Siti sengaja tidak mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Adib. Ia akan memalukan dirinya sendiri jika menjawab yang sebenarnya. Adib pun akan menganggapnya sebagai perempuan yang tidak laku.
“Oh, begitu? Saya kira ibu kamu takut kalau kamu merebut suami kakak kamu,” ujar Adib dengan santai.
“Hah?!” Siti kaget mendengar perkataan Adib. Ia tidak mengira Adib berpikiran seperti itu.
Siti menganggap Hadi seperti kakak kandungnya sendiri. Semenjak Gwen menikah dengan Hadi, Siti merasa senang karena memiliki kakak laki-laki. Tak ada sedikit pun terlintas di benak Siti untuk merebut suami kakaknya.
Adib menoleh ke arah Siti, Siti masih terlihat kaget mendengar perkataan Adib. “Sudah, jangan dipikirkan. Saya cuma bercanda,” ujar Adib.
‘Becanda Bapak keterlaluan,’ kata Siti di dalam hati.
Untung Adib adalah bos Siti, sehingga Siti harus menahan rasa kesal terhadap Adib. Jika orang lain yang mengatakan demikian, pasti Siti sudah di damprat orang tersebut.
Akhirnya mereka sampai di rumah kakek Adib. Rumah itu terletak di daerah Menteng Jakarta Pusat. Dari depan pagar, rumah tersebut terlihat sangat luas. Adib memasukkan mobil ke dalam halaman rumah. Di halaman rumah berjejer beberapa mobil. Halaman rumah itu sangat luas sehingga bisa memuat mobil yang cukup banyak.
Siti terpukau melihat rumah kakek Adib. Rumah kakek Adib lebih besar dari rumah orang tua Hadi. “Ayo, kita turun.” Ajakan Adib menyadarkan Siti yang terkagum-kagum menatap rumah kakek Adib.
Siti keluar dari mobil. Adib mendekati Siti lalu menggenggam telapak tangan kanan Siti. Siti tersentak kaget ketika Adib memegang telapak tangannya. Ia memandangi tangannya yang berada dalam genggaman Adib.
“Ayo kita mulai sandiwara kita,” bisik Adib.
Siti mengangkat wajahnya dan menatap wajah Adib. “Hehm.” Adib tersenyum manis kepada Siti. Siti membalas senyuman Adib. Kemudian ia pun mengangguk tanda setuju. Adib menggandeng tangan Siti. Ia membawa Siti masuk ke dalam rumah Abraham Razendra.
Di ruang tamu tidak nampan seorang pun. Namun, di ruang tengah ramai sekali. Terdengar suara orang yang sedang berbicara dan tertawa.
“Assalamualaikum,” ucap Adib ketika mereka memasuki ruang tengah. Di sana banyak sekali orang yang sedang berbincang-bincang.
“Waalaikumsalam.” Semua orang yang ada di sana menoleh ke arah Adib.
“Ini dia yang tunggu dari tadi sudah datang,” kata salah satu di antara mereka. Adib menanggapi dengan senyuman. Ia berjalan menghampiri seorang pria yang sedang duduk di sofa. Pria itu nampak sudah tua. Rambutnya sudah berwarna putih dan kulitnya sudah keriput. Pria itu adalah Abrahan Razendra, kakek Adib.
“Selamat ulang tahun, Kakek.” Adib mencium tangan Abraham lalu ia memeluk Abraham. Hari ini adalah hari ulang tahun Abraham ke delapan puluh empat.
“Terima kasih.” Abraham menepuk-nepuk punggung Adib.
Adib melepaskan pelukannya lalu beralih kepada wanita lanjut usia yang duduk di sebelah Abraham. Beliau adalah nenek Adib bernama Hanna. Walaupun sudah lanjut usia, beliau masih terlihat cantik. Adib mencium tangan Hanna.
“Katanya kamu mau bawa pacar baru. Mana pacar barumu?” tanya Hanna.
“Ada, Nek.” Adib menoleh ke belakang, ia mencari Siti. Ketika Adib hendak mencium tangan kakek dan neneknya, ia melepaskan tangan Siti. Adib melihat Siti berdiri agak menjauh dari nya. Ia menghampiri Siti lalu kembali menggenggam tangan Siti.
“Ayo, aku perkenalkan kepada keluargaku.” Adib mengubah panggilan dirinya menjadi ‘Aku’ agar sandiwaranya berjalan dengan lancar. Adib menarik tangan Siti dengan lembut, terpaksa Siti mengikuti Adib.
Adib membawa Siti mendekati kakek dan neneknya. “Kek Nek. Kenalkan ini Siti pacar baru Adib.” Adib memperkenalkan Siti kepada kakek dan neneknya. Siti menyalami tangan Abraham dan Hanna.
Abraham dan Hanna memperhatikan Siti dari atas kepala sampai kaki. Siti merasa gugup dipandang seperti itu. “Masih muda sekali, Dib. Kenalan dimana?” tanya Hanna.
“Kenalan di resto, Nek. Siti sekretaris Adib,” jawab Adib.
Tiba-tiba terdengar suara riuh sepupu-sepupu Adib. “Adib pacaran sama sekretaris sendiri,” sahut salah seorang sepupu Adib.
“Dib, sekretaris sendiri diembat juga,” celetuk sepupu yang lain. Adib hanya nyengir kuda mendengar celetukan sepupu-sepupunya.
Kemudian Adib memperkenalkan Siti kepada kedua orang tuanya. “Ma Pa, kenalkan ini Siti pacar Adib.”
Omar dan Faiza memandangi Siti. Siti sangat berbeda dari gadis-gadis yang pernah dipacari oleh Adib. Biasanya pacar-pacar Adib bertubuh tinggi, langsing dan berpakaian sedikit seksi. Sedangkan Siti bertubuh lebih berisi dan tidak tinggi. Penampilan Siti lebih terkesan sedarhana. Pacar-pacar Adib kebanyakan berprofesi sebagai model, artist, peragawati dan desainer. Sehingga penampilan mereka glamour.
Siti menyalami tangan Omar dan Faiza. “Sudah lama kenal dengan Adib?” tanya Faiza.
“Belum lama, Bu,” jawab Siti.
Faiza mengerut kening mendengar jawaban Siti. Siti memanggilnya Ibu, biasanya pacar-pacar Adib memanggilnya Tante.
“Belum lama berkenalan, kenapa kalian sudah pacaran?” tanya Faiza.
“Namanya juga cinta pada pandangan pertama, Ma,” jawab Adib. Agar mamanya tidak banyak tanya. Ia takut rahasianya terbongkar.
“Kakak.” Seorang gadis cantik berjalan mendekati mereka. Gadis itu adalah Aqeela, adik Adib.
“Kenalkan ini Aqeela, adik aku.” Adib memperkenalkan adiknya kepada Siti.
“Hallo.” Aqeela menyalami tangan Siti.
“Dan itu pacar Aqeela.” Adib menunjuk ke lelaki yang berdiri di belakang Aqeela. Siti menoleh ke lelaki yang ditunjuk oleh Adib. Alangkah kagetnya ketika ia melihat lelaki itu. Ternyata lelaki itu adalah Beni.
Dari tadi Siti gugup menghadapi keluarga Adib sehingga ia tidak memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Sampai-sampai ia tidak menyadari kalau Beni memperhatikannya dari semenjak ia datang.
Siti menutupi rasa kagetnya. Bagaimana pun sekarang ia sedang berperan menjadi kekasih Adib. Ia berpura-pura tidak mengenali Beni. Dengan santai Siti mengulurkan tangannya ke arah Beni.
“Hallo,” sapa Siti. Ia tersenyum manis kepada Beni. Beni menyambut tangan Siti, Ia menyalami tangan Siti.
“Siti.” Siti memperkenalkan namanya.
“Beni.” Beni menyebut namanya. Mereka bersikap seolah-olah mereka tidak saling kenal.
“Dib, ajak Siti makan dulu!” ujar Faiza.
“Iya, Mah.” Adib merangkul pinggang Siti dengan mesra. Lalu mengajak Siti menuju ke tempat makan.
Di tempat makan berbagai macam makanan dihidangkan. “Kamu mau makan apa, Sayang?” Adib mengecup rambut Siti. Siti kaget ketika Adib mencium rambutnya. Namun, ia teringat kalau mereka sedang berpura-pura menjadi sepasang kekasih.
Untung sewaktu rambut Siti hendak ditata, ia dikeramas terlebih dahulu oleh penata rambut. Sehingga rambutnya tercium wangi sampo, bukan bau keringat.
“Ada apa saja, Mas?” Siti memanggil Adib dengan sebutan ‘Mas.’ Tidak mungkin ia memanggil Adib dengan sebutan ‘Pak’ di depan keluarga Adib.
“Kita lihat ada apa saja.” Adib mengajak Siti mengelilingi tempat makan untuk melihat makanan yang disajikan.
Makanan yang disediakan terlihat sangat lezat, membuat Siti ingin menyicipi semuanya. Namun, ia sadar jika ia sedang bersama Adib. Tidak mungkin ia menunjukkan kalau ia suka makan banyak. Nanti akan mempermalukan diri sendiri di depan Adib dan keluarga Adib.