2. Makan Malam

1233 Words
Helena membuka pintu kamarnya dan langsung masuk ke dalam. Gaffar dan Ezel menyusul ke kamar. “Bagaimana? Apa kau suka dengan kamarnya? Kalau kau butuh tambahan untuk kamarmu. Katakan pada Ayah!” ucap Gaffar sambil memperhatikan raut wajah Helena yang terlihat tidak begitu antusias. Wajah Gaffar tampak kecewa karena sepertinya Helena merasa tidak nyaman dengan suasana di rumahnya. “Ini cukup Ayah. Terima kasih!” “Syukurlah. Semoga kau betah ya di sini. Mandilah! Nanti Ayah dan Tantemu akan menunggu di ruang makan!” ucap Gaffar. Mungkin Helena butuh waktu untuk beradaptasi di rumahnya. Bukan hal yang mudah bagi Helena yang terbiasa tinggal di luar negeri. Ezel kemudian meletakkan koper merah milih Helena di dekat meja belajar tanpa sepatah kata pun. Sebelum dia meninggalkan kamar, dia sempatkan melihat Helena yang sedang berdiri mengitari sudut kamarnya yang sudah dipersiapkan Gaffar jauh-jauh hari sebelum kedatangan Helena. Kesan yang pertama Ezel tangkap adalah angkuh dan sombong. Sepertinya Helena adalah orang yang sulit untuk didekati. Jadi, Ezel akan lebih memilih diam dan tidak sok akrab dengannya. Helena menoleh ke belakang. Dia mendapati Ezel yang sedang memperhatikannya. Dengan tatapan yang tidak suka, Helena kemudian langsung membuang muka. Melihat itu, Ezel pun mau tidak mau segera meninggalkan kamar itu sebelum gadis itu terlihat lebih menyebalkan. “Apa aku sudah mengambil keputusan yang salah pergi ke sini?” batin Helena. Rasanya ini begitu sulit Helena jalani. Andai saja dia tidak harus dikeluarkan dari sekolah. Mungkin dia masih bisa berada di kota London. Dia tidak perlu lagi melihat kepalsuan lain. Dia sangat membenci kehidupan ayah dan ibunya setelah masing-masing menikah lagi. Helena sudah cukup melihat pernikahan ibunya dengan laki-laki lain. Sekarang, dia harus melihat kembali ayahnya dengan keluarga barunya. Helena merasa muak. Dengan penuh rasa malas, Helena membuka koper pakaiannya dan mengeluarkan isinya. Tapi. baru dua benda yang ia keluarkan, dia memasukkannya kembali ke dalam koper. Dia mulai ragu jika dia harus tinggal di sini dengan keluarga baru ayahnya. Dia merasa tidak nyaman. Tinggal di London pun, sebenarnya tidak nyaman karena ibunya selalu sibuk dan tidak pernah meluangkan waktunya bersama. Belum lagi, dia harus melihat ibunya dengan ayah tirinya. Sama-sama memuakkan. Hanya saja, di London dia masih memiliki beberapa teman yang bisa dijadikan tempat untuknya berkeluh kesah. Tidak seperti di sini. Helena kepikiran untuk kembali lagi ke London. Tetapi, bayangan kejadian tidak menyenangkan itu kembali terputar kembali di memori kepalanya. Helena mendesah panjang. Dia kembali mengeluarkan barang-barangnya dari koper. Seberat dan sesulit apa pun di sini, Helena harus berusaha untuk tinggal di sini beberapa waktu sampai dia bisa kembali ke sana. Setelah mengeluarkan semua barang dari kopernya. Dia pun mengambil peralatan mandi dan handuk. Sebelum makan malam dan kembali turun ke bawah, dia akan mandi terlebih dahulu. Melihat kamar mandi yang tidak seperti di rumahnya yang dulu membuat Helena harus belajar membiasakan dirinya terbiasa dengan kebiasaan di kota ini. Perjalanan yang cukup panjang di pesawat tentu saja membuat tubuh Helena sedikit lelah dan penat. Untungnya, di kamar mandinya ada bathtub. Meskipun tidak sebesar dan tidak semewah miliknya di London, tetapi setidaknya Helena bisa berendam air hangat dengan aromaterapi yang menenangkan syaraf tubuhnya. “Ezel! Jadi aku akan tinggal bersama dengan laki-laki itu!” gumam Helena yang tiba-tiba saja teringat dengan keponakan ibu tirinya itu. Kenapa ayahnya dan Tante Lia menampungnya. Apakah itu artinya ayahnya pun ikut membiayainya? Helena yakin, kalau dia juga masih anak SMA. Helena bisa tahu, karena tadi dia sempat melihat Ezel memakai baju kaos basket bertuliskan nama sekolah di Jakarta. “Kakak! Kenapa Ayah memintaku untuk menganggapnya seperti Kakak. Ihh menyebalkan. Seharusnya di rumah ini tidak ada anak lain selain aku. Kalau tahu begini, aku tidak akan merengek ke Mommy agar bisa tinggal di sini,” rutuk Helena penuh penyesalan. Tok tok tok. Hampir satu jam lamanya Helena berada di kamar mandi. Dia terkejut ketika mendengar suara pintu kamar mandinya diketuk dari luar. “Helena, apa kau masih mandi?” Terdengar suara Tante Lia memanggilnya. “Kita tunggu di ruang makan ya. Ayahmu dan Ezel sudah menunggumu dari tadi!” Helena menghembuskan napasnya dengan kesal. “Iya, sebentar lagi aku akan turun!” jawab Helena segera naik dari bathtub. Dia harus segera selesaikan mandinya. Padahal, saat ini dia tidak berselera untuk makan malam. Tetapi, dia ingin menghargai ayahnya. Walau bagaimanapun, selama dia tinggal di sini. Ayahnya lah yang akan menyokongnya di sini. Jadi, dia harus bisa menyesuaikan diri. * Helena datang ke ruang makan setelah mandi. Tubuh dan wajahnya terlihat segar ketika selesai mandi. Berbeda ketika pertama kali dia datang tadi. Ada empat kursi makan di sana. Ayah dan Tante Lia duduk berhadapan. Ada satu kursi kosong yang di depannya sudah duduk Ezel dengan manis. Dia pun sepertinya sudah mengganti pakaianya. “Duduklah!” Helena kemudian duduk di samping ayahnya. Pandangannya langsung menuju menu makan malam yang ada di meja. Sudah lama, dia tidak menemukan makanan khas Indonesia seperti ini. Tadinya dia memang tidak berselera dan malas. Tetapi, begitu melihat menu makan malam yang tersaji, membuat air liurnya terbit. Melihat kedua mata Helena yang terlihat antusias, Tante Lia dengan telaten memberikan nasi dan menyiapkan lauk untuk Helena. “Tante tahu dari ayahmu kalau kamu suka dengan opor ayam. Tante buatkan untukmu Helena. Oh ya, Tante juga buatkan oseng kangkung dan sambal terasi.” Helena pun segera menyambar piring yang sudah diisi nasi dengan opor ayam dan sambel terasi yang sudah disiapkan Tante Lia. Egonya runtuh seketika dengan menu makan malam yang tidak terduga. Gaffar dan Lia tersenyum puas karena melihat Helena makan dengan lahap. Ezel tidak memperhatikannya. Dia hanya fokus dengan makan malamnya tanpa memperhatikan Helena yang ada di depannya. Sepertinya dia sudah memantapkan diri, kalau dia tidak akan memulai pembicaraan dengan Helena duluan. “Helena, nanti besok Ayah akan urus pendaftaran sekolahmu ke sekolah!” ujar Gaffar. “Ya,” sahut Helena masih mengunyah makannya. “Nanti kalian berdua bisa berangkat sekolah bareng,” ucap Tante Lia. “Uhuk Uhukk!” Helena terbatuk-batuk karena mendengar ucapan tantenya. Dia segera minum air. Helena menghentikan suapannya dan melirik ke arah mereka bergantian. “Aku – satu sekolahan dengannya?” tanya Helena tidak percaya. “Tentu saja.” “Tidak Ayah. Bisakah Ayah carikan aku sekolahan yang lain saja!”pinta Helena. “Akan lebih mudah kamu beradaptasi di sini jika satu sekolahan dengan Ezel. Ayah akan tenang jika kamu bisa satu sekolahan dengannya. Helena, dia itu juara umum di sekolahnya. Dia pintar berbagai hal. Pokoknya kamu bisa minta diajari apapun sama dia!” ujar Gaffar. “Apa! Juara Umum! Dia terlihat bodoh meskipun dia tampan,” batin Helena tidak percaya kalau anak laki-laki di depannya ternyata adalah siswa yang pintar. “Memangnya kenapa kamu tidak mau satu sekolah dengan Ezel?” tanya Tante Lia. Sebagai tantenya, mungkin dia sedikit tersinggung dengan penolakan Helenaa. “Bukan bermaksud apa-apa. Aku hanya tidak ingin merepotkan.” Helenaa mencoba untuk berdalih. Dia juga tidak ingin membuat hati Tante Lia tersinggung di hari pertamanya menginjakkan kakinya di rumah. “Kalau begitu, kamu mau kan satu sekolah dengan Ezel?” tanya Gaffar dengan penuh harap. Helena melirik Ezel yang terlihat tenang lagi. Dia sepertinya tidak terlalu terpengaruh dengan pembicaraan ini. “Ya.” “Aku sudah selesai makan. Terima kasih Tante makan malamnya, Om - aku pergi ke kamar dulu untuk belajar!” pamit Ezel segera bangkit dari duduknya. “Hmm, iya Ezel. Belajarlah di kamar!” Helena melongo dengan sikap Ezel yang terlihat begitu tenang dan seolah dia tidak peduli dengan topik obrolan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD