Perlahan Evan mendekatkan wajahnya untuk menggapai bibir Vanya, hingga bibir mereka akhirnya saling menempel. Mata Vanya terbelalak saat mendapati benda kenyal yang lembut menempel di bibirnya.
Evan tidak sama sekali menggerakkan bibirnya, ia benar-benar hanya menempel bibirnya dengan bibir Vanya cukup lama. Evan tidak mau gegabah meminta lebih, bagaimana pun juga selama Vanya tidak mengijinkannya maka Evan tidak akan melakukannya.
Cukup lama bibir mereka saling menempel, hingga Evan melepaskan tautan bibir mereka. Mata Evan tertuju pada Vanya yang menatapnya dengan terkejut. Tidak ada penolakan tapi tidak juga mengizinkan Evan untuk melakukan lebih, Vanya hanya menatap sambilan mengedipkan matanya, terkejut.
Vanya menatap Evan dengan wajah bingung, ingin protes tapi dia tahu kalau Evan ingin meminta haknya. Tapi Vanya belum siap untuk sejauh itu, hatinya masih terisi oleh orang lain yang kini menjadi suami kakanya.
"Maaf, aku khilaf..." ucap Evan.
Vanyak terdiam ia menggigit bibir bawahnya tidak berani menjawab permintaan maaf suaminya. Melihat reaksi Vanya yang seperti itu, membuat Evan menjadi tidak enak.
"Anya kamu marah?" tanya Evan.
Vanya menatap wajahnya kembali, ada tatapan tulus dari wajah suaminya. Sebenernya tidak ada yang salah dari Evan, dia pria yang baik, hangat, tanggung jawab. Tapi Vanya belum membuka hatinya, terbersit dalam pikirannya untuk memberikan haknya pada Evan, tapi tidak dengan hatinya.
"Anya, maaf saya tidak bisa menahannya." ucap Evan dengan tatapan menyesal.
"Kamu gak salah kok mas, memang kamu punya hak atas itu. Aku gak marah, tapi aku belum bisa kalau terlalu jauh, aku ingin kita melakukannya secara bertahap," jelas Vanya.
Evan menaikkan sebelah alisnya, mencoba mencerna ucapan yang Vanya lontarkan. "Gimana? Jadi kamu gak marah?"
Vanya menggelengkan kepalanya, "Jadi kalau aku cium kamu lagi boleh?"
Wajah Vanya berubah menjadi merah seperti kepiting rebus. Malu rasanya saat Evan meminta ijin seperti itu? Kenapa gak langsung nyosor aja.
Vanya menggigit bibir bawahnya, dan mengangguk ragu. Melihat jawaban Vanya yang malu-malu seperti itu membuat Evan gemas pada istri kecilnya itu. Ternyata Vanya bisa menggemaskan seperti ini.
Senyum Evan pun terbit seperti cahaya matahari yang bersinar di pagi hari. Wajahnya tampak berseri-seri, mendengar jawaban Vanya, walau pun di lakukan secara bertahap, tetapi Evan akan bersabar hingga waktunya tiba.
"Jadi kita lakuinnya bertahap, dari mulai ini dulu?" ucap Evan sambil mengusap bibir bawah Vanya dengan sensual.
Wajah Vanya benar-benar memerah menahan malu, bisa- bisanya Evan menggodanya seperti itu. Vanya menutup wajahnya dengan ke dua tangannya, membuat Evan terkekeh pelan.
Evan memeluk Vanya dengan lemah lembut sambil mencium puncak kepalanya.
"Aku gak tahu isi hati kamu siapa, tapi karena kita sudah menikah. Walaupun kita tidak saling mencintai, apa salahnya untuk kita saling mencoba saling menerima, toh katanya nanti cinta bisa nyusul," kekehnya di akhir ucapannya yang serius.
Vanya terdiam, wajahnya sudah tidak lagi memerah, saat mendengar ungkapan Evan benar apa yang dia ungkapkan. Setidaknya mereka berusaha saling menerima lebih dulu. Masalah cinta itu belakangan.
Vanya merasa nyaman berada di pelukan Evan, ia bisa mendengar degup jantungnya yang cukup cepat. Sebelah tangannya meraba da-da bidangnya.
"Mas..."
Evan sedikit menunduk kepalanya melihat Vanya yang lebih pendek darinya. "Ya..."
"Kenapa kamu deg-deg kan?" tanya Vanya yang mendongakkan kepalanya menatap Evan.
Sontak mata mereka saling bertemu, tatapan Evan mulai sayu. Ia mengusap pipi Vanya dengan lembut. "Mas kamu gak apa-apa kan?"
Evan tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. "Aku gak apa-apa Anya, jantung aku kaya gini, karena kamu," ucapnya.
Vanya mengeryitkan keningnya bingung, "Aku? Kenapa aku? Perasaan aku diem mas," jawab Vanya polos.
"Justru kamu diem kaya gini Anya," jawab Evan dengan ibu jarinya mengarah ke bibir mungilnya. "Jantung aku berdegup kencang, karena ingin ini lagi boleh?" pinta Evan dengan tatapan berharap.
Vanya menelan ludahnya dengan susah payah, kali ini dia tidak bisa menolak permintaan suaminya. Vanya menggigit bibir bawahnya dan itu sukses membuat Evan semakin menegang.
"Jangan di gigit sendiri bibirnya, biar saya yang gigit." Tanpa banyak bicara lagi Evan langsung mengecup bibir Vanya.
Walaupun rasanya masih terasa aneh, tapi perlahan Vanya terbiasa karena ciuman Evan yang terbilang lembut, sangat lembut. Sebelah tangan Evan memegang tengkuk lehernya. Dan sebelah lagi memegang pinggang Vanya untuk mengikis jarak.
Reflek tangan Vanya melingkar di leher Evan, dengan mata terpejam. Perlahan ciuman lembut itu berubah menjadi lumatan, hingga akhirnya Evan bisa menerobos mulut Vanya untuk mengabsen setiap rongga mulutnya.
Ciuman itu berubah menjadi ciuman panas, di mana Vanya tidak sengaja mengeluarkan desahan dari mulutnya.
"Ahh mas..."
Vanya langsung melepaskan ciuman mereka, dan menutup mulutnya karena malu. Evan yang mengerti itu pun berusaha membuat Vanya nyaman.
"Gak apa-apa sayang, itu wajar," ucap Evan.
"Tapi aku malu mas," ucapnya.
"Kenapa malu? Toh aku suami mu, justru aku suka dengar suara mu yang seperti tadi," jelas Evan.
Vanya menatap wajah Evan, "Iyakah?"
Evan menganggukan kepalanya, "Iya dan aku ingin dengar lagi Anya." Evan kembali melumat habis bibir Vanya dengan rakusnya. Dan Vanya pun kembali mengeluarkan suara kenikmatan dari bibirnya.
Ciuman mereka begitu panas hingga membuat ke duanya larut masuk ke dalamnya. Sebelah tangan Evan, turun ke bawah menuju benda kenyal milik Vanya.
Perlahan tapi pasti ia mulai meremasnya dengan perlahan. Dan itu sukses membuat Vanya terbang ke awang-awang. Baru dia merasakan bagaimana rasanya jika benda kenyal itu di mainkan. Suara desahan Vanya pun semakin menjadi, membuat Evan semakin bersemangat untuk meremasnya dengan kuat.
"Akhh mas..."
"Kenapa? Sakit?"
Vanya menggelengkan kepala pelan. "Enggak mas..."
"Kamu suka?" Vanya menganggukan kepalanya pelan, melihat ternyata menyukainya sebelah tangan Evan menyelinap masuk ke dalam baju Vanya sambil mencium lehernya kembali dan memberikan tanda kepemilikannya.
"Akh mas...hhmm," desah Vanya saat Evan memainkan benda kecil yang sudah mengeras di benda kenyalnya itu.
Evan menggendong tubuh Vanya dan ia letakkan di atas meja. Evan membuka baju Vanya dengan kasar, hingga dua benda kenyal yang masih terbungkus bra berwarna hitam itu terpampang di depan matanya.
Vanya menutupnya dengan menyilangkan ke dua tangannya. "Kenapa di tutup? Saya ingin lihat," ucap Evan yang menyingkir kan tangan Vanya dari benda kenyal itu.
"Tapi aku malu mas..." ucap Vanya dengan wajahnya yang memerah.
"Gak usah malu, aku suamimu Anya. Aku berhak melihat semuanya yang ada di diri kamu, begitu pun kamu akan melihat seluruh tubuhnya. Termasuk ini." Evan menunjukkan miliknya dari bali handuk yang masih melilit di pinggangnya.
Mata Vanya melebar sempurna saat ia melihat sesuatu yang panjang dan juga besar. "Mas apa itu?" ucapnya.
"Kamu mau pegang?"