupnya, Aluna merasa sehina ini.
Kini hidupnya hancur, hatinya remuk. Ia tak punya pilihan lain selain menikah dengan Raka. Ia harus menikah dengan adik kekasihnya, apa yang harus ia lakukan sekarang. Aluna tidak tega jika harus menyakiti perasaan Raga nanti.
Apa yang akan dikatakannya pada Raga, jika nanti ia pulang dan Aluna telah menjadi istri dari Raka, adiknya.
“Kau memang pria sialan, Raka. Kau memang brengs3k!” Aluna berjalan sambil menangis sendirian di bawah guyuran hujan yang sejak sore turun, membasahi jalanan kota yang sepi.
Ia berjalan dengan penuh keputusasaan, ingin sekali ia mengakhiri hidupnya sekarang juga. Tapi jika itu ia lakukan, bagaimana dengan ibunya.
“Tuhan … tolong aku.” lirihnya pelan.