Nadia menggendong Velove yang tertidur dalam perjalanan mereka ke Indonesia, didekapnya erat Velove seakan takut jika keponakannya akan direnggut oleh Denis. Dalam hatinya seakan teriris melihat hidup Velove yang jauh dari kasih sayang. Melihat istrinya yang sejak tadi menggendong Velove, Fernand berinisiatif untuk menggantikan Nadia menggendong Velove.
Istrinya pasti lelah, tentu saja.
"Sayang biar Ve aku yang gendong," ucap Fernand.
"Enggak usah, aku aja. Nanny tolong bawakan tasku," pinta Nadia menyerahkan tasnya kepada Gita.
Nadia melangkah ke dalam rumah keluarga Wijaya, di sana Sonia sedang memberikan biskuit bayi untuk Dinka yang masih berumur empat bulan.
"Mama," panggil Nadia membuat Sonia menoleh.
Sonia terperangah melihat cucu yang sudah lama tidak dilihatnya tidur dalam gendongan Nadia. Sonia berlari menuju mereka, sedangkan Fernand menghampiri Dinka yang duduk di kursi bayi. Fernand sangat merindukan bayinya.
“Velove? Kamu benar-benar membawa cucu mama ke mari Nad?" tanya Sonia sambil menutup mulutnya tak percaya. Dia pikir Nadia hanya bergurau saat menelepon dan bilang akan membawa Velove ke Indonesia bersamanya.
Sonia tidak tahu jika Nadia benar-benar membawa cucunya. Sudah lama sekali Sonia dan Ardika tidak bertemu dengan Velove. Denis tidak pernah mengangkat telepon mereka, dan mereka tidak ada yang tahu alamat persis Keluarga Amberley di Bangkok. Sonia bahkan sampai menangis merindukan anak dari Pevita, anak tirinya.
Tidak ada yang berbeda, Sonia memperlakukan Pevita dan Nadia sama. Begitu juga dengan cucu-cucunya, baik cucu dari Nadia maupun cucunya dari Pevita. Sonia dan Ardika memperlakukan mereka sama, tidak berat sebelah. Hanya saja Denis membuat keluarga Pevita di Indonesia tidak bisa menghubunginya. Baru-baru ini saja Nadia mendapatkan nomor kontak pengasuh Velove lewat orang kepercayaan keluarga mereka di Bangkok. Kalau bukan begitu, Velove mungkin tidak akan pernah bertemu dengan mereka.
Nadia mengangguk, wanita itu hanya memberikan kabar kepada mamanya jika dia akan membawa Velove ke Indonesia tanpa memberitahu orang tuanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Velove hingga Nadia membawa anak itu pergi dari sisi papa kandungnya.
Berbagai pikiran memenuhi otak Sonia, membayangkan Velove mendapatkan perlakuan buruk dari Denis membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Untunglah, Nadia membawa anak itu ke Indonesia.
"Iya Ma, dia putri Pevita. Dia sangat cantik kan? Lihat wajahnya menuruni Pevita, sangat cantik," Nadia mengelus wajah Vee yang damai seperti angel saat tertidur.
Sonia meneteskan air matanya dan menciumi seluruh wajah Vee. Anak itu bergerak, merasakan wajahnya geli karena di cium oleh seseorang.
"Cucuku, dia sangat cantik Nadia, mirip sekali dengan ibunya. Lihat alisnya, astaga andai saja Pevita masih hidup dia pasti sangat bahagia sekali melihat wajahnya menurun ke anaknya," ucap Sonia dengan suara serak.
Sonia mengelus puncak kepala Velove, tidak menyangka anak itu tumbuh dengan begitu cepat sampai sebesar sekarang.
Vee menggeliat terbangun saat merasakan Sonia menciumnya, anak itu mengerjapkan matanya. Velove menatap ke sekeliling ruangan yang nampak asing di matanya.
“Nanny,” panggil Velove yang sudah menjadi kebiasaannya saat terbangun dari tidurnya.
Gita mendekat. “Nanny di sini, Nona Vee,” jawab Gita mengurangi ketakutan dalam diri anak itu.
Nadia mengelus puncak kepala Velove, anak itu teringat jika terakhir kali dia pergi dengan aunty dan uncelnya.
"Aunty," panggil Vee mendongakkan wajahnya menatap Nadia.
Nadia tersenyum. "Iya, Sayang, Aunty di sini, kenapa?" tanya Nadia dengan lembut mengecup kening Velove.
Anak itu menoleh ke arah Sonia, lalu menatap Nadia kembali. Sepertinya Velove sangat bingung melihat ekspresi wajah Sonia saat ini yang menatapnya dengan tatapan nanar.
"Vee di mana?" tanya Velove sambil melihat kesekitar ruangan yang sangat megah itu, anak itu mencengkeram baju Nadia ketakutan.
"Vee di rumah mama, ini Oma Sonia sayang, omanya Velove dan juga adek Dinan juga adik Dinka." jelas Nadia menurunkan Velove dalam gendongannya.
Velove menyerngit saat melihat wajah Sonia yang basah karena air mata, anak itu menatap baby Dinka yang pernah dia lihat dari video callnya dengan Nadia.
“Oma?" cicit Velove memberanikan diri menatap Sonia.
Sonia tersenyum. " Ya, Sayang, ini Oma. Oma sangat merindukanmu," Sonia berjongkok dan memeluk tubuh kecil Velove.
Velove tau seluruh anggota keluarga mamanya, karena di dalam kamarnya ada sebuah album pernikahan mamanya yang terdapat keluarga inti dari Wijaya. Dia hanya merasa takut berada di tempang yang masih asing bagi matanya.
“Vee di rumah Mama?" tanya Vee diangguki Sonia.
Suara derap langkah memasuki ruang keluarga Wijaya, terlihat Ardi tengah menggandeng tangan Dinan yang masih memakai seragam TK dengan tas karakter mobil-mobilan yang bertuliskan namanya.
"Mamaaaa," teriak Dinan senang, dia berlari memeluk Nadia yang terkekeh dengan tingkah Dinan.
"Papaaa," lalu Dinan memeluk Fernand yang sedang memangku Dinka adiknya.
Pandangannya jatuh pada gadis kecil yang berdiri di samping Omanya. Anak kecil berusia sama dengan Velove hanya berbeda bulan saja itu menyerngitkan keningnya menatap Velove. Sepertinya Dinan pernah melihat gadis kecil itu, ah dia ingat sekarang.
"Kak Vee?" tanya Dinan dengan mata berbinar bahagia.
Nadia dan Fernand selalu menanamkan sejak dini kepada Dinan agar memanggil Vee dengan sebutan kakak, karena dia anak dari kakak Nadia.
Velove hanya mengangguk malu, Dinan berlari menerjang Velove hingga Vee mundur beberapa langkah, sedangkan yang lain hanya terkekeh geli melihat pertemuan pertama mereka berdua secara langsung.
"Kak Vee kok nggak pernah mau ke Indonesia?" tanya Dinan yang memang sangat cerewet dan ingin tahu.
"Emm ... Vee hanya ... hanya," gugup Vee tidak tau harus menjawab apa.
Ardi menatap Velove yang gugup , lalu matanya berhenti di kain kasa yang ada di kepala Velove. Sonia mengikuti arah pandang Ardika, matanya ikut terbelalak karena baru melihat bekas jahitan yang tertutup kain kasa itu.
"Nadia apa yang terjadi pada cucuku?" tanya Ardika dengan suara yang tercekat, pikirannya kini bercabang kemana-mana.
Nadia menatap papanya takut, wanita itu takut papanya akan emosi dan malah memperburuk suasana. Nadia menoleh kearah Fernand, ‘Apa yang harus aku katakan?’ ucap Nadia lewat tatapan matanya.
Fernand hanya mengangguk, lelaki itu meminta Nadia mengatakan yang sebenar-benarnya kepada papanya.
"Jawab Papa, Nadia!" bentak Ardika tidak sabar.
Nadia meremas tangannya, Sonia yang merasa suasana mulai tegang meminta Dinan mengajak Velove ke kamar anak itu.
"Nanny tolong bawa Vee ke kamar ya. Dinan sayang antarkan Kak Vee, dan Nanny ke kamar Aunty Pevita ya, Sayang," suruh Sonia diangguki Gita dan Dinan.