“Mermaid man barnekel boy mengerami telur~”
Ini masih sore, tapi waktu istirahatku sudah terganggu dengan nyanyian tidak merdu yang keluar dari mulut bau milik Bagas. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi di hari yang cerah dan indah ini, suara-suara Bagas yang sedang menonton spongebob di ruang tengah sudah menggelegar di seluruh rumah.
“Dis, tolong angkatin jemuran Ibu di belakang, sebentar lagi gelap!”
Aku hanya mengangguk, kemudian berjalan malas menuju teras belakang rumah. Dengan gerakan super lambat, aku mengangkat beberapa potong pakaian dan menaruhnya di keranjang. Sampai tiba-tiba tubuh bongsor Bagas sudah ada di hadapanku.
“Ngapain, sih?!”
Tidak menjawab, si Bagas hanya cengengesan sembari membantuku mengangkat jemuran Ibu. Kadang-kadang, makhluk yang satu ini memang susah ditebak. Tapi biar saja, lah! Aku terlalu malas untuk menafsirkan apa yang ada di pikiran Bagas. Lebih baik aku mengisi teka-teki silang di koran bekas ketimbang menerka-nerka jalan pikiran Bagas.
Selama beberapa menit, kami hanya saling diam. Aku yang sibuk merapikan gantungan pakaian, sedangkan si Bagas dengan cepat sudah mengangkat keranjang penuh pakaian itu ke dalam rumah. Sikapnya lagi benar-benar aneh. Tapi, bodo amat lah, yang penting pekerjaanku selesai lebih cepat.
“Dis, temenin gue bentar yuk,” ajaknya tiba-tiba, tepat setelah aku menginjakkan kaki di ruang tengah.
“Ke mana? Udah mau maghrib, nanti gue dimarahi Ibu,” jawabku asal.
“Ya abis maghrib kalo gitu.”
Aku hanya mengangkat bahu, mencoba tidak peduli dengan si Bagas. Sampai Mas Tama yang entah dari mana, pulang dan segera disusul Bagas ke kamarnya.
“Bu, si Bagas ngapain, sih?” tanyaku yang mulai risih dengan kelakuan Bagas.
“Apa, sih kamu? Kayak baru kenal Bagas aja.”
Setelahnya aku hanya bisa terdiam, tanpa banyak bertanya lagi. Lagipula kalau dipikir-pikir memang, Bagas sudah seperti kucing tetangga yang suka keluar masuk rumah tanpa sebab dan alasan yang jelas. Jadi kusimpulkan kalau pemikiran Ibu kurang lebih sama seperti yang kupikirkan.
***
Malam semakin larut. Atau, entahlah! Baru pukul sembilan malam, tapi aku sudah menguap berkali-kali. Sambil membuka-tutup room chat grup kelas, aku menatap pintu kamar Mas Tama yang tak kunjung terbuka sejak ia pulang. Mungkin si Bagas mau menginap malam ini.
Sekali lagi aku menguap. Sembari mematikan TV yang sejak tadi ngoceh sendiri, aku berjalan malas menuju kamar. Rasanya mau tidur saja, palingan si Bagas juga lupa kalau tadi dia mau mengajakku ke luar. Dan baru saja aku hendak membuka pintu kamar yang kalau di liat-liat sangat rombeng dan jelek, seseorang malah menarik lenganku.
“Ikut gue dulu bentar.” Bagas berkata pelan, matanya menatapku tajam.
“Udah malem, lo mau ajak gue ke mana?” tanyaku sambil menatap Bagas dengan kesal.
“Sebentar aja, cepet ambil jaket lo.”
Kalau sudah begini, tidak ada yang bisa kulakukan selain masuk ke kamar, mengambil jaket dan segera keluar menghampiri Bagas. Karena aku tahu betul, kalau sedang dalam mode menyebalkan begini, Bagas tidak akan bisa dibantah.
Malam ini Bagas keliatan sangat aneh. Bukan, bahkan sejak tadi sore makhluk ini sudah benar-benar aneh. Dan sekarang, di malam hari, dia mengajakku keluar tanpa tujuan yang jelas, plus tidak mengatakan apa pun selama perjalanan. Sumpah, aku bosan!
Sekilas, aku menatap Bagas yang sedang fokus menatap jalanan sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie buluk yang dia kenakan. Matanya menatap kosong ke arah jalanan yang mulai sepi. Aku baru sadar, kalau tadi memang sempat hujan sebentar, melihat jalanan aspal yang basah juga aroma petrikor yang masih tertinggal. Pantas saja Bagas tidak langsung mengajakku ke luar dan udaranya jadi terasa lumayan dingin.
Sambil terus berjalan mengekori Bagas, aku merapatkan jaket. Hingga tanpa sadar, si Bagas sudah berhenti di hadapanku.
“Lo ngapain ngajakin gue ke empang malem-malem?! Jangan bilang lo mau berenang!” Mendadak aku malah histeris.
Bukannya menjawab, Bagas malah kembali cengengesan dan melepas sebelah sendalnya kemudian mendudukinya. Dari sekian banyak rumus mengenai siklus keanehan Bagas yang teramat tidak jelas, ini adalah kasus yang paling aneh. Aneh banget malahan!
“Gas, lo jangan bikin gue takut.”
“Liat deh.” Tidak menghiraukan ucapanku, Bagas malah menunjukkan sisi tepian empang yang memancarkan cahaya kerlipan redup.
“Itu kunang-kunang?”
Bagas hanya mengangguk pelan. Di sini gelap, hanya ada cahaya redup lampu jalanan yang berpendar. Ditambah remang kerlip kunang-kunang yang terlihat indah. Tanpa bicara, aku duduk di samping Bagas, menikmati malam yang sunyi ditemani puluhan kunang-kunang dan beberapa pemancing yang sudah bersiap di sudut lain empang.
“Dis, gue pernah mikir random soal ....” Bagas menggantungkan ucapannya, membuatku sontak menatapnya lurus.
Tatapannya masih terarah ke tengah empang, tapi aku melihat senyum tipis di wajahnya yang buluk. “Mikir apaan?”
“Mikir, kenapa gue dilahirkan sebagai manusia?”
“Hah?! Random banget sih, najis!”
Bagas terkekeh pelan mendengar reaksiku. Dia menatapku sejenak, begitu intens dan dalam. Sebelum akhirnya berkata, “Kenapa gue nggak terlahir sebagai mermaid?”
WHAT?!
Refleks, aku segera bangkit dan berencana untuk pergi dari pinggiran empang yang mulai dipenuhi bapak-bapak pemancing. Tapi sialnya, si Bagas malah menahan lenganku. Sungguh, aku sudah malas kalau harus bertahan lebih lama lagi dengan ribuan nyamuk yang berdengung di telingaku dan juga kebegoan Bagas. Kalau memang dia mau jadi mermaid, kenapa tidak langsung nyebur aja?! Lama-lama aku bisa collaps menghadapi Bagas.
“Dengerin gue dulu, Dis,” ucapnya pelan “Mungkin kalau gue jadi mermaid, gue nggak perlu mikirin sekolah, nggak perlu belajar dan nggak perlu mikirin ... Ayah.”
Aku tidak bisa berkata apa pun saat itu. Wajah buluk Bagas yang samar terkena bias cahaya lampu sorot dari para pemancing dan beberapa kunang-kunang tadi, terlihat murung. Kalau sudah seperti ini, aku tahu sebab keanehan Bagas hari ini. Dia hanya merindukan ayahnya.
Biar kuceritakan sedikit kisah keluarga Bagas. Sejak kecil, aku sudah bertetangga dengan Bagas, aku sendiri tidak tahu kapan tepatnya, mungkin sejak lahir aku sudah bertetangga dengan Bagas. Aku yang saat itu masih terlalu kecil, banyak yang tidak kuingat soal ayahnya Bagas. Ibu bilang, ayah Bagas pergi jauh. Sangat jauh, sampai-sampai aku tidak boleh menanyakan perihal ini ke Bunda atau Bagas, karena takut mereka akan sedih nantinya.
Seiring berjalannya waktu, aku baru mengerti saat itu, saat di mana semua orang menangis tapi tidak dengan Bagas. Saat itu, saat ayahnya Bagas meninggal.
Perlahan aku kembali duduk di sebelah Bagas. Tidak mengatakan apa pun, hanya duduk di sana dan memastikan, kalau aku tidak ke mana-mana.
***