Janji itu memang manis
Dibuat untuk menyenangkan hati
Menipu perasaan dengan kebahagiaan sesaat
Lalu kemudian lenyap dan menggores luka hingga akhir
Semuanya tidak bersisa
Regan gemetar, ia bahkan tidak bisa menenggak segelas air pun usai kejadian mengerikan itu. Kenapa selalu ada dia saat terjadi kecelakaan tragis? Pertama Jessy lalu sekarang Yusef. Kenapa semua ini terjadi?
Di rumah sakit, ia hanya bisa mematung sementara Kleo berdiri di sisinya dengan wajah tidak kalah pucat. Ia masih tidak bisa meyakini kalau kakaknya telah tiada. Hidup begitu lama dan mati dengan begitu cepat, membuat kenangan yang dibuat selama ini seakan tidak berarti. Inikah hidup?
“ Bukankah sudah ayah bilang jangan berjalan jalan di jalan raya. Apa gunanya ayah membelikan kalian mobil mobil mewah, apa gunanya? Untungnya bukan kau yang mengalami hal ini. Jika tidak, ayah bisa gila.” Gumam Qian menyeka air matanya usai memasuki ruang mayat. Regan mengernyit, Qian masih bisa berkata begitu? Apa ia tidak menyayangi Yusef? Regan saja yang baru mengenalnya rasanya begitu nyaman, Yusef orang yang sangat baik ketimbang sosok menyebalkan yang saat ini berada di sisinya
“ Ayah masih bisa bicara begitu? Ayah, dia itu kakakku.” Tekan Kleo tak suka
“ Ya, tapi untungnya bukan kakak kandungmu. Selama ini ayah sudah cukup memanjakan dan merawatnya. Jadi jika memang ini jalannya, ayah tidak keberatan.”
“ AYAH! Bukan ayah yang mengajariku berdiri tapi dia! Saat ayah tidak ada, dia yang ada di sisiku. Dia! Mungkin dia tidak berarti bagi ayah, tapi bagiku... Dia mungkin lebih berarti dari pada ayah.” Tekan Kleo marah kemudian memasuki ruang mayat itu. Meninggalkan Regan yang mematung menyaksikan sikap keluarga ini.
“ Regan, kau baik baik saja? Kau pasti shock kan? Karena kau melihat kejadian mengerikan itu secara langsung. Apa kau mau minum?” Tanya Qian memegang pundak Regan lembut.
“ Aku mau ke tempat ayah.” Ujar Regan kemudian berbalik dan beranjak pergi begitu saja. Entah kenapa, ia merasa begitu muak hingga tega meninggalkan Qian yang mematung melepas kepergiannya. Namun ....
Saat tiba di koridor...
Tiba tiba langkah Regan terhenti. Ia melihat Jennie muncul, berlari kemudian menangis di hadapannya. Menangis dan mengatakan sesuatu yang sangat amat buruk telah terjadi. Sesuatu yang sangat mengerikan. Mendengar itu, Regan bergegas berlari
Ia bahkan melupakan rasa traumanya dan menaiki taxi yang ada di depan Rumah Sakit, wajahnya begitu pucat dan panik
Tidak, hal ini tidak boleh terjadi
Ini tidak bisa terjadi
Tidak boleh!
“ Ayah!!!” Teriak Jennie saat mereka tiba di depan rumah Jennie
Beberapa tetangga telah berkerumun di sana, Regan gemetar usai turun dari taxi, ia seakan tak bisa bernapas.
“ Kenapa jadi seperti ini? Kenapa seperti ini?” Tangisnya kemudian.
Bagaimana tidak, ayah Jennie terlihat tewas menggantung dirinya di pohon yang tumbuh di sisi perpustakaan. Pohon tempat ia bermain bersama putri tercintanya. Bola matanya masih terbuka dan lidahnya menjulur ke luar. Ada secarik kertas yang digenggam tangan kakunya. Regan memberanikan diri mengambil kertas itu.
“ Jangan hakimi siapa pun atas kematianku, karena aku hanya merasa kesepian. Semua orang yang berjanji untuk menemani, tiba tiba hilang tak bernyawa. Mungkin hidupku memang terkutuk, pertama putriku, kemudian Yusef. Untuk apa lagi orang tua ini hidup? – Jack “
Ya, Jack membunuh dirinya sendiri. Kesedihan membuat jiwanya tidak kuat. Ia terus menangis membayangkan kematian Yusef yang begitu mengerikan tadi, menyalahkan dirinya sendiri hingga berakhir membunuh dirinya sendiri.
“ Paman bangun!” Regan mencoba mengguncang tubuhnya usai digotong turun.
“ Paman! Bangun! Regan mohon bangun!” Pinta Regan sedih
Ia ingat dengan jelas betapa baik dan sabarnya sosok itu. Betapa dermawan dan belas kasihnya ia. Jack tidak pantas meninggal seperti ini.
“ Regan tolong ayah! Tolong dia! Dia tidak boleh mati! Ayah ya Tuhan! Ayaaaah!” Teriak Jennie sedih
Tapi, nasi sudah menjadi bubur, Regan hanya bisa menangis dengan penuh penyesalan, nadi Jack sudah tidak terasa lagi. Regan menutup mata tuanya yang masih terbuka kemudian menangis memeluknya
“ Maafkan aku Jennie, ayahmu sudah meninggal.” Ujarnya berat
“ Tidaaaak!!” Teriak Jennie. Tentu saja ia begitu terluka. Kematian menjadi tidak cukup berarti asal orang yang kita sayangi hidup dengan bahagia. Tapi hari ini, Jennie harus menyaksikan dua orang yang begitu ia cintai melebihi dirinya sendiri harus meregang nyawa dengan cara tragis. Hantu cantik itu kemudian menghilang pergi, entah ke mana ia akan membawa seluruh kesedihan dan amarahnya
“ Apa yang terjadi sebenarnya.” Gumam Regan sedih
Kenapa, semua orang di sekitarnya meninggal begitu saja?
Jauh dalam sedihnya.... Tiba tiba ponsel Regan berdering. Ia merogoh saku dan mengernyit melihat ada nomor baru yang tertera. Regan segera mengangkatnya
“ Halo, Regan? Ini Profesor Sammuel. Kau bisa ke rumah? Saya menemukan beberapa nama terkait yang satu angkatan dengan Alankar. Ada fakta yang cukup mengejutkan.” Tutur suara di seberang
“ Profesor? Anda sudah baik baik saja?” Tanya Regan lega. Setidaknya ada yang baik baik saja.
“ Iya, saya baik baik saja. Tadi saya pulang ke rumah. Apa kau bisa datang ke sini? Saya mendapatkan nomormu dari bagian administrasi.”
“ Baik, saya akan segera ke sana.” Tutur Regan terisak
“ Ada apa? Kau baik baik saja?” Tanya Profesor Sammuel
Regan mengambil napas panjang
“ Tidak Prof. Saya tidak baik baik saja. Banyak hal buruk terjadi, saya akan segera ke sana.” Tutur Regan kemudian menutup ponselnya dan menangis sedih memeluk tubuh Jack
Bagaimana ia bisa baik baik saja?
----***----***----***----
Beralih ke lain tempat...
Sosok itu mengulas senyum begitu bisa menyentuh semua buku di depannya. Kini, ia semakin nyata. Diambilnya sebuah belati tua yang terletak di dalam laci. Belati dengan gagang berhiaskan berlian
“ Simpan ini dan bawa kemanapun kau pergi!” Ujar ibunya waktu memberikan belati itu padanya.
“ Tapi buat apa?” Senyum Alankar mengejek saat itu
“ Untuk melindungimu nak, pistol ilegal tapi barang ini tidak. Ini warisan keluarga. Simpan baik baik agar tidak ada yang menyakitimu.”
“ Kau tahu? Aku menyayangimu ibu.” Alankar memeluk ibunya erat
Ya, belati itu tersimpan rapi di laci perpustakaan itu. Tempat terakhir Alankar menyimpannya 40 tahun yang lalu.
“ Butuh waktu 40 tahun ibu, sekarang aku akan kembali.” Senyumnya dingin kemudian menatap ke langit langit. Terlihat jiwa tua Jack terkurung dan terjerat di sana. Di sisinya jiwa Yusefpun hampir hancur dijerat dengan tali berwarna hitam.
Alankar membawa belati itu ke luar dari perpustakaan. Menyambut sosok lain yang datang dengan penuh kepedihan, Jennie. Ya, Jennie melangkah masuk ke dalam sekolah itu. Jeritan, tangisan, teriakan terdengar di seluruh penjurunya.
“ Kau ingin membuat perjanjian baru?” Tanya Alankar dengan tatapan teduh dan pembawaannya yang begitu tenang. Sebaliknya, Jennie menatapnya tajam
“ Kau iblis!” Tunjuk Jennie dengan penuh amarah
“ Kenapa kau menyebutku begitu? Bukankah aku telah membantumu?” Alankar mengulas senyum tanpa dosa
“ Kembalikan ayahku sekarang! Kembalikan dia! Biarkan dia hidup!” Teriak Jennie sedih. Ia benar benar hancur, perasaannya benar benar terluka. Mendengar itu, Alankar tertawa
“ Jika aku bisa mengembalikan kehidupan. Maka aku akan memilih hidup dari pada mati.” Ujarnya membuat Jennie semakin marah dan mendekat
“ Kalau begitu kau harus hancur! Benar kata orang orang, kau ini terkutuk! Kau jahat! Kau kejam!”
“ Bukan aku, tapi kau! Kaulah yang membuat perjanjian dengan buku itu bukan? Kau juga yang kemarin membuat permohonan. Bukankah aku bilang setiap permintaan memiliki bayaran.” Ujar Alankar.
Jennie hendak memukul Alankar, tapi pemuda itu menahan lengannya dengan mudah, menatap ke mata Jennie tajam.
“ Kau jiwa yang sangat lemah, jangan mencoba menentangku! Kau tidak tahu siapa yang baik dan siapa yang jahat jadi sebaiknya hancur saja!” Tekannya
“ A-apa? Kenapa tanganku panas? Lepaskan! Lepaskan aku!” Pinta Jennie kemudian. Bagaimana tidak, perlahan, lengannya menghilang dan berubah menjadi asap. Lalu... Seluruh tubuhnya pun lenyap tak bersisa.
Bersamaan dengan itu...
“ Alankar!” Teriak sebuah suara dari arah gerbang.
Alankar langsung menoleh dengan wajah pucat. Kondisi memang gelap, tapi... Regan bisa melihat dengan jelas apa yang baru saja terjadi. Gadis itu menggeleng seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat baru saja. Benar, bukankah lokasi sekolah dan perpustakaan Jennie sangat dekat? Regan tengah berjalan menuju rumah Profesor. Tapi... Ia mendengar teriakan suara Jennie dari arah gerbang sekolah dan takdir membuatnya menyaksikan semuanya. Tubuh Jennie yang perlahan musnah di tangan pemuda yang sangat ia percayai, yang sangat ia cintai.
Air mata Regan menetes turun. Ia melangkah memasuki gerbang dengan jari jari mengepal
Di sana ada roh yang terkutuk!
Regan ayah mau kau menjauhinya! Dia tidak baik!
Jauhi dia! Dia tidak seperti yang terlihat!
Dia jahat!
Dia banyak menumbalkan orang lain!
Jangan sebut namanya atau kau akan celaka!
Semua ucapan orang orang terbesit kembali di benak Regan. Sekarang, kenapa sepertinya semua itu terlihat benar?
Rasanya begitu sulit percaya bahwa orang yang kita sukai ternyata tidak seperti yang kita harapkan bahkan jauh dari kenyataan yang kita bayangkan. Regan meneteskan air mata kecewa saat berdiri di hadapan Alankar yang menatapnya teduh. Tatapan yang penuh tipuan
“ Apa semua itu benar? Kau yang menyebabkan kak Yusef meninggal dan paman Jack bunuh diri?” Tanya Regan dengan suara gemetar
“ Itu bukan urusanmu!” Alankar hendak berbalik. Tapi, Regan menahan lengannya
“ Aku mencintaimu apa kau tahu itu? Apa kau mengerti itu? Jadi aku berhak untuk tahu seperti apa orang yang aku cintai.” Pinta Regan sedih
Alankar mengulas senyum
“ Apa aku memintamu untuk menyukaiku?” Tanyanya
Deg
Regan tercekat
“ Pertama, aku sudah lama mati. Jadi seharusnya kau tidak mengungkit tentang orang mati apalagi mencintainya. Hal konyol apa yang harus didengar melebihi manusia yang bisa mencintai hantu? Apa karena aku tampan? Hmm? Lalu bagaimana jika seperti ini?” Perlahan, darah segar mengalir dari kepala Alankar, bau amis menyeruak, kulit wajahnya terkelupas dan itu sangat mengerikan
Tapi, Regan bergeming. Ia seakan tidak merasakan takut ataupun melangkah mundur. Ya, ia sama sekali tidak takut
“ Kau tidak takut?”
“ Kau pikir cintaku hanya memandang fisikmu saja? Jika kau berpikir begitu maka kau salah. Aku tidak sepertimu yang memiliki dua wajah.” Celetuk Regan mencoba tegar
Perlahan, wajah tampan Alankar kembali
“ Jawab aku Al, apakah benar semua kematian di sini ada hubungannya denganmu?” Tanya Regan. Walaupun sebenarnya ia tidak mau mendengar jawaban yang menyakitkan.
Tapi...
“ Iya.” Jawab Alankar seketika membuat hati Regan patah
“ Kenapa? Paman Jack dan kak Yusef orang yang baik. Atau jangan jangan... Jessy juga...” Regan kembali terisak
“ Sebaiknya kau pergi Regan! Jika kau tahu akan menangis, jangan mendekati segala hal yang membuatmu terluka.” Senyum Alankar
“ Apa kau sama sekali tidak peduli padaku?”
“ Tidak.”
“ Lalu kenapa kau menyelamatkanku? Aku tahu.. apa mungkin kau ingin memanfaatkanku? Kau menipuku? Alankar, seperti apa dirimu sebenarnya? Kenapa kau tega menghancurkan semua orang yang tidak bersalah? Kenapa? Kenapa harus paman Jack? Kenapa harus kak Yusef? Kenapa harus Jennie!!!” Teriak Regan frustasi
Ia menangis sesak kemudian terduduk di tanah. Hatinya benar benar terluka, andaikan ia tidak melihat secara langsung, mungkin ia masih dibutakan cinta. Jauh dalam tangisnya... Tiba tiba...
Hangat?
Alankar memeluknya
“ Maafkan aku.” Ucapnya getir
Kenapa pelukannya begitu hangat? Bukankah ia sudah meninggal?
Regan menatap wajah Alankar yang pucat, pemuda itu mengulas senyum
“ Kenapa kau lakukan semua ini?” Tanya Regan dengan tatapan sendu
“ Kenapa?” Tanyanya lagi
“ Suatu saat kau akan mengerti.” Ujar Alankar mengecup kening Regan sekilas, kemudian perlahan, tubuhnya memudar dan menghilang pergi, meninggalkan Regan yang menangis sesak seorang diri.
Alankar bahkan bisa mengecup keningnya? Dan itu terasa begitu nyata. Di suatu sisi Alankar bersikap seakan akan ia sangat kejam dan tidak peduli, tapi.. di suatu sisi, ia bisa begitu lembut dan seakan akan sangat mencintai Regan. Sama seperti Regan mencintainya. Dan itu membuat Regan benar benar membencinya.
“ JANGAN PERNAH MUNCUL LAGI DI HADAPANKU! AKU MEMBENCIMU! AKU SANGAT MEMBENCIMU! KAU DENGAR ITU? AKU MEMBENCIMU ALANKAR ADIRANGGA!” Teriak Regan melampiaskan emosinya.
“ AKU SANGAT MEMBENCIMU!”
Gadis itu kemudian berdiri, berjalan tertatih walaupun rasanya begitu berat. Hari ini, hatinya seolah dihantam ribuan pukulan tak tertahan hingga rasanya, mati pun tak masalah.
Di sana...
Dari balkon perpustakaan sekolah, Alankar memperhatikannya dengan mata berkaca kaca
“ Benar, pergilah! Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi.” Gumamnya dengan jari jari mengepal meremas pagar besi.
Karna sebentar lagi, kau mungkin akan membenciku melebihi ini.
----***----***----***----
Beralih ke lain tempat... Profesor Sammuel tampak gemetar melihat semua data yang ia dapatkan. Pria tua itu mencocokkan semua data itu dengan data yang didapatkannya di perpustakaan dari sobekan biodata Alankar. Dan semuanya cocok, akhirnya... Pria tua itu mengerti sekarang. Namun... Bukannya marah, sosok itu justru meneteskan air mata mengingat kata kata istrinya dulu
“ Sayang, hantu itu tidak jahat. Alankar itu orang baik, dia mungkin sangat baik karena itu ia begitu mudah terluka. Aku sangat mengenalnya. Jadi aku mohon, biarkan aku membuka perpustakaan itu, setidaknya untuk menghormati kematiannya dan memulihkan jiwanya.” Pinta Miss. Jenn waktu itu
Prof. Sammuel meraba foto Alankar di depannya
“ Bagaimana bisa mereka menyakitimu seperti ini, ternyata apa yang dikatakan Jenn benar. Kau tidak jahat.” Gumamnya
Fakta apa yang ditemukan Profesor Sammuel?