“Tunggu sebentar. Saya ambilkan dulu.” Siti turun dari mobil lalu berjalan menuju ke toko kue.
Beberapa menit kemudian Siti kembali membawa kantong plasik berwarna putih. “Ini, Pak.” Siti memberikan plastik kepada Adib. Adib mengambil kantong plastik tersebut lalu melihat isi kantong plastik. Di dalam kantong plastik ada sebuah kotak kue berukuran sedang. Adib membuka kotak tersebut. Di dalam nya terdapat berbagai macam kue yang disusun dengan rapih.
“Banyak sekali.” Adib memperhatikan satu persatu kue yang berada di dalam kotak.
Siti tersenyum mendengar komentar Adib. “Itu kue-kue best seller di toko kami, Pak,” jawab Siti.
Adib mengangkat wajahnya. “Oh, ya?!”
“Silahkan Bapak coba dulu. Nanti Bapak berikan komentar rasa kue-kue ini,” ujar Siti.
“Oke. Terima kasih, Sit,” ucap Adib.
“Saya juga berterima kasih atas gaun dan sepatu yang Bapak belikan.” Siti mengambil tas-tas kertas yang ia taruh di jok mobil. Adib menjawab dengan senyuman lalu mengangguk.
“Saya pamit, ya. Jangan lupa nanti malam dandan yang cantik! Saya akan menjemputmu jam setengah tujuh,” ujar Adib.
“Baik, Pak,” jawab Siti.
Siti menutup pintu mobil, Adib pun menjalankan mobilnya. Siti memperhatikan mobil bosnya yang menjauh. Tiba-tiba terdengar suara bunyi klakson mobil yang membuat Siti kaget.
Siti menoleh ke arah mobil tersebut. Ternyata itu mobil Gwen. Gwen membuka jendela mobil dan mengeluarkan wajahnya dari balik kaca jedela mobil.
“Lagi ngapai kamu bengong di situ?” tanya Gwen.
Siti langsung menggeleng kepalanya. Ia tidak ingin ketahuan sedang memperhatikan mobil Adib. “Nggak lagi ngapa-ngapain, kok,” jawab Siti.
“Bukain pintu pagarnya!” seru Gwen. Cepat-cepat Siti membuka pintu pagar. Gwen memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah.
.
.
Ketika menjelang sore Gwen membawa Siti ke salon yang biasa merias para wanita berasal dari ekonomi atas.
“Kak, ngapain kita ke sini?” Siti memperhatikan bangunan salon tersebut yang terlihat megah dan mewah. Di depan salon banyak mobil-mobil mewah yang parkir di sana.
“Ya, mau diriaslah. Masa mau makan baso.” Gwen membuka safety belt lalu menoleh ke arah Siti. Siti masih belum membuka safety belt.
“Ayo, turun!” Gwen membuka pintu mobil lalu turun dari mobil. Siti menghela napas melihat kakaknya turun dari mobil. Ia tidak setuju kalau harus di rias di salon itu. Ia hanya hendak ke acara makan malam keluarga bukan ke acara pesta, Jadi tidak perlu dirias dengan menor.
Tiba-tiba terdengar suara kaca jendela mobil diketuk. Siti menoleh ke kaca jendela, ternyata Gwen sedang berdiri di sebelah mobil. Terpaksa Siti keluar dari mobil. Ia mengikuti Gwen yang berjalan masuk ke dalam salon.
Ketika masuk ke dalam salon, salon tersebut nampak penuh oleh tamu yang sedang dirias dan ditata rambutnya. Siti memperhatikan ke sekeliling ruangan. Ia melihat dua orang artis yang cukup terkenal yang sedang ditata rambutnya. Ada juga seorang selebgram yang sedang dirias wajahnya. Ada beberapa ibu-ibu sosialita yang sedang dirias dan ditata rambutnya.
Salah seorang pegawai salon menghampiri mereka. “Selamat sore, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya pegawai itu.
Gwen menoleh ke pegawai itu. “Sore,” jawab Gwen.
“Mbak, wajah adik saya mau dirias dan ditata rambutnya,” ujar Gwen.
“Mari ikuti saya, Mbak.” Pegawai itu mengajak Siti dan Gwen ke ruangan lain yang berada di dalam salon.
.
.
Gwen memakaikan kalung berlian miliknya di leher Siti. “Kak, nggak usah pake kalung berlian! Nanti hilang,” kata Siti. Namun, Gwen tetap sibuk mengaitkan ujung kalung. Ia tidak memperdulikan perkataan Siti.
“Biar penampilan kamu jadi sempurna,” ujar Gwen.
Siti memegang kalung yang sedang dikaitkan oleh Gwen. Kalung itu terbuat dari mas putih dengan bandul yang terbuat dari berlian. Rantai kalung itu tidak terlalu besar sehingga terlihat manis di leher Siti.
Gwen selesai mengaitkan kalung di leher Siti lalu ia memperhatikan penampilan Siti di cermin. “Tuh kan, kamu kelihatan cantik dengan menggunakan kalung itu,” ujar Gwen.
Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar Siti. Annisa memasuk ke dalam kamar Siti sambil menggendong Milla. “Sit, Pak Adib sudah datang,” ujar Annisa.
“Iya, Bu.” Siti beranjak dari tempat duduk lalu mengambil tas hobo merek ternama yang tergeletak di atas tempat tidur. Gwen meminjamkan semua barang-barang miliknya untuk menunjang penampilan Siti. Ia ingin Siti terlihat cantik di hadapan semua orang.
Siti menyelempangkan tas di bahu. Annisa memperhatikan penampilan Siti. “Kamu cantik sekali,” puji Annisa.
“Anak siapa dulu, dong,” sahut Gwen dengan bangga.
“Anak Ibu,” kata Siti.
“Ayo cepat keluar, kasihan Pak Adib sudah menunggu lama,” ujar Annisa.
Siti pun keluar dari kamar. Ia berjalan menuju ruang tamu. Di ruang tamu Adib sedang berbincang-bincang dengan suami Gwen dan ayah Siti. Adib mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru gelap. Lengan kemeja digulung hingga sepertiga tangan. Sebagai bawahannya ia menggunakan celana panjang berwarna abu-abu muda. Penampilan Adib terlihat santai namun keren.
“Pa Adib.” Siti memanggil Adib.
Adib berhenti bicara dan menoleh ke arah Siti. Adib terpukau dengan penampilan Siti. Ia hampir tidak mengenali Siti. Siti terlihat sangat cantik sekali.
“Berangkat sekarang, Pak?” tanya Siti.
Adib tersadar ketika mendengar pertanyaan Siti. “Iya,” jawab Adib.
Adib pun berdiri dari tempat duduk. “Kamu pamit dulu, Pak,” kata Adib.
“Hat-hati di jalan. Pulangnya jangan larut malam!” ujar Arifin.
“Baik, Pak,” jawab Adib.
Adib dan Siti keluar dari rumah Siti. Mereka masuk ke dalam mobil Adib. Mobil Adib pun melaju meninggalkan rumah Siti. Siti melambaikan tangannya kepada orang tua dan kakak-kakaknya.
“Itu kakak ipar kamu?” Adib bertanya sambil menyetir mobil. Orang yang dimaksud oleh Adib adalah Hadi.
Siti menoleh ke Adib. “Iya, Pak,” jawab Siti.
“Keihatannya dia cukup kaya, Dia kerja dimana?” tanya Adib. Adib penasaran dengan kakak ipar Siti. Ia sempat kaget ketika melihat mobil Mercedes Benz keluaran terbaru terparkir di halaman rumah Siti. Ia tidak menyangka kalau orang tua Siti sangat kaya hingga memiliki mobil mewah seperti itu. Ketika ia melihat Hadi, Adib sudah bisa menebak kalau Hadi adalah pemilik mobil tersebut.
“Dia bekerja di perusahaan orang tuanya. Menerus perusahaan orang tuanya,” jawab Siti.
Adib menoleh ke Siti sebentar. “Kenapa kamu tidak bekerja di perusahaan kakak iparmu?” tanya Adib.
“Tidak boleh sama Ibu.” Siti menundukkan kepalanya dan memainkan kukunya. Kuku-kukunya terlihat cantik memakai cat kuku.
“Kenapa?!” Adib kaget mendengar jawaban Siti. Ia menoleh dengan kening berkerut. Ia penasaran mengapa ibu Siti melarang Siti bekerja di perusahaan menantunya.
“Kata Ibu, jika saya bekerja di perusahaan Mas Hadi, Saya tidak akan mandiri. Semua orang tidak akan berani menyuruh saya karena saya adik ipar bos mereka,” jawab Siti.