BAB 18 - Pasar Malam

1806 Words
Kini Vania dan Vanya berada di sebuah cafe favorit mereka. Walaupun masih terasa canggung, tapi Vania mencoba untuk mencairkan masalah. Hingga pada akhirnya, Vanya memberanikan pertanyaan mengenai pipi Vania. "Ka, aku mau tanya. Tapi maaf sebelumnya Kalau terkesan ikut campur," ucapnya. "Apa?" "Pagi aku lihat pipi kakak merah dan sedikit bengkak, kenapa?" tanya Vanya. Vania mengulas senyum tipisnya, saat Vanya bertanya masalah pipinya yang bengkak. "Oh itu, kakak sakit gigi. Jadi pipinya agak bengkak," jawabnya. Vanya tahu kalau Vania sedang berbohong, karena saat Vania berbohong pasti matanya tidak menatap penuh padanya. "Kaka gak bohong kan?" Pertanyaan Vanya sedikit mendesak agar Vania berbicara jujur padanya. Vania terdiam dia menautkan jari jemarinya karena terlihat sedikit gugup. "Kak rumah tangga kakak baik-baik aja kan?" Vania mengangkat kepalanya menatap Vanya. Senyumnya tampak sendu, seolah Vanya tidak menemukan kebahagiaan dari sorot mata Vania. "Baik-baik saja kok, makasih kamu udah khawatirin kakak," sambungnya. Vania terkejut saat tangan Vanya memegang tangannya. Genggaman itu terasa erat, sekolah Vania merasakan kehadiran adiknya kembali. "Kak jangan bohong, Ada apa dengan mas Riko? Dia bersikap kasar?" Tatapan Vanya begitu dalam melihat ke arah Vania. Hingga tanpa sadar Vania sudah tidak bisa lagi membendung air matanya, hingga sukses jatuh membasahi pipi Vania. Melihat Vania menangis, Vanya segera berpindah duduknya menjadi di samping Vania. Ia langsung memeluk Vania dengan erat. Walaupun Vania belum menceritakan kenapa, tapi hanya bisa merasakan bagaimana rasa sedihnya Vania. "Nangis aja ka gak apa-apa," ucapnya dengan sambil mengusap punggung Vania. Untung saja tempat duduk mereka berada di pojok dan cafe itu sedang sedikit sepi. Vania pun menenggelamkan wajahnya di pundak Vanya, dia benar-benar menangis, tapi bukan karena masalah rumah tangganya. Dia bersyukur karena hanya sudah mulai membuka hatinya kembali untuk dirinya. Cukup lama mereka berpelukan, hingga akhirnya Vania melepaskan pelukan itu. Dan mengusap air matanya. "Gimana kak udah agak tenang?" Vania langsung menganggukkan kepalanya sambil memberikan senyum tipis. "Aku nggak maksa kakak buat cerita sekarang kok, tapi kalau ada apa-apa bilang ya," ucap Vanya, matanya ikut memerah karena menahan air mata. Vania menganggukkan kepalanya, "Makasih ya dek, ternyata kamu masih peduli sama kakak. Kirain kamu nggak mau kenal lagi sama kakak," ujar Vania. Vanya menggigit bibir bawahnya, "aku emang kesel sama kakak, Aku kecewa banget sama kakak. Tapi walaupun begitu, tetap saja kakak sudah baik banget sama aku, walaupun aku nggak tahu apa yang menjadi alasan kakak seperti ini, dan mengorbankan diri kakak yang ternyata tidak bahagia bersama mas Riko," ungkap Vanya. Sebelah tangan Vania mengusap pipi Vanya, dengan lembut. "Kalau sudah waktunya tiba, kakak pasti kasih tahu kamu. Tapi dengan melihat kamu yang sudah membuka hati untuk kakak. Sudah lebih dari cukup untuk kakak, Anya. Hari ini kakak benar-benar bahagia," ucap Vania yang kembali memeluk Vanya. "Ekhem..." Tiba-tiba terdengar suara pria yang familiar di telinga Vanya. Mereka pun melepaskan pelukannya dan menoleh ke sumber suara. "Mas Evan?" "Kalian anteng banget, sampai saya datang pun nggak tahu." "Maaf mas, aku gak tau kamu udah dateng," ucap Vanya. "Nggak apa-apa Anya, tapi kok kenapa kalian saling nangis?" Tanya Evan yang melihat kedua wajah wanita itu memerah. Vania dan Vanya pun langsung mengambil tisu dan mengusap air mata mereka. "Kepo kamu Van," timpal Vania. Evan tertawa pelan, "Gimana kabar kamu kak? Aku tadi sempat dengar keadaan kamu dari Vanya. Kamu baik-baik aja?" Tanya Evan. Vania langsung menoleh ke arah Vanya, dia tidak menyangka ternyata adiknya sekhawatir itu. "Dia ceritain aku ke kamu Van?" Evan langsung mengganggukan kepalanya cepat, "iya dia langsung ceritain tentang kamu kak, sampai sedikit nangis. Katanya khawatir kakaknya kenapa-kenapa," jawab Evan yang mendapatkan cubitan dari Vanya. ""Awh, sakit sayang..." Vania melebarkan matanya melihat perubahan hubungan Vania dengan Evan. "Makasih ya udah khawatirin kakak, duh yang udah sayang-sayangan. Jadi iri," kekeh Vania. Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri Evan. "Van.." Ketiga orang itu pun menoleh ke arah sumber suara. Mata Vania membuat sempurna saat melihat pria yang dia kenali. "Rega..." Evan langsung menoleh ke arah Vania, "kakak kenal sama Rega?" Vania langsung menganggukkan kepalanya, "karena kami lagi ngerjain project bareng," jelasnya. "Oh, pantesan. Ga sini," ucap Evan. Tanpa sengaja Rega pun bergabung dengan mereka. Rega mengeryitkan keningnya, melihat keakraban mereka bertiga. "Kalian?" "Kenalin ini Vanya istri gue, dan ini Vania kakak ipar gue. Lu udah kenal kan, sama kakak ipar gua?" Rega segera menganggukkan kepalanya, "Iya gue udah kenal sama Vania. Hai ketemu lagi kita," sapa Rega membuat Vania menjadi salah tingkah. "Oh, hai..." jawabnya. Rega pun pada akhirnya bergabung dengan mereka. Cukup lama mereka berbincang soal pekerjaan dan yang lain-lain. Hingga tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam. Evan pun mengajak Vanya untuk segera pulang. "Anya, udah malam. Gimana kalau kita pulang?" "Pengantin baru bawaannya pengen pulang mulu," sindir Rega. Evan tertawa pelan mendengarnya, "makanya cepat nikah lu, biar ngerasain gimana perjuangannya," ucap Evan. Rega mengkarutkan keningnya, "perjuangan apa?" "Perjuangan dapat baby," balas Evan, yang langsung mendapat cubitan dari Vanya. "Mas kamu mulutnya!" Evan langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Mampus kan di marahin!" Ledek Rega. Evan menalikan matanya kesal, ia menoleh ke arah Vania. "Kak kami duluan ya," pamit Evan. "Iya hati-hati ya Van, Anya." "Siap kak, kalau ada apa-apa kasih tahu ya," ucap Vanya memeluk Vania. "Iya, jangan khawatir," balas Vania. "Ga, gua nitip pakai ipar gua. Jangan cari kesempatan Dalam kesempitan lo!" Peringkat Evan sambil menepuk pundak Rega. "Iya, iya Jangan khawatir!" ucapnya. Evan dan Vanya pun pergi meninggalkan cafe itu, kini hanya tinggal Rega dan juga Vania. Mereka saling tatap namun diam. "Dunia memang benar-benar sempit ya, ternyata kamu kakak iparnya Evan," kekehnya. Vania tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. "Hmm, BTW kamu datang waktu pernikahannya Evan? Kok aku kayak nggak lihat." Rega menggelengkan kepalanya, "waktu itu aku nggak datang, karena ada kerjaan yang gak bisa ditinggal juga," jawabnya. "Oh, ngomong-ngomong gimana tadi pas waktu ketemu sama Leo?" tanya Vania penasaran. "Mengenai itu kamu nggak usah khawatir, bukti-bukti sudah terkumpul banyak, mungkin sedikit lagi. Tinggal cari waktu yang tepat untuk mengungkap kejahatan Riko." Vania menganggukkan kepalanya. "Gimana kalau pas waktu Riko melakukan kampanye? Atau?" Rega terdiam, "nanti kita pikirkan lagi aja. Yang penting sekarang kita mengumpulkan data-datanya." Vania hanya mengangguk patuh, "hari ini dia ada ngehubungi kamu?" "Ada, dari tadi dia ngehubungin aku. Tapi Enggak aku angkat teleponnya sama nggak aku bales pesannya," jelas Vania. "Kenapa?" Tanya Rega. "Nggak apa-apa males aja." "Terus sekarang kamu mau pulang ke mana?" Vania menghembuskan nafasnya pelan, "aku juga masih bingung mau pulang ke mana," ucapnya. "Kenapa kamu nggak pulang ke rumah orang tua kamu aja?" Vania segera menggelengkan kepalanya, "daripada aku harus pulang ke rumah orang tua mending aku nginep di hotel." Ingin sekali rasanya Rega menawarkan untuk pulang ke rumahnya. Andaikan Vania bukan istri orang, mungkin dia sudah melamar Vania. "Ya udah kamu pikir-pikir aja dulu. Oh ya, mau jalan-jalan nggak? Di dekat sini ada pameran, mau ke sana?" ajak Rega. Vania memikirkan ajakan dari Rega, dirinya ingin sekali ke pameran, mengenang waktu masa kecilnya. Tapi dia ragu karena takut ada yang melihatnya bersama Rega. "Tapi aku takut ketahuan." Rega tertawa pelan, "nggak akan ketahuan kalau selama kita nyamar." Vania mengerutkan keningnya, "Nyamar?" Rega mengganggukan kepalanya, "sini ikut sama aku," ucapnya. Vania dan Rega pun berjalan menuju mobil Rega. Ia memberikan sweaternya yang berwarna navy, masker dan juga kacamata. "Ini kamu pakai, biar nggak dikenal sama orang," ucap Rega. Vania tersenyum tipis, ya segera mengambil sweater Rega dan memakainya. Tidak lupa juga dengan kacamata serta masker. "Kita udah kayak buronan aja ya," tawa Vania. "Iya, gini amat ya ngajar istri orang!" Vania manggaplak pundak Rega, "apa sih ah!" "Yuk, udah siap belum?" Vania hanya menganggukkan kepalanya. "Ya udah yuk kita jalan kaki ke pamerannya, kamu suka jalan kaki kan?" "Nggak juga sih, kadang-kadang. Kenapa memangnya?" "Nggak apa-apa takut kamunya capek, nanti biar aku gendong aja," goda Rega. "Modus!" Rega tertawa renyah, "kan simulasi Cia..." Vania mengerutkan keningnya saat di panggil Cia. "Hah Cia? Siapa Cia?" "Kamulah siapa lagi, Emang di sini ada orang lain selain kita berdua?" "Tapi kan nama aku bukan Cia, nama aku Vania!" Protes Vania. "Aku manggil kamu Cia dari kata Nia. Kan nama kamu Vania, panggilan kesayangan. Cuman aku aja yang boleh manggil itu," goda Rega. Untung saja Vania memakai masker, kalau tidak sudah terlihat wajah Vania yang memerah karena godaan dari Rega. "Cie yang salting." "Apaan sih Ga?" cibirnya. Sepanjang jalan Vania dan Rega pun saling bercanda. Hingga beberapa orang yang berlalu lalang pun memperhatikan mereka berdua. Vania dan Rega seperti anak remaja yang sedang kasmaran. Hingga akhirnya mereka sampai di pameran tersebut, Untung saja pamerannya tidak terlalu banyak orang. "Akhirnya kita sampai, yuk masuk." Tanpa sadar Regal langsung memegang tangan Vania Vania cukup terkejut dengan sikap Rega, tapi pria itu tampak santai sekali. Vania tidak menepis atau menghindar dari genggaman Rega, ia membiarkan tangannya digenggam oleh pria itu. "Cia, kita naik itu mau?" Tunjuk Rega pada kora-kora. Vania mengerutkan keningnya, tapi pada akhirnya Vania tidak menolak ajakan Rega. Mereka berdua pun naik kora-kora walaupun Vania sebenarnya takut. "Jangan takut ada aku," ucapnya. Saat kora-koranya mulai bergerak, Vania benar-benar menggenggam erat tangan Rega. Ia bener-bener berteriak dengan kencang. Mereka tersenyum saat dia bisa melepaskan penatnya. Setelah menaiki kora-kora, Vania benar-benar tertawa lepas. "Gila serem banget," ucapnya. "Tapi seru kan?" Vania segera menganggukkan kepalanya. Ini pertama kalinya lagi dia ke pameran, terakhir dia main ke tempat seperti ini waktu Vania masih kecil. "Ga, beli permen kapas yuk!" ajak Vania. Rega menganggukan kepalanya menuruti keinginan Vania. Mereka membeli satu permen kapas, setelah itu Vania mengajak Rega untuk bermain komedi putar. Tampak Vania sangat senang sekali malam itu. Rega pun sesekali mengambil foto Vania tanpa sepengetahuannya. "Cantik." "Apa?" Rega segera menggelengkan kepalanya. "Gak, habis ini kita main bianglala yuk?" ajak Rega yang langsung diangguki oleh Vania. Vania dan Rega kini sedang menuju bianglala. "Wah tinggi banget!" ucap Vania. "Kamu nggak takut ketinggian kan?" Vania segera menggelengkan kepalanya. "Enggak kok." Rega tersenyum sambil mengusap kepala Vania. Akhirnya mereka naik bianglala, Vania sedikit takut saat bianglala itu mulai bergerak karena terdengar suara gesekan besi permainan itu. "Ih kok bunyinya gini?" "Terus bunyinya harus gimana?" tawa Rega. "Ya serem aja gitu Ga." "Kalau kamu takut, pegang aja tangan aku." Tanpa sadar Vania langsung menuruti ucapan Rega. Ia melingkarkan tangannya di lengan pria itu. Saat bianglala mereka berada di paling atas. Tiba-tiba saja bianglala itu berhenti. "Loh kok berhenti?" "Paling ada yang naik Cia," ucapnya. Dan disaat itu juga tiba-tiba ada kembang api, mata Vania berbinar saat melihat kembang api. "Wah cantik banget?" "Kamu suka?" Vania segera menganggukkan kepalanya, dan tiba-tiba bianglala itu bergerak lagi sebentar. Membuat Vania terkejut. "Ga, kok serem!" "Nggak apa-apa tenang aja, Jangan lihat ke bawah. Lihat aku aja!" Sebelah tangan Rega memegang wajah Vania agar melihatnya. Dan detik itu juga tatapan mereka bertemu, mata Rega menjadi sayu, ia melihat bibir mungil Vania yang ada di depannya. Ibu jarinya mengusap lembut bibir bawah Vania. Dan detik itu juga dengan backsound kembang api, Rega mencium Vania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD