Part 9 - Terong VS Cabe

1394 Words
Mata Namjoo memicing melihat bocah yang terus saja menempel pada kakaknya. Tak sadarkah bocah itu bahwa kehadirannya tak diharapkan di sini? Bahkan Byunggyu saja tak suka melihatnya. Tapi tetap saja bocah itu mengikuti Byunggyu. "Kau sudah menghubungi Chaerim?" tanya Bomin pada Byungjin. "Chaerim tak mengangkatnya. Aku tak mengerti mengapa ia malah menitipkan anaknya di sini?" Byungjin menaruh ponselnya ke atas meja. "Apa hanya aku yang tak tahu siapa bocah itu?" tanya Wooseok bingung. Bomin menghela nafas. Ia malas mengenalkannya pada Wooseok. "Namanya Kim Seojun, anak dari Kak Hyungseob dan Bibi Chaerim." jelas Taeoh. Tunggu! Tunggu! Bukankah Chaerim dan Hyungseob baru saja menikah? Tapi mengapa anaknya sudah sebesar itu? Dan lagi, kalau Seojun adalah anak dari Chaerim, berarti ia adalah adik Byunggyu dari ibu yang sama? Kim Seojun adalah putra dari Hyungseob dan Chaerim. Ia lahir karena.... Kecelakaan. Butuh waktu lama sampai Hyungseob bisa meyakinkan Chaerim untuk mau menikah dengannya. Karena itu mereka akhirnya menikah baru-baru ini padahal anak mereka sudah berusia sama dengan Namjoo. "Hei, menjauh sana dari kakakku!" usir Namjoo. "Siapa bilang dia kakakmu? Dia kakakku!" Seojun malah lebih erat memeluk Byunggyu. "Hei, kau pendatang baru! Jelas-jelas Kak Byunggyu adalah kakakku! Sana jauh-jauh!" Namjoo menarik tangan Byunggyu agar menjauh dari Seojun. "Tidak mau! Kak Byunggu adalah Kakakku! Kau yang menjauh sana! Dasar jelek!" ejek Seojun. "Apa kau bilang? Bocah cebol lembek, beraninya kau mengataiku jelek! Aku bahkan sudah dilamar oleh seorang bangsawan karena wajahku terlalu cantik! Bagaimana kau bisa mengataiku seperti itu?" balas Namjoo. Seojun tersenyum sinis, "Dasar wanita penuaan dini! Bangsawan itu pasti kau guna-gunai agar ia melamarmu! Kau kan penyihir jahat!" Wuooo cabe lawan cabe! Eh tidak! Seojun kan laki-laki, baiklah cabe lawan terong. Mereka sama-sama bermulut pedas. Namjoo berlatih dari Byunggyu dan Seojun mendapatkannya dari gen ibunya. Hebat memang. Mereka saling mengejek satu sama lain membuat suasana dalam apartemen itu lebih ramai dari pasar. Byunggyu sekarang hanya bisa memijat pangkal hidungnya karena stress dengan pertengkaran yang ada di depannya. Ingin pergi tapi tak bisa karena Seojun masih memeluk tubuhnya. "Nenek sihir itu! Akan kuhabisi ia nanti karena mengirim kurcacinya ke sini!" gumam Byunggyu penuh dendam. *** Saat Wooseok pulang ke rumahnya untuk mengambil barangnya yang ketinggalan, ia tak sengaja ia mendengar suara teriakan dari arah rumah Gaeun. Ia tahu dengan jelas suara siapa itu. Itu adalah suara dari Bibi Kwon, ibunya Gaeun. Wooseok segera berlari keluar rumahnya dan melihat ke rumah sebelah. Seorang pria keluar dari sana. Wooseok mengenalnya. Ia adalah Tuan Son, ayah Gaeun. Apa yang ia lakukan di rumah Gaeun? Setahu Wooseok, ibu dan ayah Gaeun telah lama berpisah. Tuan Son melaju dengan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Gaeun. Meninggalkan suara tangisan dan jeritan dari rumah itu. Wooseok ingin pergi ke sana untuk mengecek keadaan. Tapi ia tahu dari kepribadian Gaeun, gadis itu tak akan suka bila seseorang melihatnya saat ia terpuruk. Mungkin ia bisa menanyakannya besok. *** Bomin berusaha fokus menyetir. Bomin sekarang sudah pandai menyetir berkat ajaran dari guru kecilnya, Nayoung. Walaupun Bomin benci mengakuinya, Nayoung memang guru yang baik.Gadis itu mengajari Bomin banyak hal. Tapi masalahnya sekarang adalah dua anak kecil yang sedang duduk di kursi belakang. Mereka tak saling bicara. Kalaupun bicara mereka hanya saling mengejek. Perebutan kakak masih terjadi di sini. Bomin tak tahu mengapa tiba-tiba Namjoo jadi posesif pada Byunggyu. Tapi ini benar-benar harus dihentikan sekarang juga. "Bu, mengapa kau ajak orang ini untuk mengantarku ke sekolah? Kalau tahu seperti ini aku akan ikut Kak Byunggyu naik bus!" gerutu Namjoo. "Apa kau tega melihat Seojun kesepian di apartemen? Ayah dan Kak Taeoh sedang membersihkan apartemen sebelah karena sore ini penyewanya akan datang. Seojun pasti kesepian." bujuk Bomin. "Huh!" Namjoo mengalihkan pandangannya kejendela. Namjoo benar-benar benci pada bocah laki-laki yang ada di sampingnya. Itu karena Seojun berusaha merebut kakaknya. Namjoo heran, mengapa belakangan ini banyak sekali yang ingin merebut miliknya? "Baiklah sudah sampai! Hiee? Bukannya itu Lixuan?" Bomin memicingkan matanya melihat Lixuan yang ada di depan gerbang sekolah. Lengkap dengan beberapa pengawalnya yang membawa bunga dan juga lantai yang digelari dengan karpet merah. Tunggu! Karpet merah? Drrrttt drrrtt... Ponsel Bomin bergetar. Bomin mengambil ponselnya dari dashboard mobil dan menggeram kesal melihat siapa yang menelpon. "Namjoo-ya keluarlah dan temui Lixuan. Seojun-ah tunggu di sini dulu, mengerti? Bibi harus menerima telpon." ucap Bomin pada Seojun dan Namjoo. Bomin keluar dari mobil. Tak ingin Seojun tahu ia memaki ibunya. "Halo? Hei! Park Chaerim dari mana saja kau? Kenapa kau menitipkan anakmu padaku?" teriak Bomin marah. "Hei, memangnya aku tega membiarkan anakku yang berharga diasuh orang ceroboh sepertimu? Itu bukan salahku! Salahkan saja sahabatmu yang menculikku ke Irlandia untuk berbulan madu!" balas Chaerim. Tunggu! Jadi pelaku sebenarnya adalah Hyungseob? "Apa bayiku baik-baik saja? Apa dia makan, minum dan tidur dengan baik?" Chaerim terdengar khawatir. "Tentu saja! Apa kau pikir aku tega membiarkan keponakanku apalagi adik dari anakku menderita?" "Baguslah. Apa Byunggyu akur dengan adiknya? Seojun sebenarnya sangat ingin bertemu dengan kakaknya." "Sejauh ini baik-baik saja. Tapi dengan Namjoo ... Astaga Park Chaerim, aku bahkan sedang hamil sekarang tapi aku harus mengurus dua anak kecil nakal yang terus saja bertengkar? Satu saja aku sudah kerepotan!" keluh Bomin. "Hiee kau hamil? Kalau begitu kau tenang saja! Aku akan memaksa Hyungseob agar kami bisa pulang." Mata Bomin membelalak. Astaga mengapa ia mengeluh? Kalau begini rencana dari Kak Hyungseob untuk berbulan madu dengan istri yang sudah lama dikejarnya pasti sia-sia. "Tidak usah. Bersenang-senanglah di sana. Aku dibantu oleh Byunggyu dan yang lainnya. Kau tak perlu khawatir. Fokus saja untuk membuatkanku keponakan baru. Tapi tolong mulutnya jangan yang pedas-pedas." goda Bomin. "Baiklah. Jaga kesehatanmu dan calon keponakan baruku. Juga, kutitipkan Seojun padamu, oke?" " Eum." Klik.. Telpon dimatikan. Bomin masuk kembali ke dalam mobil. Tunggu! Sepertinya ada yang hilang... Ia menoleh ke belakang, Seojun tak ada! Lalu ia menoleh ke arah jendela dan menghela nafas lega. Ternyata Seojun bersama Namjoo dan Lixuan. Bomin keluar dari mobil untuk menghampiri mereka. Baiklah mari kita lihat masalah apa yang Seojun timbulkan. *** Namjoo turun dari mobil saat Bomin menerima telpon. Ia berlari ke arah Lixuan seperti yang ibunya perintahkan. Lixuan sendiri melambaikan tangan padanya sambil tersenyum seperti malaikat. Para pengawal Lixuan memberikan bunga yang mereka pegang tadi pada Namjoo. Lixuan memerintahkan mereka semua untuk bubar dengan menjentikkan jarinya. Para pengawal itu membungkuk hormat pada Namjoo dan Lixuan sebelum akhirnya membubarkan diri mereka. "Pagi tuan putriku." sapa Lixuan. "Hei! Kau terlalu berlebihan. Apa-apaan karpet merah dan bunga-bunga ini?" Namjoo melotot marah. Masalahnya adalah semua teman-teman Namjoo saat ini menatap Namjoo dengan sinis. Mungkin marah karena Namjoo merebut pangeran mereka dan juga iri karena Namjoo diperlakukan bak putri oleh Lixuan. "Tak ada yang berlebihan untuk calon permaisuriku." Lixuan tersenyum lagi. Namjoo mulai salah tingkah. Ia tak menyangka Lixuan seromantis ini. Hal-hal seperti ini hanya ia kira hanya bisa ia temukan dalam novel. Lixuan berhasil membuatnya terkesan. Tiba-tiba Namjoo merasakan ada yang merangkul bahunya. Ia menoleh dan mendapati wajah Seojun yang dekat dengan wajahnya. Namjoo berusaha melepaskan rangkulan itu tapi tak bisa. Baiklah apa mau bocah ini sekarang? "Ohh, jadi ini bocah bangsawan yang kau katakan padaku? Yang melamarmu?" Seojun menatap Lixuan meremehkan. "Hei! Siapa kau? Beraninya kau merangkul calon istriku!" Lixuan maju dan menarik tangan Namjoo agar rangkulan Seojun terlepas. Namjoo segera bersembunyi di belakang Lixuan. Mencari aman kalau-kalau kedua bocah laki-laki ini berkelahi. "Kau tanya siapa aku? Aku adalah Kim Seojun, aku juga calon suami Namjoo." ucap Seojun sambil menyeringai. Tunggu! Tunggu! Sepertinya Namjoo mendengar sesuatu yang salah dari kalimat Seojun? Calon suami? Sejak kapan Seojun jadi calon suami Namjoo? "Hei, sejak kapan kau jadi calon suamiku!" protes Namjoo. "Namjoo sayang? Kau menyangkalnya? Apa kau lupa? Kita sudah lama dijodohkan bahkan sejak kita masih memakai popok!" jerit Seojun dengan nada miris yang dibuat-buat. Mata Namjoo melotot mendengar kata-kata Seojun. Lixuan menatap Namjoo dengan tatapan menuntut. Seojun sendiri hanya menyeringai menikmati penderitaan Namjoo. "Seojun-ah ayo pulang!" ajak Bomin. "Ya, Ibu Mertua! Namjoo sayang belajarlah dengan giat untuk masa depan kita nanti, mengerti?" Seojun tersenyum manis. Bomin mengernyit karena Seojun memanggilnya ibu mertua. Tapi ia mengabaikannya dan menggandeng Seojun menuju mobilnya. Namjoo merasa Seojun benar-benar iblis yang datang untuk menghancurkan kehidupan sempurnanya. Para teman-teman sekolah Namjoo dan Lixuan meringis melihat aura membunuh yang menguar dari kedua orang itu. 'Dasar bocah cebol lembek! Tunggu pembalasanku nanti!' batin Namjoo penuh dendam. *** Makassar, 3 Juni 2016
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD