Malam itu, ayah Regan tidak bisa memejamkan mata, tetesan bulir bening terus mengalir di pelupuk mata tuanya.
“ Bukankah sudah aku bilang! Buat laporan ini tepat waktu! Dasar culun! Bisa tidak bekerja tepat waktu?”
“ Aaarrkkhh!” Teriak bibir pemuda itu menahan sakit saat jari jari tangannya ditekan dengan palu
“ Al jangan! Jangan, ini bisa jadi kasus baru. Cukup! Tangannya sudah berdarah.” Adit segera menghampiri temannya, berusaha melerai. Tapi...
“ Kau juga mau melawan?” Alankar berbalik, mencengkeram kerah kemejanya kasar. Ya, sosok dalam ingatan tua ayah Regan adalah Alankar. Pemuda itu menatap Adit tajam
“ Bukan itu maksudku, tapi dia sudah tidak berdaya. Bukankah sudah dia bilang proposal itu terjatuh di jalan.”
“ DIAM!”
Bug
Sebuah tinjuan mendarat mulus di pipi Adit, membuatnya tersungkur jatuh menjadi bahan tertawaan para siswa yang memperhatikan
“ Tidak ada alasan apa pun untuk menolak keinginan Alankar, apa kalian mengerti itu?”
Sosok itu kemudian melangkah ke luar setelah melangkahi Adit, tak ada sedikit pun raut bersalah di wajahnya
“ Kenapa harus Regan, Al. Apa kau ingin kembali ke dunia ini bahkan setelah kau mati?” Gumam Ayah Regan sedih.
Bahkan sampai pagi menjelang, suasana di rumah itu menjadi dingin. Regan dan ayahnya tidak saling menyapa. Sebaliknya, Kleo juga tidak ditanggapi oleh gadis itu. Regan berpikir, gara gara Kleo ia dan ayahnya bertengkar. Ia tidak pernah berpikir, betapa Kleo peduli pada dirinya
“ Ayah aku mau berangkat ke sekolah.” Tutur Regan sekadar basa basi.
“ Ayah ingin kamu pindah sekolah.” Tutur Adit pucat
“ Apa?” Regan mengernyit
“ Ayah tidak mau kamu bersekolah di tempat itu lagi.”
“ Kenapa sih? Regan dapat beasiswa loh ke sana. Itu sekolah bagus ayah. Teman temanku yang bayar saja tidak ada yang lolos. Ayah ini kenapa sih sebenarnya?” Celetuk gadis itu tidak terima
“ Kalau ayah bilang kau harus pindah berarti kamu memang harus pindah dari sana. Ayah tidak mau berdebat!” Tekan Adit dengan tatapan nanar
“ Apa ayah bisa membiayai Regan di sekolah yang lain Hmm? Tidak bukan?” Ucapan Regan seketika membuat wajah Adit pucat. Kenapa sifat putrinya semakin mirip dengan Alankar
“ Kamu benar, ayah memang miskin. Tapi ayah tidak ingin kau celaka nak. Ayah akan berusaha menyekolahkanmu bagaimanapun caranya.” Tutur Adit getir, matanya berkaca kaca
“ Dengan cara apa? Selama ini ayah tidak mau bekerja bukan? Apa mau minta minta lagi pada keluarga Kleo? Lebih baik Regan mati dari pada meminta minta.” Tekan Regan kemudian bergegas mengambil tasnya dan beranjak ke luar. Sebelum...
Langkahnya terhenti, melihat seseorang yang berdiri di depan pintu, entah sejak kapan. Sosok pemuda berusia sekitar 20 tahunan dengan kulit bersih dan senyum yang begitu sopan. Regan mengernyit, ia tidak pernah melihat sosok itu sebelumnya.
“ Regan kan? Apa Kleo ada?” Tanyanya begitu ramah.
“ Kamu siapa?” Tanya Regan mengernyit. Moodnya sedang tidak baik.
“ Ini aku Yusef, kakak Kleo, aku datang untuk menjemputnya.” Jawab sosok itu masih dengan suara lembut. Sangat berbeda dengan Kleo. Regan mengerutkan kening, bukankah yang ia tahu Kleo adalah anak tunggal? Dari mana sosok ini datang? Kenapa Regan tidak pernah melihatnya? Tapi ya sudahlah, itu lebih baik dari pada Kleo terus berada di rumahnya dan mengganggu dirinya. Entah kenapa, hati Regan perlahan berubah, bukankah awalnya ia yang simpati dan meminta Kleo untuk tinggal karena melihat kondisi keluarganya, tapi sekarang Regan justru sangat ingin Kleo pergi.
“ Baguslah kalau begitu, masuk saja dan bawa dia pulang secepatnya! Permisi.” Regan menyelip ke luar dan berangkat ke sekolah tanpa menoleh lagi ke belakang.
Tak berapa lama kemudian, Kleo tampak ke luar dari kamar Adit
“ Kau sudah datang kak?” Tanyanya tak suka. Yusef mengangguk dengan senyum manis.
“ Bukankah kau menelefon agar aku menjemputmu.” Tuturnya hangat. Kleo menghela napas. Benar, memang dialah yang menelefon kakaknya untuk datang. Kleo merasa tidak betah karena gara gara dirinya, Regan jadi bertengkar dengan ayahnya.
“ Baiklah, tunggu sebentar, aku mau pamit pada paman dulu.” Pemuda itu pun kemudian melangkah ke belakang, mencoba mencari ayah Regan yang tidak ke luar dari kamar putrinya setelah bertengkar tadi. Tapi, baru saja ia masuk...
“ Paman!” Teriaknya saat melihat kondisi Adit yang terkapar di lantai dengan napas tersenggal bagaikan tercekik. Wajahnya memerah, matanya seakan ketakutan, pria tua itu kemudian tergeletak tak sadarkan diri.
“ Ada apa?” Tanya Yusef melangkah masuk.
“ Ya Tuhan! Ayo bawa dia ke mobil, aku akan membawanya ke rumah sakit.” Tuturnya kemudian membopong Adit bersama Kleo.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Di sana, Regan berlari cepat menuju ke sekolahnya. Mencoba melupakan amarah dan pertengkaran dengan sang ayah tadi. Ia benar benar marah, karena ayahnya berusaha memisahkan Regan dengan Alankar. Kenapa ayahnya begitu membenci sosok itu, Alankar bahkan tidak pernah menyakiti Regan bukan? Kenapa Ayahnya tidak pernah mencoba mengerti.
Gadis itu menyeka air mata, menghentikan langkah di depan sebuah perpustakaan umum yang baru saja dibuka. Jauh dalam sedihnya, tiba tiba seorang gadis berusia 20 tahunan ke luar dari perpustakaan itu dan menyapa dirinya.
“ Kau baik baik saja?” Tanyanya memegang pundak Regan lembut.
Deg
Regan langsung mengangkat wajah, gadis itu memang terlihat sangat cantik dan ramah dengan rambut yang digerai panjang, tapi... Tangannya begitu dingin, bahkan hawa dingin itu seakan menembus seragam Regan. Dia... Bukan manusia.
Regan berusaha menghindar, ia tidak menjawab dan bergegas hendak beranjak. Sebelum...
“ Awas hati hati!”
Hampir saja sebuah motor menabraknya, beruntung, gadis tadi memegang lengannya dan menarik Regan menjauh. Jantung Regan berdegup cepat
“ Kau bisa melihatku kan?” Tanya gadis itu mengulas senyum. Regan memejamkan matanya sekilas, ia tidak ingin berurusan dengan hantu lain lagi. Tapi walau bagaimanapun, sosok yang ini telah menyelamatkannya
“ Namaku Jennie, Jennie Safira. Aku tahu, kau sangat takut. Tapi aku tidak akan meminta bantuan apa pun darimu kok. Kau bisa melihatku kan?” Tanya gadis itu sekali lagi.
Regan mengangguk pelan kemudian memberanikan diri menatapnya.
“ Terima kasih.” Tutur Regan akhirnya
“ Mau masuk? Perpustakaan ini milik ayahku.” Ajak gadis itu manis
“ Aku harus berangkat ke sekolah.”
“ SMU Adirangga bukan? Ini masih jam 5:30. Masih ada waktu untuk mampir. Buku buku di sini sangat bagus. Mungkin bisa menghibur hatimu.” Ajaknya memegang lembut lengan Regan. Regan bisa melihat ada bekas luka di nadi gadis itu, mungkin ia meninggal dengan cara bunuh diri.
“ Baiklah, aku akan mampir.” Ujar Regan akhirnya.
Begitu masuk ke dalam, Regan langsung bertemu dengan sosok seumuran ayahnya yang tampak sedang merapikan buku buku baru.
“ Selamat datang nak.” Sapanya ramah. Bisa ditebak, ia pasti ayah dari Jennie
Regan mengulas senyum kecut
“ Ada yang bisa bapak bantu. Ah ini ada buku buku terbaru karya Angel El Cherid. Ada The Black Shadow ada juga Prince Blue Safir. Ada juga seri Soul, semuanya bagus bagus.” Tawar sosok itu. Melihat Regan, bola matanya berkaca kaca. Mungkin Regan mengingatkan dirinya akan Jennie, putrinya
“ Saya mau baca yang Soul seri 3 pak.” Celetuk Regan
Dengan cepat, sosok itu memberikannya buku. Regan duduk di kursi pojok, membuka buku itu dan mulai membacanya.
“ Itu ayahku.” Tutur gadis tadi duduk di depan Regan
“ Aku tahu. Tapi bagaimana kau tahu kalau aku siswi di SMU Adirangga?” Tanya Regan mengernyit
Jennie menunjuk seragam yang Regan kenakan
“ Aku juga memiliki seragam yang sama saat dulu sekolah di sana.” Jawabnya membuat Regan menghela napas. Lagi lagi, siswi SMU Adirangga meninggal dalam keadaan mengenaskan. Tapi, hal itu justru membuat Regan penasaran
“ Kapan kau meninggal?”
“ 3 tahun yang lalu setelah ujian kelulusan. Aku berhasil menyelesaikan studiku dengan baik dan diterima di universitas yang bagus.” Jawabnya semakin mencurigakan
“ Kalau hidupmu begitu sempurna. Kenapa kau mengakhiri hidupmu? Aku melihat bekas luka di tanganmu.” Tutur Regan
Jennie bergegas menutupi bekas luka itu dengan lengan kaos yang ia kenakan.
“ Tidak apa apa, itu bukan soal yang besar. Bukankah aku sudah bilang, aku tidak akan merepotkanmu dengan hal apa pun.” Tutur gadis itu terlihat enggan
Melihat Regan berbicara sendiri, ayah Jennie mendekat
“ Ada apa nak? Apa kau tengah menelefon?” Tanyanya, tapi ia tidak melihat headset ataupun sesuatu yang digunakan untuk menelefon.
“ Tidak ada apa apa pak.” Jawab Regan tenang.
“ Baiklah kalau begitu, jika perlu sesuatu jangan sungkan.” Senyum ramah pria tua itu kemudian beranjak dari hadapan Regan. Seperginya sosok itu, tiba tiba...
Drrrrttt drrrtttt
Ponselnya berdering, tertera nama Kleo di layarnya
“ Ck, kenapa dia menelefon. Menyebalkan.” Gerutu Regan mematikan panggilan itu
“ Siapa?” Tanya Jennie penasaran melihat wajah Regan yang berubah marah
Regan tak menjawab, ia meneruskan membaca buku. Tapi...
Drrrrttt drrrtttt
Lagi lagi ponselnya berdering
“ Ada apa?” Tekan Regan terpaksa mengangkat panggilan itu.
“ Ayahmu jatuh sakit. Aku membawanya ke rumah sakit. Kau di mana? Sebaiknya segera pulang.” Tekan Kleo sekenanya dengan nada memerintah
Mendengar hal itu, Regan mengulas senyum. Sudah pasti ia berpikir itu akal akalan dari Kleo
“ Dengar ya Kleo, tidak usah berpura pura lagi. Aku tidak akan pulang jika ayah tidak mencabut keputusannya. Kalau perlu sampai lulus SMU aku tidak akan pulang ke rumah.” Jawab Regan kesal
“ Regan, aku tidak bercanda. Pulang! Atau kau akan menyesal.”
“ Bodoh amat!” Celetuk Regan kemudian mematikan ponsel
“ Kleo? Apa itu putra paman Qian?”
Regan mengernyit. Bagaimana Jennie mengenal Kleo?
“ Dia masih sama? Suka marah marah dan semaunya sendiri? Dulu dia masih sangat lucu.” Ujarnya seakan sangat mengenal Kleo di masa lalu
“ Bagaimana kau bisa mengenalnya?” Pertanyaan Regan membuat wajah hantu itu menjadi pasi.
“ Kau seperti sangat mengenal Kleo.” Imbuh Regan
“ Bukankah kau harus pergi ke sekolah. Senang berjumpa denganmu, mampirlah sewaktu waktu ya.” Jennie mengalihkan pembicaraan. Sepertinya, ucapannya tadi adalah sebuah kesalahan. Ia kemudian menghilang tanpa mendengar pertanyaan lanjutan dari Regan
Melihat hal itu, wajar jika Regan curiga. Terlebih, itu menyangkut tentang Kleo. Bagaimana mungkin ada hantu yang mengenalnya?
“ Kena kau Kleo.” Gumam Regan mengulas senyum kemudian berdiri, melangkah mendekati pemilik perpustakaan tadi.
“ Paman, ini bukunya.” Ujar Regan menyerahkan buku yang baru saja ia baca.
“ Oh iya nak, terima kasih. Datanglah berkunjung lain waktu.” Jawab pria itu ramah.
“ Hmm paman, boleh saya bertanya sesuatu?” Tanya Regan basa basi
Sosok itu mengernyit
“ Saya adalah teman kak Jennie dulu. Maaf jika ini mengingatkan paman dengan luka lama. Saya tahu, kak Jennie sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Tapi... Apakah paman baik baik saja? Apakah Kleo sering datang ke tempat ini?” Pertanyaan Regan dibuat sehalus mungkin. Tapi, wajah tua di depannya justru berubah sedih, ia terlihat sangat merana. Duduk di kursi kemudian menyeka air mata yang mencoba turun
“ Saat melihatmu masuk tadi, aku sudah merasa seperti Jennie yang dulu selalu pulang mengenakan seragam yang sama. Ternyata kau adalah temannya. Tidak nak, sejak kejadian tewasnya Jennie 3 tahun yang lalu, Kleo tidak pernah datang ke sini. Lagi pula untuk apa dia kemari. Jangankan Kleo, Yusef saja, kekasih Jennie justru pergi ke luar negeri setelah kejadian itu. Dia tidak pernah kembali, mungkin dia patah hati sama seperti paman, karena tanpa alasan yang jelas, Jennie tiba tiba mengakhiri hidup.” Tutur sosok tua itu menyeka air matanya yang terus turun
“ Yusef?” Regan terdiam. Ia ingat kejadian tadi pagi di rumahnya. Saat seorang pemuda tiba tiba mengetuk pintu dan mengatakan bahwa ia adalah kakak dari Kleo. Jadi orang itu kekasih Jennie.
“ Paman yang sabar ya, saya akan lebih sering ke mari.” Regan menenangkan sebelum akhirnya pamit kembali ke sekolahnya.
Ada apa ini?
Kenapa rasanya ada sesuatu yang disembunyikan?
Regan benar benar tidak peduli dengan telefon dari Kleo tadi.
Setibanya di sekolah, senyumnya melebar saat melihat arwah pujaannya tersenyum di sisi gerbang. Menyambut kedatangannya. Apalagi yang lebih menyenangkan dari hal itu?
Regan tahu, Alankar memang sudah lama meninggal. Tapi memangnya kenapa jika ia menyukai sosok yang hanya tinggal jiwa itu?
“ Kau lama sekali, bukankah kau bilang hari ini akan mencoba mencari data data itu?” Sapa Alankar
“ Tentu, aku tidak akan pulang sebelum menemukannya.” Jawab Regan melewati gerbang
“ Apa neng? Neng bicara pada bapak?” Tanya penjaga gerbang gagal fokus
“ Ah iya pak, terima kasih sudah berjaga selama ini.” Jawab Regan kemudian berlari masuk meninggalkan Alankar yang tertawa terbahak bahak
Benar saja, hari itu Regan justru sibuk mencari dokumen siswa 40 tahun yang lalu baik di sekolah ataupun memintanya di ruang administrasi. Tapi tetap saja, ia tidak menemukan apa pun. Sepertinya dokumen itu sudah lama dilenyapkan oleh seseorang, mungkin juga orang yang sama dengan yang memukul kepala sekolah tempo hari.
Hanya satu tempat yang belum ia cari, perpustakaan lama.
Benar, bukankah menurut kepala sekolah, ia menemukan catatan tentang Alankar di perpustakaan itu.
Regan bergegas menemui satpam yang berjaga tadi
“ Pak, kunci ke perpustakaan lama siapa yang pegang?” Tanyanya
“ Aduh neng, kenapa bertanya hal begitu. Maaf, bapak tidak bisa membantu.”
“ Ayolah pak, saya ada perlu, dan ini sangat penting sekali.” Desak Regan. Sebelum tiba tiba...
“ Hal penting apa itu? Yang memaksamu masuk ke dalam perpustakaan mengerikan itu.” Celetuk suara di belakang Regan
“ Nyonya.” Satpam itu langsung menundukkan wajahnya
Regan menoleh ke belakang.
Benar saja, ada seorang wanita yang usianya tampak lebih tua dari ayahnya berdiri tegap di belakang Regan dengan tongkat di tangan. Dari penampilannya, sepertinya ia bukan orang sembarangan. Dan tadi satpam juga menyebutnya nyonya.
“ SIAPA NAMAMU?” Tanya wanita itu menatap Regan tajam.
Siapakah ia?