Lembut, manis, dan juga hangat, baru kali ini Vania merasakan ciuman dengan seorang pria. Ya, ini adalah first kissnya Vania bersama Rega di atas bianglala.
Wajahnya masih memerah, Vania tidak berani menatap Rega. Begitupun juga dengan Rega, mereka benar-benar seperti anak remaja yang sedang kasmaran. Tapi, apalah sebuah umur. Apa lagi umur mereka belum menginjak 30, pasti perasaan mereka itu sangat menggebu-gebu.
Kini mereka sedang duduk di sebuah kursi, yang tersedia di sana. Menghadap ke bianglala, Vania dan Rega masih terdiam.
Rega menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, dia bingung harus memulai dari mana.
"Cia..."
"Ga..."
Mereka tertawa pelan bersama, karena secara bersamaan mereka memanggil nama masing-masing.
"Kamu duluan ladies first!"
"Enggak ah kamu duluan, kamu mau ngomong apa?"
Rega menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, dia benar-benar kikuk, bingung harus berbicara seperti apa. Tetapi Rega harus meminta maaf, karena sudah berani mencium Vania begitu saja.
Walaupun tidak ada penolakan dari Vania, Tapi tetap saja kalau mereka itu belum memiliki status hubungan. Di tambah Vania masih menjadi istri orang.
Seketika Rega seolah menjadi pebinor. "Kok diam? Kamu mau ngomong apa?"
"Ini masalah tadi di bianglala. Maaf aku kelepasan, Maaf aku udah kelewatan batas, abisnya udah nggak tahan!" Ucap Rega namun diakhiri penyesalan.
Kenapa dia bisa-bisanya berbicara kalau sudah tidak tahan? Di mana harga dirinya sebagai CEO, wibawanya pun seolah hilang di mata Vania.
Rega langsung mengusap, wajahnya kasar. Betapa malunya Rega bisa berbicara seperti itu. Sedangkan reaksi Vania Dia sedikit ternganga mendengarnya. Mulutnya sedikit terbuka namun tidak lama dia tertawa pelan.
"Apa Ga? Kamu tadi bilang apa?"
Rega segera menggelengkan kepalanya, "nggak ada udah lupain, aku asal ngomong aja. Jangan kamu anggap!" Pinta Rega dengan wajah yang memerah karena malu.
Vania masih tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Kirain aku beneran," balasnya.
"Tapi aku beneran minta maaf Cia, aku tadi benar nggak bermaksud. Nggak ada kepikiran sama sekali untuk melakukan itu, Tapi keadaan seperti mendukung!"
Lagi lagi Rega mengeluarkan kata-kata absurdnya, dan itu membuat Vania tertawa kembali. Jujur, Rega benar-benar salah tingkah di depan Vania, hingga untuk menjelaskan Kenapa dia seperti itu pun sangat sulit.
"Duh maaf, kamu nggak marah kan?"
Vania hanya tersenyum, dia menyudahi mentertawakan Rega. Vania kembali terdiam, tatapannya lurus ke depan.
"Cia, kamu marah ya? Kamu boleh kok mau tampar aku juga, karena Emang aku yang salah. Harusnya aku nggak kayak gitu, maaf..." ucap Rega dengan penuh penyesalan.
"Tapi jangan ngehindar dari aku, kamu boleh kok marah ke aku mukul ke aku. Tapi jangan pergi!" Pinta Rega dengan tatapan tulus.
Vania masih terdiam, sibuk dengan pikirannya. Vania mengakui ini bukan kesalahan mereka seluruhnya. Karena dia juga tidak menolak ciuman itu, Vania menikmati setiap sentuhan yang mereka berikan kepadanya.
"Cia, maaf..."
Barulah Vania memberanikan diri untuk menatap wajah Rega, yang sejak tadi menatapnya. Vania memberikan senyuman tulus.
"Aku nggak marah kok, toh aku juga menikmatinya," ucapan ya dengan suara yang lirih.
Rega mengedip-ngedipkan matanya, mencoba mencerna ucapan Vania yang baru saja dia keluarkan tadi.
"Hah, serius? Kamu suka kan?"
Wajah Vania langsung memerah, karena pertanyaan Rega yang benar-benar seperti bukan dirinya.
Plak!
Vania manggeplak lengan Rega dengan pelan.
"Kamu tuh ya mulutnya!"
Rega mengusap batang hidungnya, beginilah Rega kalau dia sedang salah tingkah. Mulutnya benar-benar tidak bisa dijaga, terlalu apa adanya.
"Maaf ya , aku salah tingkah soalnya. Baru pertama kali juga cium cewek!"
Vania mengerutkan keningnya tidak percaya. Dari wajah dan gelagatnya saja reggae itu seperti buaya darat.
Vania mengedit-ngedipkan matanya, tidak percaya dengan ucapan Rega. "Masa kok aku nggak percaya?"
Rega menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, "Ya nggak apa-apa sih kalau kamu nggak percaya juga. Emang rata-rata juga nggak pada percaya sama aku Cia," jelas Rega apa adanya.
Sontak Vania tertawa pelan, "kamu tuh ya, udah yuk kita pulang," ajak Vania.
"Pulang? Kamu nggak mau main yang lain?! Rumah hantu misalnya?"
Vania langsung menggelengkan kepalanya, menolak ajakan Rega untuk masuk ke rumah hantu.
"Enggak ah mana Aku pulang sendiri, nanti aku Jadi parno! Lagian ini udah malam juga!"
Rega mengusap kepala belakangnya, ternyata ajakannya gagal. "Ok, kamu malam ini pulang ke mana?" tanya Rega.
Vania menaikkan sebelah bahunya tidak tahu. "Aku masih bingung mau pulang ke mana, nanti aja aku pikirkannya saat di jalan. Sekarang kita pulang aja yuk, aku benar-benar capek," ajak Vania.
Akhirnya Rega pun mengiyakan ajakan dari Vania. "Ya udah kalau gitu kita pulang, kaki kamu pegel nggak? Mau aku gendong?" tawar Rega.
Vania segera menggelengkan kepalanya, menolak tawaran Rega. "Enggak aku masih bisa jalan kok, nggak perlu kamu gendong. Nanti kamu modus lagi!" Sindir Vania sambil menjulurkan lidahnya.
"Tapi yang di ciumnya juga suka kok!"
Blusshh...
Warna pipi Vania pun berubah menjadi kemerahan. Bagaimana tidak berubah, dia benar-benar malu saat Rega berbicara seperti itu. Pasalnya saat di cium Rega, Vania mengikuti gerakan bibir Rega.
Mereka tertawa pelan, dia bisa melihat kalau Vania sedang malu. Rega pun memegang tangan Vania, "nggak usah malu, telah aku lebih malu daripada kamu," kekehnya.
Vania tidak menepis genggaman tangan Rega, malahan genggaman mereka saling menautkan jari jemari, hingga membentuk genggaman erat.
Vania bisa merasakan kehangatan dari seorang Rega. Pria yang bukan suaminya, ada rasa bersalah sebenarnya. Karena Vania merasa kalau dirinya sama seperti Riko.
Sambil berjalan kaki, Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Rega menoleh ke arah Vania, yang sedang menatap lurus ke depan.
"Tadi kamu beneran nggak sakit? Kamu pakai heels loh Cia!" Ucap Rega sambil melihat ke arah kakinya.
"Nggak usah nggak apa-apa kok, aku masih bisa!" Balasnya sambil tersenyum tipis.
Tetapi bukan Rega namanya kalau dia tidak nekat. Rega langsung berjongkok di depan Vania.
Vania terkejut melihat sikap mereka yang sangat perhatian padanya. "Ayo cepat naik!" Titah Rega.
"Rega gak usah, kamu ngapain sih?" Tegur Vania yang terkejut melihat sikap Rega yang rela untuk menggendongnya.
Mau tidak mau Vania mengikuti ucapan Rega, Vania menggigit bibir bawahnya dengan tatapan ragu! Perlahan Vania pun melingkarkan tangannya di leher Rega, kedua tangan Rega memegang batas lutut Vania.
"Rega turunin aja, aku berat loh!" pinta Vania yang tidak percaya diri.
"Kata siapa kamu berat badan kamu itu kecil Vania. Bahkan dengan satu tangan saja saya bisa melakukannya," ucap Rega.
Vania pun hanya diam sambil menyembunyikan wajahnya di jeruk leher Vania. Hingga pada akhirnya mereka sampai di tempat parkir mobil mereka.
"Sampai..."
Rega menurunkan Vania perlahan. "Makasih ya udah mau gendong aku."
"Sama-sama, hitung aja sebagai simulasi." Kekehnya.
Vania segera menggelengkan kepalanya pelan. "Ya udah kalau gitu kamu cepat pulang sana."
Vania menganggukan kepalanya pelan sambil menggigit bibir bawahnya. "Kalau gitu aku pulang dulu ya."
Rega hanya menganggukkan kepalanya sambil membukakan pintu kemudi untuk Vania. Namun, sebelum Vania pergi, Vania menatap ke arah reggae yang sedang menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Rega.
"Hhmm..."
Cup