Anin tak tahu harus apa atau bagaimana. Kejutan yang Hadid bawa menggelitik keinginan terdalamnya, yang sudah lama tertunda. Akankah di sini momen pertama mereka diukir? Anin tak berani mengganggu detik penuh ketegangan ini. Takut salah bicara, tak mau sikapnya membuat sang suami berubah orientasi. "Fashbir shabran jamila, Nin,” bisik Hadid menatap dalam mata bening istrinya. Anin dengarkan. Sabar, penuh debar. Entah detak jantungnya atau milik Hadid yang begitu berisik. "Makan dulu, ya?" Hadid tergerak. "Setelah makan, kamu mau?" Anin mengangguk malu-malu. Hadid sudah tahu sejak dulu kalau dirinya menyiksa Anin yang menginginkan penyatuan mereka, tapi tak disangka-sangka jika harapan itu sampai kini masih ada. Bagaimana bisa Anin masih tidak jijik? Sudah ada Mutia, sudah Azkiya, b

