BAB 5 - Pernikahan

1140 Words
Vania duduk di depan cermin besar yang memperlihatkan dirinya yang sudah memakai gaun berwarna putih cantik sekali. Di tambah Kilauan yang terpancar dari gaun Vania sendiri. Seorang MUA terkenal memasangkan sebuah hiasan mahkota kecil di kepalanya. Hari itu Vania bak putri sehari, kecantikannya begitu terpancar. Gaun putih dengan hiasan brukat di atasnya, menambah kesan mewah. Periasnya pun sangat kagum dengan kecantikan Vania. "Wah, baru kali ini saya merias seorang wanita yang sangat cantik, tidak perlu makeup tebal saja sudah membuat orang pangling," pujinya. "Beruntung sekali pria yang yang akan menjadi suami Ka Vania," sambungnya. Vania hanya tersenyum tipis, tidak tahu saja dia akan menikah dengan pria b******k, yang akan menghancurkan hidup adiknya. "Betul sekali, calon suami Ka Vania juga tampan sekali, kalian sangat cocok," sambung asisten perias. Vania hanya diam tidak bersuara, rasanya ia ingin segera menyelesaikan acara pernikahan ini dan melancarkan rencananya untuk membalas dendam pada Riko. Terdengar suara ketukan pintu, tidak lama seorang pria memakai kemeja hitam datang. "Nona Vania, acara pernikahan akan segera di mulai," ucap sang WO. Vania pun beranjak dari tempat duduknya, acara pernikahannya dengan Riko akan segera dilangsungkan, bersamaan dengan hari pernikahan Vanya. Vania berjalan keluar dari ruang rias, ia melihat ruangan di mana Vanya berada. "Sebentar apa aku boleh menemui adik ku sebentar?" tanya Vania. Sang WO terdiam sejena, "Maaf nona, tapi waktunya tidak akan cukup. Toh nanti juga akan bertemu," jawabnya. Vania tidak memaksa, ia akan mengikuti alur acara, akan segera selesai. Langkah kaki Vania kembali maju. Masuk ke sebuah aula dengan pelataran bak putri di cerita dongeng. Semua tamu terkesimak dengan penampilan Vania. Dan itu tidak luput dari pandangan Riko yang sudah berada di depannya. Banyak sekali orang yang memuji kalau mereka serasi. Tidak tahu kelakuan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu sangat b******k. Riko tersenyum lebar menyambut kedatangan Vania di pelaminan. Kini mereka duduk berdampingan, Riko yang sudah tampak siap akan mengucapkan ijab kabulnya dengan lantang. Tangan Riko dan Damar pun saling bersalaman. Dan benar saja dengan lantang Riko mengucapkan janji suci mereka hingga kata-kata sah menggema di dalam aula. Riko bernapas lega, berbeda dengan Vania yang menarik napasnya dalam-dalam. Seolah ini adalah awal dari takdir ia yang akan datang. Pertukaran cincin pun di lakukan, di mana Riko di suruh untuk mencium kening Vania. Wajah Vania tampak tidak suka, berbeda dengan Riko yang begitu semangat mendaratkan bibirnya tepat di keningnya untuk pertama kali. Ada sesuatu yang berbeda, dia mana Riko benar-benar merasa tertantang di hadapi istri seperti Vania. Demi kelancaran rencananya, Vania pun merelakan keningnya untuk di cium oleh Riko. Beberapa tamu berteriak untuk mereka berciuman, membuat jantung Vania hampir saja copot. Dengan halus Vania menolaknya dengan alasan malu, Riko yang ingin mendapatkan cap sebagai suami pengertian pun tidak memaksa Vania untuk melakukan permintaan para tamu undangan. Acara pernikahan berjalan dengan lancar, begitu juga acara pernikahan Vanya dan Evan. Di mana mereka benar-benar terlihat canggung. Bahkan bisa di katakan seperti orang asing. Namun Evan berusaha untuk menetralkan semuanya. Sesekali ia bertanya pada Vanya, tapi gadis yang kini menjadi istrinya hanya menjawab singkat. Evan memaklumi semuanya, untung saja dia tidak menyukai Vanya, hingga tidak memberatkan perasaan Evan. Acara pernikahan pun telah usai, di mana para tamu undangan satu per satu meningalkan acara pernikahan. Vania tampak sangat lelah sekali, di tambah kondisinya yang belum sepenuhnya pulih. Vania tampak duduk untuk beristirahat, setelah berhadapan dengan ratusan orang yang mereka undang. Riko berjalan menghampiri Vania, dan duduk di sampingnya. "Cape hmm?" tanya Riko. Saat tangannya akan memegang tangan Vania, ia segera menghindar tangan Riko yang akan memegangnya, cukup keningnya saja yang ternoda oleh mulut busuknya itu. Riko menaikkan sebelah alisnya, dia bukan orang bodoh yang bisa dia bohongi. Riko bisa merasakan sekali jika Vania berusaha menghindar darinya. Ia menatap sejenak ke arah Vania, berusaha memahami mungkin karena belum terbiasa. Riko berusaha memberikan perhatian lebih, ia ambil sebotol air mineral dan ia berikan pada Vania. "Minumlah pasti kamu lelahkan?" ucapnya. Vania menatap botol mineral tersebut, jika ia menolak terlihat sekali jika ada sesuatu. Di tambah ini masih berada di tempat umum. Vania pun menerimanya botol mineral tersebut dan meneguknya. Ada senyum tipis yang timbul dari dua sudut bibirnya. "Mau istirahat sekarang hmm?" tanyanya. Mendengar tawarannya membuat buku kuduknya berdiri sempurna. Tidak bisa membayangkan apa yang harus dia lakukan, setiap tawaran-tawaran yang Riko lontarkan padanya. "Nanti aja, aku mau ketemu dulu sama Vanya. Kamu duluan aja," ucap Vania, yang berusaha menghindar dari Riko. "Kalau begitu biar aku temani." Vania membulatkan matanya, saat Riko akan menemaninya. Apa dia tidak berpikir kalau itu akan menyakiti hati Vanya? Sedangkan dia sendiri tahu kalau Vanya menyukainya. Ternyata belangnya sudah terlihat dari sekarang. "Temani? Tidak usah biar aku sendiri saja, kamu beristirahatlah lebih dulu," ucapnya dingin. "Kenapa memangnya kalau kita bersama-sama menemui Vanya. Toh aku juga harus memberikan dia selamat bukan?" Timpal Riko bersikukuh ingin mengantar Vania menemui Vanya. Mendengus kesal Vania menoleh ke arah Riko. "kita berikan selamat masing-masing saja, itu lebih baik!" balasnya sambil beranjak dari tempat duduknya. "Bukankah kamu ingin menikah denganku untuk menyakiti hati adikmu, Vanya?" Langkah Vania terhenti, sudut bibirnya tertarik sebelah membentuk senyuman miring. Belum juga sehari, tapi Vania merasa sudah muak dengan pria ini. "Kamu pikir aku sejahat itu? Kita menikah hanya untuk bisnis tidak lebih!" jelas Vania. Tiba-tiba ada beberapa wartawan yang mendekati mereka. "Pak Riko boleh minta fotonya berdua sama istri?" Riko tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya menghampiri Vania, dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang Vania. Lalu berbisik, "Tersenyumlah, pura-pura kau bahagia dengan pernikahan ini!" Vania meremas gaunnya dengan tangan, saat Riko seolah mengambil kesempatan dalam kesempitan ini untuk memeluknya. Namun, Vania tetap tersenyum demi drama yang harus dia jalani. "Tolong lebih mesra lagi," pinta salah satu wartawan. Riko tersenyum, dan ia tempelkan hidungnya pada pipi Vania sambil menghirup aroma tubuh Vania. "Kamu wangi sekali sayang," bisiknya sedikit mengendus sisi leher Vania. "Aku jadi tidak sabar, ingin mencicipimu di ranjang!" "Sialan!" batin Vania. Di saat mereka sedang di ambil foto oleh wartawan. Vanya melihatnya dari kejauhan, hancur hatinya melihat pemandangan mereka yang tampak bahagia. Tangannya terkepal hebat, dadanya bergemuruh menahan marah kecewa di campur menjadi satu. Vanya pun mengurungkan niatnya untuk menghampiri kakanya. Ia menatap tajam ke arah mereka berdua, rasa dendam begitu menyelimuti hatinya. "Tidak perlu di lihat!" Terdengar suara bariton dari seorang pria yang menghampirinya—Evan. "Ayo kita pergi!" ajaknya, seolah tahu bagaimana keadaan perasaan Vanya saat ini. Vanya tidak menjawab, dia lebih memilih mengikuti ucapan Evan yang kini menjadi suaminya, dari pada dia harus melihat kebahagiaan kakanya yang merebut pria yang dia sukai. "Jahat memang kamu Ka!" batin Vanya yang mengikuti langkah Evan dari belakang. Vania tidak sengaja melihat Vanya yang berjalan pergi menjauh. "Vanya..." lirihnya. Vania pun meminta untuk berhenti saat wartawan yang terus mengambil fotonya. "Aku ke sana dulu!" ucap Vania yang langsung pergi meninggalkan Riko sendiri. Berjalan dengan tergesa-gesa untuk menyusul Vanya. Saat Vania melihatnya akan masuk lift, Vania memanggil adiknya. "Vanya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD