NANA OH NANA - PROLOG

833 Words
“Aku mohon, jangan pergi.” Candra terus meminta Nana untuk tetap tinggal di sisinya. Dia meraih tubuh Nana dan mendekapnya. Memeluk Nana dengan menangis dan memohon agar Nana tidak pergi. Nana yang sudah merasa puas membuat hidup Candra menderita karena cintanya, dia tidak peduli Candra yang sedang mencegah dirinya pergi dari hidupnya. Meski rasa cinta itu sudah muncul di hati Nana juga. Hubungan gelap yang mereka jalin telah menjebak mereka ke dalam cinta yang salah. Artharina Pratiwi, gadis berusia dua puluh tahun, yang akrab di panggil Nana di dalam keluarga besarnya, terpaksa harus menjadi istri simpanan Candra Wiryawan, pria berusia tiga puluh delapan tahun, yaitu pamannya sendiri. Candra adalah suami dari Ayu Paramita. Bibi dari Nana, adik kandung dari ibu Nana. Menikahi Nana adalah suatu hal yang membuat hidupnya jauh lebih baik. Candra tidak menyangka, dia akan mencintai keponakannya sendiri. Menjalin hubungan gelap dengan Nana karena dia hanya ingin menikmati tubuh indah Nana saja, bukan karena cinta. Begitu juga Nana, dia mau menjadi wanita simpanan pamannya karena suatu hal. Bukan karena cinta. Namun, mereka berdua terjebak oleh cinta di dalam hubungan gelapnya. “Mas, aku mohon. Izinkan aku pergi. Aku sudah menyakiti Bibi Ayu. Kalau keluarga kita tahu bagaimana? Cukup, Mas. Jangan kita teruskan lagi hubungan yang salah ini,” ucap Ayu yang masih berada di pelukan Candra. “Nana, aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu. Kamu lihat aku sekarang, lihat dan tatap mataku, Nana. Aku sangat mencintaimu, apapun yang terjadi. Aku tidak mau kamu pergi dari hidupku. Aku mohon.” Candra terus meyakinkan Nana. Nana memang sudah sangat mencintai Candra. Tapi, dia tidak mau rasa cinta itu terus tumbuh subur di hatinya. Nana sadar, Candra adalah pamannya sendiri. Tidak mungkin dia merebut Candra dari tante kesayangannya. “Paman, Nana tidak bisa,” ucap Nana dengan memeluk Candra. “Maafkan Paman, sayang. Maaf dengan beribu maaf. Tapi, paman sangat mencintamu. Paman tidak bisa melepasmu begitu saja. Enam tahun lamanya, kamu menemani paman, hingga paman meninggalkan semua hobi paman di dunia malam, bersama para wanita di luar sana. Hanya demi kamu, Sayang. Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Please....” Candra masih menahan Nana untuk tidak pergi. Candra memberikan kecupan lembut di bibir Nana. Kecupan yang selalu Nana rindukan setiap harinya, yang kini sudah menjadi candu baginya. Nana juga tidak percaya, kalau dirinya akan jatuh cinta pada pamannya. Padahal dia mau menjadi wanita simpanan pamannya hanya karena suatu hal. Bukan karena cinta. Bahkan karena rasa dendam dirinya pada Pamannya. Sekarang, Nana percaya, bahwa cinta akan hadir karena terbiasa, dan cinta memang bisa menaklukan dendam dalam dirinya. Dendam yang ia simpan dari dulu, sejak dia berusia lima belas tahun. Candra pun demikian. Candra hanya menganggap Nana adalah pelampiasan hasratnya saja. Apalagi Nana hanya meminta syarat yang menurut Candra itu adalah syarat yang kecil sekali. Meski syaratnya kecil, Candra selalu memberi lebih untuk Nana, itu semua karena Nana selalu memberikan kepuasan yang lebih saat di atas ranjang, maupun dalam hal yang lain. Enam tahun bersama, membuat Candra semakin yakin, kalau Candra mencintai keponakannya sendiri. Anak dari Kakak iparnya yang bernama Marlina. “Aku tidak bisa, aku takut... aku sangat takut, paman,” ucap Nana dalam isak tangisnya. “Kamu takut ketahuan bibi kamu? itu tidak akan, Sayang. Buktinya kita sudah jalan selama enam tahun. Aku ingin kita menikah sah, Nana. Please....” Candra terus membujuk Nana, agar Nana mau menikah secara hukum dan agama. “Enggak, menikah sah membutuhkan wali, membutuhkan izin dari istri pertama,” ucap Nana. “Aku akan meninggalkan Ayu, demi kamu. Aku mencintai kamu, dan aku merasa aku tidak pernah jatuh cinta sedalam ini, aku tidak pernah senyaman saat dengan kamu. Bahkan Ayu pun tidak bisa memberikan apa yang kamu berikan padaku, Nana,” jelas Candra dengan meneteskan air mata. Nana tahu, tidak mungkin Candra bohong. Karena, laki-laki yang berani meneteskan air mata adalah laki-laki yang tulus mencintai. Meski Candra adalah laki-laki yang b***t menurut Nana. Namun, Nana yakin, kalau pamannya sekarang sudah berubah. “Tidak, Paman. Aku tidak mau. Please, jangan paksa aku, atau aku pergi sekarang! biar hubungan ini mengalir seperti ini, dan tidak tahu ke mana akan berlabuh, karena aku....” ucapan Nana terhenti karena menahan sesak di dadanya. “Aku apa, Sayang?” tanya Candra dengan menatap wajah Nana yang cantik. “Aku sangat mencintai, Paman. Tapi, Nana sadar, itu adalah rasa yang salah,” jawab Nana dengan lirih. “Cinta tidak salah, Na. Hanya waktu yang salah. Kita bisa melalui ini, aku yakin, kita akan tetap bersatu,” ucap Candra. “Paman memiliki bibi, Sekar, dan Andi. Tidak mungkin Nana hadir di tengah-tengah mereka. Biar waktu yang menjawab, Paman. Karena, hubungan ini, akan menjadi jurang kebencian keluargaku terhadapku,” ucap Nana. Candra hanya diam. Benar kata Nana, kalau dia tergesa-gesa akan menikahi Nana secara sah di mata negara dan agama pasti akan menuai konflik yang runyam. Apalagi dia dan istrinya sama-sama dari keluarga terpandang. Dia juga memikirkan nasib Nana, yang nantinya Nana akan di benci oleh keluarga besarnya. Dan, tentunya keluarga besar Candra pun akan membeci Nana juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD