Hadid terganggu oleh panggilan Kiya. Suasana romantisnya dengan Anin pun harus dijeda. “Kiya, Mas?” tanya Anin selepas Hadid menurunkan ponsel. “Hm.” Anin sekedar menunduk lagi, meneruskan makannya. Hadid tahu siapa perempuan yang diinginkannya. Dia tepat di depan Hadid saat ini. Anindya Fatimah. Anin tiba-tiba mengangkat kepala lagi, “Anin boleh nanya, Mas?” “Nanya apa, Nin?” “Kiya. Gimana kalo dia hamil? Kasihan ‘kan kuliahnya ---“ Anin menutup mulutnya cepat. “Maaf, Anin bertanya aja, Mas.” Hadid membuang wajah kesalnya ke lautan. Momen indah mereka rusak sudah semuanya. Bukan menjawab, ia malah ingin mereka kembali ke rumah saat ini juga. Namun, jam ditangannya mengingatkan sudah masuknya waktu salat. “Selesaikan makanmu. Kita salat, habis itu pulang. Mas tunggu di kamar,

