"Clara, papi tidak suka dengan tindakanmu tadi siang," Hansel menatap tajam ke arah sang anak tunggalnya.
Clara diam ditempat, ia takut menyela ucapan sang ayahnya yang merupakan pengacara handal itu.
"Jangan memberikan alasan apapun untuk membenarkan tindakanmu ini Clara, mau taruh dimana wajah papi jika bertemu dengan om Mochtar nantinya?" Hansel jengkel pada Clara.
"Huuumm...dia bukan seperti dirimu yang selalu menang pertandingan karate bahkan international,"
"Jujur saja, jangan berulah sesuka hatimu, papi memberikanmu kelonggaran apapun, apa yang kau inginkan silakan, tapi jangan coba-coba membuat masalah yang mengakibatkan papi malu tanpa alasan yang jelas," Hansel berjalan masuk ke kamarnya di ikuti oleh sang istri.
Sepeninggal sang ayah dan ibu tirinya, Clara mencebik kesal dan mengeraskan rahangnya.
Ayah dan ibunya bercerai tiga tahun lalu, dua bulan kemudian ayahnya menikah lagi. Meskipun dia memiliki ibu tiri, namun Zarah Aisyah menyayanginya layaknya anak kandung, wanita 35 tahun itu tidak bisa memiliki anak lagi karena mandul.
♡♡♡
"Agil, hari ini kamu pergi ke sekolah sendirian yah? Momok tidak mau ke sekolah," Nulani berbicara ke arah anaknya.
Agil mengangguk.
"Baik, Bun."
"Gilan, Gea! Ayo turun sarapan!" Nulani berseru di bawah tangga.
"Iya, Bun," terdengar sahutan saudara kembar itu.
"Ayah, ini kopinya, jangan terlalu minum kopi Yah, itu tidak baik untuk kesehatanmu," Nulani menoleh ke arah sang suami sambil memberikan segelas kopi.
Mochtar tersenyum pada sang istri.
"Iya Bun, nanti besok-besok ayah tambahkan kopi dengan s**u atau krim saja, supaya jangan terlalu beresiko,"
"Hari ini pasti ayah pulang malam lagi, kan?" Nulani bertanya.
Mochtar mengangguk.
"Nanti bangunkan bunda untuk siapkan makan malam untuk ayah," pinta Nulani.
"Ok, sayang," Mochtar berbisik genit ke arah sang istri.
"Ish...ayah ini, malu dong dilihat Agil," cebik Nulani, namun pada akhirnya ia tersenyum malu-malu.
"Apa sih? Biarkan saja, yang penting sama istri sendiri, hahahaha," Mochtar mengedipkan sebelah matanya lalu tak lupa mencolek pinggang sang isteri.
"Iihh..." Nulani malu-malu.
Agil menahan tawanya ketika melihat interaksi kedua orang tuanya. Ia sangat bersyukur memiliki ayah yang pekerja keras dan tegas namun penyayang dan ibu yang cerewet namun pengertian.
"Cie cie...ayah sama bunda genit-genitan," Gilan duduk sambil tertawa.
"Hahaha...romantis banget," lanjut anak 14 tahun itu.
Nulani menutupi wajahnya.
"Iiihh...bunda malu...hahahahaha!" Gilan menggoda ibunya.
"Hei! Ayo makan!" seru Nulani.
"Kak Agil, bunda hari ini kelihatan cantik kan? Maksud Gea, lebih cantik," Gea berbicara ke arah sang kakak.
Agil mengangguk kuat.
"Benar Gea, ehm...pantas saja pagi-pagi ayah genit, rupanya ada maksud tersembunyi," balas Agil.
"Agil!" Nulani berseru.
"Hahahahaha,"
♡♡♡
"Agil, Momok nggak masuk sekolah yah?" Ussy bertanya.
Agil menggeleng.
"Penakut begitu bagaimana mau masuk sekolah hari ini? Bahkan ketika aku masuk kamarnya saja ia berlari bersembunyi di bawah kolong ranjang," jawab Agil.
"Ck! Ck! Benar juga yah, kasihan juga si Momok itu, pasti dia ketakutan banget buat datang ke sekolah." Ussy membalas ucapan temannya.
Agil berhenti berjalan begitupun Ussy.
"Huufff...dengar Ussy, Momok itu bukan seorang atlit di bidang manapun, jangankan menjadi atlit beladiri, berenang saja harus pakai pelampung," balas Agil agak kesal.
Ucapan itu sama seperti ucapan ayahnya tadi malam.
"Kau lihat sekarang kan? Dia tidak mau ke sekolah, meskipun kau mencungkilnya dengan linggis dari tempat tidurnyapun, dia tak akan mau bangun, seperti lem," lanjut Agil.
Aran menghentikan langkahnya ketika mendengar pembicaraan itu, ia bersembunyi di balik sudut dinding.
"Lalu, kapan dia masuk sekolah? Besok kan kalian naik tanding," Ussy bertanya.
"Akan ku suruh Febrian membujuknya ke sekolah nanti, biasanya dari semua temanku, Febrian selalu berlaku baik dan lembut padanya, mudah-mudahan saja Momok mau," usul Agil.
Ussy manggut-manggut tanda mengerti.
Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan mereka ke lab Fisika.
Randra keluar dari salah satu lorong yang berdekatan dengan jalan yang dilalui oleh Agil dan Ussy tadi.
Ekspresinya tak terbaca.
"Menyuruh Febrian membujuk Moti? Hem, kita lihat saja nanti,"
Randra berbalik dan berjalan kesal menuju kelasnya.
Sedangkan Aran menyandarkan dirinya di dinding itu. Tangan kirinya naik menyentuh d**a kirinya. Aran berulang-ulang kali menggeleng-gelengkan kepalanya menyangkal sesuatu.
"Tidak mungkin," gumam Aran.
"Ini tidak mungkin, ada apa dengan diriku akhir-akhir ini?" Aran bertanya bingung pada dirinya sendiri.
♡♡♡
Brak
Seseorang masuk ke dalam markas itu.
Randra dengan ekspresi dinginnya berjalan ke arah para anggotanya yang sudah berkumpul.
"Hari ini jam lima sore, kumpul di markas besar," intruksi Randra.
"Dan kau Clara, kusarankan sebaiknya kau memberikan alasan yang logis untukku," Randra menatap tajam ke arah Clara.
"Bubar." Intruksi Randra.
Lalu semua anggota Storm Rider berjalan keluar dari markas itu.
Kecuali Randra, Aran, Busran dan Mustaf yang masih tetap di ruangan itu.
Randra duduk dikursi sambil memijit-mijit keningnya, sedangkan Aran dan yang lainnya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Busran menoleh ke arah sepupunya.
"Mus..." panggil Busran.
"Hm?" sahut sepupunya tanpa menoleh.
"Aku pinjam kartu ATM-mu, bisa?" Busran bertanya.
Mustaf menoleh ke arah sepupunya.
"Memangnya kau tidak punya kartu ATM?" balas Mustaf bertanya.
Busran menggaruk-garuk kepalanya.
"Boleh tidak?" tanya Busran.
"Jawab dulu pertanyaanku!" sahut Mustaf.
"Ehm...ayah menyita seluruh kartu ATM dan bahkan tidak memberikan aku uang sepeserpun, pergi kesekolah saja hampir jalan kaki kalau tidak numpang dengan kak Feral," jawab Busran lesu.
Aran, dan Randra melirik ke arah Busran.
"Memangnya kau buat masalah apa? Tidak mungkin om Agri melakukan itu jika kau tidak melakukan sesuatu yang membuat beliau marah," tanya Mustaf.
"Huufff..." Busran menghembuskan napasnya kasar.
"Karena aku tidak menjawab pertanyaan simpel dari ibuku,"
"Yang lebih parahnya lagi aku tidak tahu bahwa ibu akan mengadu pada ayah tentang kenapa aku mengabaikan pertanyaan ibu tadi malam, astaga...jika kau ada tadi malam di rumahku, mungkin kau akan lari terbirit-b***t," lanjut Busran.
Mustaf menahan tawanya, ia tahu sifat dan tabiat dari pamannya itu, Agri tidak suka jika ada orang lain yang menyinggung perasaan istrinya, meskipun itu adalah anaknya sendiri.
"Lalu?" tanya Mustaf.
"Lalu kau tahulah sekarang, aku seperti ini...tanpa uang, tanpa kartu ATM, dan bahkan tanpa mobil," jawab Busran dongkol.
"Hahahaha...makanya, jangan menyinggung perasaan tante Lia, kau tahu kan betapa besar sayang dan cinta om Agri pada ibumu?" Mustaf tertawa nyaring.
"Ck! Malah menertawakanku, ini semua karena Randra menelepon tadi malam, kalau dia tidak telepon mungkin aku sudah mengobati lebam ini tanpa ketahuan dari ibuku," Busran kesal.
Randra menaikan sebelah alisnya.
"Memangnya aku yang beritahu pada ibumu tentang lebam itu? Salah sendiri tidak mau kau obati dulu," sahut Randra santai.
"Heum...," Busran mendengus sinis.
Sedangkan Aran menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi tidak?"
"Ehm...maksudku itu ATM," koreksi Busran.
Mustaf mengeluarkan dompetnya lalu mengambil sebuah kartu ATM berwarna silver lalu diberikannya pada sepupunya itu.
"Hm, ini," Mustaf menyodorkan ATMnya.
"PIN-nya?" tanya Busran ketika dia menerima ATM itu.
"Ultahku," jawab Mustaf singkat.
Busran manggut-manggut.
"Ehm...dan bisakah aku meminjam salah satu motormu?" tanya Busran kemudian.
Mustaf menatap tak percaya pada sepupunya itu.
"Katanya anak pengusaha kaya-raya, gayanya pinjaman, ck!" Mustaf mencibir.
Busran menelan susah ludahnya.
Glek
"Hahahahaha!"
♡♡♡
Tok
Tok
Tok
Moti buru-buru turun dari ranjangnya dan bersembunyi di kolong ranjang itu.
Ceklek
Agil masuk, lalu ada Febrian dibelakangnya.
"Momok! Ayo keluar! Jangan sembunyi di kolong ranjang terus!" seru Agil.
Moti tetap pada posisinya.
"Ck! Ada kak Febrian loh, ini jauh-jauh datang buat jenguk kamu, masa mau diabaikan sih? Kan kata bunda itu tidak sopan loh abaikan tamu, dosa," celutuk Agil.
"Hiiissshhh," terdengar desahan kesal seseorang dari arah kolong ranjang.
Moti keluar dari situ memasang tampang cemberut.
"Kak Agil ngancem terus sih," kesal Moti.
Agil tersenyum.
"Nah gitu dong, ayo Febri masuk!" seru Agil.
Febri datang membawa buah strobei kesukaan Moti.
"Maaf yah Momok, belum musim rambutan jadi kak Febri cuma bawa buah stroberi aj--ehh?!"
Hap
Sret
Tangan Moti dengan cepat meleset merebut bingkisan buah itu.
"Ck! Dasar rakus," cibir Agil.
"Apa?! Kak Febri, ini buat Momok, kan?" tanya Moti melirik ke arah Febrian.
Febrian mengangguk.
"Lalu buat siapa lagi? Agil kan nggak mungkin," jawab Febri lembut.
Agil hampir saja menjatuhkan rahang bawahnya jika ia cepat-cepat tak menguasai dirinya.
"Makasih yah kak Febri udah mau jenguk Momok," ucap Moti.
Febri tersenyum.
"Sama-sama, masih sakit?" tanya Febrian.
Moti menggeleng.
"Lalu kenapa tidak mau kesekolah?" tanya Febrian.
Moti mengatupkan bibirnya sambil menunduk.
"Kenapa hm?" tanya Febrian.
"Momok nggak mau ke sekolah lagi," jawab Moti pelan.
Febrian dan Agil menarik napas gusar.
"Loh kenapa begitu? Memangnya Momok nggak mau sekolah? Lalu katanya mau kuliah terus mau punya usaha kebun bunga sendiri," bujuk Febrian.
"Yah udah deh, nanti hari senin aja baru Momok ke sekolah," sahut Moti pasrah.
"Kenapa harus hari senin?" tanya sang kakak.
"Kan besok hari sabtu, sekolah Momok kan libur, lagian Momok nggak ikut ekstra kulikuler apapun," jawab Moti.
"Huuff...tapi besok kan kakak naik tanding,"
"Masa Momok nggak mau lihat kakak tanding yah?" tanya Agil.
"Tidak mau!" jawab Moti menekan setiap kata yang ia ucapkan.
"Kak Febri, Momok tidur dulu yah? Dadah kak Febri," ucap Moti lalu ia berjalan naik ke atas ranjangnya, tak lupa juga ia menaikan selimut sampai atas dadanya lalu mematikan lampu tidur.
Agil dan Febrian bahkan belum keluar dari kamar Moti.
"Ck! Dasar Momok," decak Agil.
"Ayo kita turun," ajak Agil.
♡♡♡
"Agil, hari ini ke sekolah?" tanya Nulani menyiapkan sarapan pagi.
Sarapan hari ini agak telat, karena mengingat seluruh aktivitas kantor dan sekolah tidak dilaksanakan. Mochtar tidak ke kantor, Gea dan Gilan pun sama, sekolah mereka sampai hari jumat saja.
Agil mengangguk.
"Pergi bun, hari ini Agil dan Cika naik tanding," jawab Agil.
Nulani menoleh ke arah sang anak.
"Hm?!" bingung Nulani.
"Masalah dua hari yang lalu, Momok kan bukan anak beladiri, makanya Agil dan Cika yang naik tanding," jelas Agil.
"Oh...," Nulani manggut-manggut.
"Momok nggak ikut?" tanya Nulani.
Agil menggeleng.
"Jangankan ikut, denger suara Agil aja Momok sembunyi di kolong ranjang, Bun." Jawab Agil.
"Eh?? Anak itu," Nulani menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lalu Gea sama Gilan nggak ikut kegiatan pramuka dan basket kalian?" Nulani bertanya ke anak kembarnya.
"Dirumah aja deh bunda, Gilan agak capek," jawab Gilan.
"Gea juga bun, nanti minggu depan aja," sambung Gea.
Nulani manggut-manggut.
"Kalau ayah nggak ke kantor kan? Ini kan akhir pekan," tanya Nulani.
"Nanti jam sepuluh baru ayah pergi, hanya mengecek beberapa berkas dan bukti-bukti yang telah ditemukan," jawab Mochtar.
Nulani manggut-manggut.
♡♡♡
"Agil, beneran Momok nggak mau datang?" Cika bertanya ke arah sang sepupu.
Agil mengangguk.
"Kan harus ada dia, Clara kan yang duluan nantang, biarpun aku yang ganti, tapi dia harus ada sebagai pendamping," ucap Cika.
"Udah dibujuk Febrian juga, tapi kata Momok, hari senin aja baru dia masuk, syukur-syukur ada Febrian yang mau bujuk, katanya dia sih nggak mau ke sekolah lagi," jelas Agil.
"Apa!? Ck ck ck, dasar Momok!" decak Cika.
Aran melipatkan tangannya sambil bersandar di dinding.
Mereka sekarang sudah berada di arena pertandingan. Arena pertandingan ini cukup besar, layaknya sebuah stadion mini yang disediakan kursi-kursi penonton dan ditengah-tengah arena itu ada matras pertandingan.
"Perhatian semuanya, harap seluruh siswa-siswi penonton agar mengambil tempat, dan para peserta diharapkan melapor di administrasi!" terdengar pengumuman dari pemberi informasi.
"Bagaimana ini? Randra belum datang!"
♡♡♡