Vania turun dari mobilnya, tampak Riko sedang duduk di ruang tengah sambil menatapnya tajam!
"Dari mana saja kamu?" tanya Riko.
"Maaf aku tadi beli kopi sebentar," jawabnya.
Riko menghela napasnya kasar, ia tatap jam yang ada di tangannya. "Kamu tau sekarang jam berapa?" tanya Riko.
"Maaf, aku hanya telat sebenarnya, aku siap-siap dulu!" ucap Vania sambil melangkahkan kakinya.
Riko langsung memegang tangan Vania, membuat gadis itu menoleh ke arah Riko. "Apa lagi? Nanti kita bisa terlambat!" peringat Vania.
Riko menarik tubuh Vania agar lebih mendekat, "Ingat Vania aku suami mu. Jangan karena aku masih diam, kamu bisa seenaknya!" ucap Riko sambil mengecup lembut pipinya.
Vania mengepalkan tangannya kuat, hingga ujung kukunya memutih. Ia segera memalingkan wajahnya menghindar sentuhan dari Riko.
"Lepaskan aku Riko, aku mau siap-siap. Apa kita tidak jadi pergi?" ancam Vania.
Riko langsung melepaskan tangannya, "Cepatlah, jangan membuatku menunggu lama."
Vania langsung berjalan menuju lantai atas tepat di mana kamarnya berada. Ia masuk dengan mengunci pintu kamarnya. Napas naik turun, entah kenapa Vania merasa dirinya terancam, jika harus berlama-lama dengan Riko.
"Aku harus bergerak cepat! Belum dia sadar sepenuhnya!" ucap Vanis yang langsung bersiap-siap.
Tiba butuh waktu lama untuk Vania bersiap-siap, hanya dengan polesan tipis, wajahnya sudah sangat cantik. Memakai dress berwarna biru tua dengan tali kecil di bahunya, di tambah liontin yang melingkar di lehernya, menambah elegan penampilan Vania.
Vania menatap dirinya di balik cermin besar, melihat penampilannya sebelum berangkat. "Segini saja sudah cukup sepertinya."
Ia beranjak dari tempat duduknya, membuka pintu kamarnya dan turun ke lantai dasar. Tampak Riko sedang menatapnya dengan kagum melihat penampilan istrinya.
Riko langsung beranjak dari tempat duduknya, menyambut Vania dengan mengulurkan tangannya. Vania tidak langsung membalas uluran tangan Riko, ia tatap lengan Riko yang kini ada di hadapannya.
Walaupun dia merasa jijik, tapi mungkin ini bisa membuat Riko sedikit melunak! Vania meletakkan tangannya di atas tangan Riko. Dan sialnya Riko mencium punggung tangan Vania.
Riko memberikan senyuman miringnya pada Vania. "Kamu cantik sekali Vania, tidak sia-sia aku menikahi mu!" ucapnya.
Vania hanya menatapnya datar, tidak ada rasa tersanjung saat di puji oleh Riko.
Pria itu mendekat, membuat Vania sedikit memundurkan tubuhnya. "Hey, jangan takut seperti itu!" ucapnya.
"Ayo kita pergi, sebelum terlambat!" pinta Vania yang berjalan lebih dulu.
Riko mengusap bibirnya sambil menatap Vania yang berjalan lebih dulu. "Kamu benar-benar membuat aku goyah Vania."
Kini sampailah mereka di acara yang di maksud Riko. Sebelum turun Riko memegang tangan Vania. "Tunggu!"
Vania menoleh ke arah Riko, kali ini apa lagi? Riko menatap ke arah Vania dengan lekat. "Ingat di dalam nanti, kita harus seperti sepasang suami istri. Panggil aku dengan sebutan Mas!" pinta Riko.
Vania menghembuskan napasnya pelan, ia hanya mengangguk patuh pada permainan Riko. Mereka berjalan memasuki sebuah gedung pesta, di mana di hadiri oleh para pejabat tinggi, dan kolega-kolega.
"Pak Riko..." Seorang Pria memanggil namanya.
Riko menoleh dan memperlihatkan senyumnya, ia menoleh ke arah Vania untuk memastikan kalau wanita itu pun ikut tersenyum.
Untung saja Vania menuruti apa permintaan Riko, ia memasang wajahnya dengan drama sambil tersenyum.
Sialnya, di sela-sela itu Riko mengambil kesempatan. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga Vania.
"Kamu cantik kalau tersenyum seperti itu!" bisiknya.
Vania hanya tersenyum kecut mendengar rayuan dari Riko. "Halo pak Riko, apa ini istri anda?" tanya Herman.
"Iya benar pak Herman, ini istri saya. Kenalkan dia Vania," Ucap Riko memperkenalkan Vania kepada temannya.
"Vania..."
"Herman, wah cantik sekali istri anda Pak Riko. Pantas saja anda sekarang terasa lebih muda, ternyata kuncinya ada di istri anda," goda Herman.
Riko terkekeh pelan, begitu juga dengan Vania yang terpaksa. Sebelah tangan Riko langsung memegang pinggang Vania agar lebih dekat dengannya.
"Anda benar sekali Pak Herman, telah menikah saya lebih bahagia. Apalagi memiliki istri seperti Vania, Dia sangat telaten mengurusi saya!" jelas Riko.
"Terlihat dari wajah istri anda pak Riko. Bagaimana kalau kita masuk bersama? Sepertinya acara akan segera dimulai," ajak Herman yang langsung diangguki oleh Riko.
Saat pesta berjalan, Riko terus memegang pinggang Vania agar terus tetap terlihat mesra. Vania tidak bisa menolak perlakuan Riko karena telah mereka sepakati. Entah sudah berapa orang yang Vania temui, selama di dalam acara. Ternyata link Riko dalam dunia bisnis cukup hebat. Setidaknya Vania tidak bisa gegabah, ia pun bertemu dengan beberapa partner kerjanya di sana.
Vania merasa kalau dirinya harus ke toilet. "Mas aku mau ke toilet dulu," bisik Vania pada Riko.
"Mau saya antar?" tawarnya.
"Gak usah mas, aku bisa sendiri," tolak Vania.
Kali ini ia butuh ruang untuk sendiri, Vania tidak terlalu suka dengan keramaian! Keluar dari aula dan berjalan di lorong yang cukup sepi, memberikan ketenangan pada dirinya. "Hah, pusing sekali rasanya," ucap Vania, sambil memijit pelipisnya yang terasa sakit.
Vania berjalan mencari keberadaan toilet, tapi tidak sengaja dia melihat teman Riko yang tadi ia sapa.
Melihat gerak geriknya yang tidak wajar, Vania pun memutuskan untuk mengikutinya. Tampak dia berjalan ke sebuah tempat yang sepi di luar gedung, ia bertemu dengan seseorang yang tidak Vania tahu.
"Bagaimana?"
Vania berusaha mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Mulutnya ternganga saat mendengar ternyata mereka telah membunuh seseorang atas peringatan Riko.
Vania menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Ia benar-benar terkejut saat mendengar itu. Di tambah uang yang mereka kirim untuk pencucian uang atas perintah Riko.
Untungnya Vania menggunakan ponselnya untuk mengambil video dan gambar mereka semua, untuk di jadikan sebuah bukti, nanti kedepannya.
Di rasa Vania sudah berhasil mendapatkan barang bukti. Ia berniat untuk segera pergi meninggalkan mereka, sebelumnya keberadaan dirinya diketahui.
Perlahan Vania berjalan menjauh, langkahnga begitu pelan dan hati-hati. Namun, sialnya dia tidak sengaja menginjak sebuah ranting pohong yang menimbulkan bunyi.
Karena keadaan begitu sunyi, suara ranting itu dapat di dengar oleh mereka. Vania memejamkan matanya sebentar.
"Sialan!" batinnya.
"Siapa di sana??" tanya seorang pria itu.
Mendengar langkah pria itu berjalan ke arahnya, Vania pun memutuskan untuk segera lari dari sana. Dengan sepenuh tenaga ia akhirnya memutuskan untuk berlari mencari tempat persembunyian.
Langkah Vania berlari menuju basement. Wajahnya tampak panik mencari tempat persembunyian, bersembunyi di belakang mobil sama saja dengan bohong. Mereka dengan mudah akan menemukannya.
Vania terus berlari, melihat ke dua pria itu terus mengejarnya tidak ada ampun. Vania terus mencari tempat yang aman.
Hingga akhirnya ada sebuah tangan yang menariknya masuk ke dalam mobil. Vania terkejut saat melihat pria yang ternyata dia kenal—Rega.
"Sstthh... Jangan bersuara! Kamu aman di sini."
"Pak Rega?"
Mata Vania melihat dua sosok pria yang berjalan mendekati mereka. Vania yang bingung dan tidak sempat berpikir menarik kerah jas Rega agar mendekat padanya. Seolah mereka sedang berciuman.
Rega terkejut dengan pergerakan Vania. Tubuh Rega yang ikut tertarik kini sangat dekat dengan Vania. Saking sangat dekatnya, ujung hidung mereka saling bersentuhan, Vania reflek menahan napas saat mereka sangat sedekat itu.
Rega yang tahu kalau Vania sedang terancam pun, mengikuti aktingnya. Sebelah tangan Rega seperti mengukung tubuh Vania.
"Sialan mana cewe tadi, malah liat orang lagi ciuman lagi!" umpat pria itu yang kini beranjak pergi dari sana.
Rega dan Vania masih dalam posisi sama, mata mereka saling bertemu, saling berbagi oksigen. Tubuh ke duanya sama-sama menegang.
Merasa keadaan sudah aman, Vania sedikit memundurkan tubuh Rega. "Pak maaf sepertinya sudah aman," ucap Vania dengan suara yang lirih.
Rega pun segera memundurkan tubuhnya, agar sedikit menjauh dari Vania. Mereka sama-sama terasa canggung setelah kejadian tadi.
Vania salah tingkah, ia merapihkan bajunya dan berniat untuk keluar dari sana. "Pak sekali lagi terima kasih, maaf telah merepotkan. Saya permisi."
Tanpa menunggu jawaban dari Rega, Vanila segera keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam gedung.
Rega mengusap wajahnya kasar, napasnya masih terasa naik turun. "Kenapa dengan dia? Kenapa dia di kejar? Siapa ke dua pria itu?"