Bagas dan Saga

1554 Words
Di sekolah, ada puluhan ekskul, tapi tidak ada satu pun yang aku ikuti. Sebenarnya ada, sih, tapi kegiatannya tidak jelas, dan alhasil aku jadi hanya menumpang nama. Sedangkan si Bagas, dia itu ketua ekskul futsal di sekolah. Sejak semester lalu, Bagas masih menyandang status sebagai kapten tim futsal sekolahku, tapi jabatannya diturunkan menjadi pemain cadangan. Karena Bagas dengan kebegoannya, sukses mencetak gol tiga kali berturut-turut ke gawang sendiri. Sebolot-bolotnya orang, mungkin Bagas adalah manusia paling b***t yang pernah Tuhan ciptakan. Dan saat ini, di siang hari yang panas, si Bagas malah asyik main futsal bersama teman-temannya yang sama bolotnya. Aku yang masih menikmati waktu istirahat yang tinggal lima belas menit lagi hanya duduk tenang sembari menonton kebegoan Bagas yang kini malah joget t****k bareng Saga. Aku tidak pernah tahu, kalau Saga itu temannya Bagas, karena Bagas tidak pernah cerita dan aku terlalu tidak mau tahu. “Saya masih ting-ting dijamin masih ting-ting~ goyang, Gas!” Ternyata Saga sama begonya dengan Bagas. Itu sebabnya, aku tidak mau terlalu sering dekat-dekat Bagas, karena kebegoannya itu menular. Aku masih diam, sambil melihat Bagas yang kini sudah joget macam orang kesurupan. Seisi sekolah sudah menertawakan mereka, tapi aku masih sempat mendengar beberapa cewek yang justru memuji-muji Bagas. Serius, deh, kedua makhluk itu bahkan sangat tidak pantas disebut pelajar. Saga yang kini tengah berlari menggiring bola, hanya menggunakan seragam yang acak-acakan. Sangat berbeda dengan saat pertama kali aku bertemu dengannya di perpustakaan. Kancing seragamnya sudah terbuka semua, memperlihatkan kaus hitamnya yang sudah terurai kemana-mana. Kalau Bagas, jangan ditanya. Karena bocah laknat itu bahkan sudah melepas seragamnya entah di mana, menyisakan kaus dalam warna merah bertuliskan ‘I Love You Bunda’ yang dia beli saat hari ibu tahun lalu. Kenapa aku tahu? Karena sesungguhnya, aku yang membeli kaus itu, dan si Bagas hanya duduk manis di rumah sambil pasang tampang melas dan beralasan kalau kakinya masih sakit karena habis jatuh dari motor. Memang dasar makhluk laknat! Gue masih menonton kebegoan Bagas dengan khidmat, sampai tatapanku bertemu dengan Bagas. Dia nyengir lebar sekali, sebelum akhirnya berteriak keras. “HEY LADIS!” Buru-buru aku bangkit, masuk ke dalam kelas dan meninggalkan si beruk yang malah lanjut main futsal di lapangan. *** Siang ini panas terik sekali, ditambah kepala botak Pak Ri yang memantulkan cahaya matahari, membuatku dan seisi kelas terpapar terangnya cahaya ilahi. Si botak itu masih cuap-cuap di depan kelas, sedangkan aku sama sekali tidak bisa fokus. Berkat cuaca yang luar biasa panas ini, ditambah jam pulang sekolah yang hanya tinggal beberapa menit lagi, membuatku sama sekali tidak peduli pada apa pun yang diucapkan Pak Ri. Sampai ponselku sudah bergetar, menampilkan sebuah pesan dari si Bagas laknat. Tetangga: Pulang sama gue, Dis Tanpa menjawab, aku kembali memasukkan ponselku ke dalam saku. Sembari mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Pak Ri. Hingga suara merdu bel pulang sekolah sudah berbunyi, dan entah kapan si Bagas b***k keluar dari kelasnya, karena begitu Pak Ri keluar dari kelasku dia sudah masuk dengan gaya sok keren. Sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana, si bodoh itu tersenyum ke arahku. Dia pikir aku cabe-cabean alay yang akan mimisan hanya karena diberi senyuman begitu? Aku tidak selemah itu! Aku menghela napas pelan, kemudian bangkit setelah sebelumnya membereskan barang-barangku yang tercecer di atas meja. “Ra, gue balik duluan,” ucapku sembari menepuk pundak Tiara. “Hati-hati!” “Dadah Tia ….” Yang barusan itu Bagas. Dia melambaikan tangannya sambil merangkul pundakku, yang tentunya buru-buru kutepis. “Don't call me Tia!” Sebelum Tiara mengamuk, Bagas sudah lari keluar kelasku. Sudah kubilang kalau Bagas itu otaknya setengah, jadi mau Tiara mengomelinya berapa kali pun, Bagas dengan kebolotannya malah akan mengulangi kesalahan yang sama. Si Bagas masih tertawa girang karena habis dimarahi Tiara, kemudian dia menatapku lama. Lebih tajam dan intens dibanding biasanya, dan hal itu membuatku sangat tidak nyaman. “Apa? Kenapa? Mau bilang ada cabe di gigi gue?!” Sampe lo bilang gitu, mati lo! “Nggak, kok,” ucapnya pelan, tapi masih menatapku lurus. “Kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu.” Sampe bilang 'enggak tahu kalau besok' gue gundulin nih, anak orang! “Kalau lo ganteng, gue makin nggak cinta! Ahahahaha!” “Belom pernah dicium pake sepatu?!” “Bercanda doang, Dis.” Aku tidak menghiraukannya lagi, terserah orang gila itu mau apa. Aku berjalan cepat menuju parkiran, tapi sayangnya aku sudah dihadang oleh satu manusia b****k lagi. Meskipun penampilannya jauh lebih bersih dan rapi ketimbang Bagas, tapi aku tahu, jauh di dalam dirinya terdapat kegoblokan yang mendarah daging. “Hai, Dis!” sapanya, sambil tersenyum lebar. “Hai, Ga.” “Dis, pulang sama gue, yuk! Sekalian temenin gue ke toko buku dulu. Lo kosong, kan hari ini?” Aku diam sejenak. Maunya apa, sih? Dia mengajakku ke toko buku atau apa? “Hah? Apa?” “Ikut gue, ke toko buku,” jelasnya lagi, masih sambil tersenyum. “Ladis balik bareng gue.” Entah sejak kapan Bagas sudah berada di belakangku, karena belum sempat aku menjawab ucapan Saga, dia sudah menyerobot macam emak-emak naik motor matic di lampu merah. “Yaelah, Gas, lo, kan udah biasa nganterin Ladis. Gue pinjem Ladis, hari ini aja.” “Lo pikir Ladis barang yang bisa lo pinjem? Nggak! Ladis sama gue.” “Duh, kalian ngapain, sih?” Aku menarik Bagas yang sudah memasang badan di depanku. “Cuma ke toko buku doang, ayok gue temenin.” “Gue ikut kalau gitu.” Astaga. Kepalaku mendadak pening, dan sungguh, rasanya aku mau minum teh hangat. *** Kepalaku makin berdenyut. Aku menoleh ke belakang, entah untuk yang ke berapa kalinya si Bagas dan rekan kebobrokannya sedang membuka-buka plastik segel buku di toko. Ya ampun, tindakan ini sungguh tidak untuk ditiru. Aku sengaja memilih berdiri di dekat rak yang agak jauh dari mereka, supaya kalau ada petugas keamanan yang menangkap mereka, aku tidak akan ditanya-tanya. “Dis! Gue nemuin komik yang suka kita baca di rental waktu SD dulu!” Tiba-tiba Bagas menghampiriku sembari membawa sebuah komik. Iya, aku ingat komik itu. Komik dengan cover hitam bergambar hantu itu, adalah komik horor yang sering k****a di rental buku dekat sekolah SD kami dulu. Aku juga sudah lupa, ada berapa serinya karena belum sempat aku menyelesaikan bacaan itu, si Bagas malah membuat masalah. Dia menghilangkan salah satu komik, dan kami jadi tidak berani baca komik di rental itu lagi karena Bagas tidak mau mengganti komik yang hilang. Harusnya aku masih bisa pinjam komik, tapi aku yang waktu itu hanyalah bocah polos tanpa lumuran dosa, jadilah aku mengikuti si Bagas yang ketakutan tiap kali bertemu dengan si abang penjaga rental. “Kok masih ada, sih?” ucapku yang heran dengan keberadaan komik ini di toko buku. “Mungkin habis dicetak ulang.” Aku mengangguk mendengar ucapan Saga, sedangkan si Bagas sudah asyik sendiri membolak-balikkan halaman komik. “Lo udah nemu buku yang mau dibeli?” “Udah, nih!” jawabnya santai sembari menunjukkan buku berjudul ‘kumpulan resep mudah untuk pemula’ itu dengan wajah bahagia. “Buku resep?” Saga mengangguk, “Buat kakak perempuan gue yang baru nikah.” Aku mengangguk, kemudian mengikuti Saga menuju meja kasir. Setelah membayar, aku keluar mengikuti Saga, tanpa memedulikan Bagas yang saat ini entah di mana. Sampai kakiku berhenti di kedai kopi langgananku yang memang letaknya tidak jauh dari toko buku tadi. Aku segera masuk, bahkan sama sekali tidak menghiraukan Saga yang masih mengekoriku “Lo mau ngopi, Dis?” Aku menggeleng pelan, hanya mengangguk pada Bang Herman dan menunggu pesananku datang. Bang Herman itu pegawai tetap di kedai ini, dan saking seringnya aku dan Bagas kemari, kami sampai akrab dengan Bang Herman. “Gue mau menenangkan diri dulu, Ga. Kalau lo mau balik duluan nggak apa-apa.” “Gue juga mau ngopi bentar, lah.” Aku mengangguk pelan. Tak lama, pesananku datang. Segelas teh pappermint panas sudah tersaji cantik di hadapanku. “Tumben kaga sama si Bagas?” ucap Bang Herman sambil nyengir penuh arti. Aku sama sekali tidak mengerti maksud senyuman Bang Herman, karena belum sempat aku menjawab, si Bagas dengan barbarnya membuka pintu kedai begitu saja. “Bang Herman, kopi item satu!” “Siap, Gas!” Aku hanya memutar bola mata, sembari menghirup dalam-dalam aroma segar dari cangkir teh  pappermint yang kupesan.   “Lo masih aja doyan teh abal-abal itu,” ucap Bagas yang entah sejak kapan sudah ada di hadapanku. Saga hanya diam saja, sesekali menyeruput kopi s**u di cangkirnya sambil memakan rengginang yang memang ada di kedai. “Lidah lo yang abal-abal!” “Alah teh rasa odol begitu.” Tenang, Ladis ... tenang .... “Emang itu rasa odol?” tanya Saga tiba-tiba. “Iya, itu teh pepsodent bukan teh pappermint." Lagi-lagi si Bagas memprovokasi. Aku bukannya mendapat ketenangan, tapi yang ada malah makin emosi. Bagas dan lidah gembelnya memang selalu membuatku keki. Untungnya Bang Herman sudah tahu betul kelakuan norak Bagas, kalau tidak, aku akan memilih pergi jauh-jauh dan teriak kalau manusia itu bukan temanku. Karena sesungguhnya Bagas memang bukan temanku! Si Bagas masih menertawakanku, dan dengan tingkat kebodohan yang setara, Saga juga ikut-ikutan tertawa bersama si b**o Bagas. Aku menyeruput teh di cangkirku untuk yang terakhir kalinya sebelum memutuskan untuk pulang. “Gue balik duluan, Ga. Salam buat kakak lo,” ucapku kemudian buru-buru keluar ruangan. Terlalu lama bersama mereka berdua, yang ada malah membuatku terkena tekanan darah tinggi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD