Denis, menatap kamar putri sulungnya yang sudah kosong selama dua belas tahun ini. Dia selalu memasuki kamar itu saat dirinya merindukan putri sulungnya. Tak ada lagi tatapan kosong, yang ada hanya tatapan penyesalan ketika membayangkan putrinya tidur dengan ketakutan di kamar besar ini.
Denis dan Inara memilih menempati mansion Keluarga Amberley ketika Inara telah melahirnya putri yang tidak kalah cantik dengan Velove, Denara Velove Amberley. Mereka menyempatkan nama Velove tanda bahwa mereka menyayangi Velove.
Keluarga Wijaya tidak main-main dengan ancaman mereka, bahkan Ardi sempat menggulingkan ketenaran firma hukum milik Denis saat dia memaksa bertemu dengan Velove, untung saat itu Gita mengetahuinya dan langsung melapor kepada keluarga Wijaya.
"Vee, apakah kamu merindukan Papa? Kamu pasti sudah menjelma menjadi gadis cantik seperti mamamu," lirih Denis mengelus foto yang diberikan Leo dulu padanya.
Denis menatap nanar sebuah lukisan yang Velove buat untuk prakarya sekolahnya, sebuah lukisan keluarga bahagia bertuliskan 'Papa, Mama, dan Velove'. Lukisan itu sudah diberi figura oleh Denis, lukisan itu ditata sedemikian rupa menjadi pemandangan pertama saat memasuki kamar Vee.
Sebuah teriakan membuat Denis menoleh dan tersenyum.
"Papa, kapan kita ke Trans Studio Bandung?" tanya Denara yang sudah tidak sabar menginjakkan kakinya di sana.
"Tentu saja secepatnya sayang, papa mama kan sudah berjanji padamu," jawab Denis tersenyum hangat kearah Dena.
"Yeeeeyyyy makasih, Papaaa," pekik Dena antusias sambil meloncat-loncat kegirangan membuat Denis mengacak rambut Dena dengan gemas.
'Papa berharap keluarga mamamu mau mempertemukan papa denganmu sayang,' batin Denis tersenyum kecut.
*
Di sebuah kantin salah satu SMA International di kawasan Bandung, terdapat dua gadis yang sangat cantik sedang tertawa dengan obrolan-obrolan lucu yang sedang mereka perbincangkan.
Semua siswa siswi yang berada di sana menatap kagum kedua gadis itu, Velove dan juga Zakia. Kedua gadis yang diberikan wajah ayu oleh Sang Khaliq sehingga membuat wanita lain iri dengan kecantikan mereka. Ditambah keluarga mereka yang sangat berpengaruh di sekolah itu.
"Vee pleaseeee kita jalan yaaa. Aku pengen belanja tas terbaru, tas sekolahku sudah jelek," rengek Kia pada Velove.
Velove menatap Zakia dengan keningnya berkerut, sudah jelek katanya? Padahal tas yang Zakia kenakan untuk sekolah baru saja mereka beli saat study tour ke Singapura bulan lalu. Zakia memang ratunya pemborosan.
"No Kia, kamu kan tau papa aku sangat overprotektiv padaku," jawab Velove sambil menyuapkan bakso yang tadi dia pesan.
"Devita Velove A Wijaya, please deh. Masa iya Om Fernand enggak bolehin kamu ke mana-mana? Kenapa tidak sekalian saja kamu bilang kamu dikurung mereka di dalam rumah mewah kalian hah?"
Velove terkikik geli mendengar gerutuan dari sahabatnya dari SD itu,
"Emang kamu berani sama papa aku? Hii ntar kamu disuntik pake jarum suntik sapi lagi," ucap Velove bergidik ngeri dengan kekehannya.
"Veeeee! Papa kamu itu dokter orang kelesss bukan dokter hewan. Ishhh menyebalkan sekali kamu ini," jawab Kia sambil mencebik kesal.
Velove terkekeh. “Iya deh nanti pulang sekolah aku izin dulu sama papa, mama, opa, dan juga omaku dulu ya?" jawab Vee polos membuat Kia membelalakkan matanya.
Kenapa tidak sekalian Velove meminta izin seluruh keluarga besarnya termasuk teman-teman papa mamanya yang sangat terkenal itu saja sekalian?
"Sumpah? Kamu kira kita ini mau keluar negeri sampai bilang ke semua keluargamu ? Mending kamu izin juga deh sama kakek dan nenek moyangmu juga!" cibir Zakia mendelik kesal menatap Velove yang kini terkekeh.
"Bwahahaha, sumpah Kia kamu lucu banget," kekeh Velove menggelengkan kepalanya.
"Situ kaliikkkk yang lucu bin aneh," dengus Kia menatap Vee horor.
Tetttt tettt , suara bel masuk membuat semua siswa siswi langsung melenggang masuk kekelas mereka ,begitu pula Velove dan Zakia yang berjalan menuju kelas unggulan XII MIPA 1.
****
... Velove Pov ...
Hai, aku Devita Velove A Wijaya. Begitu keluargaku menyebutku, aku jadi bertanya-tanya apa arti nama A dari nama lengkapku. Mama dan papa selalu mengalihkan pembicaraan jika aku bertanya tentang itu.
Aku punya trauma di masa kecilku, trauma itu yang membuatku lupa akan kenanganku di masa kecil, tapi aku yakin kalau masa kecilku amatlah bahagia, buktinya adikku Dinka sangat dimanja sama mama dan papa, itu artinya masa kecilku pastilah sama dengan masa kecil mereka.
Kata mama aku adalah anak dari kakaknya mama, aku sering diajak mama ke makam mama kandungku. Mereka bilang mama Vita meninggal karena melahirkanku, kadang aku merasa sedih karena aku menjadi penyebab mama kandungku meninggal. Mama Nadia selalu berkata padaku, kalau Mama Vita sangat bahagia dengan kelahiranku. Setiap ulang tahunku, aku selalu memutar video saat Mama Vita memelukku ketika aku baru lahir. Pelukan pertama dan terakhir yang beliau berikan sebagai kenangan terindah dalam hidupku.
Papa kandungku? Huh entahlah aku tidak pernah mendengar kabar tentang dia. Mama Nadia dan yang lainnya tidak ada yang pernah menyebut namanya padaku. Aku selalu bertanya-tanya siapakah papaku? Apakah dia sama baiknya dengan Papa Fernand? Tapi dalam hatiku menjerit ketakutan ketika aku mencoba mengingat tentangnya.
"Hai Vee lo ngapain ngelamun?" kata Dinand membuatku berjingkat kaget.
"Ih Dinannn! Ngagetin ajaaa!" Aku memukul Dinand hingga dia meringis kesakitan.
"Aw awww, ampun ampun," teriaknya mengeluh kesakitan.
"Aduhhh kalian kenapa berantem terus sihhh!" ucap seseorang dari arah pintu kamarku.
Kami berdua sontak saja menoleh, Mama !!!!!!!
"Hehe, eh Mama udah pulang dari butik?" cengir Dinan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mama menatap kami, detik selanjutnya beliau mencebikkan bibirnya.
"Hehe Mama capek ya?" tanyaku sambil bergelayut manja pada lengan mama.
"Merayu Mama huh? Cepat sana turun tadi Mama bawain pizza keju kesukaan kalian."
Mata kami berbinar bahagia, mama memang sangat tahu tentang kesukaan kami. Pokoknya mama adalah mama terbaik di dunia ini.
"Pizza?" pekikku dan Dinand bersamaan.
Lalu aku berlari di ikuti Dinand di belakangku, hahaha kalian harus tau kami seperti anjing dan kucing tapi kami saling menyayangi. Pizza? Ah itu mah makanan kesukaan kami, jadi ya jangan heran jikalau kami seperti anak kecil yang tengah berebut mainan.
"Hahaha dasar payah, kau selalu kalah lari denganku," ejekku menjulurkan lidahku kearah Dinan.
"Kan tadi belum pemanasan Vee," bela Dinan tidak terima.
Aku langsung mengambil kotak pizaa itu, namun seseorang menariknya dariku. Aku melotot kesal ke arahnya.
"Eitss ini untuk aku," ucapnya membuatku melongo.
"Dinkaaaaaaa sini kembalikan!!!!!" teriakku memenuhi seluruh ruang makan ini.
"Wlekkkk, sini ayo kejar," ucapnya menjulurkan lidahnya padaku.
“Dinand, kita kejar bocah payah itu,” ajakku kepada Dinan untuk mengejar Ferdinka, adik kami.
Aku dan Dinan langsungberlari mengejarnya, dia itu sangat lincah jadi ya gini aku selalu kalah dengannya.
"Dinkaaaaaaaaaa!" teriakku yang hanya dijawab kekehan darinya.
Brughhh, aku terjatuh saat menabrak seseorang yang tiba-tiba berdiri di depan pintu utama rumah kami.
Aku terbelalak saat aku mendongak melihat siapa yang tadi aku tabrak. Astaga, malaikat tak bersayap mendatangi rumah kami. Apa aku tengah bermimpi di siang bolong seperti ini?
-
(JANGAN LUPA TAP LOVE, KOMEN, DAN FOLLOW AKUN AUTHOR YA )