Cinta memang sulit tertebak akhirnya...
Terkadang bisa bersama sampai asa,
Tapi juga bisa membelah jalurnya menjadi dua
Membuat dunia memiliki pilihan,
Yang keduanya memiliki ujung yang sama
“ Air mata “
Yusef memejamkan mata, entah kenapa rasanya begitu sulit bernapas, rasa sakit di hatinya teramat sesak. Perlahan, ia melihat sosok cantik di depannya, sosok yang selalu berada di mimpi dan nyatanya, sosok yang ia targetkan sebagai tujuan hidup. Tapi justru memupuskan harapannya dan menghempas semua pengorbanan Yusef ke dasar samudra
“ Kenapa? Apa ayah yang memintamu melakukan hal ini?” Tanyanya menahan suara. Ingin marah tapi tatapan Jennie selalu berhasil meredam amarahnya. Walau bagaimanapun Yusef sangat mencintainya.
Jennie menggeleng pelan. Berat rasanya melepas tangan yang selama ini menggenggamnya, meyakinkannya saat rapuh, menghapus air matanya saat sedih. Tapi jika demi kebaikan Yusef, maka Jennie rela melakukan apa pun termasuk merelakan hatinya
“ Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa ia katakan kemudian terisak hendak berbalik. Sebelum...
Yusef menahan pergelangan tangannya
“ Setidaknya jangan terlalu cepat pergi. Kau harus mengerti, aku tidak akan berarti tanpamu. Aku tahu, ini bukan keputusanmu kan?” Tanyanya lagi
“ Sudah aku bilang ini keputusanku sendiri Yusef. Aku ingin fokus pada pendidikanku. Aku ingin membuat ayahku bangga.”
“ Kita bisa membuatnya bangga bersama.”
Jennie menggeleng pelan
“ Lepaskan aku.”
“ Tidak akan.”
“ Yusef...
Tatapan mata pemuda itu berubah menajam, sorotnya seakan menenggelamkan Jennie dalam lautan amarah. Begitulah, jika Yusef sedang marah. Ia seperti memiliki dua sisi. Jennie berusaha melepaskan diri, tapi tenaganya tidak cukup kuat
“ Jika aku tidak bisa memilikimu, jika kau ingin mengakhiri hubungan ini, maka aku terpaksa melakukan apa yang juga benar menurutku. Kau akan menjadi milikku, selamanya!” Ancamnya kemudian menarik Jennie dan mendorongnya jatuh
“ Tolong!!” Teriak Jennie
Tapi...
Yusef justru membekap mulutnya. Hal terkeji yang bisa dilakukan oleh cinta saat kecewa adalah pengkhianatan.
Benar, entah itu Yusef yang Jennie kenal, atau amarah yang menguasainya. Jennie berusaha memberontak, akan tetapi, gelap mata membuat Yusef melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Yusef berusaha memiliki Jennie, untuk dirinya. Ya, ia memperkosa Jennie sore itu, mencekik lehernya agar tidak berteriak. Buku di tas Jennie berceceran, termasuk Black Note yang ia temukan di perpustakaan. Buku itu terbuka lebar, menampilkan halaman yang memaksa Jennie untuk membacanya. Halaman tentang kehidupan setelah mati, dengan satu tujuan yang paling kuat di hati. Demi ayahnya, jika ia mati, maka Jennie tidak ingin pergi.
Yusef memaksakan dirinya ke dalam Jennie. Memiliki tubuhnya, memaksa gadis itu masuk ke dalam jeratannya. Cinta memang mengerikan
Tapi... Aku tidak bisa berhenti mencintainya...
Ya, aku tahu, jika aku melakukan hal ini, mungkin aku akan mati...
Tapi, perasaanku akan abadi
Cintaku akan tetap hidup
Kecewa dan sakit memang...
Tapi begitu besar cinta membuatku memejamkan mata dengan mencoba bahagia...
Walaupun akhirku begini...
Aku tetap tidak ingin menyakiti...
“ Jennie..!” Yusef mulai pucat. Kesadarannya mulai kembali saat melihat wanitanya tak bergerak lagi. Bola mata Jennie terpejam, ia tidak bernapas lagi
“ Jennie tidak! Jennie! Buka matamu! Ya Tuhan! Jennie maafkan aku! Maafkan aku! Jennie aku mohon buka matamu! Buka matamu!” Teriak Yusef memeluk jasad itu. Benar, Jennie sudah meninggal. Meninggal di tangan kekasihnya sendiri
Karena ketakutan, Yusef mengambil skuter yang selalu Jennie bawa dan mengiris nadi gadis itu. Membuatnya seolah olah mati bunuh diri. Yusef juga mengambil catatan hitam itu. Jennie pernah menceritakan tentang mitos dari buku itu padanya, walaupun Yusef tidak percaya, ia membawa buku itu. Ada yang ingin ia lakukan
Ia kemudian berlari pergi meninggalkan Jennie sendirian hingga jasadnya ditemukan malam hari.
“ Jennie!” Teriak ayahnya mencari Jennie dengan senter di tangan. Ia sudah mencoba ke sekolah, ke Universitas tempat Jennie mendaftar, ke semua rumah temannya. Tempat terakhir yang ia cari ya di taman itu. Taman tempat ia selalu mengajak Jennie kecil bermain dulu. Putri kecil kesayangannya. Lalu tiba tiba... Langkahnya gemetar, senter di tangannya jatuh, air matanya menetes turun. Bagaimana tidak, ia menemukan Jennie di sana, tapi tidak dengan senyum yang sama, Jennie telah memejamkan mata untuk selamanya.
“ Jennie!” Pria tua itu hanya bisa menangis memeluk putri kesayangannya. Merapikan kembali bajunya yang terbuka, memeluk Jennie ke dadanya, luka yang sangat besar menganga di hatinya dan sejak saat itu... ia mengalami sepi yang tiada tara. Hidup dengan kenangan dari putri tercintanya, sendirian. Baru semalam Jennie berjanji akan selalu berada di sisinya, tapi keesokannya Jennie sudah pergi untuk selamanya dengan cara yang mengenaskan
“ Jika kau mau, kita bisa melaporkan kematian Jennie! Ini tidak wajar bukan?” Ujar tetangganya yang ikut memandikan
Tapi, ayah Jennie menggeleng pelan
“ Kau lihat Jennie, dia tersenyum. Tolong jangan usik senyum itu. Putriku meninggal dengan mengakhiri hidupnya. Jadi biarkan saja seperti itu.”
“ Tapi Jack.”
“ Jennie sudah meninggal. Dan apa pun yang aku lakukan tidak akan bisa mengembalikan hidupnya.” Tolak ayah Jennie ikhlas.
Ya, kematian Jennie tidak pernah benar benar diselidiki. Dan setelah itu, semuanya tertutup rapat. Jack menjalani hidupnya seperti biasa, membuka perpustakaan dan melayani semua tamu yang datang.
Sementara itu, di sana....
Yusef membaca buku di tangannya, melihat mantra kutukan yang mungkin akan membuatnya bertemu dengan Jennie kembali. Ini terdengar konyol, tapi... Yusef benar benar tidak ingin hidup lagi.
Malam itu, Yusef membaca mantra untuk bertemu kekasih yang telah meninggal di dalamnya, ia sudah bersiap dengan pistol di pelipis, air matanya tidak bisa kering. Dengan penuh penyesalan, Yusef hendak menekan pelatuknya. Sebelum...
Dor
Seseorang tiba tiba menahan lengannya.
“ Apa yang coba kau lakukan ini hah?” Tekan sosok yang melerai, sosok yang tak lain adalah Qian
“ Kenapa? Aku ingin mati! Aku ingin pergi kemanapun Jennie pergi. Aku tidak ingin hidup lagi!” Teriak Yusef frustasi. Memang, sejak kematian Jennie kemarin, ia tidak ke luar kamar, tidak memakan apa pun dan tidak bicara dengan siapa pun
“ Kalau begitu lakukan saja! Bunuh dirimu sendiri dan lihat apakah Jennie akan memaafkanmu yang pecundang ini?” Bentak Qian memerah. Yusef menangis, terduduk lemas di atas ranjangnya
“ Ayah tahu seperti apa Jennie, dia selalu memikirkan yang terbaik untukmu. Dia ingin masa depanmu cerah. Dia tidak akan rela jika kau mati konyol begini.” Hibur Qian kemudian
Memang benar, semasa hidup, Jennie selalu menjadi penyemangatnya. Senyumnya yang manis, sifatnya yang riang bisa membuat Yusef berdiri tegang dengan impian di tangannya.
Ingatan Yusef mengarah pada saat ia hendak menghadapi ujian kelulusan. Masa di mana ia hampir depresi dan ketakutan dengan nilai. Jennie duduk di sisinya, menenangkan dan menggenggam jari jarinya erat
“ Bahkan jika aku mati, aku akan memastikan kau menjadi dokter seperti cita citamu. Jadi semangatlah! Kau pasti bisa.” Ujar Jennie kala itu
Yusef berteriak dalam tangisnya, Qian langsung memeluk anak yang ia besarkan itu erat.
“ Besok kau akan ke Amerika, tenanglah! Semua akan baik baik saja.” Ujarnya
Benar, keesokan harinya... Yusef berangkat ke luar negeri, tanpa pernah menemui Jack dan tanpa pernah berkunjung ke makam Jennie. Ia menghilang begitu saja, bukan karena ia tidak peduli, Yusef ingin menyimpan kenangan bahwa Jennie masih hidup dan berada di sisinya
Hingga hari itu...
Yusef memutuskan untuk kembali pulang. Saat pelajarannya selesai, ia menyandang gelar dokter umum, dengan nilai yang bagus dan masa pendidikan yang singkat. Hal itu, membuat Qian begitu bangga dengan anak angkatnya itu.
Hal inilah... Yang benar benar terjadi. Ingin rasanya Yusef mengakui semuanya pada ayah Jennie, tapi ia takut... Takut membuka luka lama yang telah terobati, ia tidak mampu menghadapi wajah tua nan ramah itu. Bagaimana jika ia terlalu kecewa nanti?
-----***----***----***-----
“ Selamat sore kak, bagaimana keadaan ayah?” Tanya Regan yang baru tiba, ia duduk di sisi Yusef yang tampak menyeka air matanya. Entah kenapa, penampilan pemuda itu terlihat berbeda, ia berantakan.
“ Paman masih sama, ia belum membuka mata. Bagaimana sekolahmu?” Tanya Yusef ramah
Regan mengulas senyum menatap wajah sedih itu, Yusef memiliki sepasang mata teduh yang jujur menyimpan luka begitu besar, penyesalan yang berat terlihat jelas di sana.
“ Kakak tadi ke depan perpustakaan ayahnya kak Jennie ya? Kenapa kakak tidak masuk ke dalam? Paman pasti sangat gembira.” Ujar Regan yang seketika membuat senyum di bibir Yusef surut
“ Tolong jangan bahas nama itu lagi ya. Jennie sudah lama meninggal. Aku tidak mau mengingatnya lagi.” Ujarnya mencoba lembut.
“ Kak Jennie sangat mencintaimu, paman Jack juga sangat merindukanmu.”
“ Regan Please! Shut up!” Pinta Yusef kemudian berdiri dari duduknya
“ Aku akan membelikan minuman untukmu ke kantin. Jagalah ayahmu.” Pintanya hendak beranjak, sebelum...
“ Memangnya kenapa kalau kau tidak sengaja melakukan itu?”
Deg
Ucapan Regan membuat langkah Yusef terhenti. Tidak, itu bukan suara Regan. Wajah Yusef berubah pucat, ia masih ingat jelas cara bicara itu. Bagaimana mungkin ini terjadi? Apakah ia sudah menjadi gila?
“ Yusef... Aku masih sangat mencintaimu.”
Deg
Yusef langsung menoleh. Benar saja, ia memang melihat Regan yang berdiri, Regan yang berbicara. Tapi dengan nada bicara mantan kekasihnya yang sudah lama mati. Jiwa Jennie meminjam raga Regan atas izinnya. Air matanya meleleh turun
“ Jangan bercanda Regan! Ini tidak lucu!” Tunjuk Yusef memerah. Ia tidak mau percaya, apalagi saat Regan melangkah ke arahnya, bahkan tatapannya, itu milik Jennie
“ Kau ingat, dulu aku memiliki sepasang anting milik almarhumah ibu. Kau menghilangkan anting itu dan selama berhari hari kau pergi karena merasa bersalah. Apa aku marah? Tidak....aku tidak pernah bisa marah padamu Yusef. Kau berjanji tidak akan pergi saat melakukan kesalahan padaku. Tapi kenapa... Kau malah pergi jauh sekali tanpa mengucapkan selamat tinggal?” Ujar Regan meneteskan air mata. Tentu saja, jiwa Jennie yang ada di dalamnya yang tengah terisak.
“ J-Jennie bagaimana ini mungkin?” Yusef gemetar. Ia ingin sekali menangis, tapi ego melarangnya
“ Iya, ini aku Jenniemu. Aku yang sangat merindukanmu. Aku yang sangat mencintai dirimu.” Isak Regan/ Jennie
Mendengar itu, Yusef langsung berlari memeluknya. Rasanya begitu lama, tapi rasa itu masih tetap sama. Itu memang Jennie
“ Maafkan aku! Aku selalu melakukan kesalahan padamu! Aku minta maaf! Aku minta maaf sayang! Aku benar benar terkutuk! Aku benar benar jahat. Maafkan aku sayang.” Tangis Yusef membuat air mata Jennie menetes turun
Ia mengusap punggung Yusef, merasa begitu hangat dan tenang
“ Tolong jaga ayah.” Pintanya
“ Bagaimana aku bisa melakukan hal itu? Aku yang menjadi penyebab kematianmu. Dia akan sangat membenciku.”
“ Ayah tidak seperti itu.”
“ Aku belum bisa menghadapinya Jennie, aku tidak bisa, setiap kali aku melihat wajahnya, aku merasa sangat terkutuk padamu. Kau tidak tahu betapa tersiksanya aku selama ini. Rasanya aku ingin mati ribuan kali.” Tutur Yusef memegang wajah Jennie dengan tatapan penuh kesedihan
“ Aku sangat mencintaimu hingga menjadi gila dan jahat. Tuhan yang tahu, andai aku bisa, aku ingin menukar hidupku denganmu, aku ingin menebus kesalahanku.” Isaknya
“ Aku tahu itu, aku pun merasakan hal yang sama. Mencintaimu hingga aku mampu memaafkan semua kesalahanmu. Yusef, aku sangat bangga padamu. Kau menjadi seorang dokter bukan?” Tanya Jennie meraba d**a bidang kekasihnya itu. Yusef mengangguk pelan
“ Terima kasih. Kau telah memenuhi cita citaku dan keinginan ayah. Aku tahu, kau benci dengan darah, kau tidak suka terluka, ini cita citaku, bukan cita citamu. Kau ingin menjadi bisnisman sejak dulu. Terima kasih, kau telah membuktikan kalau kau sangat mencintaiku. Itu sudah lebih dari cukup.” Jennie mencium tangan Yusef yang menangis memeluknya
Benar, itu memang cita cita Jennie
Menjadi dokter yang mumpuni, menolong banyak orang dan membangun sebuah rumah sakit untuk membantu siapa pun yang butuh.
“ Jennie, aku membangun sebuah rumah sakit di kota ini atas namamu. Rumah Sakit Jennie. Kau mau melihatnya bersamaku?” Tanya Yusef
Jennie mengangguk pelan
“ Tentu saja! Tapi tidak dengan raga ini. Asal kau tahu, aku akan selalu berada di sisimu dan ayah. Aku tidak akan ke mana mana. Mantra dari buku itu berhasil, aku akan selalu ada sampai saat nanti kau tua. Kita akan bersama selamanya.” Senyum Jennie
Yusef mengulas senyum. Ia kembali memeluk Jennie, pelukan cinta yang luar biasa, cinta yang bahkan mampu meleburkan segala amarah yang ada. Cinta yang mampu membuat duka menjadi mimpi indah yang nyata. Perlahan, Jennie melepaskan raga Regan yang kemudian tak sadarkan diri di pelukan Yusef.
“ Terima kasih.” Tutur Yusef kemudian menggendong Regan yang pingsan dan membawanya tidur di kursi tunggu. Pemuda itu mengulas senyum
“ Terima kasih banyak Regan. Aku berjanji, aku pasti akan membalas jasamu.” Gumamnya lega.
Arwah Jennie yang berdiri di sisi kekasihnya itu pun mengulas senyum senang kemudian menghilang pergi.
“ Kakak.” Regan membuka matanya pelan, melihat Yusef yang berkaca kaca sembari mengulas senyum tenang, Regan tahu, rencananya berhasil, Jennie berhasil menempati raganya sementara.
“ Aku akan menemui ayah Jennie dan mengatakan semuanya. Aku akan meminta maaf atas semua kesalahanku. Sekarang aku tidak akan takut lagi, bahkan jika aku harus dihukum mati. Terima kasih Regan, aku berjanji akan membalas jasamu suatu hari nanti.” Senyum pemuda itu menggenggam tangan Regan yang juga mengulas senyum senang
“ Syukurlah.” Gumamnya
“ Ada yang ingin aku minta darimu kak.” Ujarnya
“ Apa itu?”
“ Black Note.” Tutur Regan membuat kening Yusef mengernyit. Kenapa Regan meminta buku kutukan itu?