Madiev
Anak itu memang pendiam, tertutup, dan tampaknya tidak ingin terlalu banyak berinteraksi dengannya. Bagaimanapun bencinya Rurayya pada ayahnya Madiev, ia tidak bisa membenci seorang anak kecil yang kehilangan ibunya. Justru, ia merasa bersyukur karena ada Madiev. Setidaknya, ada seseorang yang bisa diajak berbicara, seseorang yang membuatnya tetap waras di rumah yang terasa seperti penjara ini.
Sore itu, Madiev muncul di ruang keluarga dengan sekotak besar lego di tangannya. Anak itu hanya berdiri di ambang pintu, menatapnya ragu-ragu.
Rurayya menoleh dan tersenyum kecil. "Mau main?"
Madiev diam sejenak, lalu mengangguk pelan.
Senyum Rurayya semakin lebar. "Ayo sini, kita buat sesuatu."
Madiev duduk di lantai, menuangkan seluruh isi kotak lego ke karpet. Rurayya ikut duduk di sampingnya, memperhatikan anak itu mulai menyusun balok-balok plastik dengan serius.
"Apa yang mau kita buat?" tanyanya.
Madiev berpikir sejenak sebelum menjawab, "Kastil."
"Kastil? Wah, keren," Rurayya terkekeh. "Tapi kakak nggak jago bikin yang rumit-rumit."
Madiev meliriknya sekilas sebelum berkata, "Aku ajarin."
Itu adalah pertama kalinya anak itu secara sadar ingin mengajari sesuatu pada Rurayya, dan itu membuat hatinya terasa hangat. Mereka menghabiskan hampir satu jam menyusun lego bersama, dengan Madiev yang perlahan mulai lebih banyak berbicara.
Saat kastil mereka hampir selesai, Madiev tiba-tiba mengajak Rurayya keluar ke taman.
"Ayo main kejar-kejaran," katanya singkat.
Rurayya mengangkat alis, sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum dan berdiri. "Siap! Kamu yang jaga atau aku?"
"Kamu!"
Dan permainan pun dimulai. Tawa Madiev menggema di udara sore yang sejuk. Anak itu berlari ke sana kemari, berusaha menghindari tangan Rurayya yang mencoba menangkapnya.
Di tengah permainan, Rurayya tiba-tiba menangkap selang air taman, menyemprotkan air ke arah Madiev.
"Awas kamu!" serunya, tertawa.
Madiev menjerit kecil, berusaha menghindar, tapi akhirnya ikut tertawa. Anak itu pun merebut selang dari tangan Rurayya dan membalasnya.
Mereka basah kuyup, tapi mereka tidak peduli.
Malam itu, di ruang makan
Rurayya memutuskan untuk membuat cemilan sehat untuk Madiev—pancake pisang dan segelas s**u hangat. Ia menyuapi anak itu dengan penuh perhatian, mendengarkan segala ceritanya dengan sabar.
Madiev terlihat sudah nyaman dengannya, sesuatu yang langka di rumah ini.
Namun, di ambang pintu, seseorang tengah memperhatikan mereka dengan ekspresi tak terbaca.
David.
Pria itu berdiri di sana, matanya tajam menyorot interaksi antara istri dan anaknya. Ia tidak menyukai ini.
Raut wajahnya mengeras, dan tanpa suara, ia melangkah mendekat.
"Madiev," panggilnya.
Madiev menoleh, ekspresi bahagianya langsung memudar saat melihat ayahnya.
David menarik kursi di seberang mereka, duduk dengan gerakan yang penuh otoritas. Tatapannya menusuk Rurayya sebelum beralih ke Madiev.
"Kamu masih ingat bundamu, kan?" suaranya dalam dan dingin.
Madiev mengangguk pelan.
David menatapnya lebih dalam. "Bundamu adalah bunda terbaik. Dia menyayangimu lebih dari siapapun. Jangan pernah melupakan itu."
Seolah-olah ia sedang mengingatkan anaknya akan sesuatu—atau seseorang.
Tatapan Madiev berubah gelisah. Ia menunduk, jarinya mencengkram ujung bajunya.
Rurayya, yang sejak tadi diam, akhirnya membuka mulut. Suaranya terdengar dingin, berbeda dengan biasanya.
"Mbak, tolong antar Madiev ke kamarnya."
Salah satu pelayan dengan cepat menghampiri, menggandeng tangan Madiev dan membawanya pergi.
Begitu anak itu menghilang dari pandangan, Rurayya berdiri.
Ia menatap David dengan tatapan penuh api.
"Kenapa kamu mencuci otak anak kecil untuk membenci seseorang?" suaranya bergetar karena emosi.
David tersenyum sinis. "Saya hanya mengingatkan dia untuk tidak melupakan ibunya."
"Tidak ada yang akan terlupakan!" suara Rurayya meninggi. "Saya udah bilang, saya gak mau menggantikan posisinya. Saya melakukan semua ini karena kewajiban, kamu bilang saya harus berkenalan dengan Madiev kan?”
“Tapi bukan untuk jual muka, saya gak sudi Madiev terlalu nurut dengan ibu tiri.”
Nafas Rurayyamemburu. “Saya juga gak menginginkan pernikahan ini, dan kamu tahu itu!"
David bangkit dari kursinya, mendekatinya dengan gerakan lambat tapi mengintimidasi.
"Nggak mau, tapi masih di sini," desisnya. "Masih mencoba berperan jadi istri yang baik, masih mencoba cari perhatianku, ya?”
Rurayya tersenyum tipis, penuh ejekan. "Kamu pikir aku mau tinggal di sini? Kalau bukan karena keadaan, aku sudah pergi sejak hari pertama."
David tertawa pendek, tapi tidak ada humor di matanya."Jangan coba-coba mengambil tempat Mawar di hati Madiev, camkan itu. " katanya dengan suara rendah, tapi penuh ancaman.
Rurayya mendekat, hingga mereka hanya berjarak beberapa senti."Saya gak pernah tertarik menggantikan mendiang istrimu," bisiknya. "Tapi kalau Madiev sendiri yang mendekati saya, kamu mau apa? Melarang anakmu sendiri untuk menerima kasih sayang? Ayah egois kamu. “
David mencengkram dagunya, menatapnya dengan mata yang membara oleh kemarahan."Jaga ucapanmu," desisnya. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menggantikan Mawar."
Rurayya menepis tangannya dengan kasar.
"Dan saya gak peduli dengan apa yang kamu izinkan atau bukan," katanya, matanya berkilat tajam. "Saya cuma peduli pada Madiev. Bukan kamu."
David menegang. Rahangnya mengatup erat.
Mereka saling menatap, keduanya tak mau mengalah.
Sampai akhirnya David berbalik, melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Rurayya masih berdiri di tempatnya, napasnya memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang meledak-ledak.
Ia mengeraskan rahangnya.