"Kondisi Nona baik-baik saja, hanya kelelahan saja. Hari ini tolong istirahat total ya..." ucap sang dokter yang di angguki oleh Vania.
Vania terdiam di atas tempat tidur king sizenya. Dirinya masih belum mengerti dengan apa yang telah terjadi padanya. Ia tatap luka yang ada di tangannya. Vania begitu jelas mengingat saat Riko menggoreskan luka pada lengannya.
Kepalanya kembali sakit, telinganya kembali berdengung. Potongan-potongan ingatan itu masuk ke dalam memorinya.
"Argh sialan!" Geramnya, yang memegang kepala.
Vanya datang kembali pada sang kaka, untuk melihat kondisinya. "Ka minum obat ya? Kaka harus sehat, pernikahan kita dua hari lagi," ucapnya sambil memberikan obat pada Vania.
Vania segera meneguk obatnya, ia butuh waktu sendiri untuk mencerna apa yang terjadi padanya. Tidak mungkin dia menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Jelas tidak akan ada yang percaya padanya.
Ia harus menemukan bukti, tentang apa gang terjadi pada dirinya. "Ya udah kaka istirahat dulu ya. Kalau ada apa-apa panggil saja Bibi," jelas Vanya.
Vania tersenyum sambil mengangguk patuh, adiknya ini benar-benar perhatian sekali padanya. Vanya keluar dari kamarnya, Vania menatap ke arah jendela, tampak di luar sana hujan deras yang di sertai petir yang menggelegar di langit.
"Kenapa aku ada di sini?" gumamnya.
Perlahan ia menggerakkan tubuhnya, matanya menoleh ke arah nakas tempat di mana ponselnya berada. Ponselnya pun berubah, masih yang dulu saat ia belum menikah dengan Evan.
"Ponsel ini." Vania membuka ponselnya, ia lihat tanggal, bulan dan tahun, 4 Desember 2023.
"2023? Harusnya sekarang tahun 2025. Dua tahun yang lalu?" Vania beranjak dari tempat tidurnya.
Ia kembali mencari buku hariannya, membuka laci meja kerjanya. Dan akhirnya buku hariannya ketemu. Terakhir dia menulis tentang perselingkuhan Riko di tahun 2025. Vania terus membuka lembaran demi lembarannya.
Tulisannya tertata rapih lengkap dengan tanggal dan waktu yang dia tulis. Sebelah tangannya menutup mulutnya, matanya melebar sempurna. Ia menemukan sebuah tulisan di tahun 2024.
Beberapa lembar dia melihat apa yang dia tuliskan. Semua sama persis dengan apa yang telah dia lewati. Tangan Vania mempercepat membuka lembaran selanjutnya. Semua tertulis sampai hari di mana dia memergoki perselingkuhan Riko di tanggal '29 November 2025.'
Langkah Vania mundur, ia berpegang pada kursi kerjanya. Ia duduk dengan perasaan yang tidak dapat di artikan. "Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Buku ini?"
Vania masih belum bisa mencerna apa yang terjadi padanya. Semuanya, luka yang ada di tangannya, buku hariannya yang tertulis rapih hingga tahun 2025.
Kepalanya kembali terasa sakit, ia raih segelas air yang yang ada di mejanya. Ia teguk air yang ada di dalam gelas itu hingga tandas. Menarik napasnya dalam-dalam, ia meraih ponselnya kembali. Vania membuka Google untuk mencari tahu apa yang terjadi padanya.
Di dalam layar ponselnya, keluar sebuah kata 'Reinkarnasi'. Kening Vania mengernyit, sebuah kata yang begitu asing baginya. Bahkan tidak pernah ia terbesit selama dalam hidupnya tentang reinkarnasi.
Vania semakin pusing dengan apa yang telah dia alami. Ia simpan ponselnya, dan beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju lemari bukunya mencari sesuatu yang bisa ia dapatkan. Dan anehnya ia menemukan sebuah buku, yang asing baginya.
Buku dengan cover berwarna putih, yang tampak lusuh, ada di lemari bukunya. Vania mengambil buku tersebut, ia baca judul sampulnya. Lagi-lagi matanya terbelalak saat mendapati judul 'Reinkarnasi'.
Seolah semesta sedang memberi tahu Vania apa yang dia alami. Vania membuka buku tersebut, ia duduk di meja kerjanya. Membuka lembar demi lembar buku tersebut. Vania membaca keterangan yang ada di buku itu.
"Definisi Reinkarnasi, juga dikenal sebagai kelahiran kembali, adalah keyakinan bahwa esensi non-fisik dari makhluk hidup (seperti jiwa atau kesadaran) memulai kehidupan baru dalam tubuh atau bentuk fisik yang berbeda atau sama setelah kematian biologis."
Vania mengusap wajahnya kasar, dirinya sendiri saja belum percaya kalau ia mengalami hal tersebut. Pada siapa Vania harus bercerita?
Ia teringat permintaan terakhirnya saat Riko menembaknya. Meminta dirinya hidup kembali untuk menyelamatkan adiknya.
"Apa Tuhan mengabulkan permintaanku?" gumamnya dengan tatapan bingung. Ia membasahi bibirnya dengan lidah, memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Menyalakan shower dan membasahi tubuhnya yang mulus. Vania mengusap kepalanya, matanya terpejam, otaknya terus berpikir, apa yang harus dia lakukan untuk kali ini.
"Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak boleh gagal pada kesempatan ini." Vania mematikan shower kamar mandinya, memakai bathdrobe putih lalu keluar menuju wardrobe miliknya.
Ia tatap dirinya di balik cermin yang besar, ia berjalan melangkah mendekat. Sebelah tangannya terulur memegangi bayangannya di balik cermin. Tatapannya seketika tertuju pada luka goresan yang ada di tangan kirinya.
"Aku hidup kembali. Tunggu pembalasanku Riko!"
Terdengar suara ketukan pintu, Vania pun langsung menoleh ke arahnya. "Masuk!"
Tampak seorang wanita paruh baya dengan seragam hitam putih masuk ke dalam kamar Vania.
"Permisi nona, saya hanya akan mengingatkan kalau nanti akan ada acara makan malam, dengan keluarga calon suami nona dan nona Vanya."
Vania hanya mengangguk pelan, tanpa menjawab. "Kalau begitu saya permisi nona," pamit sang pelayan.
Vania langsung bersiap-siap, untuk menyambut kedatangan mereka malam ini. Memilih dress hitam dengan panjang selutut. Vania memilih untuk menyanggul rambut dengan ala messy bun, dan dengan sedikit polesan makeup tipis di wajahnya.
Jam sudah menuju pukul 19.00 malam, Vania kini sudah siap. Ia berjalan menuju pintu kamarnya dan membuka handle pintunya tersebut. Tampak suasana rumah sedang ramai, semua masih tampak terlihat sama seperti 2 tahun yang lalu.
Vania mulai melangkahkan kakinya menuju anak tangga rumahnya. Namun, sebelum dia menginjak anak tangga tersebut, namanya di panggil oleh seorang wanita paruh baya yang masih tampak sangat cantik.
"Vania ..."
Ia pun menoleh, dan mendapati ibunya Rena berjalan mendekatinya. "Mamah..."
"Kamu sudah baikan? Mama dengar tadi kamu pingsan sayang," ucap Rena mengecek suhu tubuh anaknya.
Vania tersenyum pada ibunya, "Aku baik-baik saja mah, tidak usah khawatir. Hanya kelelahan saja," ucap Vania dengan lembut.
"Syukurlah, kalau begitu ayo ke bawah bersama," ajaknya.
Dua wanita beda generasi itu pun menuruni anak tangga bersama. Tampak di ruang tengah beberapa anggota keluarga sudah berkumpul, begitupun dengan Vanya yang sudah duduk manis di salah satu sofa.
Vania duduk di samping Vanya, wanita itu menoleh ke arah kakanya. "Kau cantik sekali," pujinya.
"You too."
Mereka berdua saling membalas senyuman. Tidak lama datanglah ke dua calon suami mereka, dengan ke dua orang tua masing-masing.
Vania dan Vanya menyambut dengan hangat. Berbincang-bincang sedikit, dan lanjut ke sesi makan malam.
"Kalau begitu mari kita ruang makan," ajak Damar ayah dari Vania dan Vanya.
Mereka pun menuju meja makan yang telah di sediakan. Duduk dengan rapi, dan ada sedikit obrolan saat itu.
Vania menatap ke arah Riko, dan ternyata pria b******k itu sedang menatapnya dengan wajah menggoda.
"Sialan!" batinnya.
Vania meletakkan sendok dan garpu Miliknya, ia tatap ayahnya dengan lekat. "Pah, ada yang ingin Vania bicarakan," ucapnya.
Semua yang ada di sana menatap dan berhenti. Kini Vania menjadi pusat perhatian.
"Bicara saja sayang? Apa ini soal pernikahanmu besok?"
Vania langsung menganggukkan kepalanya. "Iya pah, ini tentang pernikahanku dan juga Vanya."
Vanya yang mendengar itu menaikkan sebelah alisnya. Tatapan fokus pada Vania. "Oh, ada apa katakan saja Vania."
"Aku ingin bertukar pasangan dengan Vanya."
"Apa?"