1. Pergi Ko Kota Jakarta
Pertama kali menginjakkan kakinya di kota Jakarta, Helena tidak merasakan sesuatu yang istimewa. Kota ini sama saja seperti kota besar lainnya di dunia—ramai, padat, dan bising.
Kendaraan memenuhi jalanan seperti aliran sungai yang tidak pernah berhenti. Klakson saling bersahutan. Udara panas terasa berat di kulit, jauh berbeda dengan udara London yang dingin dan tenang.
Helena berdiri beberapa saat di depan pintu keluar bandara sambil menarik napas panjang.
Dalam hatinya, ia sudah tahu satu hal. Ia tidak ingin berada di sini. Namun, mau tidak mau, ia tetap harus tinggal di kota ini untuk beberapa tahun ke depan.
Helena menyeret koper merah miliknya keluar dari bandara. Roda koper itu berderit pelan di atas lantai, mengikuti langkahnya yang sedikit ragu.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencoba mencari seseorang di antara lautan manusia yang lalu lalang.
“Helena!”
Sebuah suara memanggil namanya dari kejauhan.
Helena berhenti berjalan dan menoleh. Ia menyipitkan mata, mencoba menemukan siapa yang memanggilnya di antara kerumunan orang.
Beberapa detik kemudian, ia melihat seorang pria melambai-lambaikan tangan. Pria itu berdiri agak jauh, mengenakan kemeja rapi dengan wajah yang terlihat penuh harap.
Helena mengenal wajah itu.
Ayahnya.
Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan. Dari kejauhan, Helena menatap pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tak banyak yang berubah. Ayahnya masih terlihat gagah dan tampan meskipun usianya sudah melewati empat puluh tahun.
“Putriku!” Pria itu langsung merentangkan kedua tangannya begitu Helena sudah cukup dekat.
Namun Helena hanya berdiri beberapa langkah darinya. Sedikit ragu. Enam tahun adalah waktu yang lama. Terlalu lama bahkan. Hubungan mereka tidak lagi terasa seperti ayah dan anak yang dekat.
Menyadari keraguan itu, pria itu akhirnya maju selangkah dan memeluk Helena dengan hangat.
“Putriku sudah besar sekarang,” ucapnya dengan suara haru.
“Bagaimana penerbanganmu dari London? Semuanya lancar?”
Helena menahan napas sejenak. “Ayah… bisa lepaskan pelukannya?” katanya agak canggung. “Sekarang aku bukan anak kecil lagi.”
Pria itu langsung melepaskan pelukannya.
“Oh—maafkan Ayah.” Ia tertawa kecil, sedikit gugup. “Ayah terlalu senang akhirnya bisa bertemu dengan putri Ayah yang cantik.”
Helena hanya tersenyum tipis.
Pria itu adalah Gaffar, ayah kandungnya. Mereka sudah enam tahun tidak bertemu.
Sejak perceraian orang tuanya, Helena ikut ibunya pindah ke London. Ibunya, Rianna, menikah lagi di sana dan memulai hidup baru.
Helena pun ikut memulai hidup baru. Tanpa ayahnya.
“Sudah, ayo kita ke mobil,” kata Gaffar sambil mengambil koper Helena. “Nanti kita bicara di rumah saja.”
Ia menunjuk sebuah sedan hitam yang terparkir tidak jauh dari sana. Helena mengikuti langkah ayahnya menuju tempat parkir.
Begitu keluar dari area bandara, udara panas langsung menyambutnya seperti tamparan.
Helena langsung mengerutkan wajah. Dia mulai merasakan cuaca panas. Jauh berbeda dengan kota yang dia tinggali sebelumnya.
Ia tidak sabar untuk segera masuk ke dalam mobil.
Begitu Gaffar membuka bagasi untuk memasukkan koper, Helena langsung masuk ke dalam mobil tanpa menunggu. Beberapa saat kemudian Gaffar masuk ke kursi pengemudi.
“Ayah, cepatlah,” keluh Helena sambil mengipasi wajahnya dengan tangan. “Aku tidak kuat dengan panasnya.”
Gaffar tersenyum kecil. “Baiklah. Kau pasti tidak sabar melihat rumah kita lagi.”
Helena hanya berdehem pelan. Rumah. Kata itu terasa asing baginya sekarang. Enam tahun bukan waktu yang sebentar.
Dalam enam tahun itu, Helena kehilangan banyak hal—terutama keluarga yang dulu terasa utuh. Dulu mereka adalah keluarga yang bahagia. Setidaknya, itulah yang masih tersisa dalam ingatan Helena.
Namun sekarang semuanya sudah berbeda. Mobil mulai melaju keluar dari bandara.
“Bagaimana kabar ibumu?” tanya Gaffar tiba-tiba.
“Dia sehat?”
“Sehat,” jawab Helena singkat. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dan ia juga merasa canggung jika harus menceritakan keadaan ibunya bersama pasangan barunya juga di London.
Terlebih lagi — meski pria di sampingnya adalah ayah kandungnya sendiri, Helena tetap merasa seperti sedang duduk bersama orang asing.
“Syukurlah,” gumam Gaffar pelan.
Beberapa detik kemudian Helena akhirnya mengajukan pertanyaan yang sejak tadi ada di pikirannya.
“Ayah… apa Ayah tidak keberatan jika aku tinggal di sini?”
Gaffar langsung menoleh sekilas kepadanya dengan wajah terkejut.
“Tentu saja tidak!” jawabnya cepat. “Ayah sangat senang kalau kita bisa tinggal bersama lagi.”
Helena menatap lurus ke depan. “Lalu bagaimana dengan dia?”
Gaffar sedikit mengernyit. “Maksudmu Tante Lia?”
“Ya,” jawab Helena dengan nada datar.
“Tentu saja dia juga senang. Dia sudah lama ingin bertemu denganmu.”
Helena hampir tertawa kecil mendengar itu. Senang? Setahu Helena, wanita itu adalah penyebab perceraian orang tuanya.
Bagaimana mungkin ia senang menyambut anak dari wanita yang pernah ia rebut suaminya? Namun Helena memilih diam. Sepanjang perjalanan, Gaffar terus bercerita tentang kehidupan barunya.
Tentang rumah. Tentang lingkungan. Tentang keluarga barunya. Helena hanya menatap keluar jendela mobil dan tidak mendengar cerita ayahnya dengan minat.
Jakarta sebenarnya adalah kota kelahirannya. Di kota inilah masa kecilnya pernah penuh tawa. Namun setelah perceraian orang tuanya, kota ini berubah menjadi tempat yang penuh kenangan pahit.
Beberapa waktu kemudian mobil berhenti di depan sebuah rumah besar berlantai dua. Helena menatap rumah itu dari balik jendela mobil.
Rumahnya dulu.
Masih sama.
Hanya saja sekarang halaman rumah itu dipenuhi tanaman dan bunga. Seolah seseorang sangat merawatnya. Gaffar turun dari mobil dan mengambil koper Helena dari bagasi.
Helena ikut turun perlahan.
“Helena, ini dia rumah kita,” kata Gaffar dengan nada bangga. “Ayah masih menjaga kamarmu yang dulu.”
Helena menatap ke lantai dua. Ia langsung mengenali jendela kamarnya. Namun yang membuatnya heran adalah kamar di sebelahnya terlihat menyala terang.
Padahal dulu kamar itu kosong.
“Ayo masuk,” kata Gaffar. “Tante Lia dan Ezel pasti sudah menunggumu.”
Helena mengernyit. “Ezel?”
“Siapa dia?” Helena benar-benar kebingungan mendengar nama itu. Apakah ayahnya sudah memiliki putra bernama Ezel dengan Tante Lia.
Gaffar terlihat heran. “Bukannya Ayah sudah cerita di mobil tadi?”
Helena tidak menjawab. Sebenarnya ia memang tidak mendengarkan sama sekali.
“Dia keponakan Tante Lia,” jelas Gaffar.
“Dia tinggal di sini karena sudah tidak punya orang tua.”
“Anggap saja dia kakakmu.” Ayahnya benar-benar membuat dirinya ingin kembali lagi ke London.
Helena langsung memasang ekspresi tidak suka. Jadi ayahnya merawat anak orang lain juga di rumah ini.
Belum masuk saja Helena sudah merasa tidak nyaman. Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Dua orang keluar dari dalam rumah. Seorang wanita dan seorang pria muda.
Wanita itu pasti Tante Lia. Ia terlihat lebih muda dari yang Helena bayangkan. Sementara pria di sebelahnya…
Helena sedikit terkejut.
Pria itu tinggi dan memiliki tubuh tegap. Rambutnya masih basah seperti baru saja mandi.
Wajahnya… cukup tampan. Bahkan terlalu tampan untuk standar orang lokal. Beberapa detik Helena sampai berpikir pria itu adalah seorang artis.
“Helena, selamat datang di rumah!” kata Tante Lia sambil memeluknya hangat.
Helena sedikit kaku. “Terima kasih.”
“Masuklah.”
Lia kemudian menoleh pada pria di sampingnya. “Helena, ini Ezel.”
“Ezel, ini Helena. Putri Om yang baru datang dari London.”
Ezel melangkah maju sedikit. Ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Namun Helena hanya menatap tangan itu tanpa ekspresi.
Beberapa detik berlalu.
“Ayah,” kata Helena tiba-tiba. “Aku lelah. Bolehkah aku langsung ke kamar?” Helena merasa tidak perlu berkenalan dengan pria asing itu. Mengetahui ada anak lain di rumah langsung membuatnya menjadi bad mood.
Tangan Ezel masih menggantung di udara. Lalu perlahan ia menariknya kembali. Senyum kecil muncul di wajahnya. Seolah ia tidak tersinggung sama sekali.
Gaffar dan Lia hanya saling pandang, sedikit canggung.
“Ezel, tolong bawakan koper Helena ke kamarnya,” kata Lia akhirnya.
Ezel mengambil koper merah itu dari tangan Gaffar. Sementara Helena sudah berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi.
Ezel menatap punggung gadis itu. Sudut bibirnya terangkat pelan.
“Menarik,” gumamnya pelan.
Ia belum pernah bertemu gadis yang menolaknya bahkan sebelum mereka benar-benar berkenalan.
Dan entah kenapa…Ia merasa gadis itu akan membuat hidupnya jauh lebih rumit mulai hari ini.