BAB 20 - Ketahuan

1774 Words
Rega terkejut saat pipinya di kecup oleh Vania. Warna pipinya jadi merah merona. Ia menoleh ke arah Vania yang tersenyum malu. "Aku pulang dulu ya, kamu hati-hati di jalan. Makasih untuk malam ini, aku terhibur banget!" Ucap Vania sambil masuk ke dalam mobilnya. Jangan tanya bagaimana reaksi Rega saat itu, dia masih terdiam mematung dan hanya bisa melihat kepergian Vania begitu saja. "Dia cium aku?" Gumamnya sambil memegang pipi kirinya. Rega tersipu malu, Ia mengusap wajahnya kasar, dengan bibir yang tersenyum lebar. "Gila ini gila, gue harus cepet-cepet beresin Riko. Biar gue bisa langsung nikahin Vania!" paparnya, yang langsung segera masuk ke dalam mobilnya. Rega melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa dia ingin mengikuti mobil Vania, Untung saja GPS ponsel Vania sudah terhubung kepadanya. Jadi dia bisa tahu di mana Vania berada. Rega mengkerutkan keningnya, saat melihat arah mobil Vania bukanlah ke rumah Riko. "Dia pulang ke mana? Kok bukan ke rumah Riko?" Ternyata Vania menuju ke sebuah hotel berbintang 5. Dan Rega pun mengikuti Vania secara diam-diam. Setelah Rega, sudah memastikan Vania baik-baik saja di dalam hotel tersebut. Rega pun segera meninggalkan Vania, ia harus segera menyelesaikan Riko. Rega melajukan mobilnya menuju rumahnya, sesampainya di sana mereka segera menuju ruang kerja miliknya. Rumah yang berlantai dua, dengan nuansa industrial di tambah cat rumah berwarna putih yang lebih dominan. Hanya ada Rega sendiri yang ada di sana. Ia masuk ke dalam ruang kerjanya, membuka laptop dan menancapkan flash disk yang Vania berikan kepadanya. Satu persatu flash disk Rega periksa semua, dan ia simpan filenya di dalam laptop miliknya. Sudut bibir Rega pun tersenyum lebar, kini Ia sudah mendapatkan barang bukti yang sangat penting untuk menjatuhkan Riko. Setelah semuanya selesai, Rega melakukan tugas selanjutnya. Dengan keahlian IT-nya yang sangat tinggi, Rega meretas keamanan perusahaan miliknya. Dengan sangat mudah beberapa file penting sudah bisa Rega dapatkan. Tidak lupa dengan alat perekam yang berada di ruang kerja Riko. Saat Rega mencoba untuk meretas alat tersebut, dengan bantuan pada ponsel Vania yang terhubung padanya. Rega mendapatkan suatu bukti baru. Saat ia mendengar perkataan Riko pada seseorang, mata Rega membuat sempurna. Riko sedang merencanakan pembunuhan pada Vania, dengan Vanya yang menjadi ancaman untuk Vania. "Sialan!" Rega mengepalkan tangannya rahangnya mengeras. Dia benar-benar sangat murka, saat mengetahui Riko akan melakukan itu kepada wanita yang dia cintai. Rega harus bergerak cepat, sebelum Riko curiga kepada Vania. Rega pun merasa CCTV yang ada di rumah Vania, dia melihat saat Vania masuk ke ruang kerja dan juga kamar Riko. Di sanalah Rega menghapus file saat Vania melakukan rencananya. Rega pun segera menelpon Leo, untuk meminta mengumpulkan semua bukti kepadanya. Email pun langsung masuk kepada Rega, dan semua bukti pun sudah terkumpul, tinggal satu bukti lagi yang harus mereka dapatkan. Di mana Rega harus masuk ke dalam hidup Riko. "Welcome to my game Riko!" --- Di sisi lain Vania yang sudah memesan sebuah satu kamar untuknya menginap semalam, sedang berbaring di atas tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar hotel tersebut. Wajahnya terasa panas saat mengingat bagaimana Rega menciumnya dengan lembut. Vania benar-benar merasakan rasanya kasmaran kepada seseorang. Vania memegang bibirnya, lembutnya bibi Reka masih bisa Vania rasakan. Di saat Vania sedang membayangkan dirinya dengan Rega, tiba-tiba ponsel kembali berdering, membuat Vania langsung menoleh ke layar ponselnya. Raut wajah Vania langsung berubah, saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Vania mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk, pada akhirnya Vania memutuskan untuk mengangkat telepon dari Riko. "Apa?" (Sayang kamu di mana?). "Kamu tidak perlu tahu aku ada di mana, aku sedang ingin menenangkan diri aku Riko!" (Maaf kamu masih marah sama aku, aku khilaf Vania. Sebut kamu ada di mana, biar aku jemput Oke?). "Gak usah Kamu jemput aku, beri aku waktu untuk sendiri. Aku ingin tenang!" (Baiklah kalau itu mau kamu, besok kita akan menghadiri, undangan makan malam dengan beberapa petinggi. Jangan lupa oke, besok aku jemput jam 03.00 di kantor kamu). "Hmm, Aku tutup dulu." Vania langsung menutup telepon dari Riko secara. Ia menghembuskan nafasnya kasar, Vania kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tiba-tiba terlintas dipikiran Vania, tentang Rega. Entah kenapa dia merasa ragu kalau mereka ada di pihaknya. "Kenapa aku jadi tiba-tiba ragu? Apa Rega benar-benar dipihak aku? Atau jangan-jangan ternyata Rega—" Vania segera menggelengkan kepalanya, ia menepis jauh-jauh pikiran buruknya dari otaknya. "Leo nggak mungkin bohongin aku, dia sendiri yang bilang kalau Rega ada di pihak aku." Vania langsung beranjak dari tempat duduknya, ia mengambil tab miliknya. Untung saja dia sudah menyalin file, yang ada di flash disk Rico kemarin. Memang Vania belum sempat melihatnya, malam itu di kamar hotelnya Vania mempelajari apa yang ada di flash disk tersebut. Lagi-lagi Vania dibuat tercengang dengan bukti-bukti kejahatan Riko. Dan yang lebih mengagetkan lagi, di sana ada satu video, yang berisikan di mana saat Riko membunuh seseorang. Vania menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia segera mengeluarkan video tersebut. Vania tidak kuat untuk melihat bagaimana Riko membunuh nya dengan sadis "Astaga, Kenapa dia seperti itu?" Vania sudah benar-benar tidak menyangka, ternyata Riko sudah seperti binatang. "Apa Rega seperti itu?" Mengingat Rega sudah hafal bagaimana cara mereka bermain di balik layar. Vania benar-benar di buat pusing, dengan apa yang sedang di hadapinya saat ini. Ia menoleh ke arah ponselnya, ingin sekali dia menelpon Rega, untuk menanyakan soal ini. "Apa aku tanya Rega ya? Atau aku tanya Leo saja kayanya." Vania segera menelpon Leo untuk menanyakan kasus Riko. Cukup lama Vania dan Leo telponan. Dengan sangat rinci Leo menjelaskan kepada Vania. Ada perasaan lega di hati Vania. "Mudah-mudahan ini segera berakhir," Vania memutuskan untuk membaringkan tubuhnya dan beristirahat. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, tanda ada pesan yang masuk. Vania langsung meraih ponselnya dan tertulis di layar ponselnya nama Rega. Senyum Vania pun terbit saat mengetahui Rega mengirimkan pesan padanya. Rega: udah tidur? Vania: belum, kamu? Rega: sama, belum juga. Kenapa kamu belum tidur? Vania: aku belum ngantuk, Masih kepikiran aja kasus Riko. Tadi aku habis nelpon Leo. Rega: terus udah Leo jelasin? Vania: iya udah. Rega: baguslah, Oh iya Riko besok malam menghadiri acara makan malam ya? Vania: kok kamu bisa tahu? Rega: kebetulan aku juga akan datang. Vania: wah serius? Rega: iya, di sana kami akan mendiskusikan, bagaimana untuk kemenangan Riko di pemilu nanti. Vania: loh kok gitu? Rega: justru di situ kesempatan kita untuk menjatuhkan Riko, kamu tenang saja aku dan Leo sudah menyusun rencananya. Nanti kalau kita punya waktu, akan aku jelaskan semuanya. Vania: oh ok. Rega: Kalau gitu kamu tidur dulu, udah malam. Have a nice dream cantik. Saat Vania membaca balasan terakhir Rega, Vania tersenyum malu, wajahnya jadi memerah. Vania: iya, kamu juga. Vania pun meletakkan ponselnya, di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia mulai memejamkan matanya. --- Pagi sekali Vania kembali ke rumah Riko untuk berganti pakaian. Ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah Riko. Vania menarik nafasnya dalam-dalam, entah kenapa ada rasa takut untuk bertemu pria tersebut. Vania memberanikan dirinya turun dari mobil. Vania memasang wajah dinginnya, ia masuk ke dalam rumah Riko. Tampak rumah itu terlihat sangat sepi, ia berjalan menuju lantai atas. Dan bertepatan dengan itu, Vania bertemu dengan seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar Riko. "Kamu siapa?" tanya Vania. Wanita itu sangat terkejut saat bertemu dengan Vania. Tampak dari wajahnya dia bingung untuk menjawab pertanyaan dari Vania. "Sa-saya sekretaris bapak, ini saya habis mengambil dokumen," jelasnya. Untungnya wanita itu memang benar membawa beberapa dokumen di tangannya. Vania mengkerutkan keningnya, dia tahu siapa wanita yang baru saja keluar dari kamar Riko. Dan apa yang mereka lakukan, melihat beberapa bercak merah yang ada di leher wanita tersebut. "Sepagi ini?" Tanya Vania yang masih berlaga polos. "Iya bu, karena pagi ini Pak Riko ada meeting!" ucapnya lagi. "Oh gitu, tapi kenapa keluar dari kamar suami saya?" Tanya Vania dengan tatapan curiga. "Oh itu... Hmm—" Vania melangkahkan kakinya, untuk lebih dekat dengan wanita yang menjadi sekretaris suaminya. "Kamu kira saya bodoh! Kalau ingin menjadi selingkuhan, agar tidak ketahuan! Minimal hapus jejak merah di leher kamu, dasar w************n!" "Sayang, kamu sudah pulang?" Bertepatan dengan itu Riko keluar dari kamarnya. Vania dan Sinta langsung menoleh ke arah Riko yang masih memakai piyama. Vania tersenyum miring melihat keadaan suaminya yang seperti itu. Riko langsung berjalan menghampiri Vania dan memeluk pinggangnya. "Sayang aku kira kamu belum pulang, Aku nungguin kamu dari semalam. Maaf, kamu masih marah?" "Sepagi ini ya sekretaris kamu datang untuk minta tanda tangan?" Vania tidak menjawab pertanyaan Riko, dia langsung tertuju kepada Sinta yang ada di rumahnya sepagi ini. "Oh itu, kemarin aku lupa buat tanda tangan. Jadi aku suruh dia ke rumah," jelas Riko. "Harus banget ya tanda tanganinya di dalam kamar? Lucu!" jawab Vania yang langsung menepis tangan Riko dan masuk ke dalam kamarnya. Riko mengusap wajahnya kasar, dia langsung menyuruh Sinta untuk pergi dari sana. "Kenapa kamu bisa ketahuan! Pergi sana kamu!" Sinta menganggukan kepalanya, dan segera pergi meninggalkan rumah Riko. Kini, Riko berjalan menuju kamar Vania. Saat Riko akan membuka kamar itu, ternyata kamar Vania terkunci. "Van... Buka pintunya Van. Kamu jangan salah paham, kita harus bicara!" ucap Riko yang merayu Vania. Bukannya karena apa, hubungan Riko dan Vania harus terlihat baik-baik saja di publik. Jangan sampai terlihat, kalau rumah tangga Mereka ternyata tidak baik-baik saja oleh wartawan. Cukup lama Riko berdiri di depan pintu kamar Vania, saat pintu kamar itu terbuka, Vania sudah rapi dengan pakaian kantornya. Riko langsung menggenggam tangan Vania. "Van, Aku mau bicara sama kamu!" pinta Riko. Vania membalikan tubuhnya, "tidak ada yang perlu lagi kamu jelaskan. Semua sudah begitu jelas, lepas aku mau ke kantor!" Vania segera menepis tangan Riko dengan kasar, ia segera menuruni anak tangga rumahnya dengan tergesa-gesa. Riko berlari menyusul Vania, dengan kasar Riko memegang tangan Vania dan membuat tubuhnya berbalik menghadap Riko. Tatapan Riko begitu tajam ke arah Vania. "Dengar ya Vania, Aku tidak suka kalau aku diabaikan! Jangan seenaknya atau kamu akan tahu akibatnya. Jangan lupa nanti malam, aku akan jemput kamu jam 03.00 sore di kantor, Jangan membantah!" Riko langsung melepaskan tangan Vania dengan kasar, hampir saja Vania terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Vania mendengus kesal, ia segera berjalan menuju mobilnya. Sesampainya di kantor, dengan raut wajah yang kusut Vania segera masuk ke ruang kerjanya. Hingga dia tidak melihat adanya Vania yang ingin menghampirinya. "Kak Vania kayaknya lagi banyak masalah, apa aku samperin aja ya?" gumamnya. Di sisi lain, saat Riko sedang membuka lemarinya. Dia hendak mengambil sesuatu di dalam brangkasnya. Riko pun segera membuka brangkasnya yang ada di dalam lemari. Setelah Riko membuka brangkas, dia langsung mengambil barang favorit miliknya, sebuah cincin giok berwarna hitam. Saat Riko akan menutup brangkas itu, ia kembali melihatnya, mengecek flashdisk dan dokumen yang dia sembunyikan. "Oh, syukurlah masih ada." Riko segera menutup lagi lemarinya, tanpa memeriksa dokumen dan flash disk yang ternyata palsu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD