"Mas ..." Hadid yang tengah membalas pesan menoleh ke pintu, "Iya, Nin?" Senyum Anin melengkung, "Sarapan dulu." "Bentar, ya," balas Hadid mengacungkan ponselnya. Memberitahu bahwa ia sedang punya urusan penting dengan benda itu. "Anin tunggu di dapur," pamit istrinya kembali menutup pintu. Satu bulan berlalu semenjak Kiya satu atap dengannya dan Anin. Hadid merasa kembang cinta berbunga mekar begitu damai di rumahnya. Interaksi Anin dan Kiya melegakan hati karena kedua perempuan itu akur, tak seperti dengan Mutia dulu. Minimal Hadid tak harus pusing kepala mendengar aduan mereka. Hadid beranjak ke dapur, ada Anin yang menyambutnya sementara kursi Kiya masih kosong. "Tadi waktu Anin ke kamarnya, Kiya lagi mandi." Hadid sekedar duduk. Anin kemudian mengambilkan makanan untuknya.

