Sejak kejadian di kantin, Bagas masih terus mengikutiku ke mana-mana persis anak kucing yang kehilangan induk, dan sungguh, itu membuatku kesal!
Satu minggu sudah aku menghindari Bagas, sumpah itu sangat melelahkan. Untungnya, urat saraf baiknya Mas Tama sedang geser, makanya dia mau-mau saja saat aku meminta untuk diantar atau jemput sekolah, jadi aku tidak perlu repot-repot. Dan saat ini, Bagas masih mengekor di belakangku. Entah kenapa, makin hari penampilannya makin mengerikan. Seragamnya yang berantakan, terlihat kusut dan tidak terawat. Belum lagi dengan kantung mata, dan juga rambut kusut yang ... aku sendiri bingung bagaimana mendeskripsikannya. Kesimpulannya, Bagas persis gembel.
Aku yang terlalu muak dengan kehadiran Bagas, kemudian memutar tubuh dan menatapnya lurus. Di tempatnya, Bagas balik menatapku. Tatapannya sayu, macam orang yang tidak tidur tiga hari dan tidak makan dua bulan. Bagas persis gembel yang kekurangan gizi.
“Maju selangkah lo mati!” ucapku sembari mengacungkan telunjuk ke arah Bagas.
“Ladis ....”
“STOP!” Tidak menghiraukan ucapanku, Bagas malah semakin mendekat. “GUE BILANG STOP! LO b***k APA GIMANA?!”
“Maafin Bagas, Ladis.”
Aku tidak menjawab, hanya berbalik dan bergegas meninggalkan Bagas. Sampai tangannya tiba-tiba menahan lenganku. Refleks, aku menepis tangannya dan menamparnya keras.
“Jangan sentuh gue, jangan panggil gue, jangan ikutin gue! Harusnya lo ngerti kalau lo masih punya otak!” ucapku penuh penekanan.
Setelahnya aku buru-buru pergi, sembunyi di dalam kelas. Karena berkat Bagas dan kebolotannya, lagi-lagi dia sukses menjadikanku topik terhangat untuk diperbincangkan di sekolah sekaligus sukses membuatku menjadi orang jahat.
***
Hari ini Bagas tidak masuk, dan aku berhasil jadi tersangka utama yang menjadi kambing hitam perihal Bagas yang tiba-tiba absen. Padahal, sungguh, aku tidak tahu menahu.
“Dis, si Bagas lo tabok sampe nggak masuk sekolah,” ucap Tiara sambil menyikut lenganku. “Lo punya ilmu hitam, atau lo naboknya pakai tenaga dalam?”
Aku sama sekali tidak menghiraukan Tiara yang kini malah makin girang menertawakanku. Kepalaku sudah cukup pusing karena mendengar gosip-gosip miring yang tersebar di sekolah, dan sekarang Tiara dengan jokes recehnya malah mengganggu ketenanganku. Tadi pagi saja, aku sudah dilabrak oleh cewek-cewek centil penunggu toilet. Mereka bilang kalau aku itu selain sudah merebut Bagas, juga sudah mencelakai Bagas. Padahal sungguh, aku tidak tahu apa-apa!
Rasanya aku ingin teriak, tapi sebisa mungkin aku menahannya. Pulang sekolah nanti, akan kuteriakkan seluruh kekesalanku di depan muka Bagas.
***
Aku tidak pernah membayangkan, kalau di siang hari yang terik seperti ini aku harus berjalan kaki hanya untuk menjenguk Bagas. Bukan menjenguk, sih, lebih tepatnya aku mau ngomel ke Bagas. Berkat kebegoannya, aku yang baik hati ini malah tampak seperti orang jahat. Setelah mampir ke mini market untuk membeli biskuit murah, aku bergegas menuju rumah Bagas.
Aku bukannya pelit, perhitungan, atau apa. Hanya saja, Bagas dan perut kampungannya memang tidak bisa diberi makanan enak, apalagi makanan mahal. Jadi daripada aku membuang uang untuk membeli biskuit yang agak mahal, lebih baik aku beli yang murah sekalian. Selain bisa menghemat, Bagas juga pasti akan memakannya dengan perut yang lapang dan hati gembira.
Begitu sampai rumah Bagas, aku langsung masuk. Bunda–ibunya Bagas–yang membukakan pintu.
“Eh, Ladis,” ucapnya sambil tersenyum ramah.
“Bagas sakit apaan Bunda? Cacingan atau tetanus?” ucapku asal, setelah mencium tangan Bunda.
“Bagas demam. Tiga hari lalu, Bunda pergi ke Bogor, terus semalam pas Bunda pulang, si Bagas juga pulang-pulang basah kuyup. Bunda nggak tau dia hujan-hujanan di mana, Bagas cuma bilang habis dari pos ronda, dan alhasil dia demam pagi ini,” jelas Bunda masih sambil sibuk memasak sesuatu di dapur.
“Yaudah, Ladis liat Bagas dulu, ya, Bun.”
Bunda hanya mengangguk, membiarkanku melesat ke kamar Bagas. Kalau Bunda tidak cerita, aku tidak pernah tahu kalau semalam itu hujan. Karena sehabis mengerjakan tugas, aku langsung tidur. Pikiranku tiba-tiba malah mengarah ke perkataan Bagas tempo hari. Ah! Mana mungkin si Bagas berdiri di depan kamarku sambil hujan-hujanan. Mustahil kalau tingkat kebodohan Bagas sampai ke taraf itu.
Tidak mau memikirkan hal konyol itu lebih lanjut, aku bergegas masuk ke kamar Bagas. Aku memang terbiasa tidak mengetuk pintu, Bagas juga tidak pernah mengunci pintu kamarnya yang sudah ditempeli ribuan stiker F-1 itu.
Hening, tidak seperti biasanya. Bagas berbaring lemah di atas kasur, dibalut selimut yang menutupi tubuhnya sampai batas dagu. Sepertinya makhluk abal-abal ini benar-benar sakit.
“Ladisha ....”
Lihat saja, saking banyaknya dosa dia padaku, sampai-sampai ngelindur saja dia juga menyebut namaku. Dengan cepat, aku merogoh kantung plastik mini market yang sejak tadi kubawa dan mengeluarkan selembar plester kompres, lalu kutempelkan di dahi Bagas. Tidak langsung bereaksi, si Bagas malah menggeliat macam cacing kepanasan sebelum akhirnya berteriak heboh.
“Aduh! Dingin Bunda!”
“Dingin udelmu! Bagun!”
Mendengar suaraku, Bagas segera bangun dan duduk di ranjangnya. Dia menatapku lama, sebelum akhirnya mulai bicara.
“Ladisha ... maafin Bagas.”
Aku menghela napas pelan, niat awalku yang mau mengomel di depan wajah Bagas, seketika musnah. Mukanya memelas, dengan plester kompres yang masih menempel di dahinya, Bagas sukses membuatku tidak tega.
“Bagas, makan dulu. Bunda sudah buatkan bubur.”
Aku bangkit, kemudian mengambil semangkuk bubur dari tangan Bunda. “Biar Ladis aja, Bun.”
“Tolong, ya, Dis.”
“Iya, Bun.”
Kemudian Bunda pergi, meninggalkan aku dan Bagas dalam keheningan. Masih belum bicara, aku hanya menyuapi Bagas yang saat ini jadi persis bayi. Dia juga tidak bicara apa pun, hanya membuka mulutnya lebar-lebar saat aku menyodorkan sesendok penuh bubur ke mulutnya.
“Udah, Dis. Bagas kenyang.”
Aku mengangguk, kemudian melempar biskuit murahan yang tadi kubeli di mini market. “Makan, nih!”
“Bagas udah kenyang, Ladis,” ucapnya pelan.
“Yaudah, kan bisa buat nanti.”
Hening lagi. Sampai kemudian Bagas mendekat ke arah meja belajarnya dan mengambil sebuah kotak kecil yang entah apa isinya. Aku hanya diam sembari memerhatikan Bagas yang kini sudah membuka kotak itu.
“Ini tabungan Bagas, mungkin nggak seberapa, tapi cukup buat beli ponsel baru,” ucapnya sambil memberikan kotak kecil itu kepadaku.
“Nggak perlu.”
“Tapi ponsel Ladis rusak gara-gara Bagas.”
“Gue nggak pernah minta lo buat ganti,” ucapku sembari menaruh mangkuk di nakas. “Dan juga, stop sebut diri lo Bagas! Gue jijik dengarnya!”
“Ladis masih marah?”
“Nggak.”
“Kalau gitu ... Ladis udah maafin Bagas?”
“Hmm ....”
Aku hanya menggumam pelan, sembari berjalan ke arah pojok ruangan untuk menyalakan radio. Ruangan ini terlalu sepi, dan rasanya aneh sekali karena biasanya Bagas selalu menyetel lagu-lagu lama atau paling tidak dangdutan. Sampai aku merasakan ada benda berat yang menggelayut di pundakku.
“Bagas nggak akan bikin Ladis marah lagi.”
Bagas bicara pelan, tapi terdengar sangat jelas karena dia bicara tepat di telingaku. Aku yang sedikit terkejut dengan Bagas yang tiba-tiba memelukku, buru-buru berbalik dan menatap Bagas lurus.
“Lo mau gue tabok lagi?”
“Eh, jangan! Yang kemarin aja masih terasa. Sakitnya nusuk sampai ke hati,” ucapnya hiperbolis.
“Makanya jangan dekat-dekat! Lo mau gue ketularan demam?!”
Bagas hanya menggeleng, kemudian kembali duduk di kasurnya. Aku ikutan duduk di kursi belajarnya Bagas, sembari menikmati lagu pemuja rahasia milik Sheila On 7 yang baru saja kuputar. Sesekali, aku memerhatikan kamar Bagas yang tidak rapi, juga tidak berantakan.
Kamarnya Bagas lebih besar dibandingkan kamarku, dia punya lemari besar di sudut paling kanan dan meja belajar di bagian kirinya. Kasurnya ada di tengah-tengah, dan sebuah jendela kecil di dekat meja belajar. Bagas punya radio beserta speakernya yang dia taruh di pojokkan dekat pintu. Kamarnya dicat warna ungu, kata Bagas itu bukan warna kesukaan Mbak Mirah, bukan warna kesukaanku juga, tapi itu warna kesukaan Bunda, makanya kamarnya dicat warna ungu. Aneh memang, tapi kalau tidak begitu, bukan Bagas namanya.
Aku beranjak begitu lagu selesai. Bagas kelihatan bingung, jadi aku sekalian pamit saja.
“Gue pulang, lo istirahat.” Bagas hanya mengangguk-angguk, kemudian aku benar-benar pergi.
Di luar, Bunda sedang santai duduk di ruang tengah sembari menonton sinetron. Melihatku yang baru saja keluar dari kamar Bagas, Bunda menyapaku.
“Udah mau pulang, Dis?”
“Iya, Bun, udah sore,” jawabku.
“Nggak mau makan dulu? Makan dulu lah, Bunda udah masak tuh.”
“Nggak usah Bunda, Ladis makan di rumah aja.”
“Yaudah kalau gitu, makasih ya Ladis udah nengokin Bagas.”
Aku hanya mengangguk, kemudian benar-benar pulang. Begitu sampai, aku buru-buru mandi dan mengerjakan tugas. Sampai tiba-tiba saja, ponselku yang sudah tidak berbentuk itu berkedip. Sedih sebenarnya tiap kali aku menatap ponsel itu, tapi aku juga belum berani bilang ke Bapak, apalagi minta dibelikan ponsel baru. Aku memeriksa ponsel sejenak, nama Bagas dengan profile picture gelas bekas air mineral sudah menghiasi ponselku.
Setelah kuabaikan ribuan pesan dan telepon dari Bagas, sepertinya kali ini aku harus menjawab panggilannya. Bukannya aku kasihan atau apa, aku hanya takut Bagas makin sakit dan kejiwaannya yang sudah terganggu itu malah makin parah. Kasihan Bunda yang harus mengurus Bagas sendirian. Bagas itu anak tunggal, dia hanya tinggal bersama Bunda setelah ayahnya meninggal waktu aku dan Bagas berusia lima tahun karena penyakit hipertensi. Waktu itu, aku yang masih terlalu kecil belum mengerti apa pun soal konsep kehilangan, tapi aku tetap menangis saat melihat orang-orang menangis. Tapi tidak dengan Bagas. Dia sama sekali tidak menangis waktu itu, dan sampai sekarang pun Bagas tidak pernah menangis saat hari peringatan kematian ayahnya, atau hari apa pun. Atau mungkin, dia hanya tidak menunjukkannya di hadapanku. Aku juga tidak tahu.
“Halo?” ucapku.
"Ladis lagi apa?"
“Bikin tugas,” jawabku singkat.
"Sama, dong! Bagas juga lagi bikin tugas Bahasa Inggris."
“Oh.”
"Ladis tau, nggak? Bahasa inggrisnya kucing apa?"
"Cat"
"Kalau bahasa inggrisnya ikan?"
“Fish. Udah, deh, Gas, lo kan punya kamus, atau nggak pakai google translate aja! Lo ganggu waktu belajar gue!”
“Eh, bentar! Satu lagi Ladis! Bahasa Inggrisnya aku rindu kamu, apa?”
Aku diam sejenak, perasaanku mendadak tidak enak.
"I miss you," jawabku sekenanya.
"I miss you too."
TUTT ....
Aku menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Ingin rasanya aku mengambil gunting rumput di gudang, kemudian menggunduli Bagas saat ini juga, tapi tugas matematika laknat ini masih menungguku. Jadi, dengan kesabaran yang sudah tipis sekali, aku mencoba mengerjakan soal-soal infers yang ribetnya melebihi emak-emak.
Ponselku berkedip lagi, kali ini aku sama sekali tidak menghiraukannya. Biarkan saja si Bagas dengan penyakitnya yang semakin parah. Aku hanya tidak mau tertular gila karena terlalu sering bergaul dengan Bagas.
***