BYURR!!
Vania terjatuh masuk ke dalam kolam renang, Vanya pun terkejut. Ia tidak bermaksud seperti itu. Hingga para orang tua pun keluar dari rumah menuju halaman belakang, melihat keributan yang terjadi.
"Kaka...!"
Riko yang melihat hal tersebut, langsung masuk ke dalam kolam untuk menyelamatkan Vania.
Vanya panik melihat kakanya yang hampir tenggelam. Namun, beruntung Riko langsung menolongnya, dan membawa Vania naik ke dasar kolam.
Vanya langsung membantu Riko mengangkat tubuh Vania. Vanya menepuk-nepuk pipi Vania untuk menyadarkan Kakanya.
"Ka bangun Ka," pinta Vanya panik.
"Ada apa ini?" tanya Damar.
"Pah Ka Vania pah..." rengek Vanya sambil menangis.
Riko pun berusaha untuk menyadarkan Vania. Saat Vania akan di beri napas buatan, untungnya Vania segera sadar. Mereka semua pun merasa lega dengan itu.
"Vania," ucap Rena sang ibu.
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..." Vania terbatuk mengeluarkan air yang masuk ke dalam mulutnya.
"Kamu gak apa-apa nak?" tanya Rena sambil memeluk Vania.
Vania hanya menganggukkan kepalanya pelan. "Aku baik-baik saja mah..." ucapnya dengan tubuh menggigil.
Kondisi Vania belum sepenuhnya pulih, lalu Rena membantunya untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan Vanya saat akan mengikuti Kakanya, ia di tahan oleh ayahnya.
"Vanya papa mau bicara!" ucap Damar dengan raut wajah marah.
Vanya hanya bisa tertunduk, ia sadar di sini dia salah telah bersikap berlebihan. Damar menoleh ke arah Riko yang telah menyelamatkan Vania.
"Rik Terima kasih telah menyelamatkan Vania," ucap Damar sambil menepuk pundaknya.
Riko hanya mengangguk paham. "Sama-sama om, sudah menjadi tugas Riko untuk melindungi calon istri saya," ucapnya yang langsung mencapkan kalau Vania adalah calon istrinya sekarang.
Damar kembali menatap ke arah Vanya. "Anya, ikut papah!" Damar berjalan lebih dulu, sedangkan Vanya berjalan mengekor dari belakang.
Kini mereka sudah berada di ruang kerja Damar. Vanya masih tetap sedikit menunduk kepalanya ke bawah, tidak berani menatap ayahnya— Damar.
"Kenapa kamu melakukan itu pada Kakamu Vanya? Apa kamu kesal dengan permintaan Kakamu?" tanya Damar yang menatapnya tajam.
Vanya menggigit bibir bawahnya, meremas baju yang ia pakai dengan ujung jarinya. "Vanya, papah harap kamu bisa bersikap dewasa. Apa yang di usulkan oleh Kakamu Vania itu ada benarnya. Perusahaan kita semakin kuat, dan itu juga menguntungkan kamu," jelas Damar.
"Persetan dengan cinta, papah dan mamah mu dulu juga sama tidak saling cinta. Tapi pada akhirnya kami bisa membangun perasaan itu semua, hingga detik ini," sambung Damar memberi penjelasan pada Vanya.
Vanya masih tidak bersuara, dia masih diam merasa bersalah karena telah melakukan itu pada Vania. "Dengar Vanya, besok acara pernikahan kalian. Kami para orang tua sepakat untuk menikahkan kamu dengan Evan, sedangkan Kakamu dengan Riko."
Wajah Vanya langsung menatap ke arah Damar, ada rasa kecewa pada ayahnya. Dengan mudah ayahnya menukarkan perjodohan ini demi keuntungan perusahaan.
"Tapi pah—"
"Tidak ada tapi-tapi lagi, ini sudah menjadi keputusan final bagi kami. Papah harap kamu menerima ini semua, toh Evan laki-laki yang baik untuk mu," ujar Damar sambil memegang pundak Vanya.
"Satu hal lagi, minta maaflah pada Kakamu. Kamu hampir saja menyelakainya," pinta Damar sambil mengusap kepala anaknya.
Pundak Vanya menurun lemah, lagi-lagi ia selalu kalah dengan Kakanya. Namun, Vanya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berjalan keluar menuju kamar Vania. Ia tidak langsung membuka pintu kamarnya. Vanya menarik napasnya terlebih dahulu.
Perlahan ia membuka handle pintu kamar Vania, tampak Vania sedang beristirahat. Vanya ragu untuk masuk ke dalam kamarnya, tapi Vania sudah melihatnya lebih dulu.
"Masuk Vanya," ucapnya lembut.
Vanya pun langsung masuk ke kamarnya, berjalan perlahan menghampiri kakanya. "Ka ...."
Vania mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk. "Sini duduk dekat Kaka," ucap Vania.
Vanya menuruti apa yang Vania minta, ia duduk tidak jauh dari Vania dan tidak dekat juga. Vania tersenyum, ia memegang tangan Vanya dengan lembut.
"Kamu gak usah ngerasa bersalah kok, Kaka gak apa-apa. Wajar kalau kamu begitu, kamu pasti kecewakan?" tanya Vania.
Vanya menatap ke arah Vania, ia tatap mata kakanya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada rasa amarah atau apa, tatapan Vania begitu tulus.
"Kamu bakal paham suatu hari nanti, Riko tidak sebaik yang kamu kira Anya. Kaka hanya takut saja kalau kamu di manfaatkan nantinya," jelas Vania yang masih belum bisa Vanya pahami.
Keningnya mengkerut, mencoba mencerna setiap ucapan yang Vania utarakan, tapi hatinya tetap menolak.
"Kamu mau kecewa sama marah ke Kaka juga gak apa-apa kok, Kaka terima. Emang Kaka salah, Kaka jelaskan sekarang pun kamu gak akan paham."
Vanya masih terdiam mendengar pernyataan Kakanya. Melihat tatapan tulus kakanya, ingin dia percaya, tapi hatinya tetap menolak. Akhirnya dia hanya diam memendam semuanya sendiri.
"Udah sana tidur gih, istirahat. Kaka juga mau istirahat," ucap Vania.
"Maaf ka... Aku istirahat dulu ya. Kaka juga istirahat," ucapnya dengan tidak melihat wajah kakanya.
Vania mengangguk pelan, ia membiarkan Vanya pergi dari kamarnya, meninggalkannya sendiri. Vania menarik napasnya dalam-dalam ia tatap ke arah jendela, melihat jendela yang belum sempat ia tutup.
Vania beranjak dari tempatnya untuk menutup jendela. Ia menatap langit malam dengan hembusan angin yang menerpanya.
"Besok hari pernikahanku dengan pria b******k itu. Di mana dendam ku lahir kembali untuk membalas perbuatannya. Lihat saja Riko!"
Di sisi lain Vanya duduk di tepi ranjangnya, ia meraih ponselnya. Ia tatap walpaper ponselnya terdapat fotonya dengan Riko. Senyum bibirnya kecut, ia pun kecewa dengan pria ini yang lebih memilih Vania dari padanya. Lalu ucapan pria waktu itu kemana?
"Sialan!" Air mata Vanya jatuh membasahi pipinya, tidak terlalu banyak berharap dengan pernikahannya, yang penting dia menuruti permintaan orang tuanya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, tampak pesan masuk ke dalam ponselnya. Keningnya mengernyit, ia tatap nomor yang tidak ia kenal.
"Siapa malam-malam begini?" gumamnya.
Vanya pun membuka pesan tersebut, tampak di sana tertulis.
+62: Tidur Vanya!.
Vanya: siapa?
+62: Evan.
Vanya mengerjapkan matanya, ia sedikit heran kenapa pria ini mengirim pesan. Di tambah dia tahu dari mana nomornya.
Vanya: Mas Evan? Kok bisa tahu nomor aku?
+62: tidak sulit buat aku tahu nomor kamu.
Vanya menggigit bibir bawahnya, ada rasa aneh pada pria satu ini.
Vanya: oh, ada apa mas?
+62: gak ada, selamat istirahat.
Vanya tidak membalas lagi, ia simpan ponselnya. Kini perasaannya sedang campur aduk, menantikan besok pernikahannya dengan Evan. Perasaannya tidak karuan, ingin rasanya ia mengirim pesan pada Riko untuk membujuknya.
Rasa cintanya mengalahkan rasa kecewa yang dia rasakan saat ini. Ia mengambil kembali ponselnya, mengetik pesan untuk Riko.
Vanya: Mas, apa kamu setuju dengan pertukaran pasangan ini?
Vanya terus menatap layar ponselnya, menunggu balasan dari Riko. Cukup lama Vanya menunggu pesan dari Riko, tapi pria itu sama sekali tidak membalasnya.
"Tega kamu mas!"