Dia Semakin Jauh

1128 Words

Aku memulai hari tanpa semangat. Kacamata hitam bertengger aneh di atas hidungku. Ya, pasti aneh sekali, kan, memakai kacamata hitam pagi-pagi begini? Tapi, aku harus tetap memakainya karena wajahku amat berantakkan. Mataku bengkak parah akibat menangisi Mario semalaman. Ketika berkumpul dengan teman-teman kemarin, aku memang terlihat senang. Namun ketika sendiri, kesedihan itu kembali menghampiri. Merobek pertahananku untuk tidak menangis. Kakiku berpijak di ambang pintu kelas. Semuanya terasa hampa. Semangatku telah direnggutnya. Yang tersisa hanya angan. Teman sekelas—terutama teman satu kelompok menertawakan tingkah konyolku. Namun aku tak peduli. Hanya cengiran yang aku tebarkan. Tidak apa-apa, kan, membuat bahagia orang-orang? Malah aku dapat pahala. "Si Varsha cari sensasi nih p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD