8. Mama Dan Papa Untuk Velove

1011 Words
Mereka yang tidak lain Nadia, Fernand, Sonia, dan Ardi duduk di sofa ruang keluarga dalam diam. Hanya ada hembusan kasar dari mereka sambari menunggu Dinand dan Velove tidak terlihat lagi oleh mereka. Pembahasan orang dewasa diantara mereka rasanya tidak pantas jika anak-anak sampai mendengarnya. "Jadi, apa yang terjadi Nadia. Apa yang terjadi di Bangkok sampai kamu membawa Velove ke mari?" tanya Ardika sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi kepada cucunya. Nadia mengangkat wajahnya hingga dia bisa melihat amarah yang ada pada mata papanya. Lalu dia menoleh ke Fernand untuk meminta bantuan kepada suaminya untuk membantunya menjelaskan. "Nadia ... Nadia membawa Vee ke Indonesia, Pa," jawab Nadia membuat Sonia dan Ardi bertanya-tanya. "Kenapa? Bukankah ini sudah melewati masa liburan? Dan kenapa kamu tiba-tiba terbang ke Bangkok? Lalu kepala Velove, kenapa dia bisa sampai terluka Nadia? Tolong jelaskan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi, jangan membuat kami bertanya-tanya!" ucap Sonia yang sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Nadia. Nadia menghela napasnya kasar, wanita itu meremas ujung bajunya karena gugup. Tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana. "Nadia?" Kini Ardika menatap Nadia dengan tatapan yang sangat sulit untuk mereka artikan. "Karena ... karena-" Suara Nadia terasa tercekat saat ini. "Karena apa Nadia, jangan bertele-tele. Mama sungguh ingin tahu apa yang terjadi dengan cucu Mama," sentak Sonia yang sudah sangat penasaran. "Ma, mama jangan emosi dulu dong." Fernand mencoba menenangkan mertuanya. "Karena Nadia ingin mengambil hak asuh Vee dari tangan Denis, Ma, Pa," jawab Nadia membuat Sonia dan Ardi berjingkat kaget. Mengambil hak asuh Velove dari tangan papanya? Apa-apaan Nadia ini? "Apa maksudmu Nad?" tanya Ardika bingung. "Denis tidak memperlakukan Velove dengan baik, Pa. Denis menelantarkan Velove dan sudah menikah lagi," jelas Nadia membuat orang tuanya tersentak kaget. "Denis menelantarkan Velove? Benarkah?" Bibir Sonia bergetar, dengan cepan Fernand mengelus bahu mertuanya. Mencoba menenangkan wanita itu agar tidak tersulut emosinya. Nadia lalu menceritakan bagaimana kehidupan Velove di sana. Denis yang tidak pernah mau bertatap muka dengan Velove. Dimana Velove hanya tinggal bersama para pelayan di rumah Keluarga Amberley. Sampai pernikahan Denis dengan Inara. Nadia menceritakan semuanya, termasuk saat Velove masuk rumah sakit dan Denis yang tidak memperdulikan anaknya sendiri. "Keterlaluan!" desis Ardi marah, tangannya mengepal hingga jari-jarinya memutih. Nadia mengelus bahu Ardi agar papanya tenang. Inilah yang Nadia takutkan. Ardi bangkit dari tempay duduknya dan berjalan menuju kamar Pevita yang dihuni Velove saat ini. Ardika membuka pintu kamar itu perlahan, lelaki itu mendengar suara tawa Velove yang terdengar sangat riang bercanda dengan Dinand di sana. Ardika menghampiri kedua cucunya. "Dinan Sayang, kamu keluar dulu ya sama Nanny," perintah Ardika. "Siap Opa, ayo Nanny kita keluar," ajak Dinan diangguki Gita. Ardi menatap Vee yang sedang memeluk boneka kelincinya yang dia bawa dari Bangkok ke Bandung. "Vee sayang," Ardi mengelus pipi tembem Vee, dia mencium kening Vee. Dalam batinnya dia rindu cucu perempuannya ini. Ardika dan keluarganya hidup bahagia, sedangkan Vee? Ardila meringis membayangkan hidup Velove di sana. "Opa?" cicit Vee takut, dia sama sekali belum pernah bertemu dengan Ardika seumur hidupnya. "Iya Sayang, Opa papanya mama Vee. Opa janji akan menjaga Vee dengan baik di Indonesia," ucap Ardi memeluk Vee erat. Velove hanya mengangguk, seakan bocah itu mengerti apa yang kini Ardika ucapkan kepadanya. Ardika mengajak Velove untuk turun ke lantai bawah bersama dengan keluarga yang lain. Velove terlihat sangat bahagia bercengkrama dengan Dinand dan Dinka. "Aunty, dedek Dinka ngompol itu bauk ih," ucap Velove menutup hidungnya membuat seluruh orang tertawa. Nadia dan Fernando sudah sepakat, mereka berdua akan mengasuh Velove bersama dengan Dinan dan Dinka. Menurut Nadia, Velove akan lebih nyaman tinggal bersama mereka dari pada tinggal dengan Sonia dan Ardika. Sonia meminta Nadia dan Fernand tinggal saja di rumah mereka. Sonia masih ingin bersama dengan cucu-cucunya yang sangat menggemaskan. Apalagi Velove yang baru saja datang ke Indonesia. Nadia menenangkan Sonia yang menangis karena tidak ingin berpisah dari mereka "Ma ... Nadia kan punya rumah sendiri dengan Fernand. Mama duduk manis aja di rumah sama Papa. Kita bakalan sering sering kok datang ke sini," ucap Nadia mencoba menenangkan Sonia. "Tapi mama kan kesepian Nad, tidak ada cucu-cucu mama. Hiks, tidak ada lagi Dinka yang suka bangunin mama tengah malam." "Kan mama bisa main ke rumah, enggak enak dong ma sama mertua Nadia. Nanti malah dikira kita pilih kasih," jelas Nadia akhirnya membuat Sonia mengangguk mengizinkan, dan itu jelas membuat Nadia dan Fernand tersenyum lega. "Ayo Dinand, Vee, pamit dulu sama Oma, Opa," suruh Nadia pada Dinka dan Vee yang kini digandeng Ardika. Setelah mereka berpamitan, Nadia, Fernand, Dinan, Vee, dan juga Gita yang menggendong Dinka langsung masuk ke dalam mobil untuk perjalanan menuju rumah Nadia dan Fernand sendiri. Dinand sangat bahagia, mendapatkan saudara perempuan adalah mimpinya. Akhirnya dia bisa tinggal bersama dengan saudaranya satu rumah. "Yeee akhirnya kita pulang," pekik Dinand girang. Vee mengikuti Dinand di depannya karena tangan kanannya ditarik Dinand dengan semangat. Anak perempuan itu ikut tertawa bersama dengan Dinand, kebahagiaan yang belum pernah Velove dapatkan sebelumnya. "Mama dimana kamar Kak Ve?" tanya Dinand kepada mamanya. "Tentu saja di samping kamar Dinand yang kosong," jawab Nadia. "Jadi kamar kita ada pintu penghubungnya Ma?" tanya Dinand lagi. "Tentu saja Dinand sayang," kekeh Nadia mengacak rambut Dinand dengan gemas. Nadia menggandeng Vee dan Dinand menuju kamar mereka. Nadia membawa Velove ke kamar yang sudah pelayan rumahnya siapkan sebelumnya saat Nadia perjalanan pulanh ke Indonesia. "Vee sekarang kamu panggil aunty dan uncle dengan sebutan mama papa ya," pinta Nadia, berharap bisa mengisi kekosongan kasih sayang yang Denis sebabkan dalam hidup Velove. Vee mengangguk antusias, karena menurut Vee dia telah menemukan keluarga baru dengan berada di tengah tengah keluarga mamanya. "Mama," ucap Vee memeluk Nadia sangat erat. Nadia meneteskan air matanya saat mendengar Vee mengucapkan kata mama untuknya. Nadia berjanji, dia akan menjadi mama yang menjaga Vee dari kejamnya dunia selama Nadia masih hidup. Nadia berjanji, demi kakaknya Pevita yang telah meninggal mendahului mereka semua. "Aku telah berjanji, aku akan merawat putrimu seperti putriku sendiri Vita," ucap Nadia mengelus puncak kepala Velove dengan sayang. Nadia berharap, esok yang lebih baik segera datang. Menghapuskan kenangan kelam Velove tanpa kasih sayang seorang papa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD