38 🦋

1198 Words

Anin banyak memandangi adiknya secara diam-diam. Ia takut kehilangan. Sudah lepas Hadid dari sisinya, jangan sampai Haura juga menjauhi dengan kebencian. Sejak membeli ponsel hingga menunggu pesanan mereka sampai, Anin terus berdoa agar Allah bukakan pintu maaf di hati Haura untuknya dan dimudahkan lidahnya untuk mengakui kesilapannya. Kini setelah hampir habis makanan di meja mereka, Anin beranikan diri untuk jujur mengakui kesalahan yang telah lama menyiksanya. "Ra, Mbak ngelarang kamu dekat sama Furqon." "Iya, Mbak," balas Haura patuh tanpa mengangkat wajah dari makanannya. "Bukan karena Mbak suka sama Furqon," tambah Anin tenang. "Terus?" Setelah Haura fokus mendengar ucapannya, Anin membalas tatapan bertanya adiknya. "Furqon pernah ngirim surat buat kamu." "Mas Furqon? Buat Haur

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD