16. Memeluk Bumi Erat

1020 Words
Benar apa yang Reswara pikirkan. Gadis itu melihat Mintaka keluar dari ruangannya dengan terburu-buru. Sangking terburu-burunya, pria itu hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. "Makanya, Pak Min. Ada bidadari yang mau ngajakin kencan malah pake acara penghindar," celetuk Reswara membuat pria itu terlonjak kaget. "Astaga, Res! Kamu ngapain di sini? Ngaget-ngagetin orang aja," keluh Mintaka sambil menyentuh dadanya. "Saya di sini karena mau kencan sama Pak Min," jawab gadis cantik itu. "Jangan bercanda, Res!" protes Mintaka. Reswara menghela nafas keras. "Lagi-lagi saya dikira bercanda. Kapan, sih, Pak Min mau percaya sama saya?" ujar Reswara kecewa. Sejak awal, Mintaka tidak pernah mempercayai ucapannya. Baik itu tentang kekurangannya maupun tentang perasaannya. Pria itu selalu menganggap dirinya sebagai candaan. "Kapan-kapan." Mintaka langsung melangkah ke depan untuk melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Sayangnya, Reswara tidak menyerah begitu saja. Gadis itu mengejar dan mensejajarkan langkahnya. "Kita jadi kencan 'kan, Pak Min?" tanya gadis cantik itu. Mintaka belum menjawab pertanyaannya, jadi ia akan terus menanyakannya. Berharap lidah guru BK itu keseleo dan mau pergi kencan dengannya. "Tidak bisa. Kamu itu murid saya dan saya guru kamu. Jadi, di antara kita tidak boleh ada hubungan," tolak Mintaka tegas. "Berarti kalo saya bukan murid Pak Min, apa Pak Min mau menjalin hubungan dengan saya?" Manik mata Reswara berbinar setelah mendengar ucapan Mintaka. "Astaga! Sepertinya aku sudah salah bicara," batin Mintaka menyadari kesalahan dalam ucapannya. Tentu saja Reswara akan salah paham dan mengartikan ucapannya yang bukan-bukan. Hal itu terjadi karena kata-katanya tertuju pada apa yang Reswara artikan. "Tidak juga," balas Mintaka sambil menggelengkan kepalanya. Ia berusaha sedatar mungkin seolah ia tidak mengatakan apa-apa. "Kenapa tidak? Bukankah dari kata-kata Pak Min sebelumnya, mengartikan bahwa Pak Min mau menjalin hubungan dengan saya, jika saya bukan murid Pak Min? Kalau benar begitu, saya bisa pindah dari sekolah ini asalkan kita bisa menjalin hubungan." Reswara meremas jemarinya penuh harap. Jantungnya berdegup kencang tidak sabar ingin mendengar jawaban atas pertanyaan yang telah ia lontarkan. "Bukan seperti itu maksud saya," sahut Mintaka sambil menggertakkan giginya. "Terus maksud Pak Min apa?" tanya Reswara bingung. Sudah jelas-jelas Mintaka berkata seperti itu, tetapi masih berusaha mengelak. "Ah, sudahlah. Lebih baik kamu berhenti mengikuti saya karena saya mau pulang," balas Mintaka sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Mintaka mempercepat langkahnya dan setelah sampai di parkiran, pria itu langsung menaiki sepeda motornya. Baru mau memakai helm dan memencet tombol starter, ia mendengar suara Bumi memanggil Reswara. "Res?" panggil Bumi. Reswara menoleh ke belakang dan bertanya, "Kenapa, Mi?" "Aku punya sesuatu buat kamu," sahut pemuda itu. "Sesuatu apa?" tanya Reswara mengerutkan keningnya. "Ada deh. Pokoknya kamu ikut aku dulu karena sesuatu itu ada di suatu tempat," jelas Bumi. "Jangan bikin aku penasaran dong, Mimi peri," kata Reswara sambil mengedip-ngedipkan matanya. "Mimi peri apaan?" tanya Bumi polos. Pemuda itu sama sekali tidak tahu bahwa Mimi peri adalah sosok yang pernah viral di sosial media. Jika ia tahu, mungkin ia akan langsung marah besar. Akan tetapi, tidak dengan Reswara dan orang lain. Gadis itu berusaha menahan tawanya karena takut Bumi akan marah. "Bukan, bukan apa-apa," balas Reswara menggeleng cepat sambil menahan senyumnya. "Jangan bohong! Aku tahu pasti kamu sedang mempermainkan aku. Iya, 'kan?" ujar Bumi menuduh. Tentu saja tuduhannya sangat benar seratus persen. "Siapa juga yang bohong." Reswara mengelak sambil melangkah. Ia menatap Mintaka sekilas dan menemukan sebuah ide cemerlang, "Kalo iya, emangnya kenapa?" imbuhnya sambil menjulurkan lidahnya. Bumi yang penasaran dengan arti kata Mimi peri membuatnya berlari mengejar Reswara. "Awas kamu, ya!" Bumi tersenyum menyeringai. Reswara berlarian dan Bumi pun tidak menyerah dan terus mengejar. Mereka berlari berputar-putar seperti anak kecil. Bahkan Reswara sengaja berlari ke arah parkiran mendekat ke arah Mintaka yang sedang memperhatikannya. "Kena kamu," kata Bumi sambil menggenggam tangan Reswara "Oke-oke, aku ngaku. Aku emang sengaja ngolok-ngolok kamu," aku Reswara. "Aku tahu. Ya udah, yuk!" ajak Bumi bersemangat. Sebelumnya, ia mendengar percakapan Reswara dan Mintaka ketika meninggalkannya di saung. Ia berharap Mintaka akan menolak dan ia yang akan menggantikannya. "Mau ke mana?" tanya Reswara sambil mengerutkan keningnya. "Ke suatu tempat. 'Kan tadi aku bilang mau kasih sesuatu buat kamu," sahut Bumi sambil melangkah beberapa langkah ke depan. Pemuda itu menyentuh motor balap berwarna merah dan mengambil helm wanita. Ia bergegas memakaikannya di kepala Reswara. Aksinya kali ini benar-benar romantis. Entah sejak kapan pemuda itu membawa helm lain ke sekolah. "Ini helm siapa, Mi?" tanya Reswara mengangkat pandangan menatap Bumi. Mendengar pertanyaan gadis itu, Bumi pun lekas menunduk. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Reswara. Apalagi jaraknya yang sangat-sangat dekat. Mungkin hanya sekitar tujuh atau delapan sentimeter saja. "Helm kamu," sahut Bumi singkat sambil menjauhkan kepalanya. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Apalagi melihat bibir merah Reswara membuat jantungnya berdegup kencang. Rasanya ingin mengecupnya meski dalam hitungan detik. "Sejak kapan aku punya helm? Kalopun punya juga di rumahku sendiri. Atau jangan-jangan ini helm pacar kamu?" Reswara menggaruk lehernya bingung. Ia memang memiliki helm yang biasa digunakan ketika menggunakan motor bersama adiknya, tetapi tidak di sini. "Aku mana punya pacar?" Bumi mengetuk helm di kepala Reswara, "Aku sengaja beli helm ini buat kamu," imbuhnya. Kemudian, ia berbalik untuk mengambil helm miliknya dan memakainya untuk dirinya sendiri. Reswara hanya terdiam kikuk. Ia tidak tahu dengan alasan apa yang membuat Bumi membelikan helm untuknya. "Ayo naik!" kata Bumi setelah ia naik ke motornya. Mendengar ucapan Bumi, sontak Reswara langsung menyentuh bahu pemuda itu dan naik ke motor. Posisi duduk motor balap cocok sekali untuk Bumi yang sedang proses pendekatan. "Pegangan, ntar kamu jatoh." Bumi menarik tangan Reswara dan menempelkannya ke perutnya. "Ah, iya." Reswara cukup terkejut dengan sikap Bumi. Kemudian, ia menoleh ke belakang dan masih mendapati Mintaka ada di sana. "Aku pengen tahu gimana reaksi Pak Min setelah liat aku meluk Mimi," batin Reswara sambil memeluk Bumi erat. Sang empu cukup terkejut, tetapi langsung bersikap biasa-biasa saja. Padahal dalam hatinya langsung muncul bunga di musim semi yang bermekaran. Ia berdehem sekedar ingin memusnahkan kegembiraan di hatinya. "Kita jalan sekarang ya, Res," izin Bumi. "Oke," balas Reswara bersemangat. Bumi langsung mengemudikan motornya dan mulai keluar area parkiran. Sedangkan Reswara tidak berniat untuk melepaskan pelukannya. Ia melirik ke arah Mintaka sambil tersenyum. "Mereka mau ke mana? Kenapa juga Res pake peluk-peluk Bumi," lirih Mintaka bertanya-tanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD