"Sebenarnya ada apa ini?" Mochtar bertanya ke arah anak sulungnya.
Agil sekarang sedang berada di ruang kerja ayahnya, ada Nulani juga disana yang membawakan kopi untuk sang suami.
"Terjadi masalah kecil, Yah," jawab Agil.
"Ini masalah kecil? Ya, setidaknya untuk kalian yang memang anak-anak dari kelompok beladiri terkenal itu, tapi ini bukan masalah kecil bagi Momok, adikmu," Mochtar berucap tegas.
Agil diam, ia tak menyela atau memotong ucapan ayahnya.
"Agil, adikmu itu bukan seorang atlit di bidang manapun, jalankan menjadi atlit beladiri, berenang saja harus pakai pelampung," Mochtar mengingatkan Agil akan kekurangan adiknya.
"Ayah menyekolahkan Momok disana meskipun kemampuan akademik dan lainnya pas-pasan supaya kau bisa menjaganya, bukan membuat masalah atau keributan ini,"
"Beberapa hari lalu adikmu masuk rumah sakit, lalu kalian bertengkar sampai kau menggigit pahanya sampai biru, lalu kemarin juga kau buat masalah lagi, dan hari ini jugapun sama, dan objeknya selalu sama, adikmu selalu saja terbawa-bawa masalah ini," tegas Mochtar.
"Ayah harap kau tidak mengecewakan ayah, Agil, adikmu itu tidak sepertimu yang punya otak cerdas dan fisik yang mendukung, dia juga tidak seperti adik kembarmu yang memiliki kemampuan akademik yang bagus, salah makan saja, dia akan masuk rumah sakit bahkan mungkin lebih," lanjut Mochtar mengingatkan.
"Ayah bukannya membela Momok dan mengelukan-elukan dia seperti ayah dan bunda selama ini mengelukan-elukan dan memuji kalian bertiga," Mochtar berucap pelan.
Ada nada prihatin dan agak menyesal atas sikapnya pada sang putri sulung yang mungkin ia tak pernah memuji putrinya itu.
"Bukannya tugas seorang kakak untuk melindungi adiknya? Bukankah yang kuat harus melindungi yang lemah? Bukankah kelebihan harus saling melengkapi dengan kekurangan agar menjadi sempurna?" Mochtar berjalan keluar dari ruang kerjanya sambil membawa kopi yang ia minum.
Tinggal-lah Nulani dan putrinya saja.
Nulani memandang penuh iba pada sang anak.
"Lututnya memang tidak parah dan serius, tapi bagaimana dengan perutnya itu?" Nulani bertanya kepada anak sulungnya.
Ia maju dan mengusap-ngusap bahu anaknya.
"Bunda juga tidak bisa menyalahkanmu Agil, sebab segala masalah yang diberikan oleh Allah itu ada tujuan dan sasarannya masing-masing, yang bisa bunda ingatkan padamu, ikuti kata hatimu yang baik dan buang yang buruk itu, bunda keluar dulu, kamu istirahatlah, ini sudah malam, jangan lupa besok pagi oleskan salepnya lagi agar lebam itu hilang,"
"Nanti kamu nggak tampan lagi hehehehe," kekeh Nulani.
Agil menoleh ke arah sang bunda lalu menunduk menyesal.
"Maaf bunda, Agil udah buat ayah dan bunda kecewa sama Agil, Agil tidak bisa menjaga adik Agil, Agil tidak pantas disebut kakak," ucap Agil pelan.
Nulani tersenyum lalu merengkuh anaknya.
"Sudahlah, jangan menyalahkan diri sendiri, yang penting ambil sisi positif dari kejadian hari ini, bunda percaya anak bunda yang satu ini bisa menjadi seorang pelindung bagi adik-adiknya kelak, dan jangan lupa...selalu bersyukur kepada Allah," Nulani tersenyum ke Agil lalu berjalan keluar.
♡♡♡
"Bagaimana perkembangan kerja samanya?" Iqbal bertanya ke arah putranya.
Randra menoleh ke arah sang ayah.
"Baik pa, om Juna akan segera melakukan kerja samanya dengan kita, tapi ada beberapa prasyaratnya yang beliau ajukan," jawab Randra seadanya.
"Coba nggak usah bahas kerjaan di meja makan dulu dong, nanti setelah ini baru bahas pembicaraan kalian." Laras mengomel ketika ia duduk di kursi.
Mereka sedang makan malam, makan malam ini memang agak telat dari yang biasanya, maklum saja Iqbal dan Laras baru pulang kerja jam 8 tadi, juga Randra yang baru sampai.
"Ehm...," Iqbal berdehem.
Randra menyuapkan nasi dan ayam kecap ke dalam mulutnya.
"Ini!"
"Kata bunda, tidak baik kalau kita makan baru ada orang lain yang menatap tanpa kita tawarkan, jadi ini ambil,"
"Kita makan sama-sama dulu, nanti baru lanjut lagi, nanti Momok lapar, Ran lapar juga kan?"
"Eeehh mau dibawa kemana makanannya?"
"Katanya mau makan sama-sama,"
"Ran, jangan makan ayam dan nasi saja, ini sayur brokolinya juga, ck! Nanti sayurnya buang loh, mubazir,"
"Daging terakhir, dari tadi Ran terus yang makan ayamnya, Momok hanya dikasih brokoli doang dan nasi, jadi...mohon dimengertilah,"
Randra teringat akan dirinya dan Moti yang makan makanan yang sama tadi siang di ruang serbaguna.
Ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis yang tidak akan dilihat oleh siapun.
"...selesaikan masalah itu sebelum kakekmu yang turun tangan," Iqbal menoleh ke arah sang anak yang dari tadi tidak merespon pertanyaan dan bicaranya.
"Randra," panggil Iqbal.
"Ya? Ah...hm...ya," sahut Randra linglung.
Ia tersadar dari lamunannya.
"Apa kau mendengar ucapan papa?" Iqbal bertanya.
Randra menelan makanannya sambil menggeleng ragu. Baru pernah ia makan di meja makan dan tidak mendengar apa yang ayahnya ucapkan.
"Hem...," Iqbal menarik napas.
Randra memasukan nasi dan ayam kecap ke mulutnya, ia mengunyah cepat agar terhindar dari tatapan sang ayah.
"Ada masalah apa di sekolahmu? Kau sepertinya tidak memperhatikan papa, pikiranmu melayang ke tempat lain, papa tahu ada masalah antara kelompokmu dan kelompok temanmu,"
"Tapi melibatkan siswi yang tidak memiliki kemampuan beladiri untuk menantangnya bertanding itu bukan hal bijak," Iqbal menjelaskan.
Randra mengerutkan keningnya bingung. Seakan tahu respon anaknya, Iqbal melanjutkan lagi.
"Seorang anak petinggi polisi tadi siang ditendang salah satu anggota kelompokmu, dia perempuan dan ditambah lagi dia bukan dari kelompok beladiri manapun, kalau tidak salah gadis yang ditantang bertarung itu namanya...Mo...ehm...yang jelas dia dari keluarga Baqi--Randra!"
Bffuuuff
"Uhuk uhuk uhuk! A-apa?! B-baqi? Uhuk uhuk uhuk hik hik!" Randra tersedak.
"Randra! Makannya pelan-pelan dong, ini airnya, minum!" pinta Laras.
"Papa, kan mama udah bilang, jangan bicara kalau sedang di meja makan!"
♡♡♡
"Apa yang terjadi tadi siang!" Randra berteriak di depan ponselnya.
"Ah...Randra! Jangan berteriak begitu, telingaku sakit," sahut Busran dari seberang telepon.
"Aku tanya, apa yang terjadi di sekolah tadi siang?" Randra mengulang lagi pertanyaannya, ia bahkan menekan setiap kata yang ia ucapkan.
Terdengar helaan napas frustasi dari seberang telepon.
"Ada masalah kecil tadi...kita terlibat adu kekuatan dengan sebagian anggota Shadow Rain," Busran menjawab.
"Lalu?" tanya Randra meminta penjelasan.
"Clara membuat sebagian anggota dari kita dan Shadow Rain untuk naik tanding," Busran menjawab.
"Dan?" tuntut Randra.
"Dan...karena Clara menendang perut adik dari Ketua Shadow Rain di perut lalu ia jatuh terseret di dasar...kau tahu, lututnya luka--," ucapan Busran terputus.
"Apa?! Bagaimana bisa Clara melakukan itu, hah!? Apa dia sudah gila? Moti bukan anak beladiri, aarrghh!" Randra mengamuk di telepon.
Busran sampai harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Lalu apa lagi?" Randra kembali bertanya dongkol.
"Huufff...tentu saja Agil dan Cika tidak terima, mereka merasa terhina atas tindakan Clara pada adik Agil itu, bahkan masalah ini menjadi lebih rumit dari sebelumnya, Agil tadi sangat terlihat marah sekali, dan...dan adiknya itu menangisnya nyaring sekali...astaga! Bahkan Febrian mengamuk di dalam klinik, Agil dan Aran terlibat perkelahian, lalu aku, Mustaf dan Bari juga terpaksa ikut karena kami terpojok," Busran menjelaskan.
Randra benar-benar kesal dan marah hari ini, ia terlambat mengetahui kabar ini, ia jengkel luar biasa, bisa-bisa ia yang merupakan pemilik dari sekolahnya itu yang terakhir mengetahui masalah ini.
"Cika, Mali, Clara dan Mira juga akan naik tanding lusa, kepsek marah tadi," lanjut Busran.
"Dengarkan aku, ini bukan masalah kecil Busran, kenapa Clara bertingkah bodoh seperti itu? Dia boleh saja menantang anggota geng Shadow Rain untuk naik tanding, siapapun itu, tapi jangan Moti, Moti bukan anggota Shadow Rain, Clara akan menerima akibatnya nanti, aku tutup,"
Klik
Randra memutuskan panggilan itu setelah ia berbicara dengan nada datar dan terkesan tidak suka atas tindakan Clara kali ini.
♡♡♡
"Ada apa dengan Randra? Kenapa dia selalu terbawa emosi jika melibatkan adiknya Agil itu?" Busran bingung.
"Apa jangan-jangan benar kalau Randra dan adiknya Agil ada hubungan?" tebak Busran.
"Astaga! Bisa gawat kalau begini!" panik Busran di dalam kamarnya.
Ceklek
"Busran," panggil seorang perempuan berusia 42 tahun.
"Ah! Ya ampun ibu kagetin Busran," sahut Busran.
Lia memasuki kamar anak lelaki keduanya itu.
"Wahai anakku, ada apa dengan wajahmu?" Lia bertanya ke arah anaknya.
Glek
Busran menelan susah air ludahnya.
"Eh...ini...em...ibu...," Busran susah untuk menjawab.
Busran diam ditempat.
Ia tak mungkin memberi alasan pada ibunya bahwa wajah lebamnya ini didapatkan dari perkelahiannya tadi siang disekolah, bisa habis ia.
"Kenapa aku bisa lupa untuk menangangi lebam ini sih? Ck! Ini semua karena Randra, kalau saja dia tidak menelepon tadi, mungkin lebamku sudah kututupi dengan salep," batin Busran.
Tak mendapat jawaban dari sang anak, Lia berjalan keluar dari kamar anaknya. Ia menuju ke ruang kerja lelaki yang sudah menjadi suaminya selama 22 tahun ini.
Ceklek
Lia memasuki ruang kerja itu, terlihat Agri sedang mendongak ke arah pintu menggunakan kacamata bacanya. Lelaki 52 tahun itu masih segar seperti 22 tahun yang lalu, yang membedakaannya adalah rambut yang agak memutih dan jambang halus dan kumismya yang tipis.
"Sayang, ayo disini duduk di sini," pinta Agri lembut ke arah sang isteri, ia tersenyum sambil menepuk-nepuk pahanya agar sang isteri duduk di situ.
Selama mereka menikah, Agri tidak pernah bersuara atau bersikap kasar pada Lia, ia selalu menyayangi, lembut dan selalu mencintainya, sama seperti pertama kali dia melamar Lia dan berjanji pada kakak iparnya, Pasha. Bahkan Agri terlalu memanjakan istrinya, jika mereka sedang berduaan Lia selalu duduk dipangkuannya sama seperti ketika dia menculik Lia 22 tahun lalu.
Kebiasaan itu tak bisa hilang, meskipun mereka sudah memiliki tiga anak lelaki, namun Agri tetap dengan kebiasaannya pada Lia.
Lia berdiri di depan suaminya sambil memasang wajah sedih.
Agri mengerutkan keningnya bingung.
"Sayang, ada apa? Apa ada yang membuatmu sedih atau tidak senang?" Agri bertanya lembut dan penuh dengan kehati-hatian.
"Tuan Pemilik dompet, kenapa anakku Busran mengacuhkan pertanyaanku? Apakah Lia berbuat salah padanya?" Pertanyaan simpel dari Lia.
Namun bukan pertanyaan simpel bagi Agri.
Matanya melebar.
"Apa!? Tuan pemilik dompet?" batin Agri dongkol.
Sapaan atau panggilan Lia itu sudah mulai memudar pada saat anak ketiga mereka lahir 13 tahun lalu, Lia menggantikan panggilan andalannya iti dengan sebutan 'suamiku' namun kali ini tidak. Lia tidak akan memanggilnya dengan sebutan itu kalau tidak ada yang menyinggung perasaannya.
Agri mengatupkan bibirnya lalu sudut atas salah satu bibirnya naik menahan kekesalannya pada seseorang.
"Busran Afdal Nabhan! Tunggu saja kau," batin Agri dongkol.
♡♡♡