Dengan blazer berwarna merah maroon dan sok span berwarna hitam pas di lutut dengan sedikit belahan di pahanya. Rambut yang terurai panjang sedikit bergelombang menambah kesan elegan pada Vania.
Mengambil tas kecil berwarna hitam, Vania keluar kamar. Bertepatan saat itu juga Riko keluar dari kamarnya. Ia terdiam melihat penampilan istrinya, ingin rasanya dia langsung mengukung tubuh istrinya yang tampak belum tersentuh sama sekali.
"Wah morning sayang," sapa Riko pagi itu.
Vania hanya tersenyum tipis, kali ini dia tidak seketus kemarin, demi melancarkan rencananya. Dan itu sukses membuat Riko tercengang melihat reaksi Vania yang lebih ramah dari sebelumnya.
Vania berjalan lebih dulu, ia tidak mau berlama-lama dengan Riko. Tidak mau sampai pria itu mendapatkan kesempatan untuk mendekatinya.
Riko berjalan mengikuti Vania di belakangnya. Jangan tanya bagaimana mata Riko yang melihat tubuh Vania dari belakang. Bokongnya yang sintal membuat Riko tidak waras.
Tangan Riko memegang lengan Vania hinga langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah Riko yang menatapnya.
"Apa?"
Riko tersenyum menyeringai, ia mendekat ke arah Vania, lalu mengusap pipi Vania lembut. "Cantik sekali istri ku ini." Sambil memegang dagunya.
"Permisi— maaf tuan saya tidak tahu!" ucap sang pelayan yang langsung memalingkan wajahnya.
Vania langsung mengambil kesempatan untuk menghindar dari Riko. Ia langsung berjalan menuju lantai dasar dan berbicara pada sang pelayan.
"Ada apa?"
"Maaf nona, sarapan sudah siap!"
"Terima kasih, tapi saya harus segera berangkat," jawab Vania.
Riko langsung menyusul Vania, "Sayang kamu harus sarapan dulu, nanti kamu masuk angin," ujarnya sambil mengusap puncak kepala Vania.
"Nanti saja di kantor, sebentar lagi aku ada meeting. Aku pergi duluan," ucap Vania yang berniat untuk menghindar dari Riko.
"Biar aku antar," tawarnya.
"Tidak usah mas, aku bisa sendiri. Lagi pula arah kantor kita berbeda," jawabnya dan langsung berlalu pergi meninggalkan Riko.
Riko mengusap wajahnya kasar, sulit sekali rasanya untuk menaklukkan Vania. Ia mendengus kesal, dan menatap kembali sang pelayan yang masih setia berdiri di sana.
"Saya sarapan di kantor, habiskan saja sarapan itu buat kalian!" ujarnya lalu pergi meninggalkan rumahnya dengan mobil mewah miliknya.
Vania melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Cukup lama ia berada di jalan karena padatnya ibu kota saat itu. Hingga akhirnya dia sampai di kantornya sendiri. Ia segera masuk ke dalam kantornya, tapi tidak sengaja dia menabrak seoranh pria yang baru akan masuk ke dalam kantornya.
"Maaf saya tidak sengaja, saya buru-buru, anda tidak apa-apa?"
Pria yang berpakaian jas rapih itu, hanya mengangguk dan tersenyum. "Sekali lagi saya minta maaf," ucap Vania.
"Ya tidak apa-apa."
"Kalau begitu saya permisi." Vania segera pergi meninggalkan pria tersebut, menuju ke ruangannya.
Vania segera bersiap-siap untuk melakukan meeting, ia merapihkan pakaiannya serta penampilan. Siapa sangka ternyata pria yang dia tabrak tadi adalah klien barunya. Vania terdiam sejenak, matanya terpejam karena melakukan kesalahan.
"Pak Rega?" Sapa Vania sambil mengulurkan tangannya.
Rega tersenyum dan membalas uluran tangan Vania. "Maaf pak atas kejadian tadi, saya benar-benar merasa tidak enak."
"Santai saja Bu Vania, saya bisa memaklumi."
"Ya, tadi di jalan sangat macet, jadi saya tadi buru-buru masuk ke dalam kantor," jelasnya.
"Tidak apa-apa, bagaimana kalau kita segera memulai meetingnya?" ajak Rega.
"Boleh, mari pak!"
---
3 jam lamanya Vania melakukan meeting dengan Rega. Setelah sepakat melakukan kerjasama, Rega pun segera pamit meninggalkan Vania.
Kini Vania bisa meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Ia masuk ke dalam ruangannya, tidak sengaja dia bertemu dengan Vanya. Namun, Vanya tetap berubah, ia benar-benar menghindari Vania.
Vania hanya menghela napasnya kasar, ia masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mencari kesibukan.
Waktu terus berjalan tidak terasa hari sudah mulai sore. Vania menoleh ke arah ponselnya, terdapat pesan dari Riko, memberi tahunya jika nanti malam mereka harus datang ke sebuah acara.
Vania tidak bisa menolak, permintaan Riko. Karena bagaimanapun juga, mereka baru menikah, dan mereka pasti masih menjadi sorotan publik.
Vania membalas pesan Riko dengan singkat, ia segera membereskan meja kerjanya dan beranjak dari sana.
"Aku kayanya butuh kopi," gumamnya, sambil meraih tasnya dan keluar dari ruang kerjanya.
Vania berjalan menuju basement di mana mobilnya terparkir. Ia menyandarkan tubuhnya di jok mobil, rasanya hari ini lelah sekali. Di tambah dia harus cepat mencari tahu kejahatan Riko.
Ponsel Vania berbunyi, ia mendengus kasar, malas sekali rasanya melihat layar ponselnya. Ia berharap bukan Riko yang menghubunginya. Dan ternyata benar, bukan Rikolah yang menghubunginya tetapi orang kepercayaannya.
"Halo, gimana sudah kamu temukan?"
(Saya baru menemukan sedikit bukti nona, kalau ternyata suami anda melakukan pencucian uang dan penggelapan dana).
Sudut bibir Vania tertarik membentuk senyuman tipis. Tidak sia-sia dia membayar mahal untuk penyelidikan ini.
"Lalu buktinya sudah kamu dapatkan?"
(Belum nona, saya belum mendapatkan bukti tersebut. Anak buah saya masih menyelidiki seluk beluknya).
Walaupun ada rasa kecewa karena bukti belum di dapatkan. Setidak Riko memang terbukti bersalah.
"Baiklah kalau begitu aku tunggu kabar selanjutnya."
Vania segera mematikan ponselnya, menghela napasnya lega dan melajukan mobilnya meninggalkan area kantor. Saat di dalam perjalanan Vania melihat sebuah cafe yang menjual kopi, ia pun meminggirkan mobilnya untuk mampir ke cafe tersebut.
Cafe itu tampak kecil, tapi hangat dan juga aesthetic. Vania memesan satu cup ice coffee latte. Sambil menunggu ia duduk tidak jauh dari kasir. Tidak lama seorang pria muncul memakai kemeja abu muda dengan lengan di gulung.
Mata Vania melihat ke pria tersebut, ia mengernyitkan keningnya merasa kenal dengan suaranya. Saat pria itu membalikkan tubuhnya, ternyata benar Vania mengenali pria itu.
"Pak Rega..."
"Bu Vania, anda juga suka ke sini?" tanya Rega.
"Ah gak, ini baru pertama kali saya ke sini. Lihat tempatnya bagus, jadi pengen coba kopi di sini," jawabnya.
Rega melihat kekanan dan ke kiri, "Oh, anda datang sendiri?" tanyanya.
Vania langsung menganggukkan kepalanya, "Iya saya datang sendiri, kalau bapak sendiri?"
"Sama saya juga datang sendiri, boleh saya duduk di sini?" tanya Rega yang menujuk kursi kosong di depan Vania.
"Silakan Pak, lagi pula kosong nggak ada yang dudukin," kekehnya.
Rega ikut tertawa pelan, ia pun segera duduk di depan Vania. "Pak Rega kayanya sering ke sini ya?"
"Iya, ini kopi langganan saya. Rasanya enak kalau menurut saya yang penyuka kopi, strong tapi gak bikin mual!" jelasnya.
"Wah patut di coba kalau begitu, kalau ini recommended dari bapak," timpal Vania.
"Haha, coba aja pasti gak akan nyesal." Selama menunggunya pesanan mereka.
Mereka asik mengobrol, tanpa sadar Vania merasa kalau pak Rega itu asik dan nyambung di ajak berbicara tentang apa saja.
Hingga pada akhirnya pesanan mereka sudah selesai, ponsel Vania pun berbunyi terlihat Riko yang menghubunginya kembali. Wajah Vania pun langsung berubah suram, tapi ia tidak mengangkat telpon dari Riko, ia biarkan saja terus berdering, hanya Vania mengubahnya menjadi mode silent.
Rega yang melihat itu merasa penasaran, kenapa Vania tidak mengangkat telponnya. "Pak Rega, saya permisi duluan. Ada urusan lagi," pamit Vania
"Oh ya, silahkan. Saya juga mau ada urusan lagi. Hati-hati di bu Vania," ucap Rega sopan.
"Terima kasih pak, begitu juga dengan bapak. Saya permisi." Vania tampak buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Rega menatap ke arah Vania hingga mobilnya hilang dari tatapannya. Da-danya terasa ada sesuatu setelah berbincang dengan Vania.
"Ah, mikir apa sih kamu Rega. Siapa tahu saja dia sudah ada yang punya, jangan terlalu berharap!"