“ Regannn!!!” Teriakan itu menggema bersama kicau burung yang marak diangkasa. Seakan menari bersama aroma darah pekat nan amis yang menyeruak seketika
Rasa adalah hal paling abadi di dunia ini
Hal paling tua yang Tuhan ciptakan bahkan sebelum adanya cinta
Rasa adalah waktu, dunia, kehidupan dan kematian
Menjelma menjadi bentuknya sendiri dan tak hilang bahkan saat si pencinta tiada.
Rasa menyebar bersama kehidupan dan mampu bertahan dalam kehampaan
Mampu menghidupkan bahkan meniadakan
Ya, rasa... Seperti saat aku melihatnya. Rasa itu selalu menjadi “ nyata “ dan tak termakna
Deg
Regan membuka matanya pelan, entah ia masih hidup atau sudah mati karena mobil yang hampir menabraknya tadi. Namun... Regan tersadar saat merasakan sebuah suara familier menyapu telinganya, begitu dekat
“ Akhirnya kita bertemu lagi Anindhita Regantara.” Bisiknya
“ K...Kleo?” Suara Regan tercekat di kerongkongan. Seakan sulit dipercaya bahwa sosok yang memeluknya erat tak lain adalah Kleo, sang penyelamat nyawanya. Bagaimana mungkin Kleo bisa berada di sana.
Ini sangat mustahil. Hingga...
Karena syok, Regan kembali memejamkan matanya, ia tak sadarkan diri. Sosok itu membopong Regan dan membawanya ke pinggir jalan, menidurkannya pada sebuah bangku yang tersedia di halte.
“ Minggir!” Jack yang panik bergegas menghampiri Regan, memegang tangannya dan memeriksa nadi gadis itu.
“ Regan, bangunlah! Regan!” Pintanya panik
Sementara itu, Alankar mematung menatap Regan yang tak berdaya beberapa meter di belakang sosok yang mirip Kleo tadi. Jack yang sibuk berusaha membangunkan Regan sementara Alankar memperhatikan sosok penyelamat itu. Siapa pemuda itu? Penampilannya terlihat asing, seakan ia berasal dari luar negeri, tatanan rambutnya yang terlihat rapi, pakaiannya yang high quality, kulitnya yang bersih dan gesture tubuhnya seakan mengatakan bahwa ia berasal dari kedudukan yang mungkin setara dengan Alankar. Tapi... Kenapa pemuda itu menatap Regan lekat? Apakah ia mengenal Regan?
Tak lama kemudian, Regan mulai menghembuskan napas berat, kelopak matanya mulai bergerak dan keningnya mengernyit
Sayup sayup terdengar bibir mungilnya berucap
“ Kleo...Kleo.”
“ Regan, syukurlah.” Senyum Jack lega melihat gadis itu mulai membuka mata. Akhirnya Regan sadar juga
Sosok itu pun mengulas senyum kemudian berbalik dan hendak beranjak pergi, sebelum pergi... Ia sempat menatap Alankar tajam, membaca nametag sekolah di dadanya, mengulas senyum sinis lalu berlalu begitu saja. Itu benar benar menyebalkan, baru sekarang ada yang berani menatap Alankar sesinis itu.
“ Kak, ayo kita pergi!” Sejenak suara Maria yang memegang lengannya lembut menyadarkan Alankar yang hampir saja mengejar sosok berwajah Kleo itu.
Alankar mengernyit
“ Ayo, aku ingin menghabiskan waktu ini seharian denganmu.” Ajaknya dengan wajah yang dibuat semanis mungkin. Alankar terpaksa mengulas senyum kemudian mengangguk pelan. Sesekali diliriknya Regan yang tampak mulai duduk dan mengatur napas, lengannya terlihat lecet begitu pula keningnya yang berdarah. Rasanya Alankar ingin membawanya ke rumah sakit, tapi ia tidak ingin terlihat mencemaskan Regan. Maka dengan berat hati, Alankar pun mengikuti langkah Maria meninggalkan tempat itu begitu saja.
“ Are You Okay?” Tanya Jack mencoba meraba kening Regan yang mengernyit menahan sakit.
Regan mengangguk pelan, wajahnya terlihat begitu pucat
Ia memandang Alankar yang sudah menjauh bersama Maria, jari jarinya mengepal erat. Sebelum...
“ Kak, di mana orang yang menolongku tadi?” Tanya Regan saat menyadari sesuatu. Ya, di mana orang itu?
Sosoknya seakan lenyap ditelan bumi
Jack pun menatap ke sekitar. Benar, pemuda itu sudah pergi
“ Mungkin sudah pergi. Aku juga belum berterima kasih padanya. Apa kau mengenalnya?” Tanya Jack mengernyit
Regan terdiam, mengingat kembali wajah yang tadi menolongnya. Ia sangat yakin, sosok itu begitu mirip dengan Kleo, sepupunya. Tapi apa mungkin itu Kleo? Rasanya sangat tidak masuk akal.
“ Re?” Jack mengibas ngibaskan tangannya di depan Regan
“ Entahlah, dia mirip dengan orang yang aku kenal. Mungkin aku salah lihat. Itu tidak mungkin.” Senyum Regan pasi
“ Apa kita perlu ke rumah sakit?” Tanya Jack
Regan menggeleng pelan
“ Aku baik baik saja.” Jawabnya getir
“ Kalau begitu ayo, kita pulang!” Ajak Jack mengulurkan tangannya. Regan mengulas senyum kemudian menjabat tangan itu. Ia duduk di boncengan motor Jack yang kemudian melaju membawanya pergi
Benarkah aku salah lihat?
Benarkah itu bukan Kleo? Atau aku hanya berkhayal?
Tidak mungkin Kleo ada di sini kan? ~ Regan
Sepanjang perjalanan, Regan terus mengingat kejadian tadi.
Tanpa ia sadari, sosok yang menyelamatkannya tadi terlihat menatapnya dari kejauhan, menatap Regan yang semakin jauh dengan senyum tipis di bibir sexi nya
“ Kau sudah memiliki banyak penggemar rupanya, Regan.” Gumamnya kemudian mengenakan kaca mata hitam dan melangkah menuju sebuah motor mewah yang entah sejak kapan bertengger di sana. Sosok itu pun melaju pergi, meninggalkan misteri yang tidak terpecahkan. Entah, siapa ia sebenarnya
-----***-----***-----***-----
1 jam jam kemudian, Maria mengulas senyum saat Alankar mengantarkannya ke sebuah apartemen yang cukup mewah.
“ Sementara tinggal di sini ya, aku takut Irene akan mengganggumu.” Pemuda itu memberikan kunci kamar ke tangan Maria
Saat Alankar hendak beranjak, Maria menahan lengannya
“ Tidak mau masuk dulu kak?” Tanyanya dengan wajah innocence yang dibuat buat
“ Tidak, aku masih banyak urusan.” Alankar melepaskan genggaman tangan Maria
“ Kak, tunggu!” Maria hendak mengecup pipi Alankar. Tapi lagi lagi pemuda itu menghindar
“ Maaf, aku sangat lelah, istirahatlah.” Dalihnya, mengulas senyum Fake kemudian beranjak begitu saja meninggalkan Maria yang mematung menatap punggung tegap pria itu yang menjauh
“ Kenapa ya, aku merasa nyaman bareng kamu.” Gumam gadis itu kemudian berbalik, membuka pintu dan tertawa girang melihat kemewahan di depannya
“ Aaah Maria, kau memang pintar.” Gumamnya kemudian membaringkan diri di atas empuknya kasur
Tapi... Sejenak terlintas di benaknya ingatan saat seseorang menyelamatkan Regan tadi.
“ Kenapa wanita itu selalu beruntung. Jika dia mati kan semuanya akan jadi lebih mudah. Huft.” Kesalnya
Tak jauh berbeda, Alankar juga terdiam setibanya di mobil. Pandangan pemuda tadi saat menggendong Regan seakan terus membayang. Terlihat jelas, ada sorot lain di matanya pada Regan tadi. Siapa sosok itu sebenarnya, ia seakan sangat mengenal Regan. Tidak mungkin seorang pria asing mau mempertaruhkan nyawa begitu saja seperti tadi. Alankar menggenggam jari jarinya erat apalagi saat mengingat tatapan sinis pemuda itu sebelum pergi.
“ Awas saja kalau dia berani muncul lagi di depanku.” Gerutunya kemudian menyalakan mesin mobil dan melaju pergi
Ya, pemuda itu meninggalkan rasa penasaran dibenak setiap orang. Bahkan Regan tidak bisa memejamkan mata malam itu. Apakah itu sebuah kebetulan di dimensi berbeda ia bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Kleo?
Bersambung
Next part : Siswa Baru