BAB 13 - Pagi yang Panas

1774 Words
Vanya menelan salivanya kasar, saat melihat ada suatu benda yang menonjol besar dan panjang dari balik handuk itu. Ada rasa penasaran pada diri Vanya, ingin melihat bagaimana bentuk aslinya? "Kenapa diem begitu? Kamu gak penasaran?" Tanya Evan mau mancing Vanya. Vanya menatap wajah suaminya yang nampak menggoda. "Mas ih m***m! Udah sana cepet di baju!" titah Vanya yang mendorong tubuh Evan sedikit agar menjauh. Evan tertawa pelan melihat reaksi istrinya yang malu-malu. "Anya, tapi ini mau dipegang sama kamu. Katanya butuh sentuhan kamu!" "Heh mas!" "Emang kamu nggak penasaran lihat bentuknya? Aku aja penasaran pengen lihat yang kamu," kekehnya. Mata Vanya membulat sempurna saat mendengar ucapan suaminya yang m***m. "Mas ih astaga, ngapain kamu mau lihatin yang aku. Ada-ada aja kamu ini mas! Udah aku mau siapin makan dulu, kamu cepetan di baju!" Cecarnya sambil meninggalkan Evan di kamarnya sendiri. Evan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil mengusap bibir bawahnya, dia tidak menyangka kalau istri kecilnya itu sangat menggemaskan. "Akan Aku pastikan kamu bahagia menikah denganku Anya." Disaat Vanya sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk Evan, bisa-bisanya otaknya travelling mengingat bentuk milik sang suami. Entah berapa kali Vanya menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran kotor yang singgah di otaknya, dan itu semua gara-gara suami barunya. "Duh, Kenapa sih otak gua. Malah mikirin yang Mas Evan, tapi itu gede banget loh, mana panjang lagi. Emang bakal masuk gitu ke aku? Apa gak sakit?" "Sakit bentar Anya, ke sananya mas jamin enak. Kamu bakal nagih." Tiba-tiba terdengar suara Evan dari belakang, yang kini sedang memeluk Vanya, ia melingkarkan tangannya di perut istrinya. "Kamu lagi mikirin apa hmm? Jangan bilang kamu lagi mikirin milik Mas ya?"goda Evan. Vanya langsung menyikut perut Evan pelan mendengar suaminya bilang seperti itu. "Aduh sakit loh sayang," rengek Evan lebay agar mendapatkan perhatian dari Vanya. Vanya pun langsung kembalikan tubuhnya menghadap Evan. Wajahnya terlihat panik saat mendengar rengekan Evan. "Hah serius sakit mas? Perasaan aku tadi pelan-pelan kok, nggak kencang!" jelasnya. "Sakit tau Anya, siku kamu tuh tajam banget. Kena perut mas ini," rengeknya. "Mana sini mas, tak aku obatin," ucap Vanya. "Obatinnya pakai apa?" "Pakai salep atau sini sama aku dikompres perutnya Mas," ungkap Vanya. Evan menggelengkan kepalanya tidak mau, "Loh kau masih nggak mau di obatin sih? Katanya perutnya sakit?" "Obatnya Mas harus minum s**u!" "s**u?" Evan segera menganggukkan kepalanya dengan cepat dan ia memasang wajah yang memelas. "Iya kalau Mas di kasih s**u pasti Mas bakalan sehat lagi perut Mas juga nggak akan sakit," jelas Evan. "Tapi di kulkas nggak ada s**u, kita kan belum belanja bulanan Mas." Evan segera menggelengkan kepalanya, "Enggak usah beli, kan kamu punya. Nah, itu aja kasihin ke Mas," pinta Evan dengan tatapannya menuju benda kenyal milik Vanya. Vanya melebar kan matanya, saat tahu apa yang dimaksud oleh Evan. Plak! Vanya langsung memukul lengan suaminya dengan pelan. "Mas ih, kirain aku beneran!" Evan mengusap-ngusap lengan yang dipukul oleh Vanya. "Sakit tau Anya, Iya kan emang beneran kamu punya s**u? Terus emang itu s**u buat siapa kalau bukan buat saya?" Vanya mengedip-ngedipkan matanya mencoba mencerna pertanyaan Evan. "Hah buat siapa? Ya nanti kalau kita punya anak, Emang buat siapa lagi?" Evan tersenyum mendengar Vanya bilang buat anak kita. "Sebelum sama anaknya harus diuji coba dulu sama bapaknya!" ucap Evan sambil menaik turunkan alisnya. Bugh Vanya memukul pelan da-da Evan, "itu sih maunya kamu Mas!" Evan tertawa pelan, "Siapa yang nggak mau dikasih s**u dari sumbernya? Toh kamu juga bakal suka kalau aku minum s**u dari kamu," goda Evan sambil mendekatkan tubuhnya pada Vanya. Hingga tubuh Vanya terhimpit oleh Evan. "Mas ini masih pagi, nanti kamu bisa terlambat!" Peringat Vanya. Lagi-lagi Evan tertawa melihat istrinya yang terlihat ketakutan. "Kamu lupa kalau saya pemilik perusahaannya, saya bisa hari ini tidak datang ke kantor kalau kamu sudah siap memberinya," rayu Evan. Mata Vanya melebar sempurna, ternyata suaminya ini benar-benar m***m. Bagaimana tidak m***m memiliki istri yang cantik seperti Vanya dengan kulit putih bersih mulus. "Mas kamu ini apaan sih? Udah sana kamu ke kantor cari uang yang banyak!" "Uang saya sudah banyak Vanya, kamu minta di belikan hotel juga saya sanggup!" ujarnya. "Saya mau minta di belikan planet!" balasnya. "Ok, saya belikan planet asal ada imbalannya!" Perasaan hanya benar-benar tidak enak pagi itu. "Imbalan apa?" Evan mendekatkan wajahnya kepada telinga Vanya. "Imbalan, kalau aku yang pertama mendapatkan kegadisan kamu!" bisiknya tepat di telinga Vanya, membuat bulu kuduk istrinya berdiri. "Mas, udah sana kamu ke kantor nanti telat!" "Tapi aku mau Vanya!" "Mau apa?" "Mau ini!" Evan langsung meremas salah satu benda kenyal milik Vanya, membuat Vanya reflek mendesah. "Ah mas..." "Boleh ya?" pinta Evan sambil menciumi lehernya. Ingin Vanya menolak permintaan Evan, tapi tubuhnya berpikir lain. "Mas aahh..." Tanpa sadar Vanya meremas rambut Evan. Karena mendapatkan kenikmatan dari sentuhan Evan. Evan pun tersenyum miring saat melihat Vanya, seperti sedang menikmati setiap sentuhan yang dia berikan. Tentu saja Evan mengambil kesempatan saat hanya sedang memejamkan matanya. Ia segera membuka kancing piyama Vanya hingga memperlihatkan dua benda kenyal yang dia inginkan. Vanya sempat terkejut saat Evan berhasil membuka baju tidurnya. "Mas..." Mendengar Vanya tersadar Evan pun segera melumat bibirnya dengan rakus. Vanya tidak bisa menghindar dari serangan Evan yang melumat bibirnya habis. Tangan Evan pun tidak tinggal diam, ia membuka penghalang gunung kembar milik Vanya. Hingga kini Evan bisa melihat dua benda kenyal itu tanpa penghalang lagi. "Beautiful," puji Evan dengan perlahan menyentuhnya. "Mas... Aku malu." "Jangan malu sayang, dari mulai sekarang kamu harus biasakan," ucapnya, yang langsung melahap dua benda kenyal milik Vanya. Vanya benar-benar di buat merem melek, saat Evan beraksi di gunung kembar miliknya. Ia menghisap dan juga meremas milik Vanya. "Ah mas... Enak!" Tanpa sadar Vanya mendesah kenikmatan. Tentu saya di sela-sela permainan Evan, ia tersenyum menyeringai melihat istrinya tampak menyukai. Sebelah tangannya pun tidak tinggal diam. Ia meraba sesuatu di antara ke dua pangkal pahanya. Tubuh Vanya benar-benar seperti dialiri arus listrik di setiap desiran tubuhnya. Rasanya benar-benar nikmat, saat tangan Evan bermain di miliknya dari balik celana. Vanya menjebak rambut Evan saat dirinya benar-benar tidak bisa terkontrol lagi. "Ah mas geli... Udah kaki ku lemas..." ucap Vanya. Mendengar ucapan Vanya, Evan segera mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas meja dapur. Evan kembali melakukan aksinya, hingga membuat Vanya tidak terkendali lagi. Di saat-saat mereka sedang melakukan kegiatan panas, tiba-tiba saja terdengar suara bel berbunyi. Dan pintu rumah tampak ada yang membuka. "Evan, Anya..." panggil Ibu Evan—Yura. "Ahh mas mamah..." Di sela-sela desahan Vanya, ia menyebutkan nama ibu Evan. "Kalian dimana—" "Eh mamah..." "Aduh, kayaknya mamah ganggu kalian ya?" --- Kini Vania sedang membuka email, ada beberapa email yang harus dia cek. Di sela ke sibukannya, ponselnya berdering. Tatapan Vania menoleh ke arah layar ponselnya yang menyala. Ia segera mengangkat telepon itu karena dari kaki tangannya. "Halo, kamu di mana? Ada yang harus saya bicarakan sama kamu!" (Baik bu, apa saya ke kantor!). "Jangan, kantor saya sudah tidak aman. Lebih baik kita bertemu di tempatmu saja. Kirimkan alamatnya." (Baik bu akan saya kirimkan alamatnya, Apa perlu anak buah saya menjemput ibu ke kantor?). "Tidak usah biar saya pakai mobil sendiri saja." (Baik kalau begitu Bu.) Telepon pun langsung terputus secara sepihak, tidak lama Vania mendapatkan pesan dari orang kepercayaannya. Ia segera mengambil kunci motor dan juga tas selempangnya yang berada di atas meja. Vania segera bergegas menuju alamat yang sudah dikirimkan dengan mobil pribadinya. Vania sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan bukti-bukti kelicikan dari Riko. Vania melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Untung saja saat itu jalanan tidak terlalu ramai. Hingga akhirnya Vania memasuki sebuah gedung kecil, di tengah kota. Vania memarkirkan mobilnya dengan asal, ia segera turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu. Ada dua orang bodyguard yang sudah mengetahui kedatangan Vania ke sana. Mereka sedikit menundukkan kepalanya untuk memberikan hormat kepada Vania. Pintu terbuka secara otomatis, Vania tidak menyangka gedung kecil ini ternyata lebih canggih dari kantornya. Setelah pintu terbuka, seorang pria berjas hitam menghampirinya. "Ibu Vania? Mari ikuti saya!" Vania pun mengikuti ke mana langkah pria tersebut. Dia sama sekali tidak merasa takut, karena memang Vania mengerjakan orang-orang kepercayaannya. Hingga mereka bisa seberhasil ini. Banyak perusahaan-perusahaan yang memakai jasanya. Sebuah pintu yang berwarna kan hitam terbuka, di sanalah Leo orang kepercayaan Vania berada. "Silahkan..." "Terima kasih." Vania masuk ke dalam ruangan tersebut. Leo langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Vania. "Selamat datang Vania." "Leo, Ada yang ingin saya sampaikan." "Apa itu?" Vania memberikan sebuah flash disk kecil, yang isinya sebuah rekaman yang telah direkam semalam saat di pesta. "Ini lihatlah." Leo Sagara menancapkan flashdisk itu kepada tab-nya. Ia melihat rekaman tersebut dan mendengar percakapan mereka. Sudut bibir Leo tertarik membentuk senyuman tipis. "Saya akan mencari tahu latar belakang orang ini dan orang-orang di sekeliling nya," ucap Leo. "Bagus, Apa kamu sudah menemukan bukti lain?" "Ada Bu, ternyata Pak Riko bukan hanya menggelapkan uang. Tapi dia melakukan jual beli senjata dan juga nark*ba!" Vania benar-benar terkejut saat mendengar ucapan dari Leo. "Astaga, apa itu benar? Kamu yakin?" "Saya sangat yakin 100%, ada sebuah video yang menampakkan wajahnya saat sedang bertransaksi." Vania benar-benar tidak menyangka ternyata Riko melakukan sampai sejauh itu. "Astaga, lalu apa yang kita lakukan agar bisa segera mungkin menjebloskan Riko?" "Ibu Vania tolong jangan tergesa-gesa, karena ternyata dia orang yang sangat berbahaya. Dan dari mulai sekarang ibu juga harus berhati-hati," peringat Leo. "Tidak masalah Leo, aku bisa jaga diri!" Leo hanya menganggukkan kepalanya, "Maaf sebelumnya Bu, kalau saya boleh minta bantuan ibu. Siapa tahu di ruang kerja Pak Riko ada dokumen-dokumen penting, terutama di rumahnya," pinta Leo. Tentu saja Vania menganggukkan kepalanya, "akan aku cari dokumen-dokumen itu. Apa ada lagi?" Leo menggelengkan kepalanya, "tidak ada bu, saat ini saya sedang mencari tahu orang-orang yang dekat dengan pak Riko. Dan ada satu proyek yang sedang dijalankan oleh pak Riko, ternyata dia melakukan korupsi dana sebanyak 5 miliar." Vania langsung memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit. "Lalu? Siapa orang yang dia korban kan untuk menutupi kejahatannya itu?" "Namanya Pak Ruslan, beliau kini tengah berada di penjara. Dan ia sudah menjadi tersangka penggelapan uang, yang dia mana dia tidak tahu sama sekali." "Apa kamu bisa membantu untuk membebaskannya?" Leo segera menganggukkan kepalanya, "Tentu saja saya bisa, dengan adanya bukti kejahatan pak Riko, ini memudahkan kita untuk segera menjatuhkannya." "Baguslah, Saya ingin kamu segera menemukan bukti-bukti yang akurat!" "Baik bu akan saya lakukan." Vania pun segera beranjak dari tempat duduknya, ia segera meninggalkan tempat Leo. Vania melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mendengar semua penjelasan dari Leo, dia benar-benar tidak menyangka ternyata Riko sekejam itu. Tidak sengaja Vania melewati cafe yang saat itu bertemu dengan Rega. Ia pun meminggirkan mobilnya untuk berhenti. Vania turun dari mobilnya, untuk membeli kopi dan sedikit cemilan untuk mengisi perutnya. Namun, langkahnya terhenti saat dia bertemu lagi dengan Rega. "Pak Rega..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD