Part 8 - Kak Byunggyu!

1557 Words
Mereka sampai di bandara. Siap untuk terbang ke Seoul. Mereka tak naik kapal pesiar lagi karena Byunggyu mengancam akan menenggelamkan mereka semua ke laut bila memaksa ingin naik kapal. "Jaga dirimu dan kandunganmu. Kumohon! Kumohon jangan bertindak gila lagi selama kau hamil, mengerti!" peringat Eunjin. "Siap komandan!" Bomin memasang pose hormat kepada Eunjin. "Paman, apa tak bisa kau ikut dengan kami ke Seoul?" rengek Namjoo. "Tidak bisa. Lagipula aku tak ingin mengorbankan kehidupanku yang indah di sini dan tinggal berdekatan dengan ibumu. Kau berkunjunglah nanti saat liburan, aku akan mengajakmu ke tempat yang seru." ucap Junho. "Janji?" Namjoo menaikkan jari kelingkingnya. Junho mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Namjoo. "Astaga~ Namjoo jadi seperti anak kandungmu, kalian mirip!" puji Wooseok sambil memotret mereka. "Jadi Namjoo tak terlihat seperti anakku?" Byungjin memicingkan matanya pada Wooseok. Woossok sendiri hanya meringis dan menaikkan kedua jarinya membentuk 'V'. Yookyung menatap Taeoh yang ada di depannya dengan malu-malu. Ia menuliskan sesuatu pada buku catatannya. "Mengapa kau menulis lagi?" protes Taeoh. Yookyung memicingkan matanya pada Taeoh. Menyuruh pemuda itu diam saja. Ia menunjukkan apa yang ia tulis. "Jaga kesehatanmu. Perlakukan Namjoo dengan baik dan tetap hubungi aku." Lalu Yookyung menaikkan jari telunjuknya dan menggoyangkannya memanggil Taeoh agar lebih dekat padanya. "Ada apa?" Taeoh mendekatkan dirinya pada Yookyung. Cup! Mata Taeoh membelalak saat sesuatu yang lembab dan kenyal menyentuh pipinya. Yookyung mengecup pipinya? "Terimakasih telah membuatku tak malu untuk berbicara kembali." bisiknya. Yookyung langsung kabur ke belakang ibunya karena tahu Namjoo mulai mengamuk. Byunggyu segera mengambil tindakan dengan menggendong Namjoo. "Hei! Beraninya kau melakukan pelecehan pada Kak Taeoh! Kau kira siapa dirimu? Hei! Kak Byunggyu turunkan aku! Turunkan! Aku ingin memotong bibir Kak Yookyung yang berani mencium pipi Kak Taeoh! Aku saja belum pernah menciumnya! Hei turunkannn!" Namjoo meronta dalam gendongan Byunggyu. "Ibu, Ayah, sebaiknya kita pergi aku tak bisa menahan Namjoo lebih lama lagi!" Byunggyu mulai kesulitan karena Namjoo menggigit pundaknya. "Baiklah kami pergi dulu!" pamit Bomin terburu-buru. "Ada-ada saja." Nayoung menepuk dahinya dan melangkah mengikuti keluarga Oh bersama Gaeun. Eunjin dan Junho melambaikan tangannya pada rombongan keluarga Oh. Begitu mereka semua pergi, Eunjin menatap anaknya dengan ekspresi lelah. "Sepertinya gen ayahmu menurun lebih banyak Yookyung-ah. Tolong kendalikan itu, mengerti?" Junho sendiri diam-diam bertos ria dengan Yookyung. Mereka puas karena berhasil menjahili Namjoo. Ahh, ayah dan anak yang kompak. *** Mereka telah sampai di Seoul. Namjoo dikurung di kamar untuk sementara. Ia terus memaksa untuk mengecup pipi Taeoh. Mungkin ia tak ingin kalah dengan Yookyung. "Ah lelahnya..." Bomin menyenderkan tubuhnya di senderan sofa. "Apa aku boleh bolos saja besok? Tubuhku rasanya ingin remuk." keluh Wooseok. "Minta Nayoung memijitmu sana! Kau sudah beberapa hari ini bolos, kau pikir aku akan membiarkanmu bolos lagi?" Byunggyu kembali ke mode ketua OSIS teladan. "Aku ingin dipijat Bomin noona saja, tapi ingin pijat yang tambah-tambah." goda Wooseok sambil mengedipkan matanya pada Bomin. Bletak! "Aduh!" Wooseok memegangi kepalanya yang dijitak oleh Byungjin. "Bukankah sudah kubilang jangan ganggu istriku, kau anak nakal!" ucap Byungjin marah. "Rasakan!" Bomin tertawa dan menjulurkan lidahnya mengejek Wooseok. Taeoh sendiri memegangi pipinya yang dikecup oleh Yookyung. Wajah Taeoh masih merah hingga sekarang. Pipinya yang tadi dikecup Yookyung masih terasa panas. Astaga, ia tak menyangka akan efek sebuah kecupan saja bisa seperti ini. "Wuaa sepertinya ada yang sedang berbunga-bunga disini." ejek Bomin. "Eum, sayang sekali mereka harus menjalin hubungan jarak jauh." Byunggyu ikut menggoda adik sepupunya itu. Taeoh yang malu karena diejek pun menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam kamarnya. Bomin dan yang lainnya tertawa. *** Byunggyu datang ke sekolahnya bersama Wooseok. Ia merasa heran mengapa semua orang menatapnya aneh? Belum lagi orang-orang yang mengaku sebagai penggemarnya sekarang sepertinya melihatnya saja tak sudi. "Ada apa ini?" tanya Wooseok heran. "Entahlah, ayo ke ruang OSIS! Aku harus memeriksa apa saja yang terjadi saat aku tak ada di sekolah." ajak Byunggyu. Mereka melangkah ke ruang OSIS. Wooseok menatap semua murid-murid dengan tak percaya. Bahkan Han Taehyung yang merupakan preman sekolah pakaiannya menjadi seperti nerd begitu? Apa yang terjadi selama mereka tak ada? Ceklek.. Byunggyu dan Wooseok membelalak melihat keadaan ruang OSIS. Ada sekumpulan pria berseragam militer di sana. Apa mereka yang ditugaskan oleh Nayoung untuk menggantikan Byunggyu? Tatapan para pria itu beralih pada Wooseok yang tak mengenakan dasi dan memakai sepatu warna-warni. Wooseok yang takut langsung bersembunyi di belakang Byunggyu. "Maaf, apa yang kalian lakukan di sini? Kalian tentu tahu ini ruang OSIS sekolah kami bukan?" Byunggyu berkata sopan. "Siap! Kami hanya melaksanakan perintah dari Nona Nayoung. Kami ditugaskan untuk mengawasi murid-murid di sini selama ia tak ada." ucap salah satu dari pria itu. Ah, jadi karena ini semua murid menatapnya aneh tadi? Mereka pasti dilatih secara militer selama Byunggyu tak ada. Pantas saja mereka marah pada Byunggyu. "Saya sudah datang jadi bisakah kalian pergi?" tanya Byunggyu. "Siap! Kami takkan pergi sebelum Nona Nayoung yang memerintahkan kami. Dan kau!" Pria itu tiba-tiba menunjuk ke arah Wooseok. "Sebaiknya kau ikut dengan kami sebelum kami menghukummu dengan hukuman yang lebih berat!" ancamnya. "Tidak mau! Byunggyu hyung tolong aku! Mereka menyeramkan!" rengek Wooseok ketakutan. "Baiklah! Kau yang memaksa kami!" Para pria itu mendekati Wooseok dan menariknya dari belakang Byunggyu. Mereka lalu menyeret Wooseok keluar ruangan. "Kyaaa! Lepaskan!" jeritan Wooseok terdengar seperti jeritan wanita yang akamn diperkosa. Byunggyu hanya bisa meringis melihat apa yang para pria berseragam militer itu lakukan pada Wooseok. Ia segera mengambil ponsel dari saku bajunya. "Halo? Oh Nayoung beraninya kau membuat kekacauan seperti ini! Cepat ke sekolah dan bereskan kekacauan yang kau buat atau perjanjian kita batal!" *** Tadinya Nayoung berniat bolos, tapi setelah di telpon oleh Byunggyu ia segera datang ke sekolah. Ia melangkah di koridor sambil menggerutu. "Emmhhh... Ummm...." Langkah Nayoung terhenti mendengar suara itu. Ia melangkah mundur dan melirik ke arah lorong yang menuju gudang penyimpanan. Mungkin karena jam pelajaran sehingga sekolah sepi jadi suaranya terdengar jelas. Suaranya makin keras saat Nayoung melangkah ke arah lorong itu. Dan benar saja, suara itu berasal dari gudang penyimpanan bangku. Ceklek... Mata Nayoung membelalak melihat apa yang terjadi di dalam sana. "Kyaaaaa!" Sontak pasangan yang sedang berciuman itu menoleh pada Nayoung. Nayoung menatap mereka horor. "Beraninya kalian berciuman di sekolah! Kalian cari mati ya? Anak baru kau juga apa tak bosan membuat masalah? Sekarang kalian berdua ikut denganku ke ruang BK!" teriak Nayoung marah. Dan Xieyu juga wanita yang berciuman dengannya hanya bisa pasrah saat diseret ke ruang BK. *** Wooseok meringkuk ketakutan. Bibirnya menggumamkan kata-kata yang tak jelas. Byunggyu sendiri hanya menggelengkan kepalanya dan mengabaikan Wooseok. Para orang suruhan Nayoung sudah ditarik mundur lewat telpon oleh Nayoung. Sekarang tinggal menunggu gadis itu datang. Ceklek... "Hei! Kenapa kau lama seka--" omelan yang sudah Byunggyu persiapkan langsung terhenti. "li?" "Simpan kata-katamu. Kita diberi tugas oleh Guru Yeon untuk menghukum dua orang m***m ini!" ucap Nayoung kesal karena kerjaannya bertambah. Byunggyu menatap Xieyu sekilas. Lalu mengangguk pada Nayoung. "Kau ikut denganku!" perintah Byunggyu. Han Xieyu mengikuti Byunggyu dengan malas. Byunggyu menarik kerah belakang seragam Wooseok agar pemuda itu juga ikut dengannya. Nayoung duduk di kursinya dan meminta gadis yang tadi berciuman dengan Xieyu untuk duduk di kursi yang ada di depannya. "Namamu?" Nayoung mengeluarkan buku catatannya. "Han Jieun." ucap gadis itu malas. "Kelas?" "Kita berada di kelas yang sama, cukup kau tau saja!" ucap Jieun kesal. "Maafkan aku tapi sepertinya di kelas kau tak menonjol jadi aku tak mengingatmu." ucap Nayoung acuh. Jieun membulatkan bibirnya dengan mata yang juga membulat kesal. Mungkin bila ia tak ingat siapa Nayoung, ia akan mencakar-cakar mulut Nayoung yang pedas itu. "Baiklah, apa membersihkan gedung A cukup untuk membuatmu jera?" Nayoung menatap Jieun serius. "Hei! Gedung A terlalu luas! Aku ini wanita!" protes Jieun. "Lalu? Aku juga wanita. Jadi jangan kau pikir karena kau wanita aku akan meringankan hukumanmu!" ucap Nayoung tegas. Jieun mendengus. "Kau pasti juga pernah melakukannya, jadi mengertilah sedikit!" cibirnya. "Melakukan apa? Bolos?" Nayoung balas mencibir. "Bukan itu! Maksudku ciuman!" jerit Jieun. Hayoung menyelipkan rambutnya ke belakang. O-ow! Ini topik sensitif. Jangankan ciuman, pacaran saja Nayoung masih digantung oleh Wooseok. "Jangan bilang kau tak pernah? Hebat! Tak kusangka gadis sepertimu tak pernah berciuman? Bukannya kau berpacaran dengan Wooseok?" Jieun menjerit ala-ala bibi penggosip. "Memangnya harus melakukan hal seperti itu?" tanya Nayoung yang mulai risih. "Tentu saja! Itu bukti bahwa kalian saling mencintai!" ucap Jieun. Saling mencintai? Jadi ciuman itu menunjukkan rasa cinta? Tapi Nayoung tahu dengan jelas tadi Xieyu melakukannya pada Jieun hanya karena nafsu semata. "Wooseok sepertinya takkan mulai duluan, bagaimana bila kau yang memulai?" saran Jieun antusias. "Aku? Yang memulai?" "Ya! Pasti setelah itu hubungan kalian akan semakin dekat, mumumumu..." Jieun memaju-majukan bibirnya. Dan sepertinya sesi hukuman ini berubah menjadi sesi curhat. Dan pada akhirnya, Jieun diberi hukuman ringan oleh Nayoung. *** Byunggyu melepas apron yang digunakannya. Ia membantu Bomin memasak tadi. "Aku sudah mendapatkan penyewa untuk apartemen sebelah." ucap Bomin. "Pria atau wanita?" tanya Namjoo. "Penyewanya seorang kakek tua. Ia akan tinggal bersama cucunya. Ia punya dua cucu laki-laki. Byunggyu dan Taeoh nanti bantu Ibu membersihkan apartemen, ya?" pinta Bomin yang ditanggapi anggukan malas kedua pemuda itu. "Baguslah ia pria, aku tak mau lagi bila ada wanita yang menggoda Kak Taeoh!" ketus Namjoo. Masih dendam dengan kejadian Yookyung. Ting.. Tong.... "Biar aku saja." ucap Byunggyu pada Bomin. Byunggyu berjalan keluar dan membukakan pintu. Tapi tiba-tiba.... Seorang bocah langsung menyerbunya dengan pelukan. Byunggyu terbelalak... "Kak Byunggyu!" teriak bocah itu girang "Kau?" *** Makassar, 31 Mei 2016
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD