BAB 14 - Ketemu Dia Lagi

1225 Words
"Pak Rega..." Rega tersenyum merekah seolah mendapatkan angin segar yang menerpa wajahnya. Rega segera menghampiri Vania, jujur saja dia sebenarnya tertarik pada Vania, apa lagi sifatnya yang humble membuat Rega mudah untuk akrab dengannya. "Mau beli kopi?" Vania segera menganggukkan kepalanya, "sama, saya traktir." Vania sedikit melebarkan matanya, "nggak usah Pak Rega, harusnya saya yang mentraktir bapak." Rega tertawa pelan, "Kenapa harus Bu Vania? Di mana-mana juga harusnya laki-laki yang mentraktir perempuan, bukannya begitu?" Vania ikut tertawa mendengar ocehan Rega, pada akhirnya dia setuju dengan tawaran Rega. "Baiklah kalau bapak memaksa Saya tidak akan menolak Rizki." Rega tertawa pelan, lalu dia membukakan pintu kafe itu agar Vania lebih dulu masuk. "Ladies first!" Vania hanya mengangguk sedikit lalu masuk ke dalam cafe tersebut. Ia berjalan menuju kasir untuk memesan kopi dan beberapa cemilan, begitu juga dengan Rega yang mengikuti Vania dari belakang. "Mau pesan kopi apa?" Vania masih mencari di daftar menu yang terpampang di depannya. "Apa ya? Di sini best sellernya apa sih?" "Latte..." Jawab Rega. "Oke kalau gitu Saya pesan latte." "Cemilannya, di sini enak Croissantnya," ucap Rega. Vania menganggukkan kepalanya, "boleh deh aku coba itu." "Croissantnya dua ya mbak, sama Americano 1." Pesan Rega. "Baik Pak pesanannya akan segera kami proses, total pesanannya seratus tujuh puluh lima ribu." Rega segera mengeluarkan kartu debitnya, Vania memilih tempat duduk yang di dekat jendela sama seperti mereka bertemu saat itu. "Makasih ya Pak udah traktir saya," ucap Vania. "Sama-sama, kalau bisa jangan panggil saya bapak. Sepertinya umur kita tidak beda jauh, umur kamu berapa?" "Umur saya 25 pak, eh Rega. Aduh saya masih belum terbiasa untuk panggil nama, kesannya kurang sopan." "Santai aja, Oh ini di luar kantor kan. Umur kita juga cuma beda 3 tahun." Vania melebarkan matanya, "Oh ya? Ternyata bapak semudah itu ya, eh Rega." Tawa mereka berdua. "Memangnya wajah saya tampak tua ya? Sampai saat kamu tahu umur saya, kamu bilang ternyata masih muda." Vania terkekeh pelan, Ia menggerakkan tangannya untuk mengelak ucapan Rega. "Bukan itu maksud saya, duh gimana ya..." Rega tertawa pelan melihat Vania sedikit panik. "Santai saja, bukan kamu saja kok yang bilang saya sedikit agak lebih tua. Kamu belum lihat aja kalau saya pakai pakaian santai, mungkin kamu akan terkesimak," candanya. "Ah kamu bisa saja." Tidak lama pesanan mereka datang, Vania dan Rega pun menikmati pesanan mereka. Di dalam pikiran mereka terbesit kejadian saat malam itu, dia penasaran kenapa Vania bisa di kejar. Ragu sebenarnya saat Rega ingin menanyakannya. Tapi rasa penasarannya lebih besar daripada keraguan Rega. "Hmm, Vania..." "Ya..." "Ada yang mau saya tanyakan sebenarnya," ucap Rega dengan hati-hati. Vania terdiam sejenak, Ia bisa menebak apa yang akan di tanyakan oleh Rega. "Boleh tanyakan saja." "Ini soal semalam, kalau saya boleh tahu. Siapa dua pria yang ngejar kamu?" Vania terdiam, ia menatap lattenya. Tidak mungkin juga Vania mengatakan yang sebenarnya tentang suaminya. Dan dia juga tidak tahu siapa Rega sebenarnya, bisa Jadi kalau Rega itu ternyata mengenal Riko. "Hmm, maaf kalau itu saya tidak bisa cerita. Padahal pribadi yang tidak semuanya harus anda tahu, tapi saya mau berterima kasih sama kamu, karena telah menyelamatkan Saya dari dua orang itu," jelasnya. Rega hanya menganggukkan kepalanya, menghargai keputusan Vania untuk tidak bercerita kepadanya. "Maaf bukannya saya mau ikut campur, tapi hanya penasaran saja." "Nggak papa kok, kamu wajar nanyain itu. Aku juga kalau jadi kamu pasti nanya itu," balas Vania. Rega tersenyum tipis, "ngomong-ngomong ternyata kamu sudah punya suami ya?" Vania yang sedang mah menatap kopinya pun langsung menoleh ke arah Rega. Perlahan Vania menganggukkan kepalanya, dia sama sekali tidak mengelak kalau dirinya sudah menikah. "Hmm, pasti kamu lihat di acara semalam kan!" "Iya aku lihat kamu di sana dan Kalian juga menjadi trending topik kan." Vania menganggukkan kepalanya sampai tersenyum kecut. Melihat ekspresi dari Vania Reza yakin kalau ternyata dia memiliki masalah rumah tangga. "Pasti kamu bahagia banget ya punya suami kayak Riko. Lihat dia benar-benar sangat memperhatikan kamu," ucap Rega. Vania hanya tersenyum miring mendengar pujian dari Rega. "Oh ya, seingat saya perusahaan Saya akan bekerja sama dengan Riko. Berarti kita akan lebih sering bertemu, Saya bekerja sama dengan sepasang suami istri," kekehnya. Vania masih saja tersenyum tipis, "suami kamu nggak marah kita ngobrol berdoa seperti ini?" Vania menggelengkan kepalanya, "enggak, paket hanya mengobrol biasa. Lagi pula sebentar lagi jam istirahat Aku udah mau habis. Sepertinya aku harus segera pamit," ucap Vania yang menghabiskan kopinya. Rega melihat jam yang ada di tangan kirinya, benar saja jam istirahat kantor sudah habis. "Oke aku juga sepertinya harus gerak kembali ke kantor, semoga kita bisa bertemu lagi," ucap Rega. Vania hanya menganggukkan kepalanya pelan. "Tentu kita akan bertemu lagi karena kita melakukan kerjasama," kekehnya. "Kalau begitu saya permisi duluan Rega dan Terima kasih atas traktirannya," pamit Vania. "Oke sama-sama, hati-hati di jalan." Vania segera pergi meninggalkan Rega di cafe itu sendiri. Mereka semakin tertarik mengenai info tentang Vania. Tidak lama teleponnya berdering, tampak di layar ponselnya tertera nama asisten Rega. Rega segera mengangkat teleponnya, dan info yang dia inginkan dengan mudah Rega dapatkan tentang Vania. "Oke, terima kasih infonya!" Mereka segera menutup teleponnya, sekarang dia tahu kenapa Vania bersikap dingin seperti itu saat berbicara tentang Riko. "Menarik!" --- Kini Vania berada di kantornya kembali, wajahnya terlihat sangat lelah saat melihat file-file yang menumpuk di atas mejanya. Vania menghelakan nafasnya pelan, Iya menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran miliknya. Tidak lama, pintu kerjanya terbuka begitu saja. Vania cukup terkejut karena dia sedang membuka satu kancing kemejanya. "Eh..." Betapa terkejutnya Vania saat tahu bahwa Riko lah yang datang ke kantornya. "Kamu ngapain ke sini?" Riko menaikkan sebelah alisnya melihat reaksi Vania yang tidak begitu senang. "Kamu nggak senang suami kamu datang ke kantor istrinya?" Vania segera mengancingkan kembali ke mejanya karena merasakan sesak. "Jangan banyak basa-basi, Ada perlu apa?" Tanya Vania. Riko menggelengkan kepalanya, Iya duduk di sofa yang berada di ruang kerja Vania. " Tidak ada aku hanya ingin menjenguk istriku, ternyata ruangan kerja kamu cukup nyaman, aku suka." Vania hanya bisa menghelakan nafasnya pelan. Ia Iya hanya terdiam dan membiarkan Riko begitu saja tanpa mengajaknya berbicara. "Aku cuman mau ngasih tahu sama kamu, kau nanti malam kayaknya aku akan pulang telat," ucapnya. Vania menaikkan sebelah alisnya, Kenapa Riko harus sampai sejauh ini, hanya untuk memberitahukan kalau dia akan pulang terlambat. "Kenapa kamu nggak kirim pesan aja? Jadi kamu nggak perlu harus capek-capek datang ke sini!" papar Vania. Riko beranjak dari tempat duduknya. "Jadi kamu nggak suka didatengin sama aku?" Tanyanya sambil beranjak dari tempat duduknya. Riko berjalan menghampiri Vania dan mengangkat dagunya Vania agar menatapnya lebih dalam. Riko mendekatkan wajahnya pada telinga Vania. "Hanya kamu wanita satu-satunya yang berani menolak saya," bisik Riko tepat di telinga Vania. Vania tersenyum getir. "Tentu saja karena aku bukan w************n yang selalu kau bayar untuk menyenangimu!" Sindir Vania. Riko tersenyum licik, "kalau begitu kenapa tidak kau yang melayaniku?" Vania langsung menatap tajam ke arah Riko. "Pergilah Aku sedang tidak mood untuk meladeni mu!" Riko segera menjauhkan tubuhnya dari Vania. "Baiklah kalau itu yang kamu mau sayang, Jangan menunggu ukuran nanti malam, kamu tidur yang nyenyak ya," ucap Riko sambil mengusap pipi Vania lembut, tidak lupa Riko pun mengejut puncak kepala Vania. Perlakuan manis Riko membuat Vania jijik kepadanya. Riko pun pergi meninggalkan Vania sendiri di ruang kerjanya. Vania bernapas lagi setelah kepergian suaminya dari sana. Mengingat Riko akan pulang terlambat, inilah kesempatan Vania untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. "Aku jangan menyia-nyiakan kesempatan ini!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD