“ Siapa namamu? Mengapa kau mencari kunci perpustakaan yang terkenal angker?” Tanyanya dengan sorot mata menajam
“ Ah itu.. Em.. saya hanya...
“ Satpam! Bawa anak ini ke gudang. Sepertinya dia butuh sedikit didikan agar tahu apa yang namanya peraturan!” Perintah sosok itu tegas. Bahkan tanpa mendengarkan penjelasan
“ Tapi kan saya gak salah apa apa? Saya hanya ingin mencari data tentang sesuatu saja.” Tutur Regan takut. Yang benar saja, gudang? Regan sangat takut dengan tempat kotor, gelap dan pasti banyak hewan hewan kecil di dalamnya. Kenapa ia harus dihukum di gudang dengan tanpa melakukan kesalahan?
“ Saya paling tidak suka dibantah!” Ujar wanita tua itu tegas
“ Kurung dia sampai jam mata pelajaran selesai, awas jika sampai melanggar, kamu akan saya pecat sebagai satpam!” Perintahnya kemudian melenggang pergi
Meninggalkan Regan yang menghembuskan napas kesal.
Kejadian itu benar benar menyebalkan.
-----***----***----***-----
“ Kau ingin terus mengajariku atau diam dan duduk di sini?” Tanya Alankar sepulang sekolah saat itu pada guru Les private nya yang terlihat begitu manis.
Guru itu adalah Miss. Jenn saat ia masih muda. Memang usia mereka berpaut beberapa tahun, tapi itu bukan penghalang bagi rasa. Sejak pertama, Miss. Jenn memang telah menaruh simpati pada sosok Alankar yang merupakan mantan Juniornya di SMU Adirangga.
“ Al, jika kau terus begini. Orang tuamu akan memecatku. Sudah ayo belajar yang benar.” Celetuk Miss. Jenn dengan gurat merah di pipinya, mencoba menyadarkan diri saat itu, bahwa dirinya tidak pantas bermimpi lebih tinggi
Tapi...
“ Kau menyukaiku kan?”
Pertanyaan Alankar membuat Miss. Jenn menghentikan tulisannya di papan. Jantungnya berdegup kencang, ia mengatur napas. Memang benar, ia memang sudah sangat lama menyukai Alankar. Tapi apakah gadis biasa sepertinya pantas mendapatkan sosok seperti Alankar pewaris tunggal Adirangga grup?
Saat ia melamun, tiba tiba... Alankar berdiri, menjajari kemudian memegang tangannya lembut
“ Jangan khawatir, aku juga menyukaimu. Jika aku menerima cintamu, lalu apakah kau mau menuruti kemauanku?” Tanyanya penuh maksud.
Miss. Jenn mengangguk. Siapa juga yang bisa menolak pesona Alankar, apalagi saat tahu cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Alankar adalah putra satu satunya dari keluarga Adirangga. Tapi ia bukanlah anak tunggal. Dia memiliki kakak sambung bernama Irene Adirangga, putri kandung ibunya sebelum menikah dengan ayah Alankar. Alankar begitu disayangi, ia tumbuh dengan begitu banyak perhatian, semua tentang dirinya selalu diutamakan terutama oleh ibunya. Ibu yang begitu bangga dan sangat menyayangi dirinya. Apalagi setelah ayah Alankar memutuskan untuk meneruskan bisnisnya di luar negeri dan meninggal karena kecelakaan. Ibunya menjadi lebih protektif dan menyayangi Alankar secara membabi buta.
Sama dengan kejadian di suatu waktu, saat keinginan Alankar sama sekali tidak pernah mendapatkan bantahan
“ Ibu aku ingin mobil baru. Mobil itu membuatku bosan.” Celetuk Alankar pagi itu
“ Mau yang mana nak? Mau warna apa. Nanti ibu akan transfer uangnya, kamu pilih sendiri ya.” Senyum manis ibunya membelai wajah Alankar lembut. Bagaimana ia tidak menyayangi Alankar, sejak kelahiran Alankar, bisnis ayahnya semakin besar, wajah Alankar begitu banyak dikagumi orang, pemuda itu juga memiliki karakter yang sangat lembut di depan ke dua orang tuanya.
“ Bu, jangan terlalu memanjakannya. Dia bisa membuat masalah lagi nanti. Aku tahu dia menjalin hubungan dengan guru les muda itu.” Celetuk Irene tak suka.
“ Kak....
“ Dia itu playboy Bu, jika terus dimanjakan maka kelak dia bisa memiliki lebih dari 50 istri.” Senyum Irene lagi
“ Kakak awas ya!” Alankar berdiri kemudian mengejar kakak tirinya itu. Mereka tertawa lepas, masa masa yang begitu indah. Tidak ada kata iri, dengki ataupun permusuhan. Mereka tumbuh dalam kedamaian dan hidup serba kecukupan. Itu membuat ibunya begitu bahagia, walaupun harus merawat mereka berdua seorang diri.
Memang benar, Alankar menjalin hubungan dengan guru les itu, entah itu cinta sesaat atau ia hanya bermain main. Tidak seperti yang orang katakan, sikap Alankar pada Miss. Jenn begitu lembut dan baik. Itulah kenapa, Miss. Jenn tidak bisa melupakannya. Bahkan saat kematian Alankar, Miss. Jenn adalah salah satu orang yang menyangkal semua keburukan yang disandingkan dengan nama itu. Miss. Jenn bersikeras agar kasus kematian Alankar dipecahkan, ia sangat sedih hingga harus mengalami depresi beberapa waktu, mengenang dosa dosa terindah yang pernah ia lakukan bersama Alankar semasa hidup. Alankar adalah orang baik, dia begitu baik hingga tidak pantas mati dengan cara seperti itu. Cara yang bahkan terlalu kejam untuk hewan sekalipun.
Regan terdiam mendengarkan cerita tentang Alankar dari sosok di depannya. Sosok hantu Miss. Jenn yang sejak tadi menemani dirinya di gudang tua. Tempat di mana, wanita tadi menghukum Regan karena berusaha mencari tahu tentang perpustakaan itu.
Regan merasa lega, setidaknya, ia tahu tentang sifat Alankar yang sebenarnya sekarang. Miss. Jenn sepertinya memang begitu mengenal sosok Alankar.
“ Lalu wanita tadi? Siapa dia? Kenapa dia begitu marah hanya karena saya mencari tahu tentang kunci perpustakaan itu?” Tanya Regan masih dengan nada kesal
“ Entahlah, aku belum pernah melihatnya. Sepertinya, dia menggantikan suamiku di sini untuk sementara. Jangan khawatir, aku akan menemanimu.” Senyum Miss. Jenn begitu baik. Reganpun mengulas senyum
“ Terima kasih.” Ucapnya.
Sementara itu, di lain tempat...
Wanita tua itu menghentikan langkahnya di depan pintu perpustakaan lama. Bola matanya memerah, ia memejamkan mata mengingat senyum Alankar yang begitu indah
“ Maafkan aku, kau pasti sangat kesepian bukan? Setidaknya, aku sudah kembali.” Gumamnya menyeka air mata.
Di sana, di jendela sana, sosok Alankar menatap wanita tua itu dengan rahang mengeras, jari jari mengepal erat dan bola mata yang berkaca kaca. Perlahan, sosok itu menghilang.
Benar, siapa sosok itu sebenarnya?
Saat jam pulang berdenting, satpam membukakan pintu untuk Regan
“ Maaf ya neng, bapak hanya mematuhi perintah. Neng pasti ketakutan.” Ujarnya merasa bersalah
“ Tidak kok pak, tidak apa apa. Oh iya pak siapa sosok wanita tadi? Dia sangat mengerikan.” Celetuk Regan bertanya.
Satpam itu menghela napas, melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang mendengarnya
“ Itu nyonya Irene Adirangga neng. Pemilik sekolah ini. Dia baru kembali dari luar negeri.” Jawabnya membuat Regan terkesiap
Irene?
Kakak Alankar?
“ Loh neng! Neng mau ke mana?” Teriak satpam saat Regan tiba tiba berlari pergi.
Ya, gadis itu berlari menyusuri setiap celah sekolah yang sudah sepi. Mencoba mencari Alankar nya, tapi nihil, kenapa ia tidak melihat Alankar di mana pun? Bukankah tadi Alankar berjanji untuk menemaninya. Apa karena sosok Irene? Alankar pasti sangat sedih, puluhan tahun lamanya, keluarganya tidak pernah kembali. Dan sekarang, kakak tersayangnya kembali setelah sekian lama. Alankar pasti sangat merindukannya. Mungkin, ia menyendiri di suatu tempat.
“ Jangan mencari saat ia tidak ingin menampakkan diri. Kau tidak akan menemukannya.” Tutur Miss. Jenn mengusap pundak Regan lembut.
“ Sebaiknya kau pulang dulu. Ini sudah hampir sore.” Imbuhnya
Regan menghela napas
“ Saya belum ingin pulang. Ayah selalu menekan agar saya pindah sekolah. Jika saya pulang, itu hanya akan membuat saya marah.” Jawab Regan.
“ Kenapa ayahmu ingin kamu pindah dari sini?”
“ Entahlah. Dia tidak menyukai setiap nama Alankar disebutkan.”
“ Kenapa? Kalau boleh tahu siapa nama ayahmu?” Tanya Miss. Jenn menemani Regan berjalan ke halaman
“ Nama ayahku ....
Regan menghentikan langkahnya saat menuju pagar sekolah. Moodnya langsung berubah saat melihat Kleo berdiri menunggunya di sana dengan pakaian kasual dan mobil merah yang biasa ia kenakan
“ Regan!” Teriaknya memasuki gerbang
“ Sial! Kenapa dia datang ke sini sih.” Gerutu Regan hendak berbalik. Beruntung Kleo langsung menahan lengannya.
“ Lepaskan atau aku akan teriak!” Bentak Regan berusaha melepaskan diri. Namun, cekalan Kleo cukup kuat hingga membuatnya meringis menahan sakit.
“ Apa kau sudah mati akal gara gara hantu hantu itu hingga mengabaikan kalau ayahmu sedang sakit hah?” Bentak Kleo
“ Apa? Sakit? Itu kan Cuma akal akalanmu saja supaya aku pulang kan? Lepaskan atau aku akan teriak kalau kau mau melecehkanku!” Ancam Regan
Kleo menatap sepupunya itu kesal. Ia kemudian menarik lengan Regan dan memaksanya ikut
“ Kleo lepaskan! Tolong!!!” Teriak Regan. Ia lupa kalau sekolah itu sudah sepi dan yang melihatnya hanya satpam yang tidak berbuat apa apa. Tentu saja, ia tahu betul bagaimana sikap Kleo, tidak mungkin Kleo berbuat macam macam
“ Masuk!” Kleo mendorong Regan masuk ke dalam mobilnya.
“ Gak!” Regan masih bergelut. Hingga...
“ Kau pikir aku suka memaksamu Hmm? Masuklah atau aku akan membuatmu menyesal!” Tekan Kleo dengan wajah memerah. Terlihat, ia tidak sedang bercanda, wajahnya benar benar terlihat marah. Apakah itu artinya ayah Regan memang sedang sakit?
Regan terpaksa menurut, Kleo bahkan membanting pintu mobilnya lalu melaju tanpa mengatakan sepatah kata pun. Itu menggambarkan betapa ia sangat kecewa dengan sikap Regan yang kekanakan. Saat sedang menyetir, Regan melihat ada bekas jarum suntik di lengan putih pemuda itu.
“ Kenapa kau tidak takut saat aku mengancammu tadi?” Tanya Regan memulai pembicaraan
“ Ancaman apa? Melecehkan? Kenapa aku harus takut? Semua orang juga tahu kalau kau bukan seleraku.”
Jleb
Jawaban Kleo justru membuat Regan mati kutu.
“ Apakah ayah benar benar sakit? Tadi dia baik baik saja waktu aku berangkat.” Celetuk Regan
Kleo tak menjawab ia hanya fokus menyetir, seakan Regan benar benar telah membuatnya kesal.
“ Eh ini ke mana? Ini bukan jalan ke rumah kan? Berhenti gak! Berhenti!” Teriak Regan saat menyadari Kleo membelokkan arah ke lain tempat.
Pemuda itu bahkan bergeming saat Regan berusaha memukul mukul lengannya
Hingga...
Laju mobilnya berhenti di halaman sebuah rumah sakit. Regan menghentikan pukulannya.
“ Kenapa ke rumah sakit? Kleo jangan bercanda! Ini tidak lucu!”
“ Turun!” Tekan Kleo
Klek
Semua kunci pintu mobil itu terbuka otomatis. Perasaan Regan mulai tak enak. Ia pun membuka pintu mobil dan melangkah turun kemudian mengikuti langkah Kleo memasuki Rumah Sakit yang cukup besar di kota itu.
Kleo menaiki lift ke lantai 3, kemudian menghentikan langkahnya di depan ruang ICU. Tampak pemuda bernama Yusef tadi sudah menunggu di sana bersama paman Qian, ayah mereka. Wajah Regan seketika menjadi pucat
“ Sekarang kau tahu jawabannya. Aku bercanda atau tidak.” Celetuk Kleo kemudian duduk di ruang tunggu. Meninggalkan Regan yang mematung dengan mata berkaca kaca.
“ Ayah!” Teriaknya berlari ke arah pintu kaca ruang ICU VIP itu. Benar saja, di dalam sana... Terlihat ayahnya sedang sakit, dengan berbagai selang penyambung nyawa, kantong darah juga para dokter yang tampak membantu.
“ Ayah maafkan Regan.” Tangis Regan sedih.
Qian memegang pundak Regan lembut
“ Sabar ya, ayahmu mengalami serangan jantung. HB darahnya juga sangat rendah. Karena itu tadi Kleo mendonorkan darahnya. Kami mencoba dengan susah payah untuk menghubungimu. Akan tetapi itu sangat sulit.” Tuturnya semakin membuat rasa bersalah di hati Regan memuncak. Harusnya ia mengangkat telefon dari Kleo tadi dan bertanya tentang kebenarannya, tapi Regan justru mengabaikan
“ Bagaimana kondisi ayah, paman?” Tanya Regan sedih
“ Dia kritis. Berdoalah semoga semuanya baik baik saja. Jangan khawatirkan biaya pengobatannya. Semuanya paman yang tanggung, paman hanya ingin Adit segera sembuh.” Tutur sosok itu kemudian melangkah menuju kursi tunggu dan duduk di sana. Qian memang sosok yang terlihat menyebalkan, tapi ia begitu mencemaskan ayah Regan. Mungkin persahabatan mereka sudah lebih dari hubungan darah.
Regan melangkah gontai, mendekati Kleo dan duduk di sisinya.
Kini ia mengerti, kenapa ada bekas suntikan di lengan Kleo. Betapa merasa bersalahnya ia telah membuat Kleo datang ke sekolah hanya untuk menyusulnya.
“ Tidak perlu berterima kasih atau meminta maaf, sebaiknya kau lebih peduli pada ayahmu. Setidaknya ayahmu selalu mengkhawatirkan dirimu.” Celetuk Kleo sebelum Regan mengatakan apa pun.
Pemuda itu kemudian berdiri, ia memang terlihat masih marah pada Regan. Kleo melangkah pergi, Kleo memang pantas marah padanya. Regan sangat tidak berguna hari itu.
Jauh dalam sedihnya... Yusef melangkah ke sisi Regan kemudian duduk di tempat Kleo tadi
“ Maafkan sikap adikku. Dia memang seperti itu, mungkin dia sangat kesal karena kau tidak mengangkat telefon.” Ujarnya menenangkan
Regan mengulas senyum pasi, ia masih merasa sungkan dengan sosok baru ini.
“ Ini semua salahku, jadi wajah kalau Kleo marah. Terima kasih sudah membawa ayah ke rumah sakit. Tapi.. apa yang sebenarnya terjadi pada ayah?” Tanya Regan getir
“ Entahlah. Kami menemukan ayahmu tergeletak seperti sedang tercekik di lantai. Saat kami mendekat, paman sudah tidak sadarkan diri. Dia seperti sangat ketakutan. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya kaget hingga mengalami serangan jantung.” Jawab Yusef begitu sopan. Nada bicaranya sangat berbeda dengan Kleo sama seperti wajah mereka yang tidak mirip satu sama lain.
“ Sesuatu yang membuat ayah takut?” Regan terlihat berpikir
“ Kita berdoa saja semoga paman segera sembuh.” Ujar pemuda itu mengulas senyum yang begitu ramah
“ Kakak sangat baik dan juga tidak urakan seperti Kleo. Kalian sangat berbeda.” Tutur Regan menghela napas
“ Benarkah?” Pemuda itu mengulas senyum ramah
Regan mengangguk cepat
“ Pantas saja, Jennie sangat mencintai kakak.” Ujarnya
Deg
Seketika, senyum di wajah pemuda itu surut
“ Dari mana kau tahu nama itu?” Tanyanya dengan nada getir
Kenapa?
Kenapa nada bicaranya berubah?