"Apa? Kau bilang apa?"
"Aku ingin menikah dengan Riko." Tatapannya langsung tertuju pada Riko. Pria itu tampak terkejut dengan pernyataan Vania, wanita yang terkenal dengan sikap dinginnya, ingin menikah dengannya.
"Van, kamu gila? Mana mungkin kalian berganti pasangan?" timpal Rena.
"Apanya yang tidak mungkin? Pernikahan kami jatuh di tanggal yang sama, di dalam gedung yang sama. Hanya berbeda ruangan saja bukan?" ucap Vania.
"Maksud Kaka apa sih?" sanggah Vanya yang terlihat tidak setuju dengan permintaan Vania.
Bagaimanapun sebenarnya Vanya sudah menyukai Riko jauh-jauh hari. Bisa menikah dengan pria mapan dan tampan seperti Riko. Walau demi pernikahan bisnis, tapi Vanya sama sekali tidak keberatan.
Demi menjadi istri Riko, Vanya sangat menurut pada Riko. Apa yang di katakan padanya, akan Vanya turuti. Tapi sayangnya, Riko yang mendapatkan Vanya wanita si penurut, membuat dirinya bosan dengan Vanya . Seolah dia tidak mendapatkan tantang dari wanita itu.
Berbeda dengan Vania, wanita mandiri tegas, dan terlihat keras kepala. Itu membuat ketertarikan sendiri padanya, Riko seolah tertantang untuk memilikinya. Dan siapa sangka, kini wanita itu memilihnya untuk menjadi suaminya.
"Vania tolong jelaskan ke kami, apa maksudnya?" tanya ayah dari Riko. "Apa kamu selama ini menyukai Riko?"
Vania menegakkan tubuhnya, ia menelan ludahnya kasar. Berusaha untuk tetap tenang, mendapatkan pertanyaan yang akan mereka lontarkan dari mulutnya.
Vania berdekhem, ia menatap ke arah Hans, ayah Riko. "Begini om sebelumnya, pernikahan kita bukankan pernikahan bisnis bukan?" Hans mengangguk pelan sambil memperhatikan Vania.
"Apakah tidak sebaiknya aku dan Riko yang menikah. Bukankah om menginginkan kalau Riko masuk menjadi Gubernur? Saya harap om tidak lupa siapa saya!" jawabnya dengan elegan.
Vanya tertohok dengan jawaban Kakanya, hatinya bergejolak. Ingin rasanya dia pergi dari sana sekarang juga. Ia tidak menyangka betapa liciknya Vania, Kaka yang selalu dia banggakan, akhirnya menusuknya dari belakang.
Tanpa ia sadari Vanya tersenyum miring, mendengar penjelasan dari Vania. Sudah jelas dia kalah telak dari kakanya. Vanya tidaklah sehebat Vania yang memiliki kuasa di dalam perusahaan ayahnya—Damar.
Ia mengepalkan ke dua tangannya, mengumpulkan keberaniannya untuk menyuarakan isi kepalanya.
"Tapi—"
"Sebentar, jadi maksud kamu. Kamu akan membantu Riko?" tanya Hans.
Belum juga mengeluarkan sepatah dua patah kata. Ucapannya sudah terpotong terlebih dahulu, terlihat di sini kalau suaranya memang tidak akan di dengar, siapa dia? Yang hanya merupakan wanita ceria yang penurut.
Tanpa Vanya sadari, Evan yang merupakan calon Vania, sedang memperhatikan Vanya . Evan tidak peduli dia harus menikah dengan siapa, karena percuma kalau dia menentang pernikahan ini. Ada tatapan kasian melihat Vanya , tapi Evan hanya bisa diam dan menyaksikan drama kaka beradik itu.
"Iya om, saya akan membantunya. Menjadi seperti apa yang om mau," ucap Vania.
Hans menganggukkan kepalanya, ia menoleh ke arah istrinya yang juga mengangguk. "Bagaimana kalau kita para orang tua berunding terlebih dulu?" timpal Wisnu ayah dari Evan.
Hans dan Damar saling tatap setuju dengan saran dari Wisnu. "Benar, kita harus membicarakan ini dulu Vania, kalian tunggulah di halaman belakang. Kami para orang tua ingin membicarakan beberapa hal, sekaligus permintaanmu!" ucap Damar.
Mereka berempat pun setuju dan beranjak dari tempat duduk mereka meninggalkan ruang makan. Mereka melangkahkan kakinya menuju halaman belakang, di mana di sana terdapat kolam renang.
Riko yang melihat Vania jalan lebih dulu pun segera menghampirinya. Vanya yang melihatnya pun berusaha mencegahnya. "Mas mau ke mana?" tanya Vanya .
"Aku ada urusan," jawabnya yang langsung meninggalkan Vanya . Sedangkan Evan yang berada di belakang mereka menatap nahas pada Vanya .
Tangan Vanya mengepal di samping tubuhnya, ia benar-benar merasa tidak adil. Menikah dengan Evan? Pria yang tidak dia sukai? Bagaimana bisa!
"Vania..." panggil Riko.
Langkah Vania pun berhenti, ia menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Riko kini berdiri tepat di depannya, senyum miringnya kentara sekali seperti saat dia membunuhnya.
Vania berusaha tenang dan tetap dingin. "Ada apa?" tanyanya.
"Boleh kita bicara?"
"Bicaralah!"
"Tapi jangan di sini bisa?"
Vania menghela napas panjang, ia mengitari tempat di sekitarnya. "Tidak ada tempat lagi selain di sini," ucapnya.
"Bicara di luar rumah, di cafe depan?" ajak Riko berharap Vania tidak menolak.
"Hmm? Penting?"
"Menurutku ini penting, tentang permintaanmu," jelasnya.
Vania mengangguk, tapi bukan berarti dia setuju dengan ajakan Riko. "Oh, tentang itu. Bukankah ide bagus?"
Tanpa Riko sadari Vania sudah membawanya untuk berbicara di tempat itu juga, tanpa harus ke cafe tempat yang di minta oleh Riko.
"Tentu, karena itu ide yang sangat bagus. Tapi aku hanya penasaran saja, kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Riko penasaran.
"Tidak apa-apa, aku hanya kepikiran saja. Akan lebih menguntungkan bagi perusahaan ku dan juga kamu bukan?" Jelas Vania, yang sekilas ia menoleh ke arah Vanya .
Tampak sekali wajah adiknya begitu kesal pada dirinya. Bohong rasanya kalau Vania tidak merasa bersalah, menghancurkan mimpinya untuk menikah dengan pria yang dia sukai.
Vania kembali fokus pada Riko, yang terpenting ia menjauhkan pria b******k ini dari Vanya . Biar dia yang menghadapi pria b******k ini.
"Kamu sangat benar, tapi apa hanya karena bisnis saja hmm?" tanya Riko dengan mendekatkan langkahnya pada Vania.
Vania menatap tajam ke arah Riko, tangan kirinya mulai mengusap lengannya yang halus. "Singkirkan tanganmu!" titah Vania dengan tegas.
Riko tersenyum miring, ia singkirkan tangannya. Wajah Riko sedikit mengadah menatap arogan ke arah Vania. "Menarik, aku suka wanita sepertimu!" ucap Riko dengan menekan lidahnya pada pipi dalam.
"Terserah aku tidak peduli, yang penting kamu bisa menguntungkanku!" jawab Vania.
"Tidak menyangka ternyata kau serakah juga!" Vania tersenyum mendengarnya.
"Maka dari itulah kita harus bersatu," ucap Vania yang tersenyum dan pergi meninggalkan Riko.
Riko mengusap dagu bawahnya, sambil membasahi bibirnya. "Sangat menantang!"
Melihat Vania kini sendiri, Vanya berniat untuk berbicara dengan Vania. Ia langkahkan kakinya menghampiri Vania yang sedang terduduk di kursi pinggir kolam.
"Kaka..."
Vania menoleh ke arahnya, memberikan senyum terbaik. Namun Vanya membalas dengan senyuman kecut.
"Jadi ini maksud mu?" tanya Vanya .
Vania menarik napasnya dalam-dalam, ia berdiri dari duduknya dan mendekati Vanya . "Dengarlah suatu hari nanti kamu akan mengerti, kenapa Kaka seperti ini. Semua ini buat kebaikanmu!"
Sebelah bibir Vanya tersenyum miring mendengar alasan klasik dari kakanya. "Demi kebaikanku? Lucu! Ini semua hanya untuk kebaikan mu saja!" tunjuk Vanya pada Vania.
Tidak pernah Vanya semarah ini pada Vania. Vania sangat paham dengan apa yang Vanya rasakan, tapi dia juga tidak mau melihat adiknya menderita di kemudian hari.
"Vanya , dengar Kaka. Mungkin kamu sekarang tidak akan mengerti. Tapi pernikahan bisnis sangatlah kejam, dan Kaka tidak mau kamu sakit!" jelasnya berusaha memegang tangan Vanya .
Namun, segera di tepis olehnya. Tatapan Vanya begitu tajam, terlihat dia begitu kecewa pada kakanya. "Apa kaka bilang takut aku sakit? Pernikahan karena bisnis kejam? Ya memang, sekarang kamu sudah menampakkannya padaku, kamu ambil semuanya dariku hanya untuk kepentinganmu saja buka?"
Vania memalingkan wajahnya sebentar, ia tetap berusaha untuk tenang. Bagaimana pun Vania tidak boleh terpancing dengan kemarahan adiknya.
"Vanya bukan begitu, percaya sama Kaka. Ini demi kamu juga Vanya !"
"Persetan ini demi aku juga, aku kecewa sama kamu Ka!" Matanya memerah menahan air mata, Vanya akan melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Vania berusaha untuk mencegahnya. "Vanya tunggu!"
"Jangan dekati aku!" Vanya mendorong tubuh Vania hingga masuk ke dalam kolam.
BYURR!!