Dia Istriku

1138 Words

Hari-hari setelah perdebatan itu, segalanya berubah menjadi hampa. Tidak ada perubahan mencolok dalam rutinitas rumah tangga mereka—pada dasarnya, semuanya masih berjalan seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat rumah itu terasa lebih kosong, lebih dingin, lebih asing. Setiap pagi, Rurayya tetap bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Tangannya dengan terampil menyusun piring dan menata makanan di meja makan, memastikan semua berjalan sempurna seperti yang biasa ia lakukan. Namun, ia tidak lagi bertanya kepada David apakah ia ingin kopinya dengan gula atau tanpa. Ia tidak lagi bertanya apakah ia ingin sarapan di ruang makan atau membawanya ke ruang kerja. Ia hanya menyiapkan, lalu pergi. Tanpa bicara. Tanpa menunggu respons dan sarkastik lagi. Hanya d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD