Malam Kelam

983 Words
Malam ini, David tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan perkataan Rurayya. Ia merasa bahwa perempuan itu terlalu berani dan tidak menghormati otoritasnya sebagai suami. David merasa bahwa Rurayya sok baik dan ingin menguasai Madiev. Ia tidak mau membiarkan Rurayya mengambil alih perannya sebagai Nyonya baru, dan hal itu tidak akan dibiarkan nya terjadi. Malam sunyi ini, David memutuskan untuk menghadapi Rurayya melampiaskan ketidaksukaannya. Ia tidak bisa menahan kemarahannya lagi. David datang ke kamar Rurayya, memandang perempuan yang sedang berbaring itu dengan mata yang marah. "Kamu pikir kamu bisa menjadi Nyonya di rumah ini?" tanyanya dengan nada tinggi. Rurayya tetap berbaring dan tidak menghiraukan kehadiran lelaki itu Tubuhnya sudah lelah dan hanya menginginkan istirahat. Tetapi David yang marah menghampirinya dan menarik lengannya dengan kasar. Ia pun terduduk di ranjang dan menatap lelaki itu kesal. “Apa-apaan kamu!” “Duduk yang benar saya mau bicara!” Rurayya menarik cekalan pada lengannya. “Ini sudah malam, saya mau istrahat.” Jawaban tersebut membuat David kepalang emosi, ia menjambak hijab Rurayya hingga sang empu melotot tak percaya. “Jangan main-main dengan saya.” Ucapnya, penuh penekanan. “Lepasin sa- Perkataannya dipotong oleh kalimat penuh intimidasi. “Kamu pikir kamu bisa jadi Nyonya di rumah ini?” "David, S-saya gak berniat jahat . Saya cuma mau membantu. Saya mau kasih sayang dan perhatian Madiev terpenuhi, dimana salah saya?” "Tapi kamu tidak tahu bagaimana cara mengurusnya! Kamu bukan ibunya! " David berteriak. "Kamu tidak tahu apa yang Madiev butuhkan! Kamu hanya ingin mengambil alih semua yang ada di rumah ini!" Rurayya memejamkan mata, lalu melepas tarikan kasar itu dan berdiri menatap David dengan mata yang nyalang. Walaupun ketakutan, tak dipungkiri ia muak melihat lelaki tua suka marah-marah ini. "Saya gak mau mengambil alih peran mendiang istri kamu. Bagaimana lagi menjelaskannya padamu?- “Kenapa sih otak kamu selalu negatif dengan saya? " Bukannya melunak David kembali menarik pergelangan tangannya, Rurayya cepat-cepat melepas cekalan itu, namun kedua tangannya malah ditahan di sisi wajahnya oleh David. “D-david, berhenti lakuin ini.” Suaranya mulai bergetar, ketakutan. David menatap nyalang, tanpa sadar air mata keluar dari pelupuk mata Rurayya. Detik demi detik berganti menjadi menit. Hingga akhirnya cekalan di pergelangan tangannya menjadi sebuah bentakan, tubuhnya dibaringkan paksa ke ranjang. David menduduki perutnya sambil memegangi kuat kedua tangannya. “Mawar, maafkan aku.” Ucap David penuh penyesalan. Dan setelahnya, ia mulai mengendus bau yang ada pada Rurayya. Lelaki itu menghirup ceruk lehernya sambil terus memanggil nama Mawar. Rurayya yang merasa sikap tersebut keterlaluan, mulai memberontak. Tapi semua itu sia-sia. Lelaki itu seperti dirasuki sesuatu, ia terus mengendus-endus tubuhnya dengan lancang. “Mawar maafkan aku. “ Begitulah kalimat yang terucap di setiap sentuhan yang ia berikan kepada Rurayya. “S-Saya gak mau! Lepas saya gak mau!” Lirih suara penuh tangis itu. Rurayya berusaha menyadarkan lelaki itu, hingga kakinya yang bebas menendang perut David. Lelaki itu tersadar dan menatapnya dingin, tanpa aba David menarik kerah baju tidurnya dengan kasar. “Saya g-gak mau David, t-tolong.. Jangan paksa saya. “ Rurayya memohon dengan ketakutan. David menundukkan wajahnya, dan berbisik tajam. “Perlu saya jelasin apa kewajiban seorang istri?” Rurayya terdiam,namun suara deruan nafas yang putus-putus terdengar jelas, air matanya mengalir deras. “Jangan paksa saya semakin membencimu Rurayya, ini sudah kewajiban kamu untuk melayani saya.” “Saya bukan istrimu.” Ucapnya dengan tangis menggebu. “Ah begitu.”David menghadapkan telinganya ke mulut perempuan itu. “Coba bilang sekali lagi?” “Saya bukan istrimu.” Kepalanya terangkat dan menatap wajah sembab perempuan itu. “ Ayo bilang lagi. “ “Saya bukan istri mu, saya menyesal menuruti kata bapak.. Saya gak mau hidup sama kamu! Saya mau cerai! Saya mau- Rurayya tak sanggup melanjutkan perkataannya,kerongkongannya seperti diikat oleh tumbuhan menjalar penuh duri. Tanpa sadar ia menjerit pasrah dengan tangis yang keras. Nafasnya yang tersedu-sedu menjadi saksi betapa memilukannya Ia sekarang. “Shhhtt..” Instruksi David menenangkan. Setelah menyaksikan Rurayya yang menangis, ia menyadari jika perempuan yang dikira terlihat kuat, ternyata menyimpan trauma berat kepadanya. “Sudah diam..” Ucapnya menenangkan lagi. “Kamu gak sudi saya sentuh ya?” Sebuah anggukan ia dapatkan. “Kamu gak pernah disentuh?” Rurayya terdiam, dengan detak jantung yang berdebar kencang. Saat tangan lelaki itu mengelus kepalanya, ia tau hal buruk akan terjadi. “Terus kamu tadi minta cerai?” Pola pernapasan Rurayya semakin dangkal dan cepat. “Ayo jawab!” Lelaki itu membentak, Rurayya hanya sanggup mengangguk ketakutan. “Rasanya sayang sekali, kalau saya menceraikanmu tanpa mendapatkan apapun.” Disitulah air mata Rurayya semakin turun dengan deras. Ia tau pendendam seperti David tidak akan menjadi manusia baik, tapi tak menyangka jika kejahatan lelaki itu sampai pada hal intim seperti ini. David mulai melucuti nya, menyentuh apapun yang ia mau. Pemberontakan yang ia lakukan terasa sia-sia. Rurayya menendang, memukul, dan menghindar, namun David tetap membungkam setiap pergerakan tubuhnya. Lelaki itu Mencumbunya dengan sikap arogan, seakan hal ini adalah pelajaran. David mulai mendorong inti dirinya pada Rurayya, memeluk erat perempuan itu agar tak bisa pergi menghindar. Rintihan sakit terdengar, David menyeringai penuh kemenangan karena mendapatkan kesucian perempuan itu pertama kali. Suara penolakan Rayya memelan, David semakin bergerak cepat, menuntaskan hasrat yang telah lama tidak tersirat. David tak menghiraukan tangisan permohonan tersebut, ia mencuri segalanya tanpa kendali. Semakin Ia menolak, pacu itu sengaja dihentakkan dengan keras. Gejolak klimaks mulai datang, gerakan tersebut membabi buta, David sengaja semakin mengeratkan tubuhnya pada Rurayya. Akhirnya ia melebur di dalam sana, getaran nikmat itu terlampiaskan secara sempurna. Wajahnya yang penuh peluh bersandar di bahu perempuan itu, menghirup udara di dalam ceruk seseorang yang asing. Kejahatan yang Rurayya lalui semakin terasa perih, karena selama proses kebejatan ini, sebuah nama wanita lain terus diikrarkan. ‘Mawar’. Saat cairan hangat melalui dirinya, ia bersumpah. Bersumpah tak akan pernah mau memaafkan Lelaki bernama David. “Pelajaran untukmu, katakan cerai sekali lagi. Momen ini saya pastikan terulang lagi. ” Kalimat ancaman itu terpahat langsung dari mulut David.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD