Mengetahui Riko akan pulang terlambat, Vania langsung membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Vania teringat kalau dia memiliki alat perekam.
Vania membuka laci meja kerjanya, dan benar saja alat tersebut masih ada. Ia segera memasukkan alat itu ke dalam tasnya, Vania berniat untuk memasangkan di ruang kerja Riko untuk mengetahui apa saja yang dia lakukan.
Setelah semuanya beres, Vania segera keluar dari ruang kerjanya. Tidak sengaja ia bertemu dengan Vanya.
Sudah lama sekali rasanya ia tidak tegur sapa dengan adik kandungnya. Vania pun berjalan menghampiri Vanya yang sedang berdiri di depan lift.
"Anya ..." Panggil Vania.
Vanya langsung menoleh ke arah sumber suara, ternyata yang memanggilnya orang yang dia benci saat ini. Vanya langsung memutar balik lagi badannya menghadap lift.
Ada rasa kecewa di hati Vania karena Vanya masih tetap saja marah padanya. Tapi, Vania tetap berusaha untuk meyakinkan Vanya.
"Anya, kamu baru pulang juga?" tanya Vania.
Vanya hanya menganggukkan kepalanya. "Kamu dijemput sama Evan?"
"Hmm..."
Vania menggigit bibir bawahnya saat respon Vanya cukup dingin. "Oh, baguslah. Sepertinya Evan menjadi suami yang baik," ucapnya.
"Baik sekali!" jawabnya Vanya.
Pintu lift terbuka, mereka berdua pun masuk ke dalam secara bersamaan. Di dalam lift hanya ada Vania dan Vanya. Sebenarnya banyak sekali yang ingin Vania bicarakan dengan Vanya. Tapi melihat reaksi Vanya yang masih seperti ini, Vania pun mengurungkan niatnya.
"Anya, gimana kabarmu?"
"Baik!"
"Syukurlah, udah lama banget kayanya kita gak ngobrol."
"Hmm."
Vania menghela napasnya kasar, "Vanya Apa kamu masih marah sama kaka?"
Vanya hanya diam, ia merasakan kalau lift itu berjalan dengan pelan. Melihat tidak ada jawaban dari Vanya, Vania memberanikan diri untuk memegang tangannya.
Vanya langsung menoleh ke arah Vania dengan menatap heran. "Ada apa?" Tanya Vanya sambil menarik tangannya dari genggaman Vania.
"Gak apa-apa, kakak kangen aja sama kamu," ucap Vania dengan tatapan nanar.
Vanya sempat membeku, mendengar ucapan dari Vania. Bertepatan dengan itu pintu lift terbuka, Vanya langsung keluar meninggalkan Vania di dalam lift.
Vania, menghembuskan nafasnya lemas, ia berjalan keluar dari lift mengikuti langkah Vanya. Merasa diikuti Vanya pun mempercepat langkahnya. Untung saja Evan sudah menunggunya di loby, Vanya langsung menghampiri Evan.
Ia segera memegang tangan suaminya dan mengajaknya pulang. Evan menyambut hangat Vanya, matanya tertuju pada Vania yang berjalan di belakangnya.
"Eh ka Vania," sapa Evan.
Vania tersenyum membalas sapaan Evan. "Hai, Van, apa kabar?"
"Baik, kaka apa kabar?"
"Baik juga."
Melihat Vanya yang tidak nyaman dengan keberadaan Vania, Evan pun paham. Saat lengannya di tarik oleh Vanya.
"Mas ayo pulang..." pinta Vanya.
Evan pun segera pamit ke Vania. "Kak kami pulang duluan." Vania hanya menganggukkan kepalanya dan menatap hanya dengan Evan berjalan masuk ke dalam mobilnya.
"Syukurlah Evan ternyata benar melindungi Vanya," gumamnya.
Di dalam perjalanan Evan sekali memperhatikan fanya yang dia membisu. Sebelah tangannya memegang lengan Vanya yang berada di atas paha.
"Kamu kepikiran kak Vania?" tanya Evan.
Vanya langsung menggelengkan kepalanya, "jangan bohong Vanya, dari sorot matamu aku bisa lihat," paparnya.
Vanya menghembuskan napasnya pelan, hingga akhirnya dia pun mengangguk. "Emang kalian tadi berbicara apa?"
"Kami nggak ngobrol apa-apa, cuman katanya dia bilang kangen sama aku."
Evan meremas tangan istrinya dengan lembut. "Ya itu wajar Anya, karena kalian dulu itu dekat. Tapi, sekarang seperti ini hanya karena laki-laki. Padahal kamu sudah punya saya, terus Saya juga tidak kalah tampan dan tidak kalah kaya."
Vanya mengernyitkan keningnya, "perasaan aku nggak banding-bandingin kamu."
"Emang nggak sih tapi kelihatan aja dari rawat wajah kamu, Emang kamu secinta itu sama pria yang bernama Riko? Apa sih hebatnya?"
"Mas... Udah deh, teh aku kan udah nggak ungkit-ungkit Mereka lagi. Jadi ya udah nggak usah bahas," pinta Vanya.
"Ok, ok. Aku nggak akan bahas, mending kita bahas tentang yang tadi pagi aja, mau lanjut gak nanti malam?" goda Evan.
"Mas kamu m***m banget astaga!" cibir Vanya sambil mencubit pelan lengan Evan.
"Awh sakit sayang..." ucap Evan sambil tertawa, begitu juga dengan Vanya.
---
Di sisi lain, Vania tengah menancapkan pedal gas mobilnya agar segera sampai di rumah. Sesampainya di rumah, Vania segera turun dari mobilnya, ia berjalan cukup tergesah masuk ke dalam rumah Riko.
"Sore nyonya," sapa sang pelayan.
"Hmm sore..."
Vania berjalan menuju lantai atas, sebenarnya dia belum tau di mana ruang kerja Riko. Vania mulai menelusuri rumah Riko, dia juga harus berhati-hati karena di rumah ini terdapat cctv di beberapa sudut.
Vania harus terlihat natural, tidak boleh mencurigakan sama sekali. Akhirnya dia menemukan sebuah pintu di ujung lorong, ia yakin kalau itu adalah ruang kerja Riko.
Vania perlahan membuka pintu tersebut, dan benar saja ternyata itu adalah ruang kerja Riko. Vania mengitari ruang kerja Riko, di sana begitu sangat tertata rapi.
Vania mempelajari setiap sudut ruangan itu. Tidak ada yang aneh, Vania tertuju pada meja kerja Riko. Ia berjalan menuju meja tersebut, lalu mencoba duduk dari seolah-olah menyukai ruang kerja suaminya.
Karena dia tahu kalau di ruang kerja Riko itu pasti ada CCTV. Mata Vania menatap ke arah setiap sudut ruang kerja Riko. Untuk mencari keberadaan CCTV tersebut, tetapi nihil. Ternyata di dalam ruangan kerja Riko itu tidak ada CCTV sama sekali.
"Kenapa tidak ada CCTV?" gumamnya, Vania merasa aneh.
Vania pun tersenyum puasa saat di ruang kerja Riko, ia tidak menemukan cctv. Sehingga dia bisa sangat leluasa untuk mencari bukti-bukti kejahatan Riko.
Vania pun langsung penempelkan alat perekam di bawah meja kerja Riko. Dia sangat hati-hati mencari letak yang paling susah untuk di jangkau oleh Riko.
Setelah ia menempelkan alat perekam tersebut, Vania mulai membuka beberapa laci meja kerjanya. Ia melihat beberapa dokumen yang ternyata tidak terlalu penting.
"Di mana dia simpan? Kenapa dia bisa pintar sekali menyimpan dokumen bukti kejahatannya. Akh sial!"
Cukup lama Vania berada di ruang kerja Riko, hingga pada akhirnya dia menemukan beberapa dokumen yang ternyata itu adalah proyek 2 tahun yang lalu di mana proyek, tersebut pernah masuk ke dalam berita karena penggelapan uang sejumlah 1 miliar.
Vania tersenyum tipis, ia segera membawa dokumen tersebut untuk dipelajari oleh Leo. Vania segera memasukkan dokumen itu ke dalam tasnya, dan segera keluar dari ruang kerja Riko.
"Aku akan mencari lagi dokumen lainnya."
Vania berjalan menuju kamarnya, ia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada Leo. Untuk memberitahukan dokumen yang dia temukan.
Leo meminta untuk segera diberikan dokumen tersebut, Vania pun setuju untuk bertemu dengan Leo di dekat rumahnya.
"Lebih baik aku segera membersihkan diri." Tidak lupa Vania mengunci pintu kamarnya agar tidak ada orang yang masuk ke dalam kamarnya sembarangan.
Tidak butuh waktu lama, Vania sudah selesai membersihkan dirinya. Memakai pakaian biasa, Vania sudah siap untuk bertemu dengan Leo.
Saat Vania menuruni anak tangga, ketua pelayan menyapanya. "Nyonya apakah Anda mau makan malam sekarang?"
"Tidak, aku akan makan malam di luar bersama temanku."
"Apa Tuan sudah tahu nyonya?" Mendengar itu langkah Vania terhenti dan ia menoleh kembali kepada sang pelayan.
"Tentu saja sudah, toh aku hanya pergi sebentar. Kamu tidak perlu khawatir!" Balas Vania yang kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
Vania segera menyalakan mesin mobilnya, ia melajukan mobilnya menuju tempat yang telah dijanjikan dengan Leo.
---
Riko sedang berada di sebuah restoran, bersama beberapa kolega lainnya termasuk Rega juga ada di sana.
Rega di kenalkan oleh temannya kepada Riko, kelima pria itu cukup lama berbincang-bincang tentang bisnis. Entah kenapa Rega sangat memperhatikan bagaimana sikap Riko yang terkesan angkuh.
Rega yang terkesan dingin dan juga tidak terlalu banyak bicara di antara mereka semua. "Rega, ayo kita lanjut lagi obrolan kita ini ke klub," ajak temannya.
Awalnya Rega tidak akan ingin ikut ke mana mereka pergi. Karena pasti pada intinya berakhir dengan mabuk dan bermain perempuan.
"Ayolah Rega, kamu jadi pria jangan terlalu polos. Nikmati masa lajangmu."
"Jadi dia lajang?" tanya Riko yang terkesan cukup kaget.
"Ia diantara Kita ini hanya Rega yang belum menikah, karena dia terlalu kaku," jelas temannya.
Riko langsung merangkul pundak Rega, "ayolah kita bermain sebentar, tidak akan sampai malam. Kamu pasti akan menyukainya," ajak Riko.
Melihat Riko yang sangat berantusias mengajaknya, pada akhirnya Rega pun mengikuti mereka. Bukan karena ingin bersenang-senang, tapi Rega ingin tahu bagaimana Riko di luar sana.
"Ok, aku akan ikut!" jawabnya.
"Nah gitu dong, kita pesan ruangan VVIP. Untuk merayakan kehadiran Rega."
Mereka pun pergi ke salah satu klub yang sangat terkenal dan cukup mahal. Sesampainya di sana mereka menuju ruangan yang sudah mereka pesan.
Betapa terkejutnya Rega, saat melihat di ruangan tersebut sudah tersedia beberapa wanita dengan berpakaian minim. Sebenarnya ini bukan hal pertama bagi Rega.
Dia juga pernah merasakan masa mudanya, tapi prinsip Rega, jika dia sudah beristri. Dia tidak akan menyewa wanita untuk semalam.
"Rega selamat datang," ucap temannya yang menyambut Rega.
Mereka membuka sebuah botol wicky, dan meminum dalam sekali tegukan. "Rega sini kamu cobain."
Rega hanya tersenyum dan menerima gelas yang diberikan oleh Riko. Pada malam itu Rega hanya meminum sekali tegukan, berbeda dengan yang lainnya yang sudah terlanjur mabuk.
Rega mengusap wajahnya kasar saat melihat tingkah Riko, Dia teringat Vania. Pantas saja pada pesta malam itu Vania terlihat ketus saat mereka sudah berdua.
Melihat tingkah Riko, Rega merasa kesal. Ingin sekali rasanya dia bilang pada Vania bagaimana kelakuannya di luar.
Tapi entah kenapa Rega meraih pulsanya dan ia pun mengambil gambar bagaimana tingkah Riko. Karena dia sudah mendapatkan info kalau rumah tangga mereka memang sedang tidak baik-baik saja.
Setelah Rega mengambil beberapa foto dan video secara sembunyi-sembunyi. Ia segera memasukkan ke dalam saku celananya, dan ternyata tidak hanya sampai situ saja. Mereka semua menuju hotel bersama wanita sewaan mereka.
"Mas ayo kita check in," ajak salah satu wanita yang disewakan oleh temannya untuk Rega.
Tentu saja Rega menolaknya, dia tidak mau melakukan hal itu. Ia pun tidak tertarik dengan wanita sewaan temannya.
Rega meraih dompetnya, dan mengambil beberapa lembar uang dan berikan kepada wanita tersebut.
"Pulanglah!" titahnya lalu keluar dari sana.
Karena teman-temannya sudah tidak berada di tempat itu.
"Gila!"
Di sisi lain, Vania terbangun pada jam 02.00 malam. Vania penasaran, apakah Riko sudah pulang atau belum.
Ia pun mengetuk pintu kamarnya, tidak ada jawaban sama sekali. Vania pikir kalau Riko mungkin sudah tertidur. Ia pun turun ke lantai dasar untuk mengambil minum.
Tiba-tiba ada seorang pelayan, "nyonya Kenapa anda belum tidur? Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Oh tidak ada, Saya hanya haus saja. Oh ya apa pa Riko sudah pulang?"
"Belum nyonya, biasanya Pak Riko akan pulang pagi hari kalau jam segini dia tidak pulang," jelas sang pelayan.
Vania hanya menganggukkan kepalanya, "Terima kasih infonya, Saya mau kembali tidur lagi."
"Baik nyonya."
Vania pun kembali ke kamarnya lagi. Sesampainya di dalam kamar, ia melihat notifikasi pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Siapa?"
Vania membuka pesan itu dan terdapat beberapa foto dan juga video. Vania melihat foto dan video tersebut, untungnya dia tidak terlalu terkejut melihat tingkah suaminya itu. Iya segera mengirimkan foto dan video tersebut kepada Leo untuk menjadi barang bukti penahanan Riko nantinya.
"Siapa dia? Dari mana dia tahu nomor saya?"
Vania pun membalas pesan tersebut, sayangnya nomor itu sudah tidak aktif lagi. "Ternyata nomor sekali pakai."
Vania sangat penasaran dengan pengirim video dan foto tentang suaminya tersebut. Ia mengirim nomor itu kepada Leo untuk dilacak.
Vania pun akhirnya memilih untuk kembali tidur. Namun, karena dia tahu suaminya akan pulang pagi. Vania beranjak dari tempat duduknya, entah kenapa dia ingin masuk ke dalam kamar Riko.
Vania melihat ke kanan ke kiri untuk melihat kalau situasi aman. Vania segera masuk ke dalam kamar Riko, dan benar saja ternyata pria itu belum pulang kembali ke rumahnya.
Vania mengitari kamar Riko, dan dia mulai mencari barang-barang yang bisa menjadi barang bukti. Vania membuka lemari Riko, di sana ada sebuah brankas yang cukup besar.
"Apa ini? Bagaimana membukanya?"
Vania segera menghubungi Leo. Mereka pun melakukan video call untuk melihat bagaimana bentuk brankas yang dimiliki Riko.
Leo memberitahu bagaimana cara membuka brankas itu tanpa merusaknya sama sekali. Dan Vania berhasil membuka brankas milik Riko.
Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman licik. "Kena kamu Riko!"