Tidak ada yang pernah sama di dunia ini...
Karena kesempatan hanya datang sekali dan tak akan pernah kembali...
Bagai air yang terus mengalir menuju muaranya atau kering dan tak akan pernah ada lagi..
Setiap permohonan akan memiliki timbal balas...
Setiap keinginan yang terkabul akan meminta bayaran...
Arwah Jennie terduduk senang malam itu di taman tempat di mana ia meninggal, di sisinya, sang ayah terlihat meletakkan seikat bunga untuk memperingati kematian putrinya setiap malam Selasa, malam kematian Jennie.
“ Maafkan Jennie ya ayah, Jennie membuat ayah sepi. Tapi, Jennie berjanji, mulai besok.. ayah tidak akan merasakan kesepian lagi. Maafkan kesalahan Yusef ya yah, anggap dia sebagai pengganti Jennie. Jennie sayang banget sama ayah.” Ujarnya ingin memeluk sang ayah
Tapi tetap saja, ia tidak bisa melakukan itu. Tubuhnya bagai asap yang ada tapi tidak bisa menyentuh apa pun dan itu membuatnya sedih.
Lalu tiba tiba...
“ Kau ingin ayahmu bisa melihatmu? Kau ingin bisa menyentuhnya?”
Deg
Jennie menoleh, siapa yang tengah bicara padanya setelah tiga tahun lamanya ia seorang diri? Bukankah hanya Regan yang bisa melihatnya? Tapi ini bukan suara Regan, dia seorang pria. Ya, seorang pemuda yang sangat tampan dengan sepasang mata biru pekat yang begitu indah, Alankar.
“ Siapa kamu?”
“ Aku sama sepertimu. Sosok jiwa yang terperangkap dalam mantra buku itu. Sebut saja aku Alankar, aku bisa membantumu menyentuh apa pun. Jika kau bersedia.” Tawarnya mengulas senyum
Jennie berdiri menjajari sosok itu
“ Alankar? Nama itu...
Jennie mengingat
Alankar mengulas senyum
“ Aku bisa membantumu.” Senyumnya
“ Aku hanya ingin bertemu dengan ayah, satu kali saja. Aku ingin memeluknya walau hanya dalam mimpi, agar dia tidak marah dan memaafkan Yusef besok.” Tutur Jennie dengan mata berkaca kaca
“ Itu hal mudah, aku akan membawamu ke dalam mimpinya. Tapi sebelum itu, jabat dulu tanganku sebagai perjanjian.”
“ Perjanjian?” Jennie mengernyit
“ Ya, hanya perjanjian. Bukankah segala hal memiliki konsekuensinya. Setiap permohonan ada balasannya.” Senyum Alankar penuh maksud
“ Aku akan menerima konsekuensi apa pun asalkan bisa bertemu dengan ayah.” Senyum Jennie kemudian menjabat tangan Alankar
Panas, kenapa tangannya begitu panas...
Apakah dia benar benar arwah sepertiku? ~ Batin Jennie
Tapi ia tidak mau memikirkan apa pun, ia cukup bahagia jika benar benar bisa bertemu dengan ayahnya nanti walaupun Cuma di alam mimpi. Jennie menatap wajah lelah ayahnya senang, ia tidak sabar menunggu ayahnya tidur.
Benar saja, saat pria tua itu kembali ke rumahnya. Untuk pertama kalinya ia bisa memejamkan mata dan tertidur dengan tenang
“ Ayah.” Suara itu seolah membuat kelopak mata Jack kembali terbuka. Suara yang begitu ia rindukan
“ Ayah baik baik saja?” Tanyanya
Benar saja, ia melihat Jennienya duduk di sisi ranjang, memegang tangannya hangat
“ Nak, kau pulang? Ayah rindu?” Jack langsung menangis memeluk putrinya, menciumi wajah dan tangan putihnya dengan linangan air mata.
“ Ayah sangat rindu nak, ayah bahkan tidak mau merayakan ulang tahun lagi. Karena begitu sepi tanpamu.” Tangisnya sesenggukan
“ Jennie selalu berada di sisi ayah. Jennie sayang sama ayah, Jennie tidak akan pernah pergi. Jennie kan sudah berjanji. Boleh Jennie memeluk ayah?” Tanya Jennie menangis sedih
Pria tua itu langsung memeluk putrinya erat, pelukan kerinduan yang begitu pekat. Akhirnya, setelah lama... Jennie bisa menyentuh dan berbicara dengan ayahnya. Betapa ia bersyukur dan berterima kasih pada Alankar. Alankar bagai dewa penolong baginya malam itu.
Mungkin, bagi Jack itu hanyalah mimpi yang sangat indah, tapi sebenarnya... Itu nyata bagi Jennie, ia benar benar menghabiskan waktu bersama ayahnya semalaman. Menuntaskan rindu yang tak pernah usai.
Saat fajar menyingsing, Jennie kembali dari mimpi ayahnya. Ia langsung memeluk sosok Alankar yang menunggunya di depan pintu
“ Terima kasih, kau sangat baik.” Ucapnya begitu bahagia
“ Tidak masalah, aku mengerti rasanya. Seandainya orang tuaku masih ada dan peduli, aku juga ingin melakukan hal yang sama.” Ujar Alankar mengulas senyum tenang.
Tapi apa konsekuensi yang akan Jennie tanggung. Kenapa seakan sorot mata Alankar menyembunyikan sesuatu? Ia mengulas senyum tipis melihat kegembiraan di wajah Jennie
Dan keesokan harinya, dengan jantung berdegup kencang, hantu itu menunggu kehadiran pujaannya. Bukankah hari itu Yusef berjanji akan datang.
“ Kak Yusef belum datang ya?” Tanya Regan dengan pakaian Kasual yang sejak tadi sudah datang menunggu di dalam perpustakaan
“ Dia memang selalu terlambat. Sejak dulu itu kebiasaan buruknya dan sampai saat ini belum sembuh. Huft.” Celetuk Jennie kesal. Sesekali ia melihat raut wajah ayahnya tampak sangat senang sedang merapikan buku buku di rak. Bagaimana tidak bahagia, semalam ia bermimpi bertemu putrinya. Mimpi yang terasa begitu nyata
Tak lama kemudian terlihat sebuah angkutan umum berhenti di depan perpustakaan itu. Tampak Yusef turun dari dalam memegang buku Black Note dan sebuah tas jinjing berisi oleh oleh di dalamnya
“ Kenapa dia naik angkot?” Regan mengernyit heran. Sementara Jennie langsung berlari menyambut dengan riang, walaupun Yusef tidak bisa melihatnya. Pemuda itu mengatur napas kemudian membuka pintu perpustakaan dengan jantung berdegup kencang.
Melihat kedatangan Yusef yang mengenakan almamater kedokteran membuat Jack, ayah Jennie menghentikan pekerjaannya. Ia mencoba mengenali Yusef, wajahnya langsung berubah sedih saat melihat Yusef berdiri di depannya setelah tiga tahun lamanya.
Dengan tangan gemetar, Yusef memegang tangan tua Jack kemudian mengecup punggung tangannya memberi hormat
“ Apa kabar paman?” Tanya Yusef
Tapi...
Plak
Sebuah tamparan keras ia terima dari sosok yang meneteskan air mata di depannya
“ Kenapa baru datang sekarang? Apa menurutmu semuanya sudah selesai begitu Jennie meninggal? Kamu tidak mau menjenguk orang tua ini?” Tanyanya penuh kecewa.
“ Maafkan saya.” Yusef menundukkan wajah
Suasana di tempat itu begitu sendu hari itu.
“ Ada yang ingin saya sampaikan. Sesuatu yang membuat saya takut untuk datang dan meminta maaf. Tapi sekarang, saya sudah bisa menerima semuanya. Saya siap dengan segala konsekuensinya.” Tutur Yusef dengan bibir gemetar. Bagaimana caranya menceritakan segalanya? Sementara tatapan ayah Jennie begitu penuh dengan kekecewaan
“ Tunggu sebentar! Aku akan menutup pintu perpustakaan ini dulu. Seseorang yang begitu penting telah datang setelah sekian lama. Tunggu sebentar.” Paman Jack segera menutup pintu perpustakaan kemudian membalikkan tulisan Open menjadi Close.
“ Ini untuk paman. Kue kembang goyang kesukaan paman. Mungkin tidak seenak buatan Jennie tapi saya sudah berusaha meminta pelayan membuatkannya.” Yusef memberikan tas berisi oleh oleh itu ke hadapan Jack yang langsung terisak. Bagaimana bisa Yusef mengingat makanan kegemarannya, selain itu, ia juga mengingat bagaimana Jennie dulu sering membuatkannya kue itu setiap hari minggu untuk bersantai dengannya.
“ Duduklah!” Pintanya pada Yusef kemudian membuka kotak kue itu dan mencicipinya. Arwah Jennie pun tak bisa menahan haru, ia menangis sesak.
“ Ini mirip dengan buatan Jennie.” Ujar paman Jack haru
“ Paman, ada yang ingin saya ceritakan. Tolong jangan membenci saya, paman boleh marah, paman boleh menghukum saya. Tapi jangan benci saya.” Pinta Yusef
Kunyahan paman Jack terhenti, tatapannya kosong, ia kemudian memegang tangan Yusef yang menundukkan wajah meneteskan air mata penyesalan
“ Jika ini tentang kematian Jennie, paman sudah memaafkanmu.” Tuturnya tiba tiba
Deg
Yusef langsung mengangkat wajahnya. Regan yang mendengar dari jauh pun mendekat, ia ragu dengan apa yang dikatakan Paman Jack, kenapa ia mengatakan hal itu?
Terlihat, Paman Jack meraih sapu tangan tua dari sakunya, mengusap air matanya yang langsung menetes turun. Sosok tua itu kemudian sesenggukan menahan sedih, rasanya sangat berat mengingat kembali luka yang telah lama coba ia simpan.
“ Jangan katakan apa pun nak, paman sudah memaafkanmu. Memaafkan perbuatanmu pada Jennie dulu. Paman tahu, kau orang yang telah mencekik Jennie hingga meninggal kan? Kau juga telah melecehkan dia. Awalnya paman ingin sekali membunuhmu, paman sangat marah, tapi... Saat melihat bibir Jennie mengulas senyum, paman tahu dia sudah memaafkanmu. Bagaimana paman bisa membenci orang yang sangat dicintai Jennie. Kau melakukan hal itu pasti ada alasannya kan? Hal itu yang paman tunggu selama ini, kedatanganmu untuk jujur dan meminta maaf. Itu sudah cukup.” Ujar paman Jack membuat Yusef langsung menangis terisak
Benar, ia lupa, Paman Jack adalah pensiunan polisi. Ia pasti tahu sedikit banyak tentang kematian seseorang apalagi orang yang ia sayang.
Yusef berlutut di lantai, menyatukan ke dua tangannya dan menundukkan wajah sembari menangis
“ Maafkan saya! Maafkan saya! Saya tidak ingin kehilangan Jennie karena itu saya melakukannya, saya gegabah, saya tidak sengaja paman! Saya tidak sengaja! Maafkan saya! Tolong maafkan saya!” Tangis Yusef tenggelam dalam penyesalannya
Regan sampai terharu melihatnya. Betapa baik ayah Jennie, dan betapa besar cintanya pada Jennie hingga ia mampu memaafkan sosok yang telah melenyapkan putrinya dengan lapang d**a.
Jack pun berlutut di hadapan Yusef kemudian menggenggam tangan pemuda itu dan memeluknya erat.
“ Tidak apa apa nak! Tidak apa apa. Jennie pasti sudah bahagia di sana. Paman tahu, dia tidak akan meninggalkan paman. Dia juga menanti saat ini datang. Sudah sudah jangan menangis lagi, hapus air matamu. Mari duduk bersama orang tua ini, tebus kesalahanmu dengan mengunjungiku sesering mungkin. Orang tua ini tidak mau meninggal sendirian. Kau mau kan?” Tanyanya begitu sabar. Yusef mengangguk memeluk pria tua itu.
Kini Regan tahu, kenapa Jennie terlihat begitu baik. Itu karena ia berasal dari keluarga yang baik, terlahir dari ayah yang begitu pemaaf dan ramah. Regan mengulas senyum ke arah Jennie yang juga tersenyum senang.
Hari itu, Yusef menghabiskan waktu bersama ayah Jennie. Memakan kue kembang goyang bersama sembari menonton video lama yang ia rekam. Video ulang tahun Jennie, video kelulusannya. Mereka mengenang betapa manisnya sosok itu, betapa renyah tawa Jennie. Untuk pertama kalinya setelah 3 tahun lebih lamanya, akhirnya Jack mau melihat wajah putrinya kembali. Selama ini, Jack bahkan enggan menatap foto Jennie karena itu hanya akan melukai hatinya. Sekarang, ia telah merasa lega
“ Terima kasih ya Regan.” Ucap Jennie memegang tangan Regan di luar perpustakaan. Regan mengulas senyum menatap langit lepas
“ Harusnya aku meminta maaf padamu. Yusef adalah sepupuku dan apa yang ia lakukan untuk melenyapkan nyawamu. Itu tidaklah baik, kau dan ayahmu sama, kalian terlalu baik.” Senyum Regan
“ Memangnya kenapa kalau aku meninggal seperti itu? Aku bahagia meninggal di tangan Yusef, memangnya kenapa kalau ia melakukan hal tidak pantas pada diriku? Itu hanya jasad, aku telah meninggalkannya. Bukankah yang terpenting adalah hati, dan hati itu hidup bersama jiwaku sampai detik ini. Hati yang begitu mencintainya.” Jawabnya membuat Regan mengerti
“ Hari ini paman terlihat begitu bahagia ya. Aku senang melihatnya.” Tutur Regan
“ Iya karena semalam aku datang ke dalam mimpinya.”
“ Memang bisa?”
“ Seseorang membantuku.”
“ Seseorang? Siapa? Bukankah katamu hanya aku yang bisa melihatmu?”
“ Dia bukan manusia. Dia sama sepertiku, namanya Alankar.”
Regan terdiam sejenak
“ Alankar hantu dari sekolah?” Tanyanya
“ Ya, hantu yang baik dan tampan. Apa kau pernah melihatnya?” Tanya Jennie
Regan mengulas senyum, ia tak menjawab, benar dugaannya, Alankar adalah sosok yang sangat baik. Tidak seperti apa yang dikatakan ayahnya.
Tak lama kemudian, Yusef ke luar dari perpustakaan itu bersama ayah Jennie. Ia melangkah ke arah Regan yang terlihat duduk sendirian di luar ( padahal sama Jennie )
“ Kau sudah banyak membantu, terima kasih. Sesuai janji, aku akan memberikan buku ini padamu. Jaga baik baik dan jangan melakukan hal aneh dengannya.” Ujarnya menyerahkan Black Note ke tangan Regan.
Jennie mengernyit melihat Yusef memberikan buku itu pada Regan. Kenapa Regan menginginkan buku itu?
“ Kenapa kau datang ke sini dengan angkot? Mobilmu di mana?” Tanya Regan penasaran
“ Ada, tapi dijalan entah kenapa mogok, jadi mampir di bengkel dan terpaksa menaiki angkot.” Jawab Yusef mengulas senyum bahagia
“ Ya sudah, aku pulang lebih dulu. Jangan telalu malam, ayahmu butuh seseorang untuk menjaganya.” Yusef mengusap rambut Regan kemudian mencium tangan Paman Jack.
Entah kenapa, sosok Alankar mengulas senyum di seberang sana dengan tudung hitam yang menutupi wajahnya, ia memegang waktu di tangannya
“ Sudah saatnya, aku menerima bayaran atas janji Jennie semalam.” Gumamnya kemudian menghilang.
Bersamaan dengan itu, Yusef terlihat menyeberang jalan. Tapi tiba tiba
Tit tiiitttt
Sebuah motor hampir saja menabraknya
“ Kak Yuseeeff!!” Teriak Regan dengan jantung berdebar. Untung tidak terjadi apa pun. Yusef selamat, hanya Handphone nya yang terjatuh.
“ Syukurlah.” Regan mengambil napas dalam.
Sebelum...
Hal itu terjadi
Saat Yusef hendak mengambil ponselnya, tiba tiba ada sebuah truck tronton yang melaju cepat, sopir truck tiba tiba kehilangan kendali dan memutar setirnya ke arah Yusef. Hingga...
“ Aaarrkkhh!” Teriak Jennie histeris
Bagaimana tidak, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, kekasihnya terjatuh lalu terlindas truck itu secara tragis. Tubuhnya terpisah menjadi dua bagian, Yusef bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berteriak, ia meninggal seketika dengan wajah dan kepala yang masih utuh seperti orang tertidur. Sementara isi perutnya berceceran di mana mana
Tubuhnya terpotong tepat di bagian tengah menyisakan pemandangan yang sangat menyedihkan
Regan bahkan mual saking shock nya.
Sementara, ayah Jennie menangis histeris berlari ke tempat kejadian, mencoba mengumpulkan semua isi perut kekasih putrinya itu.
Kenapa hal ini terjadi lagi?
Setiap orang yang berjanji untuk menemani dirinya pasti pergi untuk selamanya dengan cara yang mengerikan.
“ Maafkan paman nak! Maafkan paman.” Tangisnya sedih
Bau amis darah menyeruak ke sana ke mari. Langit hari itu benar benar gelap.