Keesokan harinya mereka memang mengunjungi sebuah rumah sakit. Anin menunggu di luar selagi Haura berbicara dengan orang tua dan siswinya. Ia duduk tak sangat tenang karena khawatir Haura akan disalahkan atas tugas yang harus dia kerjakan, tetapi Haura juga menolak Anin untuk mendampinginya. Padahal, mungkin saja Haura akan dicerca atau dimaki sebagai tempat pelampiasan atas apa yang menimpa siswi itu. Anin menunduk sambil berdoa dalam diamnya. Kemudian suara roda berderit menghantam lantai sedikit banyak mengusik ketenangan pinta Anin. Anin mengangkat pandangan kepada asal suara. Sebuah ranjang di dorong oleh petugas rumah sakit dan laki-laki yang sepertinya anggota keluarga, karena dia tidak memakai seragam seperti yang lainnya. Kedatangan mereka yang membelakangi cahaya menyulitkan Anin

