Berada di fase ini memang sulit, dia baik. Yaah mungkin. Dan Cuma aku yang bisa merasakan perasaan ini. Dan hal itu adalah kesalahanku. Sabar gak boleh maksa, karena dia hanya menganggap aku dengan sebatas teman
“Kamu mau ngomong apa, sama mau minta bantuan apa?” tanya Gaby kepada Leo. Leo yang bingung harus bicara darimana hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan memasang mimik wajah yang kebingungan itu.
“Gimana ya cara ngomongnya?” Gaby mengerutkan keningnya. Kala mendengar ucapan Leo yang tak masuk akal itu. Bagaimana mungkin dia tak tau berbicara, namun Gaby harus bersabar karena ini adalah ujian yang diberikan tuhan kepada Gaby. Yang dimana harus bersahabat dengan temannya yang menjadi beban dirinya tu.
“Jadi begini, aku suka sama seseorang,” ucap Leo yang memulai obrolan nya tersebut kepada Gaby. Gaby memutar bola mata malas. Kala mendengar bahwa temannya itu menyukai cewe lagi. Entah sampai berapa cewek yang akan menjadi korban buayanya itu.
“Trus?”
“Ya, begitu.”
“Begitu gimana, hello! Kamu sadar nggak sih kalau curhatan kamu itu udah basi bangat, cewe mana lagi yang mau kamu jadikan korban ke- 23,” Gaby mengubah posisi badannya yang tadi kedepan kini menghadap ke samping kanan. Tepat temannya berada. “Kamu tau nggak sih, nggak lucu tau kamu pacari banyak cewek.”
“Tapi aku serius suka sama dia!” dari mata Leo Sepertinya memang jika pria itu menyukai seorang Wanita dengan tulus. Bahkan dilihat dari caranya berbicara dia tampak ragu mengatakan kebenaran yang ada di hatinya itu. Sementara Gaby hanya diam tak percaya. Ada rasa dan harapan dari dirinya itu. Jika dialah yang disukai oleh Leo.
Gaby menghembuskan nafas Panjang, dan mengubah arah pandangannya itu kedepan tempat taman bermain anak- anak yang berada di dekat kampusnya itu. “Emang Sih, orang nggak akan percaya dengan apa yang gue ucapin barusan ini. Karena gue sadar gue itu playboy. Tetapi kalau sama dia ada rasa yang berbeda jika dekat dengan dia,” ucap Leo dengan lurus menghadap kedepan seraya tangannya dilipat dan tersenyum membayangkan bagaimana sosok Wanita yang bisa membuat dirinya jatuh cinta.
“Terus siapa cewek itu?” tanya Gaby. Sebenarnya pertanyaan ini hanya akan membuat hati Gaby sakit jika tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Tapi juga akan Bahagia jika sesuai dengan harapannya. Ibarat kata ini adalah hidup dan matinya.
“Hmmmm, Feby,” jawab Leo dengan ragu. Blak. Seketika tubuh Gaby menegang dan tak bisa berkata- kata. Dunianya hancur seketika. Pandangan gelap, tetapi dia harus tetap dipaksa seolah- olah kuat dan tak terjadi apa- apa.
“Feby?” tanya Gaby sekali lagi. Untuk memastikan apa yang dia dengar itu memang kenyataan atau tidak. Dia berharap jika Leo salah menyebutkan nama Orang. Namun Leo dengan cepat mengangguk dan tersenyum Bahagia.
“Ooo,” hanya itu yang bisa dilontarkan dan dikatakan dirinya itu kepada Leo. Dan tersenyum dengan pahit atau lebih tepatnya dipaksa oleh keadaan.
“Makanya itu, tujuan aku datang dan ngomong ini kepada ke kamu, buat bantu aku,” Leo menarik tangan Gaby. Kemudian menggenggam tak lupa dengan puppy eyesnya yang sangat menarik. Membuat Gaby tak bisa menolak.
“Apa?”
“Tolong buat, Febi suka sama aku,” astaga permintaan apa yang dibilang diminta temannya itu.
“What? Kamu serius bilang begitu. Nggak salah kamu?” tanya Gaby kepada Leo. Bagaimana dia bisa meminta hal yang begitu kepada Gaby.
“Nggak lah, kamu kan teman aku. Masa aku nggak bisa minta bantuan?”
“Aku pergi dulu ya. Keknya kami ada masuk buat ujian. Nanti aja ya ngomongnya,” Gaby bergegas pergi dari situ
Namun sebenarnya dia tidak pergi ke kelas itu. Hanya alasan saja dia mengatakan hal itu. Karena Gaby belum bisa menerima semua yang ia terima dari temannya itu. Rasa luka tapi tidak berdarah adalah hal yang sekarang a terima ditambah lagi dengan permintaan sahabatnya yang mengatakan kalau dia harus mendekatkan Febi temannya sendiri kepada crush yang berkedok teman itu.
Air mata Gaby seketika jatuh begitu saja. Karena tak kuasa menahan dirinya. Hal yang paling dia takut akhirnya datang juga, padahal dia belum sanggup untuk menerima dengan cepat. Kenapa harapannya tak pernah menjadi kenyataan. Apakah dia harus menjadi kenangan saja.
Dari kejauhan Nando melihat Gaby yang duduk sendirian dengan tatapan mata kosong. Dengan cepat Nando untuk menemui temannya itu, “kamu kenapa Gaby nangis? Trus mana teman kamu si Leo yang sok ganteng itu?” tanya Nando yang melihat kesana kemari. Seketika Gaby dengan cepat membersihkan mukanya itu lalu menghapus air matanya dengan cepat.
“Nggak aku nggak papa Cuma kelilipan aja,” ucap Gaby yang terpaksa tersenyum dan berusaha baik- baik saja. Namun jika Gaby menangis dia tak akan bisa berbohong sepintar apapun itu.
“Dih kamu itu nggak bisa bohong kamu ngomong aja kenapa? Siapa yang sakitin kamu? Kasih tau aku,” ujar Nando dengan gaya Bahasa makassarnya itu.
“Udah ah aku mau pulang dulu. Aku titip absen aja ya. Jangan bilang- bilang kalau aku nangis kalau kamu kasih tau aku menangis maka besok kelarlah hidupmu. Kamu paham?” ancam Gaby lalu pergi begitu saja dengan cepat meninggalkan Nando yang hanya plonga- plongo dengan perkataan Gaby yang tak masuk akal itu.
***
Hai diary.
Aku mau cerita dong, bagaimana perasaan yang aku tahu ini. Kenapa ya aku nggak bisa dapat apa yang aku mau. Dulunya aku bermimpi untuk bisa sampai tamat kuliah dirumah keluarga nyatanya tidak. Aku harus mandiri dan harus bekerja lebih keras buat diri aku sendiri.
Dan sekarang aku harus mengalami juga yang Namanya patah hati. Kenapa ya. Sepertinya semesta tak mengirimkan aku kebahagiaan bahkan lebih tepatnya ingin melihat aku tersakiti dan tak ada kebahagiaan. Mengapa aku tak bisa memiliki orang yang aku cintai? Apakah aku salah mencintai orang yang sudah menjadi sahabat kita itu.
Diary…
Aku bisa nggak minta salah satu dari keinginan itu tercapai?yaitu memiliki Gali, iya sih aku egois dengan mengatakan hal itu. Tapi aku juga pengen dengan yang Namanya pacaran dengan orang yang aku sayangi.
Kenapa harus Febi coba yang dipilih kenapa nggak aku, apa memangnya kurangku sampai dia tak ada rasa tertarik memiliki aku.
Tapi aku juga nggak bisa memaksa dia kan menyukai aku itu haknya, dan aku hanya bisa pasrah dan menunggu keajaiban suatu saat aku bisa memiliki dirinya. Walau aku tau itu hanya terjadi dalam 1 banding 1000000 persen. Saking mustahilnya
Sadnya hidupku tapi mau gimana lagi, aku yang memulai dan aku yang harus membayar