Sejak kejadian semalam, aku sama sekali belum bicara dengan Bagas. Setelah menemani Bagas merenung di pinggir empang selama hampir satu jam, akhirnya Bagas mengantarku pulang dan untungnya, aku selamat sampai di rumah. Malam itu, Bapak dan Ibu sudah tidur tanpa mengunci pintu. Mungkin memang karena aku yang kebagian tugas mengunci pintu rumah. Alasannya sepele: aku satu-satunya orang di rumah yang suka lapar tengah malam.
Kadang kala, aku memang suka terbangun hanya karena lapar. Tapi untungnya lagi, selalu ada abang-abang penjual makanan yang lewat depan rumahku tiap malam. Mulai dari mie tek-tek, siomay, sampai sate dan nasi goreng. Semuanya paket lengkap untuk membuat perutku tetap buncit. Dan lagi, aku merasa bahagia akan hal itu.
Kembali lagi ke Bagas. Sejak tadi pagi, makhluk itu sama sekali tidak menghubungiku. Bahkan aku harus menyeret Mas Tama supaya mau mengantarku ke sekolah. Entah apa yang terjadi sama si Bagas, aku tidak ingin terlalu mengganggunya. Tahun lalu, setiap hari peringatan kematian ayahnya, Bagas hanya lebih banyak diam. Tidak sampai tidak masuk sekolah, tapi aku juga tidak mau terlalu ikut campur. Maksudku, aku bukannya tidak peduli, hanya saja ini kasus yang sensitif dan aku tidak mau menyinggung Bagas dengan banyak bertanya. Mungkin Bagas hanya butuh sendiri.
Di sekolah, hari ini berjalan sangat damai. Bahkan aku sempat menghirup dalam-dalam aroma pagi yang menyegarkan. Saat suara peluit terdengar nyaring, aku dan teman-teman sekelas bergegas menuju lapangan. Hari ini memang jadwalnya pelajaran penjaskes, jadi aku dan yang lainnya sudah harus berkumpul di lapangan. Sampai suara cempreng Tiara mengalihkan atensiku dari cerahnya sinar matahari pagi ini.
“Si Bagas ke mana, Dis?”
Aku yang tidak mengerti arah dan tujuan dari pertanyaan Tiara, hanya bisa mengangkat bahu. Kalau kujawab, percuma, itu tidak akan membuat Tiara puas. Dan aku terlalu malas menjelaskan situasinya.
“Biasanya kalo kita ada pelajaran olahraga, si Bagas udah mejeng di lapangan.” Tiara terkekeh di akhir ucapannya.
Aku hanya bisa menghela napas. Sejak dulu, Bagas yang terbiasa berada di satu kelas yang sama denganku tidak pernah kebingungan karena tidak memiliki teman. Tapi sejak tahun ajaran baru, aku memang tidak berada di kelas yang sama dengan Bagas dan hal itu cukup membuat Bagas kalang kabut. Padahal aku merasa amat bersyukur akan hal itu, tapi Bagas malah seperti orang gila. Dia selalu datang ke kelasku, mengacau dan kadang-kadang mengganggu kegiatan belajar-mengajar seperti yang tadi diucapkan Tiara.
Padahal Bagas bukan tipikal orang yang sulit mendapatkan teman, tapi dia malah hanya ingin berteman denganku yang jujur saja, aku sama sekali tidak mau berteman dengannya. Alasannya sederhana: aku masih cukup waras untuk tidak berteman dengan manusia yang otaknya separuh macam Bagas.
Tiga jam pelajaran diisi dengan pemanasan, yang dilanjutkan kegiatan-kegiatan tidak jelas. Para murid laki-laki main futsal, murid perempuan setor jatah penilaian minggu lalu, sisanya pergi ke kantin dan sebagian ngobrol tidak penting. Kelompok yang terakhir itu diisi oleh aku dan Tiara yang berperan sebagai pendengar. Jujur saja, aku tidak suka membicarakan orang, kecuali Bagas. Dan aku juga terlalu malas pergi ke kantin kalau tidak lapar. Jadi aku hanya tidur-tiduran santai di pinggir lapangan, sembari bermandikan sinar matahari pagi. Sampai seorang makhluk kumal berjalan menghampiriku dengan cengiran di wajah.
“Dis, lo liat Bagas?” tanyanya langsung.
Aku yang sedang menikmati indahnya pagi ini hanya bisa melongo melihat Saga yang tiba-tiba bertanya begitu tanpa tedeng aling-aling. “Lo ngomong sama gue?”
“Ya iya, lah! Emangnya lo pikir gue lagi bertanya sama rumput yang bergoyang?!”
“Goyang apa, Ga?” sahutku santai.
“Goyang mamah muda.”
Aku sama sekali tidak tertawa, begitu juga dengan Saga yang malah menatapku serius. Padahal aku mengharapkan jawaban lain. Goyang gergaji, misalnya. “Gue lagi nggak mau bercanda, Dis.”
“Gue nggak tahu si Bagas ke mana. Semalam kami Cuma ngobrol soal Bagas yang kangen sama ayahnya. Dan gue nggak mau ikut campur lagi. Mungkin sekarang dia Cuma lagi ingin sendiri.” Aku bangun dan membersihkan seragam olahragaku yang ditempeli daun kering.
“Tapi biasanya Bagas nggak begini, Dis. Kalaupun dia sakit, dia masih tetap hubungin gue. Tetap kasih kabar.” Saga mengusap wajahnya kasar. Ekspresinya terlihat cemas.
Aku terdiam sejenak. Kalau dipikir-pikir, Saga memang ada benarnya juga. Biasanya, kalaupun Bagas sakit ataupun bolos, dia masih sering mengacau dengan mengirimiku pesan-pesan aneh. Aku buru-buru mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Bagas, dan benar apa kata Saga, ponselnya tidak aktif.
“Gimana?” tanya Saga yang terlihat penasaran.
“Nggak aktif,” jawabku pelan. “Nanti kita ke rumahnya aja, Ga.”
Saga mengangguk setuju, “Iya, gue setuju. Yaudah kalo gitu, gue balik ke kelas.”
Aku hanya mengangguk pelan, kemudian disusul Tiara yang menghampiriku dengan wajah selidik.
“Lo ada hubungan apa sama Saga?”
“Hanya sekedar kenal,” jawabku asal.
“Bohong. Kok lo tadi kelihatan ngobrol serius sama dia?” tanya Tiara lagi dengan tingkat kekepoan diambang batas wajar.
Aku menarik napas pelan, sebelum menjelaskan kenyataannya kepada Tiara. “Saga itu rekan sepergoblokannya Bagas, dan sekarang dia lagi panik karena partnernya itu nggak masuk sekolah.”
Tiara tampak manggut-manggut, sebelum akhirnya mengajakku ke kantin yang segera aku setujui. Daripada kepala aku makin pening memikirkan si Bagas yang sekarang entah berada di mana, sepertinya makan bakso super pedas bisa menghilangkan sakit kepala.
***
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, bahkan Pak Ri juga belum keluar dari kelasku. Tapi ajaibnya, si buluk Sagara sudah berdiri tepat di depan pintu kelasku. Sambil menghela napas lelah, aku keluar bersamaan dengan teman-teman sekelas gue.
“Ra, gue balik duluan, ya?” pamitku yang segera dijawab anggukan oleh Tiara.
Tadi aku sempat cerita ke Tiara, kalau Bagas belum ada kabarnya. Gue hanya takut, Bagas dan kebegoannya malah menimbulkan bencana di suatu tempat. Jadi aku dan Saga berniat untuk mencarinya.
Di depan kelas, Saga tidak bicara lagi. Dia hanya mengangguk samar kemudian berjalan mendahuluiku menuju parkiran. Dan aku juga tanpa bicara, buru-buru naik ke boncengan Saga. Perjalanan panjang kami hanya di isi oleh keheningan, karena baru saja aku mengomeli Saga dan menyuruhnya diam setelah sebelumnya nyanyi goyang mamah muda dengan volume keras di tengah jalan.
Aku sama sekali tidak habis pikir dengan orang-orang sejenis Saga dan Bagas, yang urat malunya sudah putus. Entah bagaimana mereka bisa bertahan hidup dengan berperilaku tidak beretika seperti itu. Saat aku masih memikirkan jutaan teori aneh di kepalaku, motor Saga tiba-tiba berhenti. Apaan lagi ini?!
“Turun, Dis.”
Oh, sudah sampai rupanya.
Aku hanya mengangguk, kemudian turun dari boncengan Saga. Buru-buru aku mengetuk pintu rumah Bagas, berharap Bunda sudah pulang. Tapi sayangnya, setelah beberapa kali mengetuk pintu, aku sama sekali belum dapat jawaban. Sampai seseorang memanggilku dari arah luar.
“Kamu ngapain, Dis? Lupa kalau rumahmu ada di sebelah?”
Aku hanya memutar bola mata, malas rasanya kalau harus menanggapi pertanyaan receh Ibu. Tanpa menjawab, aku keluar dari pekarangan rumah Bagas dan menghampiri Ibu yang sedang menyapu halaman.
“Kamu pulang sekolah, bawa pacar, terus amnesia?”
“Bu, Ladis lagi nggak pengen bercanda,” jawabku lempeng.
“Siapa yang lagi ngajak kamu bercanda?”
Astaga. Aku bisa benar-benar jadi anak durhaka kalau begini caranya.
“Bagas tadi nggak masuk sekolah, ini Saga teman sekelasnya Bagas,” ucapku menjelaskan.
“Ohh gitu, padahal Ibu udah bangga kalau kamu beneran punya pacar.” Ibu mengangguk-angguk, kemudian menaruh sapu lidi bergagang mirip sapu terbang Harry Potter itu ke pinggir halaman rumah, sebelum akhirnya menyuruh kami masuk.
“Lo duduk dulu aja, Ga. Gue mau ganti baju dulu.” Saga hanya mengangguk, sedangkan Ibu sudah sibuk sendiri di dapur.
Setelah mengganti seragam bulukku dengan kaus lengan pendek dan celana jins selutut, aku kembali ke ruang tamu. Kelihatannya, Saga sudah menceritakan semuanya ke Ibu. Karena begitu aku datang, Ibu sedang menelepon seseorang yang aku yakini adalah Bunda.
“Gimana, Bu?” tanyaku begitu Ibu menutup telepon.
“Bunda buru-buru berangkat ke kantor tadi pagi, nggak sadar kalau Bagas nggak ada di rumah. Parahnya, dia pikir Bagas nginap di sini semalam.”
Berapa kali pun aku mencoba mencerna ucapan Ibu, akhirnya tetap sama. Gue panik!
“Semalam Bagas pulang, Bu. Bagas nganterin Ladis, terus ....’
“Kamu tenang, ya? Kita cari Bagas sama-sama.” Aku mengangguk. Sedikit tenang mendengar ucapan Ibu.
Bagaimana bisa, si Bagas sampai tidak pulang ke rumahnya? Sebelumnya Bagas tidak pernah begini. Aku buru-buru bangkit dari sofa, menarik Saga untuk bergegas mencari Bagas. Sedangkan Ibu, melesat ke kamar Mas Tama kemudian mengetuk pintunya keras-keras.
“Ada apaan, sih, Bu?” Mas Tama dengan penampilan khas baru bangkit dari kubur keluar sembari menggaruk sarang ketombe di kepalanya.
“Antar Ibu ke kantor polisi.”
“Hah? Kenapa? Gimana? Siapa yang kemalingan?” Mas Tama kelabakan.
“Bagas hilang!”
“WHAT?!”
***