Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, Vania menuruni anak tangganya. Di waktu yang bersamaan Riko pun baru datang dengan baju yang acak-acakan. Ditambah bau alkohol yang keluar dari mulutnya.
"Kamu baru pulang? Dari mana aja semalam?" tanya Vania, pura-pura peduli pada Riko.
Padahal kalau dia mau tidak pulang berhari-hari pun Vania tidak peduli. Dengan begitu dia bisa leluasa mencari bukti lainnya untuk menangkap Riko.
"Aku semalam di rumah teman, kami saking keasikan yang ngobrol jadi ya lupa waktu," jelasnya.
Vania hanya menganggukkan kepalanya, "Oh, Aku kira kamu dari hotel, sambil tidur sama perempuan bayaran," sindir Vania sukses membuat Riko terpancing emosinya.
"Maksud kamu apa dengan ngomong seperti itu?"
Vania hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, aku hanya berbicara fakta. Aku pergi ke kantor dulu."
Riko mengepalkan tangannya di pinggir tubuhnya, rahangnya mengeras saat Vania Tengah menyindirnya.
"Kalau kamu memberi hak aku sebagai suami, pasti aku tidak akan menyewa perempuan di luar sana!" jelasnya.
Langkah pentingnya terhenti, dia membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Riko. "Dan kalau kamu mau tahu, aku sama sekali tidak peduli. Kamu di luar sana melakukan apa, paham?"
Vania kembali melangkahkan kakinya, namun itu semua terhenti saat Riko menggenggam tangan Vania, dan menariknya hingga membentur tubuhnya.
Kini tatapan mereka saling beradu, di mana Riko menggenggam tangan Vania cukup keras. Mata Vania membulat sempurna menatap Riko dengan tetapan mengintimidasi.
"Lepaskan aku Riko!"
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu memberikan hak padaku!" ucapnya dengan senyum menyeringai.
Vania terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka akan melakukan hal seperti ini. Dengan sekuat tenaga Vania berusaha melepaskan dirinya dari genggaman Riko.
"Lepas!"
PLAK!
Saat Vania berusaha melepaskan dirinya dari Riko, dan saat itu juga Riko menampar pipi Vania. Hingga tubuh Vania tersungkur ke lantai.
Riko cukup terkejut dengan apa yang dia lakukan, awalnya dia benar-benar tidak akan melakukan kekerasan pada Vania. Tapi emosinya terpancing dengan mulut Vania yang menyindirnya.
"Sayang..."
Rico langsung berjongkok dan melihat bagaimana keadaan Vania. Ia menepis genggaman Riko, Vania menata tajam ke arah suaminya.
Tidak banyak bicara, Vania bangkit lalu pergi meninggalkan Riko begitu saja. Melihat kepergian Vania, Riko benar-benar menyesalinya, ia mengusap wajahnya kasar.
Dia takut kalau Vania melaporkannya hingga membuat rencana Riko gagal. "Dari mulai sekarang aku harus mengawasinya!"
Vania melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesampainya di kantor Vania terdiam dulu di dalam mobilnya. Ia menghembuskan nafasnya kasar.
Vania mengambil cermin, ia menatap pipinya yang sedikit terlihat merah dan juga bengkak. "Sialan!"
Vania pun segera turun dari mobilnya. Saat berjalan menuju ruangannya, tidak sengaja dia bertemu dengan Vanya.
Vania tampak terkejut saat Vanya mengeryitkan keningnya. Sebelah tangan Vania langsung memegang pipi yang di tampar oleh Riko.
Tanpa menyapa Vanya, Vania langsung bergegas pergi meninggalkan Vanya menuju ruang kerjanya. Apanya yang sempat lihat pipi bengkak Vania pun menjadi penasaran.
"Kenapa pipi kak Vania bengkak? Apa jangan-jangan dia ditampar? Tapi sama siapa? Nggak mungkin juga kan kalau Mas Riko yang—"
Tiba-tiba saja Vanya teringat dengan ucapan Vania waktu di hotel. "Apa jangan-jangan kak Vania menutupi sesuatu?"
Ia pun segera menghubungi Evan suaminya, untuk mencari tahu tentang Riko dan tidak lupa hanya pun menceritakan keadaan Vania sekarang.
Di dalam ruang kerja Vania menyadarkan tubuhnya di sofa. Kepalanya terasa sedikit sakit, ia memijit pelipisnya sendiri.
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu, "Masuk." Suara Vania terdengar begitu lemas.
"Permisi Bu ada yang mau bertemu dengan ibu," ucap sekretarisnya.
"Siapa?"
"Pak Rega."
"Hah Rega? Ngapain dia ke sini? Aduh mana lagi pipi aku bengkak," batin Vania.
"Bagaimana Bu? Pak Rega sudah menunggu di luar ruangan ibu."
"Oh kalau begitu persilahkan Apa dia masuk ke ruangan saya. Dan tolong pesankan kopi latte 1 dan es Americano," pinta Vania.
"Baik bu akan saya siapkan."
Tidak lama Rega pun masuk ke dalam ruang kerja Vania. Rega berjalan mendekati Vania yang tengah duduk. Tampak Vania sedang menutupi wajahnya.
"Vania kamu kenapa?" tanya Rega.
Vania segera menggelengkan kepalanya. "Aku nggak papa kok. Kamu ada apa ke sini?"
"Jangan bohong sini biar aku lihat, pipi kamu kenapa merah seperti itu. Kamu ditampar?"
Vania segera menggelengkan kepalanya, ia menepis tangan Rega yang memegang pipinya. "Aku gak apa-apa kok," elak Vania.
"Jangan bohong Vania, Siapa yang melakukan ini?"
"Bukan siapa-siapa kok, aku tadi nggak sengaja aja jatuh terus kena pipi."
"Kamu kira aku bodoh, Siapa yang berbuat seperti ini Riko suami kamu?"
Vania cukup terkejut saat mendengar nama Riko disebut. Bagaimana mereka bisa tahu kalau Rikolah yang menamparnya.
"Kalau kamu diam berarti benar, Kenapa dia bisa sampai nampar kamu?" tanya Rega.
"Dia nggak sengaja aja."
"Nggak mungkin sengaja sampai kayak begini, Kamu jangan bohong lagi sama aku. Aku udah tahu semuanya, bagaimana sikap Riko sama kamu."
Vania mengeryitkan keningnya, "maksud kamu apa?"
"Rumah tangga kalian bermasalahkan?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku bisa mencari tahu dengan mudah, dari awal aku ketemu kamu saat di pesta itu saja gelagatmu sudah beda," jelas Rega.
Vania menggigit bibir bawahnya, ia sedikit menundukkan kepalanya. Air matanya tumpah begitu saja, melihat Vania menangis, Rega menarik Vania ke dalam pelukannya.
"Jangan nangis, kamu nggak sendiri. Apa yang perlu kamu tahu aku akan bantu," ucap Rega sambil mengusap kepala Vania.
Vania segera menggelengkan kepalanya, "aku nggak mau ada orang lain yang ikut campur urusan aku, aku nggak mau sampai kamu kena bahayanya. Riko bukan orang biasa," jelas Vania.
Rega tersenyum tipis, "Aku sudah lama berkerut di dunia bisnis. Aku juga sudah tahu bagaimana liciknya mereka semua. Dan kamu tahu semalam aku bersama suami kamu, foto dan video yang mengirimkan pesan sama kamu, itu adalah aku," jelas Rega.
Vania mengerjakan matanya tidak percaya, "Jadi kalian berdua semalam?"
Rega pun menceritakan bagaimana kronologisnya semalam. Dan entah kenapa Vania pun lebih percaya kepada Reka daripada Riko.
"Makanya dari itu, Aku pengen cari bukti buat memperkarakan dia hukum."
Rega menganggukkan kepalanya, "tenang saja, dari mulai sekarang aku akan membantu kamu semaksimal mungkin."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian Vania, Riko memang bukanlah orang biasa. Dia sangat menyakiti siapapun untuk tetap menjaga nama baiknya agar tetap bersih."
Vania segera menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Rega. "Makanya aku nggak mau libatin kamu, karena ini masalah rumah tangga aku sendiri."
"Tapi bahaya kalau nggak ada yang ngelindungin kamu Vania."
Vania mengernyit kan keningnya. "Maksud kamu apa?"
"Sebenarnya dari awal aku ketemu sama kamu. Aku sudah tertarik."
"Apa?"