Rahasia Jennie

2136 Words
Pemuda itu mencoba memejamkan matanya, tapi ia tetap tidak bisa tidur, ada tetes bening yang mengalir dari pelupuknya “ Pantas Jennie sangat mencintaimu.” Ucapan Regan tadi benar benar membuat ulu hatinya nyilu. Pemuda itu perlahan melangkah menuju laci, mengambil sebuah catatan kuno yang tampak usang. “ Haruskah aku melakukannya?” Gumamnya getir “ Ah tidak, aku tidak segila itu. Sadarlah Yusef. Jennie sudah meninggal. Itu bukan kesalahanmu. Ya kau tidak bersalah.” Gumamnya. Namun, Yusef tidak bisa membohongi hatinya. Ia melihat potret Jennie yang tampak mengulas senyum cantik di atas mejanya Pemuda itu kembali meletakkan catatan itu dan mengurungkan niatnya untuk membuka. Esok paginya, ia menyetir hingga tiba di depan perpustakaan itu. Ia membuka kaca jendela mobil, menatap dari jauh sosok tua yang tampak membersihkan kaca dari debu, sekali lagi bola matanya menetes. Mengingat betapa dulu ia dan gadis itu sering mampir usai pulang sekolah. Yusef tidak bisa menahan air matanya untuk turun. Ia tidak tahu, hantu Jennie juga memperhatikannya dari depan pintu seraya mengulas senyum dan air mata yang turun tanpa asa. Betapa ia merindukan Yusef, sosok yang benar benar sangat ia cinta. “ Yusef kau kembali?” Gumamnya menyeka air mata. Hingga... Regan yang tampak tengah menuju ke sekolahnya menghentikan langkah melihat hantu Jennie terdiam di depan pintu perpustakaan dengan wajah yang sangat sedih. Melihat kehadiran Regan, Yusef langsung menutup jendela mobilnya kemudian melaju pergi. “ Jennie, kau menangis? Kenapa?” Tanya Regan “ Kau di sini? Tadi Yusef datang ke sini tapi ia tidak mau turun. Barusan tiba tiba dia pergi saat melihat kedatanganmu. Mungkin takut ketahuan.” Tutur Jennie kemudian memalingkan wajah dan hendak melangkah masuk ke dalam perpustakaan. Sebelum... “ Kau tidak bunuh diri kan?” Deg Ucapan Regan membuat langkah Jennie terhenti, gadis berambut panjang itu menoleh ke arah Regan. Bagaimana Regan bisa mengatakan hal itu? Regan melangkah tegas ke hadapan Jennie, ia mengulas senyum kecut. “ Aku melihat ada luka lain. Bekas merah di lehermu, seperti sebuah cekikan. Aku yakin itu penyebab kematianmu. Siapa? Yang telah begitu jahat padamu?” Tanya Regan mencoba memegang bekas merah itu. Tapi... Jennie menghindar “ Aku sudah bilang kan, aku tidak ingin bantuan darimu. Tidak ada yang perlu dibahas lagi tentang kematianku.” Tuturnya sebelum akhirnya menghilang berlari menembus pintu. Melihat hal itu, Regan semakin curiga. Kenapa Jennie berusaha menyembunyikan tentang bagaimana ia mati, sementara banyak arwah penasaran justru ingin kematian mereka diungkapkan? Ia pun memutuskan masuk ke dalam perpustakaan itu. “ Selamat pagi!” Sapa ayah Jennie ramah. Regan mengulas senyum. Ia melihat hantu Jennie menatapnya tajam di belakang sang ayah, seolah tak ingin Regan melakukan apa pun. “ Selamat pagi paman. Oh iya, boleh saya minta tolong sesuatu?” Tanya Regan mulai menelusuri “ Tentu nak, apa itu?” Tanya pria itu mengulas senyum tenang yang sendu “ Dulu, kak Jennie meminjam sebuah buku pada saya. Bolehkah saya mencari buku itu di kamarnya?” Tanya Regan bohong Wajar hantu Jennie seketika berubah menjadi pucat pasi “ Regan! Apa yang coba kau lakukan?” Teriaknya marah. Tapi Regan mengabaikan dirinya “ Tapi kamar itu sudah terkunci sejak tiga tahun yang lalu.” “ Jangan khawatir. Paman bisa menemani saya.” Tutur Regan berusaha mendapatkan izin “ Apakah buku itu begitu penting nak?” Tanya ayah Jennie Regan mengangguk “ Baiklah! Ayo ikut saya!” Ajaknya kemudian. “ Regan jangan!” Teriak Jennie mengikuti Tapi sama seperti sebelumnya, Regan tidak mau mendengarnya. Lalu, beberapa jam kemudian... Regan masih terdiam duduk di kelasnya seorang diri dengan buku diary berwarna pink di tangan, ya, diary milik Jennie. Bola matanya memerah setelah membaca buku yang seharusnya menjadi milik pribadi itu. Di dalam buku itu, Jennie menceritakan tentang betapa ayahnya menyayanginya. Seorang pria hebat yang membesarkan putrinya seorang diri sampai akhirnya Jennie bertemu dengan Yusef, anak dari keluarga berada. Itu mengingatkan Regan tentang ayahnya yang saat ini sedang sakit keras. Ia bahkan belum tahu apa yang membuat Adit tiba tiba mengalami serangan jantung hebat Di dalam buku itu, Jennie juga menceritakan betapa Yusef menyayanginya, tapi dibalik semua itu, Yusef menyita hampir semua waktu Jennie, hingga ia terkadang sulit menghabiskan waktu bersama ayahnya seperti dulu. Cinta Yusef untuk Jennie begitu besar, sampai terkadang pemuda itu rela membangkang ke dua orang tuanya demi terus bersama Jennie. Ia ingin satu kelas dengan Jennie, bahkan satu universitas. Hal itu membuat Qian ayah Yusef kurang menyukai gadis itu. Hingga hari itu, tepat satu hari sebelum kematian Jennie dan juga hari terakhir ia menulis Diarynya Saat itu, Jennie mengambil surat kelulusannya di kampus sebagai syarat memasuki universitas ternama. Saat itu, Qian mendatangi dirinya dan meminta Jennie memasuki mobil untuk bicara. “ Kau tahu bukan? Yusef bukanlah anak kandung paman? Itu kenapa paman bisa memaklumi jika ia sangat berbeda. Tapi paman mohon, biarkan dia meneruskan studinya di Amerika. Paman ingin dia menjadi seseorang.” Tutur Qian memulai percakapan “ Tapi Jennie tidak pernah melarang Yusef untuk hal itu paman.” “ Begini saja, mari kita perjelas, paman ingin kamu memutuskannya. Sementara saja, sampai ia selesai dalam kuliahnya. Itu pilihan untukmu Jennie.” Pinta Qian membuat Jennie menatapnya getir. Bagaimana bisa Jennie mengatakan untuk putus sedangkan Jennie begitu mencintai Yusef? “ Kau yang memutuskan, mau memutuskan Yusef, atau paman akan mencabut seluruh haknya di keluarga kami. Dia tidak akan memiliki apa pun, tidak juga bisa melanjutkan studi di mana pun. Kau mau itu?” Tanya Qian terdengar mengancam Jennie menggeleng cepat. Bagaimana Yusef bisa hidup tanpa semua itu? Dia sudah terbiasa bahagia sejak kecil. “ Berikan Jennie waktu paman.” Pinta gadis itu dengan mata berkaca kaca “ Baiklah. Paman tunggu sampai besok! Sekarang turunlah! Kita sudah sampai di rumahmu.” Tutur Qian menghentikan laju mobilnya. Jennie mengangguk pelan kemudian melangkah turun dengan wajah sedih. “ Kau kenapa sayang?” Tanya ayahnya menyambut. Semakin terlukalah Jennie saat melihat ada kue ulang tahun yang tampak sudah terpotong di meja. Ayahnya merayakan ulang tahunnya seorang diri tadi malam. Kenapa Jennie terlalu menghabiskan waktu dengan Yusef sampai sampai ia lupa kalau ayahnya ulang tahun? “ Ayah... “ Iya nak?” “ Maafkan Jennie ya, selama ini Jennie kehilangan banyak waktu bersama ayah. Tapi Jennie berjanji, mulai besok, Jennie akan kembali menjadi putri ayah yang baik. Jennie akan selalu berada di sisi ayah.” Jennie memeluk ayahnya erat. Ya, Jennie memutuskan untuk mengabulkan keinginan Qian, ia berencana memutuskan Yusef besok harinya. Tepat, di hari kematiannya. Regan menutup diary itu. Tapi tiba tiba.. “ Astaga!” Gadis itu terlonjak kaget saat melihat Alankar mengulas senyum di hadapannya. Entah sejak kapan sosok itu muncul setelah kemarin seharian menghilang. Regan tahu, Alankar butuh waktu sendiri “ Bukankah tidak baik membaca buku harian orang lain?” Senyum hantu tampan itu mengambil buku dari tangan Regan “ Kau bisa menyentuhnya? Hebat!” Puji Regan kagum. “ Aku bisa menyentuh apa pun yang aku mau setelah... Alankar menghentikan ucapannya. Membuat Regan mengernyit “ Sudahlah ini hanya sementara. Kenapa buka gadis itu ada padamu?” Tanya Alankar “ Gadis itu? Oh iya!!” Regan berdiri. Ia baru ingat, Jennie juga siswi di sana kan? Pasti Alankar mengetahui sesuatu sebagai hantu senior. “ Kau tahu Jennie kan? Gadis yang meninggal bunuh diri 3 tahun yang lalu, alumni di sini?” Tanya Regan “ Ya, dia beberapa kali datang ke perpustakaan lama sebelum kematiannya. Membawa buku diary itu!” Tunjuk Alankar “ Ke perpustakaan lama?” Regan terdiam sejenak. Apakah kematian Jennie juga ada hubungannya dengan mitos kutukan di sana? “ Dia ke perpustakaan untuk mengambil catatan mantra kutukan.” “ Eh? Apa?” Regan makin tak mengerti “ Ya, ada sebuah buku catatan aneh di perpustakaan lama. Judul buku itu Black Note. Di sana ada sebuah mantra kutukan yang katanya bisa membuat seseorang yang mau meninggal bisa menembus waktu dan abadi. Aku pernah membacanya, mungkin karena itu aku menjadi hantu sekarang Hahaha.” Alankar justru tertawa “ Ini tidak lucu Alankar!” Regan mengembungkan pipinya kesal “ Tapi aku serius, di buku itu bahkan ada mantra jika kau ingin kembali ke waktu yang berbeda. Tapi dengan syarat, jiwamu menjadi milik buku itu selamanya.” Tutur Alankar dengan wajah serius “ Kau mau mencobanya?” Tanyanya mengulas senyum “ Tidak, aku tidak sekonyol itu untuk percaya. Aku ingin menanyakan tentang Jennie. Apa kau tahu sesuatu tentang kematiannya? Tanggal 8 Agustus. Jasadnya ditemukan di belakang taman kota yang biasa menjadi tempatnya bermain.” Tanya Regan dengan wajah ambisius “ Hati hati Regan, terlalu ingin tahu itu tidak baik. Terkadang, yang sebaiknya mati tidak perlu diusik.” “ Aku ingin tahu karena aku curiga.” Regan menghela napas “ Curiga?” “ Ya, aku curiga paman Qian terlibat. Kau tahu? Ada bekas luk cekikan di leher Jennie.” Tutur Regan ia kemudian menceritakan semua pada sosok pujaannya itu. Alankar mendengarkan dengan baik sembari memingkas lengan bajunya. Hantu tampan itu kemudian mengambil diary itu, membuka dan memperhatikannya. “ Mungkin saja kecurigaanmu salah. Bisa saja Jennie memang mengakhiri hidupnya sendiri.” Tuturnya “ Tidak Alankar, jika dia berniat bunuh diri, dia tidak akan berjanji pada ayahnya.” “ Kalau begitu, tidak mungkin Qian yang membunuhnya. Bisa saja, Yusef yang melakukan hal itu.” Mendengar itu, Regan semakin tidak percaya. Bagaimana mungkin sosok sebaik itu bisa membunuh kekasihnya sendiri, sementara karena terlalu terluka ia justru pergi begitu lama. Rasanya itu sangat tidak masuk akal. Tapi, saat Alankar menjelaskannya, semuanya seakan menjadi lebih jelas. Alankar memang cerdas, bahkan apa yang menurut Regan tidak masuk akal, menjadi jelas setelah ia menjabarkan. Apalagi saat Alankar menceritakan bahwa waktu itu tubuh Jennie menurut rumor di sekolah ditemukan dalam kondisi sudah mengalami pelecehan. Itu kenapa, hantu Jennie tidak mau kematiannya diungkapkan, karena hal itu bisa saja mengungkapkan aibnya. Ia ingin meninggal dengan terhormat “ Aku harus ke rumah sakit sekarang. Aku ingin menemui ayah di sana juga kak Yusef pasti sedang menungguinya.” Regan berdiri dari duduknya “ Ayahmu?” “ Ya, ayahku sakit. Dia mengalami serangan jantung.” “ Bagaimana kondisinya sekarang?” Tanya Alankar mengernyit “ Dia tidak baik baik saja. Aku harus pergi.” Regan mengulas senyum kemudian merapikan tasnya dan berlari ke luar kelas, meninggalkan Alankar yang menatap kepergiannya kemudian mengulas senyum. “ Jadi dia belum mati. Baguslah! Setidaknya aku bisa membuatnya menderita lebih lama.” Gumamnya sinis Apakah Alankar juga ada hubungannya dengan kondisi ayah Regan? Sosok hantu itu kemudian berdiri, melangkah ke luar dari ruang kelas Regan Menatap gadis yang tengah berlari itu dengan tatapan kosong. “ Kelak saat kau mengetahui yang sebenarnya, mungkin kau akan sangat membenciku. Tapi aku tidak peduli hal itu. Ada satu hal yang tidak kau tahu Regan, arwah sepertiku bisa menjadi kuat setelah menyebabkan seseorang celaka. Aku bisa menyentuh apa pun selama beberapa hari dengan menggunakan ketakutan dan kekuatan orang itu. Termasuk ayahmu.” Senyumnya sinis Ya, termasuk ayahmu... “ Alan-kar? Tidak mungkin! Kau sudah mati! Kau sudah mati!” Suara gugup Adit saat melihat penampakannya waktu itu seakan masih terngiang jelas. Saat Alankar mendekati dirinya kemudian tersenyum. Sama seperti saat ia masih hidup dulu. Adit terpaksa melangkah mundur “ Bagaimana rasanya Radit? Kau tidak merindukan sahabat lamamu?” Tanya Alankar begitu nyata “ Tidak! Kau tidak nyata! Kau tidak nyata!” “ Benarkah? Kau masih ingat bagaimana dulu aku memperlakukanmu?” Alankar mendekat “ Maafkan aku Al, maaf! Aku tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Bukankah aku tidak pernah menyakitimu? Aku selalu menurutimu. Tolong jangan ganggu aku! Jangan ganggu Regan!” “ AKU BERHAK ATAS REGAN!!!” Teriak Alankar kemudian mencekik leher Adit hingga tersungkur merasakan sesak yang teramat. Wajah tuanya memerah. Kenapa? Orang yang sudah lama mati bisa sekuat itu? Rasanya sama, seperti saat ia masih hidup dulu. Saat Adit tidak mematuhinya, Alankar juga sering menyakiti, memukul, meninju bahkan mencekiknya. Ya, Alankar dalang dibalik sakitnya ayah Regan “ Berani sekali kau memerintahku Radit.” Ujar Alankar dengan tatapan berkaca kaca Hampir saja, Adit menghembuskan napas terakhirnya. Beruntung, Kleo masuk dan bergegas menolong pria malang itu, Kleo dan kakaknya membawa Adit ke rumah sakit tepat waktu. Alankar menatap semua foto di dinding. Foto bagaimana akrabnya ayah Regan dan Qian, foto Regan dan.... Foto yang membuat tatapannya tertahan Foto lama seorang wanita yang tampak duduk di depan piano berwarna hitam. Piano yang tak asing. Ya, piano yang berada di sekolah itu. “ Aku berjanji aku hanya akan mencintaimu, selamanya. Kita akan bertemu di sini kan?” Suara gadis itu masih terbesit jelas di benaknya, membuat bola mata Alankar memerah panas. Jari jarinya mengepal “ Kau belum meninggal kan? Kau masih hidup di suatu tempat. Jika kau meninggal, aku pasti akan menemukanmu. Lihat saja, kau akan kembali dan ke luar dari tempat persembunyianmu.” Ucapnya dengan tatapan tajam kemudian menghilang bersama hembusan angin Foto siapa itu? Yang jelas, foto itu berhubungan besar dengan misteri kematian sosok itu. Satu satunya wanita yang pernah mendengar kata cinta dari bibir seorang Alankar. Wanita yang membalas ketulusannya dengan pengkhianatan yang begitu kejam Benar bukan? Orang jahat berasal dari orang baik yang tersakiti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD