"Apa?!" Agil berteriak.
Dengan cepat dia berlari ke arah gerbang penghubung antara SMK dan SMA Socien. Disana ia bisa melihat banyak sekali murid-murid dari sekolahnya maupun dari sekolah sebelah, dari adik kelas sampai kakak kelas semuanya berkumpul mengerumuni tempat itu.
Agil berlari.
"Minggir! Minggir!" Agil berseru.
Murid-murid memberikan ia jalan untuk maju ke depan.
Matanya melebar seketika, Moti terduduk di dasar lalu memegang lututnya yang tergores sambil memegang perutnya dengan ekspresi menahan sakit.
"Apa-apaan ini Clara?!" Agil berteriak lantang ke arah Clara yang sedang bersedekap dan tersenyum sinis ke arah adiknya.
Clara tersentak kaget, ia bahkan mundur dua langkah.
Ekspresi yang ia lihat dari Agil begitu menakutkan, pemuda itu berjalan ke arahnya dengan mengeraskan kuat rahangnya sambil mengepalkan kuat kepalan tangannya.
Terlihat sekali bahwa pemuda itu sedang terbawa emosi yang kuat.
"Astaga...kau dengar itu? Agil marah," bisik seseorang.
"Aku tidak percaya ini, Clara melakukan itu,"
"Moti kan tidak bisa berkelahi, habislah dia,"
"Ya ampun, kenapa bisa begini? Momok...," terdengar cicitan takut dari Lani.
Agil berjalan ke arah Moti lalu menggendong adiknya.
Murid-murid memberikan ia akses jalan untuk pergi menuju ke ruang klinik.
"Kak Agil...aaaaa...hiks hiks hiks...," Moti memanggil pelan kakaknya lalu ia menangis nyaring.
"Sstt, jangan menangis, kita ke klinik dulu," pinta Agil, ia sedang marah.
Meskipun Moti dan ia sering bertengkar, namun adiknya itu tak memiliki kemampuan apa-apa seperti orang beladiri pada umumnya.
Mendengar suara sang kakak yang berbeda dari biasanya, membuat Moti kelagapan lalu ia kembali menangis.
"Aaaaa...hiks hiks hiks...Momok salah apa kak Agil? Hiks hiks...Momok salah apa?" sepanjang perjalanan ke klinik selalu diiringi oleh tangisan kasar gadis itu.
Brak
Bugh
Bagh
"Aaaaaaa!" terdengar suara tendangan dan pukulan seseorang, teriakan siswa-siswi membahana.
"Dasar perempuan gila!" terdengar suara makian seorang gadis di tempat tadi.
"Cika! jangan!" Ussy berteriak nyaring.
Bugh
Bagh
"Aakhhh!" Clara berteriak nyaring menahan sakit.
Sreett
"Aaaa lepas!"
Clara terseret dari dasar kasar itu, Cika tak bisa menahan emosinya ketika mendengar kabar bahwa Moti, adik sepupunya ditendang dan ditantang untuk naik tanding dua hari lagi.
"Cika! Stop!" Mali berusaha melepaskan tubuh Clara dan Cika yang sedang mengadu tendangan dan pukulan.
Bugh
Sreet
Brak
"Akh!"
Cika menendang kasar perut Clara sampai gadis itu terlempar ke dinding.
"Aku, Cika Karania Baqi, menantang Clara Bantan untuk naik tanding dua hari lagi!" Cika berseru nyaring ke arah Clara terlempar.
"Astaga!" siswa-siswi di situ kaget dan melotot maksimal.
♡♡♡
"Apa kau bilang? Cika menantang Clara naik tanding dua hari lagi?" Busran melebarkan matanya.
Ia, Mustaf dan Aran sedang diparkiran khusus mereka, mereka akan pulang, namun Bari datang memberi kabar tak terduga.
Tak
Tak
Tak
Terdengar suara larian seseorang ke arah mereka.
"Gawat!" Gloria berteriak panik.
"Clara menendang adiknya Agil, astaga! Gadis itu tergores...," Gloria panik.
"Apa?!" mereka tak bisa merasa lebih syok lagi dengan berita ini.
"Clara apa? Gloria jelaskan!" Aran berteriak nyaring di hapadan adik temannya.
Gloria tersentak lalu ia mundur.
"Aran, jangan sentak adikku," Mustaf bersuara.
"Eh...itu...aku...Agil sedang di ruang klinik, gadis itu menangis kuat sekali, ia seperti anak kecil...," jawab Gloria kelagapan.
Aran berlari cepat dan kembali masuk ke dalam sekolah.
Mustaf, Busran dan Bari juga ikut.
"Ayo Gloria!" ajak Mustaf.
♡♡♡
"Hiks...hiks...aaaaa hiks hiks...Momok mau nungguin kak Agil di sini, Momok bingung mau tunggu dimana!" Moti menangis nyaring.
Suster Siska dan dokter Maria tak habis pikir dengan kejadian ini. Moti adalah langganan klinik sekolah, bahkan dokter Maria sudah hapal betul sifat dan karakter Moti.
Biasanya ia akan mengobati murid-murid yang naik tanding ataupun tak sengaja latihan lalu terjadi cedera, atau murid yang tak sengaja terluka di area sekolah itu. Pekerjaannya di situ memang agak membosankan, sebab jarang bahkan hampir tidak ada murid yang masuk ke kliniknya, baru Moti saja selama satu bulan ini. Setidaknya ruang kliniknya ada yang mengisi kekosongan itu.
Brak
Pintu klinik terbuka, Agil menoleh ke sosok sang pelaku. Terlihat Aran dengan napas memburu masuk ke dalam klinik.
"Siapa yang melakukan ini?" Aran bertanya dingin.
Agil menatap tajam ke arah Aran, tanpa hitungan Agil menerjang Aran.
Bugh
"Aaa...," teriakan terdengar dari ruang klinik itu.
Bagh
Bugh
Bagh
Agil dan Aran saling membalas pukulan.
Tak
Tak
Tak
Busran, Mustaf, Bari berlari memasuki ruang klinik.
"Oh ya ampun!" seru Busran.
Mereka bertiga cepat-cepat memisahkan tubuh kedua orang penting dalam Strom Rider dan Shadow Rain.
"b*****t!" Febrian berteriak marah dari ambang pintu. Ia tadi dalam perjalanan pulang, namun Naran memberitahu kabar bahwa Moti ditendang oleh salah satu anggota Storm Rider. Febrian tak bisa lebih marah lagi sekarang selain mendengar kabar ini.
Ia masuk ke klinik dan menghajar anggota Strom Rider yang dilihatnya di situ. Siapapun anggota Strom Rider yang dilihatnya pasti akan dihajarnya.
"Aaaaaa!" teriakan panik membahana.
Busran, Mustaf dan Bari tak memiliki pilihan, mereka terpojok. Pada akhirnya mereka juga membalas.
Tak ada yang bisa mengontrol emosi dari Febrian yang seperti orang kerasukan.
Brak
Bruk
Busran disudutkan di pinggir jendela oleh Febrian.
"Kenapa harus Momok, hah!?" Febrian berteriak marah.
♡♡♡
Bugh
"Awh!" Mali meringis sakit.
Ia menoleh ke arah sang pelaku, terlihat seorang gadis cantik dengan wajah garang.
"Kau! Beraninya kau!" Mali berteriak nyaring lalu ia membalas tendangan gadis itu.
Lalu terjadilah aksi adu kekuatan antara Mira Oslan dan Mali Anna Darlan.
"Dasar sinting kalian!" Mira balas berteriak.
"Kalian yang gila dan sinting!" Balas Mali.
"Ciih! Aku, Mira Oslan menantang Mali Anna Darlan untuk naik tanding dua hari lagi!"
Pung pung pung
Situasi semakin riuh.
♡♡♡
Brak
"Memalukan!" Delani berteriak nyaring.
Ia harus membatalkan pertemuannya antara dia dan petinggi-petinggi di yayasan Basri.
Kabar ini bukan kabar baik baginya, justru ini merupakan kabar buruk baginya.
Ia tak bisa merasa malu dan khawatir lagi dengan mendengar kabar ini.
Jika saja anggota Storm Rider dan Shadow Rain saling menantang di arena, ia bisa memaklumi itu, namun kali ini berbeda, ada siswi yang bukan dari kedua golongan tersebut. Dan parahnya lagi siwi itu adalah seorang anak polisi yang memiliki pengaruh yang cukup luas.
Delani menatap nyalang ke arah siswa-siswi yang baru saja diseret oleh tim keamanan masuk ke dalam ruangannya.
"Tidak masalah jika kalian saling mengajukan tantangan di arena," Delani kembali mendapatkan kesadarannya.
"Tapi cara ini salah, terutama kamu Clara," Delani menoleh ke arah dimana Clara berdiri.
"Dia bukan siswi yang tergabung di kelompok beladiri manapun, dan itu bukan cara yang bijak untuk menantangnya naik tanding," lanjut Delani.
"Meskipun dalam kasus ini dia adalah adik dari Agil, namun itu tetap salah, kalian tidak bisa seenaknya berbuat sesuka kalian," lanjut wanita paruh baya itu.
"Sepertinya saya terlalu melonggarkan kalian dalam berbagai masalah,"
"Tapi sekarang tidak lagi, kalian bersepuluh harus naik tanding,"
♡♡♡
Masing-masing anggota Storm Rider dan Shadow Rain saling memandang dengan tatapan saling tidak suka sekarang. Mereka sedang menunggu ketua dan anggota mereka masing-masing dari ruang kepala sekolah.
Aran, Mustaf, Busran, Bari, Agil, Febrian, Mali, Cika, Clara dan Mira sedang berada di dalam ruangan itu.
Moti dibawa pulang oleh Nulani yang kalang kabut mendengar telepon dari sekolah anaknya, bahwa Moti ditendang dan masuk klinik kesehatan lagi. Ia bingung bagaimana nantinya menjelaskan ini kepada sang suami yang sedang pergi bertugas tadi pagi ke Bandung.
Masing-masing anggota Storm Rider dan Shadow Rain saling melirik sinis, ada yang terang-terangan memasang wajah tak suka ke arah satu sama lain, seperti Aliya dari kubu Storm Rider dan Riska Mariska dari kubu Shadow Rain.
Ada anggota dari masing-masing kubu yang tak hadir. Mochal, Bara, Mike dan Lexi dari kubu Storm Rider. Sedangkan dari kubu Shadow Rain ada, Dwi, Laura dan Lola yang tak hadir. Mereka punya alasan masing-masing.
Sedangkan Randra sendiri tak hadir disaat kejadian menghebohkan itu.
Tepat setelah ia masuk ke kelas setelah melihat adegan antara Moti dan Febrian tadi, ayahnya menelepon bahwa dia harus mengikuti pertemuan resmi antara ia dan Arjuna Widyana, sang pemilik dari rumah sakit yang beberapa hari lalu pernah ia kunjungi sekaligus tempat pertemuannya dangan Moti.
Ceklek
Pintu ruangan kepala sekolah terbuka.
Aran keluar memasang wajah datar tak terbaca. Ada cukup banyak lebam di wajahnya, Busran dan anggota Storm Rider yang lain mengikuti sang wakil ketua mereka dari belakang. Mereka memasang wajah frustasi. Lalu setelah itu ada Agil dan Febrian di belakang sekali. Delani sengaja menempatkan Agil dak Febrian di belakang sekali agar terhindar dari kejadian tadi lagi. Bagaimanapun juga ia melihat Agil dan Febrian yang masih terbawa arus emosi.
"Agil, bagaimana?" Ussy bertanya.
Agil menghembuskan napas kasar.
"Naik tanding dua hari lagi," jawab Agil.
"Sudah ku tebak," sahut Ussy.
Sedangkan anggota Storm Rider tak berani membuka suara mereka. Sebab kali ini kesalahan berasal dari kubu mereka.
"Jauhi Momok," Febrian menatap ke arah para anggota Storm Rider.
Aran dan yang lainnya melirik ke arah Febrian. Sedangkan Agil memilih tenang.
"Kalian salah jika menantangnya naik tanding, dia bukan seperti kalian, perempuan-perempuan suka tebar pesona dan bar-bar," lanjutnya sinis.
Sontak saja Clara dan anggota Storm Rider yang perempuan kembali terbawa emosi.
"Haaa...apa kau bilang? Suka tebar pesona dan bar-bar?" Clara melotot marah ke arah Febrian.
"Gadis kera tadi yang duluan tebar pesona, cih! Lembek, cengeng--," ucapan sinis Clara terputus.
"Berhenti berulah Clara!!" Aran berseru tegas.
Clara diam dan membungkam mulutnya rapat-rapat.
Cika tersenyum mengejek ke arah Clara.
"Dasar gila!" desis Cika lalu berbalik pergi meninggalkan Storm Rider.
Agil ingin sekali mencabik gadis yang menendang adiknya itu, namun perbuatan itu kurang bijak karena Clara adalah perempuan. Hatinya agak tenang saat Cika yang menggantikannya menghajar gadis itu.
♡♡♡